Gen Syi’ah
artikel tentang buku Gen Syi’ah
Pertumbuhan Syi’ah
BAB I.
PERTUMBUHAN SYI’AH
Semenjak terbitnya fajar Islam di ufuk dunia dan semenjak risalah Muhammad –Shalallahu alaihi wa salam- tertulis di lembaran sejarah yang terang, penuh dengan cahaya hidayah Nabi yang shadiq lagi terpercaya yang menjadi penghulu para Rasul Saw, semenjak itu para musuh Islam telah merancang rencana jahat untuk melenyapkan agama dan untuk memperburuk wajahnya dan untuk mencampurnya dengan berbagai kebatilan dan khurafat. Semua itu dilakukan dengan tujuan menutupi cahaya ini dari kehidupan.
Akan tetapi Allah selalu menggagalkan, “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. Dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (Ash-Shaff: 8).
Adalah orang-orang Yahudi yang pertama kali menebarkan racun di dalam agama Islam ini untuk memalingkan putra-putra Islam dari agama dan akidah yang lurus. Pemimpin kaum jahat munafik, yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan Islam adalah seorang Yahudi, Abdullah Ibn Saba’, yang geram melihat Islam tersiar dan tersebar di Jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Persia sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropa. Ibn Saba’ ingin menghadang langkah Islam supaya tidak menguasai dunia yang berarti kekalahan dan kematian bagi Yahudi, maka Ibn saba’ merencanakan makar bersama Yahudi Shan’a (Yaman) untuk mengacaukan Islam dan umatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya termasuk Ibn Saba’ sendiri ke berbagai wilayah Islam termasuk ke ibu kota khilafah, Madinah Nabawiyah. Mereka mulai menebar racun dan menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang yang lugu dan berhati sakit untuk menentang khalifah Utsman -Radiallahu anhu-. Pada waktu itu juga mereka memperlihatkan rasa cinta dan setia kepada Ali ibn Abi Thalib –Radiallahu anhu-. Mereka mendukung dan mengaku kelompok Ali, padahal Ali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan akidah-akidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri mereka sebagai “Syi’ah Ali” (Pendukung Ali), padahal Ali membenci mereka, bahkan Ali sendiri telah menghukum dan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, begitu pula putra-putra dari keturunan Ali membenci dan melaknat mereka, akan tetapi kenyataan ini dirahasiakan dan ditutup-tutupi serta kemudian dirubah dan diganti secara licik dan keji. Pada waktu orang-orang Majusi juga menyimpan dendam terhadap Islam, maka bertemulah Majusi dan Yahudi menyatukan rencana dan misi mereka untuk menumpas Islam.
Pengantar Buku Gen Syi’ah
SYAIKH MADUH FARHAN AL-BUHAIRI
Penerjemah:
AGUS HASAN BASHORI
Penerbit:
Darul Falah Jakarta
(Mukaddimah penulis sudah dimuat)
PENGANTAR PENERJEMAH
· Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih bisa terlaksana. Hanya dengan taufiq-Nya terjemahan kitab ini terselesaikan, di tengah kesibukan tadris, tarbiyah, dirasah, dakwah dan kitabah sedang meningkat. Sudah cukup lama saya meninggalkan dunia terjemahan, dan tidak ada niatan menerjemah melainkan satu kitab yang menjadi “hutang” saya bagi guru saya al-Ustadz Dr. Nashir ibn Abdullah al-Qafari –hafidzahu Allah- yang telah menunjuk dan memberi ijin secara tertulis kepada saya (pada tahun 1418 H) untuk menerjemah kitab beliau yang berjudul “Ushul Mazhab asy-Syi’ah”.
Namun Allah berkehendak lain, dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya saya menerjemahkan kitab Ustadz Mamduh Farhan al-Buhairi al-Makki. Di antara pertimbangan itu adalah:
1. Pengarang kitab sendiri yang telah datang dari jauh (Makkah) untuk mencari penerjemah di Indonesia. Dan kemudian menunjuk saya dan memohon.
2. Kitab ini objek kajiannya sama dan tujuannya juga sama dengan kitab Syaikh al-Qafari yang belum rampung itu, paling tidak untuk sementara waktu pikiran-pikiran beliau ikut tersampaikan, sebab kitab beliau termasuk menjadi referensi dari kitab ini.
