Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur`an
KATA PENGANTAR
buku :

Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur`an
Oleh: Bpk. H. Hartono Ahmad Jaiz
(Penulis Buku Aliran-Aliran Sesat di Indonesia)
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Shalawat dan salam semoga tetap atas Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- , keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.
Amma ba’du.
Saya diberi kehormatan untuk menulis kata pengantar di buku yang berjudul: Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur`an (Bantahan terhadap 2 makalah Ulil Abshar) ditulis oleh Ustadz Agus Hasan Bashori.
Sebenarnya saya agak khawatir kalau tulisan saya ini justru memberi warna sedemikian rupa yang menjadikan buku ini akan berkurang bobotnya. Karena nama saya oleh Ulil Abshar Abdalla –yang disoroti buku ini— ia sebut garis keras, dan bahkan dia tidak terima kenapa orang justru mengkritik dia (Ulil) tidak mengkritik saya (Hartono). Hingga Ulil mengatakan kepada sebuah majalah terbitan Jakarta, kenapa Hartono Ahmad Jaiz itu tidak dikritik, apakah karena sudah ketahuan jeleknya, sehingga tidak dikritik? Di lain kesempatan, Ulil juga menyebut-nyebut bahwa dia menulis di Kompas yang dia akui vulgar itu hanya mengimbangi orang-orang seperti Hartono, Adian Husaini dan lainnya, yang istilah balaghohnya musyakalah (mengimbangi). Sehingga sama sekali Ulil tidak menyesali tulisannya yang banyak dihujat orang itu, malahan diterus-teruskan, sampai mengemukakan di suatu majalah bahwa Vodca (minuman beralkohol lebih dari 16%, pen) boleh jadi di Rusia dihalalkan karena di sana udaranya dingin sekali.
Terlepas dari hal-hal itu, ada sesuatu yang menjadikan tanda tanya. Sehari sebelum tulisan Ulil yang menghebohkan, berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam muncul di Harian Kompas Senin 18 November 2002, Ulil telah mengemukakannya di Masjid Kampus UGM (Universitas Gajah Mada) Jogjakarta, dalam Dialog Ramadhan yang diselenggarakan para mahasiswa UGM yang tergabung dalam Jama’ah Salahuddin. Kata Ulil, besok (yaitu hari Senin) akan keluar tulisannya di Kompas. Maka dia uraikan isi tulisannya itu. Saat itulah saya bantah ungkapan-ungkapannya langsung di depannya. Karena ia menganggap bahwa hukum Islam seperti jilbab, qishosh, hudud dan semacamnya yang sifatnya mu’amalah itu tidak usah diikuti. Al-hamdulillah, saya sempat menyebutnya bahwa teori yang ia kemukakan itu hanyalah teori Nicollo Machiavelli yang dikenal menghalalkan segala cara, dan teori Anthrophocentrism yang menjadikan manusia sebagai sentral pertimbangan. Dan ini pada hakekatnya adalah teori Ibliscentrism, yaitu sudah ada perintah Allah, namun perintah itu disanggah dengan menjadikan diri Iblis sebagai ukurannya. Saya katakan, orang Yahudi saja ketika mengadakan perjanjian dengan Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- saw maka mereka menyepakati, apabila ada perselisihan pendapat hendaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan As-Sunnah), yang hal itu dicantumkan dalam Piagama Madinah. Apakah Anda yang Muslim malah lebih dari Yahudi? Tampaknya pertanyaan saya itu oleh Ulil dicarikan jawabnya, lalu dikemukakan dalam diskusi di Paramadina Jakarta, 8 Februari 2003, yang menganggap rujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang difahami ummat Islam itu sebagai penyembahan terhadap teks. Ulil melontarkan istilah penyembahan teks itu merujuk kepada orang kafir. Ini. agak berbeda dengan Pak Munawir Sjadzali ketika jadi menteri agama RI 1983-1993 merujuk kasus yang sama kepada seorang tokoh di Pakistan. Baik yang merujuk langsung kepada tokoh kafir maupun tokoh sekuler semuanya sama, mengkotak-katik Al-Qur’an dan As-Sunnah agar tidak diberlakukan lagi. Masalah inilah yang kini dibantah tajam oleh Ustadz Agus Hasan Bashori di buku ini.
