Syi’ah dan Saba’iyah
Oleh :
Mamduh Farhan al-Buhairi
(Dari buku Gen Syiah)
Ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah, Ali memiliki pendukung (syi’ah) yang membelanya, demikian pula Muawiyah, ia memiliki pendukung (syi’ah) yang berperang di pihaknya. Tentang kasus ini para sahabat dan tabi’in berselisih pendapat. Akan tetapi setelah matinya Ali ra, Abdullah ibn Saba’ mengklaim bahwa Ali ibn Abi Thalib lah yang mengajarkan kepadanya ajaran-ajaran tasyayyu’, dalam bingkai sebuah mazhab yang berbeda dengan apa yang diketahui oleh khalayak. Maka terkecohlah sebagian syi’ah Ali dan cenderung mengikuti ajaran Ibn Saba’. Dengan demikian berubahlah paradigma tasyayyu’, setelah menjadi tasyayyu’ (dukungan) politik kini menjadi tasyayyu’ teologi dan religi, pada sebagian pengikutnya, kecuali para sahabat dan tabi’in yang tadinya memang mendukung secara politik, bukan karena mazhab. Ibnu Saba’ menebarkan di tengah-tengah pengikutnya berbagai ajaran yang diambil dari khurafat, mitos dan legenda yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Ibnu Saba’ dan kelompoknya telah terbiasa menjadikan “dusta” sebagai kendaraan bagi cita-citanya, “dusta” atas nama “ahlul bait”.
Hal ini telah di akui olehAl-Kasy-syi dalam kitab “Rijal”nya menceritakan dari Ibn Sinan, Abu Abdillah berkata:
“Kami ahlul bait adalah orang-orang jujur (benar), tetapi selalu ada pendusta yang berdusta atas nama kami. Maka runtuhlah kejujuran kami di mata manusia. Adalah Rasulullah Saw manusia yang paling jujur ucapannya, dan adalah Musailamah al-Kazzab telah berani berbuat dusta atasnya. Adalah Amirul Mukminin (Ali) orang yang paling jujur -yang dibersihkan namanya oleh Allah- sepeninggal Rasulullah Saw, dan adalah Abdullah ibn Saba’ -semoga dilaknat oleh Allah- telah berani berdusta atasnya. Dan adalah Abu Abdillah al-Husain ibn Ali telah diuji dengan al-Mukhtar (ats-Tsaqafi),” kemudian Abu Abdilah menyebut nama al-Harits asy-Syami dan Banan: “Keduanya telah berdusta atas Ali ibn al-Husain,” kemudian menyebut al-Mughirah ibn Sa’id, Buzaigh, as-Surri, Abu al-Khath-thab, Mu’ammar, Basy-syar al-‘Asy’ari, Hamzah al-Yazidi dan Shaid al-Nahdi, beliau berkata: “Semoga Allah melaknat mereka, sesungguhnya para pendusta selalu berdusta atas kami. Cukuplah Allah yang menghukum setiap pendusta dan Allah pasti merasakan kepada mereka panasnya besi (neraka)”[1].
Kita ketika membantah dakwaan-dakwaan kaum yang fasiq dan yang keluar dari agama Allah ini tidak berdalil (berhujjah) melainkan dari kitab-kitab mereka sendiri. Maka dari mereka untuk mereka, hingga yang haq menjadi jelas.
An-Nubakhti menyebutkan dalam kitabnya:
“Tatkala Ali as terbunuh pendukungnya pecah menjadi tiga kelompok: kelompok yang berkata sesungguhnya Ali belum terbunuh dan tidak akan terbunuh atau mati hingga ia menggiring bangsa Arab dengan tongkatnya dan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana telah dipenuhi kezaliman dan kecurangan. Inilah kelompok pertama dalam umat ini yang berfaham “waqf” (mengatakan tidak mati) setelah Nabi Saw, dan yang pertama menyuarakan “ghuluw” (sikap berlebihan). Kelompok ini disebut “Saba’iyah”, sahabat-sahabat Abdullah ibn Saba’ orang yang telah menampakkan penghinaan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman dan para sahabat, serta memaklumkan “bara’ah” (lepas diri) dari mereka. Dan dia orang yang mengatakan bahwa Ali yang telah menyuruhnya berbuat demikian. Maka ia ditangkap oleh Ali, setelah ditanya ia mengakui maka Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Tetapi orang-orang berteriak mengatakan: “Ya Amiral Mukminin apakah engkau akan membunuh orang yang telah mengajak untuk mencintaimu dan ahlul bait? Mengajak setia kepadamu dan benci kepada musuh-musuhmu?” Maka Ali mengusirnya ke Madain (ibukota Iran). Sejumlah ahli ilmu dari sahabat Ali as mengisahkan bahwa Abdullah ibn Saba’ asalnya Yahudi lalu masuk Islam dan mendukung Ali as. Ketika Yahudi ia mengatakan bahwa Yusya’ ibn Nun setelah Musa as adalah seperti ajarannya di sini. Dan ketika Islam sepeninggal Rasulullah Saw ia mengatakan tentang Ali seperti tadi. Dialah orang pertama yang menyiarkan kabar tentang kewajiban imamah Ali, yang memperlihatkan bara’ah dari musuh-musuhnya dan yang mengungkap lawan-lawannya. Dari sanalah orang yang di luar Syi’ah mengatakan bahwa asal usul Syi’ah diambil dari Yahudi. Tatkala Ibnu Saba’ di Madain mendengar berita wafatnya Ali , dia berkata kepada pembawa berita duka: “Kamu dusta, seandainya engkau datang kepada kami dengan membawa otaknya dalam 70 kantong dan saksi adil sebanyak 70 orang tentu kami yakin bahwa ia belum mati dan belum terbunuh, dia tidak akan mati sebelum menguasai bumi”[2].
