Gen Syi’ah
artikel tentang buku Gen Syi’ah
Aqidah Syi’ah Terhadap Al-Qur’an
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)
Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt – berikut ini marilah dicamkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para Imam dan Ulama Islam, yang dengan pernyataan mereka yang tegas menyatakan kekafiran Syi’ah Rafizhah Imamiah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah serta terhempasnya mereka dari Islam laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Dalil yang digunakan oleh para Ulama dalam menetapkan hukum tersebut adalah dalil-dalil Qathi’, di mana golongan yang telah keluar dari Islam ini sudah berbeda prinsip maupun detailnya serta konsep-konsepnya dari Aqidah Ahlil Kiblat, yaitu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, agar kaum muslimin tidak terkecoh oleh mereka dan dengan secara jelas memahami golongan yang telah keluar dari Islam ini serta aqidah-aqidahnya yang sesat.
Golongan yang telah keluar dari Islam ini berusaha dengan berbagai macam cara menyelubungi dirinya di balik slogan-slogan yang sesat, bahwa mereka “masih termasuk Ahlil Kiblat” dengan mengerahkan kemampuan penulisan dan propagandis bayaran mereka. Untuk dakwah dan propagandanya ini golongan tersebut membelanjakan harta yang banyak sekali guna menjaring orang-orang awam dan memasukkan mereka di dalam jebakannya. Golongan ini terkadang mempergunakan slogan “demi persaudaraan Islam”, padahal mereka adalah manusia yang paling jauh dari Islam dan pengikutnya. Terkadang pula mereka menggunakan slogan “sambung rasa” antara golongan Sunnah dan Syi’ah. Tetapi bagaimana mungkin dan kapan bisa terjadi adanya “sambung rasa” antara yang hak dengan yang bathil. Prinsip apa yang akan digunakan untuk membangun persatuan antara yang baik dengan yang buruk. Bagaimana bisa berhasil mempertemukan serta terjadinya kesepakatan antara hidayah dan kesesatan?. Dan terkadang di tampilkan slogan “apakah boleh mengkafirkan golongan sesama satu Kiblat?” Slogan-slogan tersebut memang benar, tetapi dimanipulasi untuk tujuan bathil. Sebab Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah dan tidak menyatakan sesuatu pernyataan seperti yang dikatakan oleh golongan Syi’ah, bahwa Karbala, Qom, Kufah lebih mulia daripada kota Makkah dan Madinah. Ahlil Kiblat tidak akan mengatakan “barangsiapa pergi haji 20 kali ke Makkah tertulis pahalanya senilai dengan sekali pergi ziarah ke kuburan Husein”. Ahlil Kiblat tidak akan berkeyakinan bahwa “Allah menyaksikan para pengunjung kuburan Husein sebelum menyaksikan para Haji di Arafah”. Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah sebagaimana diucapkan dan menjadi keyakinan golongan Syi’ah, bahwa Allah berkata kepada Ka’bah: “Pemberian-Ku kepadamu bila dibandingkan dengan pemberian-Ku kepada bumi Karbala adalah laksana kelembaban sebuah jarum yang dicelup dalam laut berbanding dengan air laut itu. Sekiranya tidak karena bumi Karbala, niscaya Aku tidak memuliakanmu dan sekiranya tidak karena orang yang terkubur di bumi Karbala, niscaya Aku tidak menciptakanmu.”
Bualan dan kebohongan yang berjejal ditulis oleh seorang ulama Syi’ah Rafizhah Istna Asy’ariyah Ja’fariyah, bernama Al Hurru Al ‘Amili di dalam bukunya “Wassailus Syi’ah” jilid v, niscaya Ahlul Kiblat tidak akan mengucapkannya, dan tidak mungkin diucapkannya. Akan tetapi orang-orang yang mengatakan dan mempercayai bualan serta kebohongan semacam ini dan kesesatan seperti itu adalah golongan Syi’ah Rafizhah Imamiyah. Karena mereka memang bukan Ahlil Kiblat dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam dan umatnya.
Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt. Demi memahami dan mengerti dengan jelas masalah Syi’a Rafizhah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah, maka di dalam sajian ini kami akan ketengahkan keyakinan Syi’ah terhadap Al-Qur’an. Bahwa menurut mereka Al-Qur’an telah diubah, telah ditambah dan dikurangi. Sedangkan Al-Qur’an yang asli sesungguhnya ada ditangan juru selamat yang mereka khayalkan dan ditunggu kedatangannya, dimana Al-Qur’an itu adalah tiga kali lebih banyak daripada yang ada ditangan umat Islam. Mereka percaya bahwa Imam-imam mereka mengetahui soal-soal ghaib, dan imam-imam itu baru bisa mati bila mereka berkehendak untuk mati. Mereka itu adalah orang-orang yang terpelihara dari segala kekurangan dan dosa, lebih mulia dari para Nabi dan Rasul, mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi serta mengetahui segala isi surga dan neraka. Mereka menyatakan dan berkeyakinan, bahwa para sahabat yang telah mendapat ridha Allah itu setelah Rasulullah wafat semuanya murtad dari Islam, kecuali belasan orang sahabat. Mereka berkeyakinan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman dan para istri Rasulullah ‘Aisyah dan Hafsah serta sahabat Thalhah dan Zubair serta orang-orang yang mengikuti mereka, (semoga Allah melindungi kita) adalah orang-orang Zindiq dan kafir. Kebohongan, keyakinan dan pernyataan kekafiran yang mengeluarkan orang dari Islam lagi sesat serta menyesatkan semacam ini, mereka tulis didalam buku-buku induk mereka dan menjadi prinsip-prinsip agama dan panduan mereka. Di antara buku-buku yang telah menjadi kiblat mereka dan prinsip-prinsip agama mereka kami jadikan sebagai bukti kepada mereka agar menjadi binasa orang yang melawan bukti kebenaran dan menjadi selamat orang yang mau mengikuti kebenaran. Allahlah pemberi petunjuk kepada jalan yang benar.
Aqidah Agama Syi’ah
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)
BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIEM
Segala puji bagi Allah, Tuhan pemberi hidayah kita kepada Islam, dan tiada mungkin kita mendapat petunjuk sekiranya bukan dengan hidayah Allah SWT. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi-Nya yang mulia, yang telah meninggalkan kita pada jalan yang terang sehingga malamnya laksana siang, tiada sesat orang yang berjalan meniti jalan-Nya dan tiada terbimbing orang yang menyimpang dari pada-Nya. Shalawat dan salam untuk keluarganya dan sahabat-sahabatnya sebaik-baik manusia yang telah menjadi bintang-bintang penunjuk jalan, begitu pula teruntuk barangsiapa yang mencintai mereka dan mengikuti petunjuk mereka sampai kelak hari kiamat dan hancurnya bumi dan langit.
Kata-kata ini menjelaskan kepercayaan Syi’ah dan Aqidahnya, saya himpun dalam kerangka ini dari Buku-buku Induk Agama dan sumber referensi mereka, dengan menyebut nama buku rujukan itu dan nomor halamannya, agar menjadi saksi, bahwa apa yang kami katakan dan nukil adalah semata-mata dari kajian dan literatur mereka sendiri.
Selanjutnya saya susul dengan kumpulan Fatwa Imam-imam dan Ulama Kaum Muslimin Ahlissunnah Wal-Jama’ah, menjelaskan pendirian mereka mengenai kepercayaan dan I’tikad kaum Syi’ah Rawafidh.
Kumpulan fatwa itu saya nukil dengan sedikit keringkasan (dari sebuah Risalah yang ditulis oleh Dr. Nashir al Ghitari) dengan harapan akan memberikan penerangan kepada kaum Muslimin Ahlissunnah Wal-Jama’ah agar mereka tidak tertipu oleh berbagai slogan Syi’ah, atau dengan aneka macam propaganda mereka yang mempesona.
Sebab banyak orang di kalangan kaum muslimin karena prasangka mereka yang baik dan hati mereka yang tulus, serta kurangnya pengetahuan mereka perihal kepercayaan Syi’ah dan buku-buku agama mereka, telah menjadi korban tipuan propagandis-propagandis Syi’ah dan dalang-dalangnya. Dan hal yang menyedihkan sekali, ada sebagian orang dikalangan Ahlissunnah Wal-Jama’ah yang disebut dengan nama Ilmuwan, telah tertipu oleh tipu muslihat Syi’ah dan terbius oleh alunan irama langgam mereka, padahal sekiranya ilmuwan-ilmuwan itu waspada dan sadar sejenak dan berupaya untuk membaca dan meneliti buku-buku rujukan agama Syi’ah, niscaya akan menjadi jelas bagi mereka kejelian Firman Allah:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa’: 36).