Kembali kepada tulisan Ulil, entah apa jalinannya antara Ulil dengan Kompas. Yang jelas, saya sendiri yang sudah berlama-lama kerja di koran, saya tidak berani mengatakan bahwa tulisan saya akan keluar besok di koran tempat saya kerja. Namun Ulil yang bukan orang Kompas bisa mengumumkan tulisannya akan keluar di Kompas besok, dan ternyata keluar beneran. Padahal tulisan itu jelas-jelas sangat menghantam Islam dan Ummat Islam. Para analis barangkali bisa menganilisisnya.
Benar. Keesokan harinya, tulisan Ulil ada di Kompas. Saya berada di Solo Jawa Tengah, saya buka e-mail saya, sudah ada orang yang prihatin atas munculnya tulisan Ulil itu. Ceramah ba’da Isya’/ Tarawih di masjid-masjid sudah menguraikan keprihatinan atas munculnya tulisan Ulil itu.
Banyak ulama, tokoh Islam, dan kaum Muslimin yang tersentak bahkan tersinggung dan marah-berat ketika membaca tulisan Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) di Harian Kompas 18 November 2002 / Ramadhan 1423H yang berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam itu. Artikel itu menghantam Islam dan ummat Islam secara semaunya. Arahnya adalah pluralisme agama, menyamakan Islam agama Tauhid dengan agama-agama lain yang berseberangan bahkan bertentangan dengan Tauhid, yaitu syirik, menyekutukan Allah swt dengan selain-Nya. Resiko dari keberanian menyejajarkan agama Tauhid dengan kemusyrikan itu sampai-sampai Ulil Abshar Abdalla “memfatwakan” tidak berlakunya lagi larangan pernikahan antara Muslim/ Muslimah dengan non Muslim. Dia karang-karang bahwa larangan atau keharamannya dalam Al-Qur’an tidak jelas. Lebih dari itu, seluruh hukum dalam Al-Qur’an yang menyangkut mu’amalah (pergaulan antar manusia) tidak perlu diikuti lagi di zaman modern ini. Sehingga Ulil Abshar Abdalla menegas-negaskan hawa nafsunya berkali-kali bahwa dia tidak percaya adanya hukum Tuhan.
Kecaman terhadap Ulil Abshar Abdalla dari yang mengkafirkan, menghalalkan darahnya, dan suara-suara kencang dari berbagai kalangan Muslim pun mencuat. Fatwa hukuman mati yang telah ditujukan kepada penghujat Islam yakni Pendeta Suradi dan H Amos yang dikeluarkan FUUI (Forum Ulama Ummat Islam) pimpinan KH Athi’an Ali M Da’I di Bandung 2001 pun tinggal merujuknya kembali. Dan hal semacam itu diamini pula oleh ulama NU (Nahdlatul Ulama) di antaranya KH Luthfi Bashori alumni Makkah yang tinggal di Malang Jawa Timur. Fatwa yang tadinya untuk penghujat Islam dari kalangan Nasrani itu ketika mencuat ke masyarakat dan arah sasarannya kali ini adalah penghujat Islam namun dari kalangan JIL (Jaringan Islam Liberal), maka secepat kilat seorang profesor yang sudah berpengalaman dalam memelihara dan mendukung aliran-aliran dan faham sesat, yaitu Profesor Dawam Rahardjo, mengambil langkah seribu untuk membela Ulil Abshar Abdalla. Dia berbicara di televisi sejadi-jadinya, dan menulis di majalah sebisa-bisanya agar Ulil jangan sampai dipites (dipegang kepalanya sampai mati) oleh orang. Dawam sangat khawatir kalau sampai terjadi peristiwa yang merugikan penyebaran kesesatan, sebagaimana ketika tokoh sekuler di Mesir Faraj Faudah sedang menggemakan missi sekularisasinya, tahu-tahu dibunuh orang yang anti sekulerisme.
Pembunuhan terhadap tokoh sekuler di Mesir10 tahun lalu itu tampaknya sangat terngiang di telinga Dawam Rahardjo, sehingga ia sangat khawatir kalau hal yang sama menimpa salah satu yang ia anggap “asuhannya”, yang kali ini adalah Ulil Abshar Abdalla. Apalagi kalau mengingat kesaksian Syeikh Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- Al-Ghazali di Mesir selaku saksi ahli Hukum Islam di pengadilan dalam kasus dibunuhnya tokoh sekuler itu, beliau mengatakan bahwa sekuler itu hukumnya murtad, maka darahnya halal. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta). Tentu saja para pendukung kesesatan seperti Dawam Rahardjo sangat ketar-ketir (sangat khawatir). Sebab, yang hanya sekuler saja sudah dibunuh, apalagi yang sampai menyamakan Islam dengan agama kemusyrikan, menafikan hukum Tuhan dan melontarkan aneka hujatan terhadap Islam.