Begitu sekelompok Syi’ah arahnya berubah dari politik menjadi model mazhab maka kelompok ini dipimpin langsung oleh orang-orang Yahudi. Hal ini diakui oleh Syi’ah sendiri, termasuk oleh an-Nubakhti, Sa’ad al-Qummi dan masih banyak lagi di kitab-kitab mereka.
Di antara faktor-faktor utama yang menjadikan meluasnya kelompok fasiq ini adalah:
1. Terbunuhnya khalifah Ali ra telah menjadikan mereka bergerak secara bebas. Tidak ada tanaman yang mereka inginkan melainkan mereka pasti menanamnya, maka merekapun mengatakan atas nama Ali ra sesuka hati mereka.
2. Lemahnya dukungan Syi’ah kepada Hasan sepeninggal ayahnya, mereka terpecah, ada yang bergabung dengan Saba’iyah, ada yang ikut Muawiyah dan yang lain bergabung kepada Khawarij. Hal ini telah dijelaskan oleh guru besar Syi’ah al-Mufid, al-Irbiliy[3] asy-Syi’i dan al-Majlisi di dalam kitab-kitab mereka dan mereka menyebutkan bergeraknya Muawiyah ke Irak[4].
Jadi sifat khianat dan curang tidak asing lagi dilakukan oleh Syi’ah. Mereka telah mengkhianati Ali ra kemudian mengkhianati anaknya, Hasan dengan meninggalkannya ketika berperang melawan pasukan Muawiyah di Madain. Begitu pula sikap mereka terhadap Husain, mereka yang mengundang Husain untuk membelanya melawan Yazid ibn Muawiyah, tetapi sesampainya di Karbala mereka mengkhianati sampai terbunuh.
Begitu pula mereka mengulangi hobi mereka terhadap Zaid ibn Ali ibn Husain hingga terbunuh. Itulah Syi’ah, begitulah gayanya dari dulu hingga kini “kelompok pembenci”, “pendengki” dan “pengkhianat”. (AH)
[1] Rijal al-Kasy-syi. Hal 257-258.
[2] Firaq asy-Syi’ah. An-Nubakhti. Hal 43-44.
[3] Baha’ ad-Din Abu al-Hasan Ali ibn al-Husen al-Arbili (w. 693 H). Mereka mengatakan tentangnya : “Alim yang utama, penyair yang sastrawan, muhaddits yang teliti, tsiqah, agung, bapak segala keutamaan dan kebaikan, hujjah, penulis kitab Kasyf al-Ghummah fi ma’rifati al-Aimmah (al-Kuna wa al-Alqab 2/14).
[4] Al-Irsyad. Al-Mufid. Hal 189-191.; Jala’ al-‘Uyun. Al-Majlisi. Hal 90 dstnya.; Kasyfu al-Ghummah. Al-Irbili. Jilid II. Hal 56. Cet Beirut.; Al-Ya’qubi. Hal 214-215 dan Muruj az-Zahab. Hal 431.
bolehkah saya mempublikasikan artikel in?
saya perlu berkenalan langsung dengan mamduh farhan albuhairi. saya ingin mengadakan mubahalah dengan para pengikut syiah, dengan harapan turunnya hidayah bagi mereka2 yang tertipu terjerumus dalam ajaran syiah sesat.
semoga allah snntiasa melindungi qt dn menjaga qt dr brbagai propaganda2 kaum syiah yg smkn hari smkn menjadi2, musuh islam yg sesungguhnya, yg menjadikan dien yg haq ini sbg tameng/topeng atas tindakan2 sesat mrk.
ياأيهاالذين أمنو قواأنفسكم وأهلكم نار، وقودهاالناس والحجاره، عليها ملئكه غلىظ شداد لا يعصون الله ماأمرهم ويفعلون مايؤمرون_
artikel ini sungguh sangat brmanfa2t, smg allah membalas antum dg pahala yg brlipat ganda amin…
slm knl dr sy hamba allah.