3. Kitab ini benar-benar masih perawan, bahkan belum dicetak, masih dalam proses penyempurnaan, karena itu sering terjadi kontak langsung dengan pengarang demi perbaikan, pengurangan dan penambahan. Ini tentu menjadi daya tarik tersendiri, bahkan dua hari beliau bermalam di tempat tinggal saya untuk tujuan itu.
4. Kitab ini memiliki banyak keistimewaan, pertama: ditulis dengan serius, full time selama dua tahun oleh orang yang memiliki perhatian khusus terhadap ajaran Syi’ah dan telah melakukan pengamatan di India dan Indonesia; kedua: memuat data dan fakta yang menarik dan baru. Ambil saja misalnya pembahasan tentang hubungan khulafa rasyidin dengan ahlul bait. Pernikahan Ali dan Fathimah, nikah mut’ah, perdebatan antara Ja’far ash-Shadiq dengan seorang Rafidhi, kemiripan Syi’ah dengan Yahudi, Nashrani dan Majusi, Rafidhah di mata ahlul bait.
5. merasa terpanggil untuk mengamalkan hadits “Tolonglah saudaramu yang zhalim dan yang dizhalimi”. Berapa banyak saudara-saudara kita yang tertipu oleh pemikiran-pemikiran Syi’ah karena tidak tahunya tentang Syi’ah sebenarnya, sementara yang mereka baca adalah tulisan-tulisan dari Syi’ah. Sering saya menjumpai orang yang berkata: Syi’ah adalah mazhab seperti mazhab fiqih yang empat, nikah mut’ah adalah masalah khilafiyah, orang ahlu sunnah jumud dan eksklusif serta tidak obyektif dalam memandang Syi’ah dan lain sebagainya. Walhasil buku-buku edisi Indonesia yang membantah dan menjelaskan hakikat Syi’ah masih tergolong minim dan langka, dan kehadiran buku ini adalah suatu hal yang niscaya.
· Judul Buku
Adapun judul kitab ini adalah “asy-Syi’ah, minhum ‘Alaihim” yang secara harfiah berarti “Syi’ah dari mereka atas mereka”. Kemudian untuk judul terjemahan ada lebih dari sepuluh opsi yang saya sodorkan kepada para sahabat dan termasuk kepada Ustadz Mamduh. Pada prinsipnya kita sepakat untuk memilih judul yang elegan, menarik, baru, singkat tapi padat serta memiliki arti filosofis.
Ada dua judul yang bersaing, pertama “Bila Syi’ah berguru pada Himar”; kedua “Syi’ah antara Tangis dan Tawa”. Akhirnya saya pilih yang kedua (Namun editor mengusulkan judul judul Gen syiah- jazahullah khairan)
Pendapat Tentang Kekafiran Syi’ah (bag.1)
Yang berpendapat bahwa Syi’ah itu kafir adalah para Imam-Imam Besar Islam, seperti: Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari dan lain-lain. Berikut ini kata-kata dari fatwa para Imam dan Ulama Islam mengenai golongan Rafidhah yang disebut dengan Itsna Asy’ariyah dan Ja’fariyah.
Pernyataan pada Makalah-makalah Para Ulama Terkenal dan pada Buku-buku Induk Mereka.
Akan dimulai dengan mengutarakan fatwa Imam Malik, kemudian Imam Ahmad, lalu Imam Bukhari. Selanjutnya saya akan utarakan fatwa Imam-imam yang lain sesuai dengan masa hidup mereka. Saya memilih fatwa para imam yang besar, atau para ulama yang hidup semasa dengan golongan Rafidhah (Syi’ah) yang tinggal dalam satu negeri atau dari kitab-kitab mereka dan dari ulama Islam yang mempelajari madzhab mereka.
Imam Malik:
Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata: “Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.”
Ibnu katsir berkata – dalam kaitan dengan firman Allah surah Al-Fath ayat 29:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
Ia berkata: “Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, ia mengambil satu kesimpulan bahwa golongan Rafidhah, yaitu orang-orang yang membenci para shahabat Nabi saw adalah kafir. Beliau berkata: “Karena mereka ini membenci para shahabat. Barangsiapa membenci para shahabat, maka ia adalah kafir berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini disepakati oleh segolongan ulama.
Al Qurthubi berkata: “Sungguh ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya pun benar. Siapa pun yang menghina seseorang Shahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin.
Imam Ahmad:
Beberapa riwayat diriwayatkan orang darinya tentang pendapat beliau yang mengkafirkan golongan Syi’ah.
Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya: Saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam.”