Rasa kekhawatiran yang memuncak dari para pendukung kesesatan itu agak menurun ketika mereka mendengar bahwa Ulil Abshar Abdalla diadukan ke polisi. Dari mulut Ulil sendiri terlontar kata-kata yang menunjukkan rasa leganya, ketika ada khabar bahwa FUUI akan mengadukannya ke pihak polisi. Kelegaan Ulil itu tampaknya sementara memang jadi kenyataan, karena sudah empat bulan dari diadukannya itu sampai tulisan ini dibuat, ternyata belum ada berita perkembangan yang berarti. Bukan karena kurang gigihnya para pengadu, namun sebagaimana sudah diketahui umum, banyak hal yang kalau menyangkut didhaliminya Islam dan Ummat Islam maka pengaduan tinggal pengaduan. Barangkali kelegaan Ulil yang sempat ia lontarkan itu berdasarkan pengalamannya pula, di samping faktor-faktor lain yang tak perlu dikemukakan di sini. Maka sekali lagi, justru kematian yang mengancam diri Ulil itulah yang sangat dia khawatirkan bersama para pendukung kesesatannya. Sampai-sampai Ulil mengkhawatirkan kalau dirinya tiba-tiba dibunuh orang gara-gara kenekadannya dalam menohok Islam itu, dengan ia sebut “fatwa mati” untuk dirinya itu jangan-jangan jadi bola liar yang lari ke sana-sini, lalu benar-benar menimpa dirinya.
Memang takut mati adalah salah satu ciri dari orang-orang yang berhadapan dengan Islam, bahkan yang kurang berani berjuang menegakkan Islam ataupun mereka yang cinta dunia. Sebagaimana orang-orang Yahudi yang telah berani memain-mainkan aturan dari Allah pun mereka bungkam ketika ditantang Allah agar meminta mati apabila mereka merasa benar. Demikian pula Ulil Abshar Abdalla, ketika ditantang mubahalah (saling berdo’a agar dilaknat Allah bagi yang berdusta) dalam satu seminar di Bandung, maka dia mengelak, bahkan beralasan kalau mubahalah itu berarti mengajak goblog, karena mubahalah itu dari kata bahlul yaitu goblog, kata Fauzan Al-Anshari ketika menceritakan pengalamannya berdiskusi menghadapi Ulil di Bandung.
Kenyataannya, Ulil diancam mati, takut. Diajak mubahalah, mengelak dengan alasan yang dibuat-buat. Diadukan ke polisi, dia gembira. Di balik gembiranya itu dia tetap saja merusak pemahaman Islam dengan aneka celotehnya. Sementara itu “bak-bak sampah” tempat penampungan celotehannya telah siap menampungnya, di antaranya Yayasan Paramadina Jakarta pimipinan Dr Nurcholish Madjid, media massa Katolik seperti Kompas, media massa sekuler yang sering sinis terhadap Islam seperti Tempo, Jawa Pos dengan 56-an koran-koran daerah di bawahnya (Radar ini Radar itu), pemancar radio 68H dengan 200-an radio swasta se-Indonesia yang merelaynya, website JIL Islamlib.com yang senantiasa menyuarakan faham liberalnya maupun lembaga-lembaga lainnya yang siap jadi penampung dan penyalur kenyelenehan dan kesesatannya. Makanya Ulil optimis, karena ada lembaga-lembaga yang menurut dia relatif bisa menerima lontaran-lontarannya, terutama adalah orang-orang IAIN-IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dan STAIN-STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, dulunya cabang IAIN, lalu mereka berdiri sendiri-sendiri).