Al Khalal berkata: “Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata: “Barangsiapa mencela (Shahabat) maka aku khawatir ia menjadi kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah. Kemudian beliau berkata: “Barangsiapa mencela Shahabat Nabi –Shalallahu alaihi wasalam- maka kami khawatir dia keluar dari Islam (tanpa disadari).”
Ia berkata: “Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita kepada kami, katanya: “Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi Saw. Maka jawabnya: “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”.
Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang golongan Rafidhah: “Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari shahabat Muhammad saw dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini sama sekali bukan Islam.”
Syi’ah Itsna Asy’ariyah mengkafirkan para shahabat, kecuali beberapa orang yang jumlahnya tidak melebihi jari-jari satu tangan. Mereka melaknat shahabat, baik dalam doa, saat berziarah, di tempat-tempat pertemuan mereka maupun di dalam kitab-kitab induk mereka. Mereka mengkafirkan para shahabat sampai hari Kiamat.
Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Imam Ahmad telah mengkafirkan orang-orang yang menjauhkan diri dari shahabat, orang yang mencela Aisyah, ummul Mukminin dan menuduhnya berbuat serong, padahal Allah telah mensucikannya dari tuduhan tersebut seraya beliau membaca ayat: “Allah menasehati kamu, agar kamu jangan mengulang hal seperti itu untuk selama-lamanya, jika kamu benar-benar beriman.”
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan di dalam kitab Majmu’ al Fatawa, bahwa pernyataan mengkafirkan golongan Rafidhah seakan-akan ada perbedaan antara Imam Ahmad dan lain-lainnya.
Pernyataan-pernyataan Imam Ahmad yang tersebut di atas dengan jelas memuat kata mengkafirkan mereka. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah memperingatkan duduk persoalan pendapat yang tidak mengkafirkan golongan Rafidhah (Syi’ah), karena perbuatan mereka mencela Shahabat. Dengan demikian batallah anggapan tentang pernyataan Imam Ahmad yang seakan-akan bertentangan – kafir tidaknya Syi’ah.
Selanjutnya Ibnu Taimiyyah berkata: “Adapun seseorang yang mencela shahabat dengan kata-kata yang tidak sampai mengingkari kejujuran mereka dan agama mereka, seperti mengatakan bahwa ada sahabat yang bakhil, atau penakut, atau kurang ilmunya, atau tidak zuhud dan sejenisnya, maka orang semacam ini wajib mendapatkan pengajaran dan hukuman. Tetapi kita tidak menggolongkannya sebagai orang kafir, semata-mata karena perbuatan tersebut. Demikianlah yang dimaksud oleh pernyataan kalangan ulama yang tidak mengkafirkan orang-orang yang mencela shahabat.
Kepercayaan Syi’ah dan Pernyataan Mereka Tentang Kekafiran Para Ibu Kaum Mukminin (Istri-istri Rasulullah) dan Para Sahabat Rasulullah
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)
Ketiga: kepercayaan Syi’ah dan pernyataan mereka tentang kekafiran para ibu kaum Mukminin (istri-istri Rasulullah) dan para sahabat Rasulullah serta kebohongan yang mereka atas namakan Allah dan Rasul-Nya serta para pendahulu dari umat Islam ini yang telah membuktikan kebenaran janji-janji mereka kepada Allah serta membela kebenaran dan berlaku adil.
Kami akan nukilkan untuk anda, wahai kaum Muslimin sebagian dari pernyataan ulama-ulama Syi’ah dalam kitab-kitab induk mereka (kami memohon ampun kepada Allah Dzat Yang Maha Mulia dan kami bertaubat kepada-Nya, karena menukil pernyataan kekafiran dan kebohongan yang mereka atas namakan para wali-wali Allah) sekedar untuk maksud memberikan bukti atas kesesatan mereka, sehingga setelah melihat kebenaran dipersilahkan untuk binasa, barangsiapa menghendaki kebinasaan, dan tetap selamat orang yang mau mengikuti kebenaran.
1. Tokoh ulama Syi’ah yaitu al-Majlisi di dalam kitabnya “Hayatul Qulub” 2:700, cetakan Teheran”, menyebutkan: “Sungguh al-Ayyaasyi meriwayatkan dengan sanad yang masyhur dari ash-Shadiq a.s bahwa Aisyah dan Hafsah keduanya dilaknat oleh Allah begitu pula kedua bapaknya, karena kedua wanita tersebut telah membunuh Rasulullah dengan racun yang diminumkan kepadanya.”