Pemandangannya jadi terbelah dua. Ulil bersama para pendukungnya (ada lembaga, ada media massa, ada manusia-manusia yang sinis terhadap Islam dan semacamnya, bahkan musuh Islam benar-benar) berada di satu gerumbul. Di belahan lain adalah ummat Islam bersama tokoh-tokohnya yang aneka macam (ada yang disebut garis keras, moderat, lunak, dan sebagainya). Di saat serangan terhadap Islam dibomkan oleh Ulil dan konco-konconya, maka ummat terbelah-belah, bingung. Lalu tokoh-tokoh Islam ada yang gigih menanggapinya, ingin menghabisinya. Ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang malah ikut-ikutan dan mendukung kesesatannya. Sehingga para musuh Islam bersorak-sorai kegirangan, karena telah bisa menciptakan musuh Islam dari kalangan Islam sendiri. Lalu ketika tokoh Islam yang ingin menghabisi perusak Islam itu menempuh jalan yang dianggap baik, yaitu secara prosedur yang berlaku, maka entah kenapa Ulil dan para pendukungnya itu jadi lega. Saya tidak bisa menguraikannya. Hanya bisa menggambarkan kondisinya terbelah dua seperti tersebut.
Pertentangan dan pergulatan antara perusak Islam dengan yang mempertahankannya, baik secara prosedural maupun perasaan tampaknya tetap berlangsung. Hanya saja, perusakan terhadap Islam senantiasa dilancarkan, karena Ulil dan para pendukungnya yaitu para pengusung perusakan Islam tetap bekerja siang malam karena sudah ada rasa kelegaan, merasa terlindungi, dan punya sarana yang banyak macamnya, serta banyak dana. Islam dijadikan sasaran untuk dipreteli satu persatu agar habis. Kalau orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela sehingga Muslimin mengikuti agama mereka (lihat QS Al-Baqarah: 120) maka antek-antek Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim tidak rela apabila Islam masih utuh seperti apa adanya. Mereka berupaya keras demi mengikuti kemauan bossnya, maka dipreteli dan dikelupas lah Islam ini, sehingga lepas satu-persatu, tidak tersisa lagi. Hingga Islam tinggal namanya, Al-Qur’an tinggal gambar hurufnya.
Dalam hadits disebutkan:
21139 حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ حَبِيبٍ حَدَّثَهُمْ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ . (أحمد).
“Dari Abu Umamah al-Bahili dari Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- , beliau bersabda: “Untaian tali-tali Islam ini pasti akan terurai satu persatu, setiap kali satu untaian terurai maka orang-orang berpegangan dengan untaian berikutnya. Dan untaian yang terurai pertama kali adalah hukum, sedangkan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)
1908 أخبرنا أبو الحسن علي بن أحمد بن عبدان أنا أحمد بن عبيد الصفار ثنا بن عيسى بن أبي إياس ثنا سعيد بن سليمان عن عبدالله بن دكين عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جده عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طالب رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوشك أن يأتي على الناس زمان لا يبقى من الإسلام إلا إسمه ولا يبقى من القرآن إلا رسمه مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى علماؤهم أشر من تحت أديم السماء من عندهم يمدح الفتنة. (البيهقي شعب الإيمان ج: 2 ص: 311).
“Dari Ali Ibn Abu Thalib t, dia berkata: “Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda: “Hampir datang pada manusia suatu zaman yang mana Islam hanya tinggal namanya dan al-Qur`an hanya tinggal tulisannya, masjid-masjid mereka ramai (dengan manusia) tetapi ia kosong dari hidayah, ulama mereka adalah orang yang paling buruk di kolong langit ini, dari sisi mereka fitnah itu dipuji.” (HR. al-Baihaqi, Syuab al-Iman 2/311)
Perusakan terhadap Islam adalah satu kemunkaran yang sangat puncak. Tanpa ada perusakan pun, orang-orang yang mampu untuk menyiarkan dan mendakwahkan Islam maka wajib mendakwahkannya. Sehingga, lepasnya unsur-unsur Islam seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut, tanpa dilancarkan oleh orang-orang tertentu dengn program yang disusun rapi pun, ummat Islam ini sebenarnya wajib mempertahankan Islamnya. Apalagi dalam kasus ini perusakan dan pemretelan terhadap Islam itu justru diprogramkan, didanai, dan dilaksanakan secara sitematis; maka kewajiban untuk mempertahankan Islam di sini lebih mutlak wajibnya. Meskipun demikian, untuk melaksanakan kewajiban mempertahankan Islam dalam kasus ini pun memerlukan perangkat. Di antara perangkat yang paling utama adalah pemahaman Islam secara memadai dan benar. Karena, tanpa memiliki kemampuan memahami Islam secara memadai dan benar, maka menghadapi syubhat-syubhat (kesamaran-kesamaran) dan kata-kata sampah yang disasarkan untuk mempreteli Islam itu bisa jadi justru menambah kerancuan pemahaman. Akibatnya, pemahaman justru akan rusak, carut marut dan makin jauh dari Islam, alias ikut pula mempreteli Islam tanpa disadari. Padahal kalau gerakan sistematis perusakan pemahaman Islam ini dibiarkan, yang terjadi adalah proses pembusukan pemahaman Islam secara sitematis yang menuju kepada rusaknya seluruh sisi pemahaman Islam.