2. Ulama Besar Syi’ah, Muhammad Baqir al-Majlisi dalam kitabnya “Haqqul Yaqiin, hal.519″ berkata: “Kepercayaan kami mengenai tabarru’ ialah bahwa kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyyah, serta empat orang wanita: Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummu Hakam, serta pengikut mereka dan golongan mereka, Meraka adalah makhluk Allah yang paling jahat di muka bumi. Sesungguhnya tidaklah sempurna keimanan kepada Allah, Rasul-Nya dan para Imam, kecuali jika seseorang telah melepaskan diri dari musuh-musuh mereka.”
Wahai para hamba Allah, perhatikanlah kebencian dan kedengkian Syi-i Rafidli durhaka ini yang berlaku bohong dengan keji, yang mencerca kehormatan para ibu kaum Mukminin, dan para sahabat Rasulullah yang adalah manusia terbaik sesudahnya dan celaan mereka kepada segenap kaum Muslimin. Namun kita merasa cukup Allah sebagai pelindung kita atas mereka. Sedangkan kepada penjahat-penjahat konco iblis, kami menjadikan Allah sebagai penghukum mereka dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan-kejahatan mereka.
3. Seorang tokoh Ahli Hadits Syi’ah dan salah seorang ulamanya, yaitu al-Kulaini di dalam kitabnya “Ar-Raudhah Minal Kaafi, 8:245, menyebutkan: “Para shahabat sepeninggal Rasulullah murtad dari padanya, kecuali tiga orang al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.”
4. Seorang tokoh dan ulama mereka, Salim bin Qais al-Amiri di dalam kitabnya halaman 96, berkata: “Semua sahabat sepeninggal Rasulullah saw menjadi murtad, kecuali empat orang.”
5. Ahli hadits mereka yang terkemuka, Husein bin Abdul Shamad al-Amili di dalam kitabnya “Wushulul Akhyar ilaa Wushulil Akhbar” mengenai sifat-sifat shahabat ia berkata: “Kami bertaqarrub kepada Allah dan Rasul-Nya dengan jalan membenci shahabat-shahabat, mencela mereka dan membenci setiap orang yang mencintai mereka.” (Baca halaman 164, cetakan Qom, Iran).
6. Mereka menisbatkan suatu kisah bohong dan dusta kepada Ja’far ash-Shadiq, katanya: “Apabila sampai kepada kalian dua hadits yang berlawanan, maka ambillah hadits yang berlawanan dengan umat ini (umat Islam).” Dan katanya pula: “Sesuatu yang menyalahi umat Islam, maka itulah sesuatu yang benar.”
7. Dan katanya pula: “Demi Allah, kalian sama sekali tidak benar meniru apa yang ada pada mereka (umat Islam). Dan mereka pun sama sekali tidak benar meniru apa yang ada pada kalian. Karena itu berbedalah kalian dari mereka. Apapun yang mereka lakukan sama sekali tidaklah termasuk hal yang benar.”
8. Mereka pun menisbatkan kepada Ash-Shadiq juga, katanya: “Demi Allah, tidak ada sedikitpun kebenaran yang masih tinggal ditangan mereka (umat Islam). Yang tersisa pada mereka hanyalah menghadap Ka’bah.” (Al Fushulul Muhimmah fii Ushulil Aimmah, karya al-Khur al-Amili, halaman 225/425).
Mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak sependapat dengan mereka dan tidak membenarkan kepercayaan mereka yang sesat itu dan tidak tunduk kepada mereka sekalipun itu para Nabi dan para Rasul, silahkan mengikuti apa yang mereka katakan: (more…)
kepercayaan Syi’ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)
Kedua: kepercayaan Syi’ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka.
Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah berkepercayaan terhadap Imam-imam mereka, bahwa mereka mengetahui hal ghaib dan merupakan manusia Ma’shum serta mempunyai derajat lebih tinggi dari para Nabi dan Rasul Allah, dan mereka hanyalah bisa mati atas kehendak mereka sendiri. Mereka menempatkan martabat para imam mereka setaraf dengan derajat ketuhanan, sebagaimana mereka katakan, bahwa para imam tersebut mengetahui hal yang sudah terjadi dan segala yang akan terjadi serta mengetahui segala isi Surga dan Neraka dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka – kebohongan dan kedustaan yang mereka lakukan atas nama Allah, dimana seseorang yang berakal sehat dan berjiwa waras berdiri bulu romanya untuk menukil ucapan semacam itu, tetapi anda mendapatinya semuanya tercantum di dalam buku-buku induk mereka yang paling terpercaya dan paling mereka agungkan.