Menyadari betapa bahayanya kondisi ini, rupanya Ustadz Agus Hasan Bashori adalah salah satu dari barisan pembela Islam yang maju ke depan untuk menebas lontaran-lontaran teman kuliahnya dulu di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yaitu Ulil Abshar Abdalla yang telah kelewat batas itu. Lontaran-lontaran Ulil yang merupakan olahan dari sampah-sampah berbahaya yang ia kais-kais dari tokoh-tokoh sekuler, Islam kiri, orientalis, kafirin, tasawuf sesat, liberal, dan mereka yang berfaham pluralisme agama alias mensejajarkan semua agama, kali ini didamprat oleh Ustadz Agus Hasan Bashori yang merujuk kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, dan penjelasan para ulama yang bermanhaj salaful ummah.
Inti dari lontaran sampah yang dibualkan Ulil adalah agar dalam mengatur kehidupan modern ini Al-Qur’an tidak dijadikan pedoman, apalagi As-Sunnah. Justru yang dijadikan pedoman adalah apa yang ia sebut pengalaman manusia, dengan alasan bahwa Tuhan telah memuliakan (takrim) kepada manusia. Kalau untuk mengatur kehidupan modern ini masih merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang tertulis dalam teks, maka Ulil menganggapnya sebagai penyembahan terhadap teks. Ulil menginginkan agar apa yang ia sebut penyembahan teks itu dicari jalan keluarnya, di antaranya adalah menjadikan pengalaman manusia ini kedudukannya sejajar dengan Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an yang berupa teks itu hanyalah separoh dari Al-Qur’an, dan yang separohnya lagi adalah pengalaman manusia. Itulah yang dimaui Ulil.
Kalau kemauan Ulil itu diikuti, maka dia sendiri tertabrak oleh bikinan dia sendiri, yaitu dia sama dengan menginginkan agar jangan hanya menyembah teks tetapi sembah juga pengalaman manusia. Ujung-ujungnya, dia sendiri menyembah pikirannya sendiri, yaitu pikirannya yang menginginkan adanya penyembahan model yang ia lontarkan.
Pantas saja Ustadz Hasan Bashori cukup lancar dalam membabat lontaran-lontaran sampah dari teman kuliahnya dulu ini yang tahu-tahu setelah berpisah dan kemudian Ulil berguru kepada Romo Katolik di antaranya Frans Magnis Suseno SJ di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta, tampak nyeleneh. Karena lontaran Ulil berputar pada kisaran duga-duga yang jauh dari kebenaran, yang ketika dikemukakan ke masyarakat umum menjadi wabah penyakit aqidah, dan sebenarnya semua itu menurut istilah Al-Qur’an hanyalah mengikuti orang-orang kafir terdahulu. Guru yang mengajari Ulil itu keyakinannya telah disinyalir oleh Al-Qur’an sebagai orang-orang yang hanya menirukan orang-orang kafir terdahulu. Lantas Ulil yang mengolah pemahaman di antaranya dari gurunya itu, terjebak dalam kisaran yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai orang yang menuhankan hawa nafsunya. Itulah kunci rahasia yang telah terpegang oleh temannya, yaitu Ustadz Agus Hasan Bashori, sehingga dia tampakkan hujjah-hujjah yang mematikan untuk Ulil.
Aqidah orang yang mengikuti kafirin terdahulu disebut dalam Al-Qur’an:
]وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ[
“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS At-Taubah: 30).
Setelah berguru kepada orang yang keyakinannya menirukan kafirin terdahulu, jadilah orang yang menciptakan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Kalau sudah demikian, maka peringatan Allah swt perlu dijadikan pertimbangan benar-benar:
]أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ[
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al-Jatsiyah: 23).
]وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ[
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Qashash: 50).
Allah I telah memberikan peringatan setegas itu. Kanyataan telah membuktikan, orang yang berguru kepada tokoh yang keyakinannya menirukan orang-orang kafir terdahulu, maka ketika si murid itu pada gilirannya mengajarkan ajarannya itu kepada umum didukunglah oleh kelompok-kelompok kafirin dari Barat dan Timur serta wadya balanya.
Pada awal pertempuran antara Muslimin dan kafirin di masa Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- saw yang kondisi secara jumlah fisik dan perbekalan serta sarana perlengkapan, pihak Muslimin yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- saw di lembah Badr adalah sangat minim, sedang pihak kafirin jauh lebih besar jumlah orang dan sarana perlengkapannya, maka Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- saw berdo’a:
3309 حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ حَدَّثَنِي سِمَاكٌ الْحَنَفِيُّ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ ح و حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنِي أَبُو زُمَيْلٍ هُوَ سِمَاكٌ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ ابْنُ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ. (مسلم)
“Abdullah Ibn Abbas y saya diberitahu oleh Umar Ibn al-Khaththab t, beliau berkata: “Sewaktu perang Badar Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- memandang kepada orang-orang musyrik yang berjumlah seribu orang , sementara sahabat beliau hanya berjumlah 319 orang. Maka Nabi menghadap kiblat, kemudian mengangkat kedua tangannya dan bermunajat kepada Rabb-nya: Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan dari orang-orang Islam ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi di bumi. (HR Muslim).
Itulah istighotsah (permintaan tolong di saat gawat) yang dilakukan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- saw secara sendirian dalam perang Badr Kubro. Nabi saw sangat nelangsa (merendahkan diri dengan mohon dikasihani) kepada Allah swt.
Apakah di saat Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya kini sedang dikepung oleh suara-suara yang mengomandoi untuk melenyapkan pemakaiannya itu bila dibiarkan terus tidak seperti ungkapan do’a Nabi saw itu? Yaitu penyembahan kepada Allah tidak ada lagi yang sesuai dengan apa yang dituntunkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena kalau menyembah Allah swt dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah maka dicap sebagai menyembah teks. Penyembahan kepada Allah dialihkan kepada penyembahan nafsu, yaitu mengikuti apa yang dilontarkan oleh akal yang disetir oleh nafsu.
Sebelum kondisi itu terjadi, maka ummat Islam membendungnya. Kali ini Ustadz Agus Hasan Bashori berupaya memadamkan api yang disulut untuk membakar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Upaya Al-Ustadz ini mudah-mudahan akan dibarengi pula upaya para ulama, da’I, dan tokoh serta pembela Islam lainnya yang konsen dan istiqomah dalam menegakkan agama Allah. Sehingga merupakan barisan yang menolong agama Allah dan mendapat pertolongan dari-Nya untuk membalas upaya orang-orang yang ingin memadamkan agama Allah.
]يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ[
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS At-Taubah: 32).
Mudah-mudahan buku yang ditulis oleh ustadz Agus Hasan Bashori ini merupakan salah satu amal baik baginya, diridhoi Allah swt dan bermanfaat bagi ummat Islam. Dan semoga pihak-pihak yang mendukung kebatilan menyadari kekeliruannya, sehingga bukan malah mencari-cari permasalahan baru yang akan lebih menyiksa diri mereka, namun kembali kepada kebenaran yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan yang sesungguhnya.
Kami berlindung kepada Allah dari manusia yang disifati Allah swt sebagai berikut:
]وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ[
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (QS Al-Baqarah: 204).
Untuk menutup kata pengantar ini perlu kami kutipkan sebuah hadits:
137 حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ حَدَّثَنَا دَيْلَمُ بْنُ غَزْوَانَ عَبْدِيٌّ حَدَّثَنَا مَيْمُونٌ الْكُرْدِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو عُثْمَانَ النَّهْدِيُّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ. (أحمد).
“Dari Umar bin Khatthab t bahwa Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda: “Sesungguhnya yang paling saya khawatirkan (bahayanya) atas ummatku adalah setiap munafiq yang sangat pandai ngomong.” (HR Ahmad).
Wa billahit taufiq wal hidayah.
Wassalam
Jakarta, 13 Shafar 1424H
15 April 2003M
Hartono Ahmad Jaiz
Penulis buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia
Comments are closed.
Komentar