Berikut ini wahai saudaraku Muslim, kami kutipkan keyakinan dan pendapat-pendapat mereka sebagaimana tersebut di atas dari kitab-kitab kaum Syi’ah, agar anda mengetahui permasalahannya secara jelas tentang ajaran dan perihal mereka, sehingga anda dapat membantah kebohongan mereka dan tipu daya mereka serta dapat menghentikan nafas mereka dan membungkam trompet mereka.
1. Dari Mufadhdhal bin Umar, dari Abi Abdillah a.s; adalah Amirul Mukminin semoga kesejahteraan Allah banyak terlimpah kepadanya, berkata: “Aku adalah penyalur Allah antara Surga dan Neraka. Aku adalah pembeda agung antara hak dan batil. Akulah pemilik tongkat Musa dan telah mengakui diriku semua Malaikat dan ruh serta rasul-rasul sebagaimana mereka lakukan pengakuan itu kepada Muhammad saw. Telah dipikulkan amanat kepadaku seperti yang dipikulkan kepadanya, yaitu amanat Tuhan. Dan sesungguhnya Rasulullah saw, pernah dipanggil lalu dibekali, dan aku pun pernah dipanggil lalu dibekali serta dia diajak bicara dan aku pun juga diajak bicara sehingga aku mengucapkan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Aku telah diberi beberapa pemberian yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumku. Aku mengetahui kematian dan bencana serta seluruh silsilah keturunan dan kata-kata pemutus, sehingga apa yang terlebih dahulu daripadaku tiada terluput dari diriku, dan tiada sesuatu yang jauh dariku dapat terlepas dari pengetahuanku. Aku memberi kabar gembira dengan izin Allah dan menunaikan tugas atas nama-Nya. Semua itu dari Allah yang telah menempatkannya pada diriku dengan Ilmu-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, hal. 196-197, juz 1, cetakan Teheran).
2. Ia berkata: “Sungguh aku benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi serta segala yang ada di surga dan neraka dan apa yang telah terjadi serta sedang dan akan terjadi”, (Al Kaafi fil Ushul, 1:261, cetakan Teheran).
3. Ia berkata: “Allah Tuhan Yang Maha berbarakah dan Maha Tinggi memiliki dua ilmu: Satu ilmu ditampakkan kepada Malaikat-Nya, para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya. Semua yang ditampakkan kepada para Malaikat, para Rasul-Nya dan para Nabi-Nya sesungguhnya kami juga mengetahuinya. Dan satu ilmu yang dikhususkan untuk Dzat-Nya. Bilamana ada sesuatu hal yang terlintas pada Allah, kami pun diberitahu hal yang demikian itu. Dan para imam yang ada sebelum kami juga diberitahu. (Al Ushul Minal Kaafi, 1:255).
4. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Allah telah menciptakan Ulul Azmi di antara Rasul-rasul-Nya dan mereka dikaruniai kelebihan ilmu dan kami mewarisi ilmu mereka dan kelebihan mereka itu serta kami dilebihkan di atas ilmu mereka. Dan diajarkan kepada Rasulullah saw apa yang mereka tidak ketahui dan diajarkan kepada kami ilmu Rasulullah saw serta ilmu mereka.” (Bashairud Darajat, 5:248 dan Al Fushulul Muhimmah, hal. 156).
5. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Sesungguhnya dunia ini milik imam dan akhirat pun milik Imam. Dia meletakkannya di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:409, cetakan Teheran).
6. Mirza Muhammad Haadi al-Khurasaani berkata: “Telah bersabda saw: Sungguh surga itu diciptakan untuk orang yang mencintai Ali, sekalipun ia durhaka kepada Rasulullah. Neraka diciptakan untuk orang yang membenci Ali, walaupun ia taat kepada Rasulullah.” (Risalatul Islam Wal Mukjizat, hal. 276).
7. Kulaini dalam bukunya Al Kaafi di dalam bab “Para Imam Syi’ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya akan mati atas kehendak sendiri”, meriwayatkan dari Abi Bashir, dari Ja’far bin Muhammad al-Baqir, bahwa ia berkata: “Seseorang Imam yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari dirinya dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi, maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untul makhluk-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:285, cetakan Teheran).
Komentar