Bila demikian halnya, gerangan apakah yang bakal disediakan oleh ilmuwan-ilmuwan itu dihadapan Allah SWT nanti untuk menetralisir kegegabahan mereka yang telah menjatuhkan banyak korban yang telah tersesat dalam Aqidahnya di kalangan anak-anak muda Ahlissunnah Wal-Jama’ah disebabkan oleh tulisan-tulisan maupun ucapan simpati mereka terhadap doktrin Syi’ah dan kaumnya, Sambung-rasa mana telah disebar-luaskan oleh media propaganda mereka serta lembaga pendekatan mereka yang telah menghembuskan angin berbisa untuk mensyi’ahkan kaum Muslimin di tengah-tengah kampung halamannya. Hanya kepada Allah-lah kami hadapkan keluhan kami dari pola berpikir picik mereka itu. Perlu anda ketahui juga, bahwa yang terbanyak dikalangan Syi’ah sendiri dalam memeluk agama, mereka tidak tahu menahu tentang buku-buku rujukan agama mereka, karena buku-buku itu dijauhkan dari penglihatan mereka dan ditarik dari peredaran di tengah-tengah mereka, dengan demikian pengetahuan dan cara mereka beragama, adalah semata-mata taklid buta kepada apa yang diindoktrinasikan dan disuapkan kepada mereka oleh penghulu-penghulu dan juru-juru kunci imam-imam mereka dengan memanipulasi slogan “Pembela Ahlilbait” yang selalu mereka jadikan umpan dan kuda tunggangan keserakahan mereka, padahal I’tikad dan kepercayaan, ucapan dan perangai mereka sungguh bertolak belakang dengan I’tikad, prilaku dan perangai “Ahlilbait Radhiallahu Anhum”.
Beberapa Rujukan-rujukan Agama Syi’ah
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)
Beberapa Rujukan-rujukan Agama Syi’ah
Pertama:
AL-KAFI, dikarang oleh ALKULAINI, kitab ini terdiri dari tiga bagian dalam 8 juz: AL-USHUL, AL-FURU’ AL-RAWDHAH, terisi dengan 16199 Hadits.
Berkata Ulama mereka Agha Bazrak Attahrani memujinya: Dia (AL-KAFI) adalah yang paling mulia di antara keempat kitab, Ushul yang menjadi sandaran, tidak pernah ditulis riwayat-riwayat manqul dari keluarga Rasul seperti (AL-KAFI) itu, oleh kepercayaan Islam Muhammad bin Yaqub Alkulaini Arrazi, Wafat tahun 328 Hijriyyah. (Kitab Adzdzari’ah fi thashanif Assyiah 17 hlm. 245).
Berkata Annisaburi memujinya: KEPERCAYAAN ISLAM, TOKOH ULAMA-ULAMA, BULAN PURNAMA, PENGHIMPUN SUNAN DAN ATSAR, yang dihadiri oleh DUTA-DUTA AL-QAIM (Imam mereka yang ghaib), yaitu: Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Alkulaini Arrazi, telah diceritakan bahwa kitabnya dipertunjukkan kepada AL-QAIM (imam mereka yang ghaib), yang dijawab olehnya: CUKUP, ITU UNTUK SYI’AH KAMI”. (Rawdlatul Jannat 2 hlm. 116).
Berkata Husin bin Abubakar Alhabsyi Bangil, memujinya: AL-KAFI, oleh ALKULAINI, Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub Alkulaini (329), YANG PALING AGUNG, PALING BENAR DAN PALING BAGUS, isi matannya 16190 Hadits, dihimpun oleh ALKULAINI dalam masa 20 tahun. (Surat tulisan tangan dibubuhi tanda tangannya).
Kedua:
MAN LA YAHDHURUHUL-FAQIH dikarang oleh tokoh mereka ABI JA’FAR ASSADUQ, MUHAMMAD BIN ALI BIN ALHUSIN BIN MUSA BIN BABAWAIH ALQUMMI, meninggal tahun 381 H, terdiri dari 6593 Hadits; berkata Muhammad Shodiq Asshadr memujinya: Ini adalah sumber kedua bagi Assyi’ah, dan berkata: Tokoh kami ASSADUQ telah mencapai satu kedudukan yang mulia di zamannya yang tidak pernah dicapai oleh orang lain, dan merupakan orang yang pertama mendapat gelar ASSADUQ (yang benar) dimana gelar itu khusus baginya, dimana dengan gelar itu langsung orang mengenalnya, gelar itu didapat karena KEPASTIANNYA dalam meriwayatkan, serta KEKUATAN HAFALANNYA, dan KETELITIANNYA. (Assyi’ah hlm. 124).
Ketiga:
ATTAHDZIB, oleh tokoh Ulama Syi’ah, ABI JA’FAR MUHAMMAD BIN ALHASAN BIN ALI ATTHUSI, meninggal tahun 460 H, kitab ini merupakan ketiga bagi Agama Syi’ah mencakup 1590 Hadits.
Telah disebutkan tentang kitab ini: IA MERUPAKAN BEKAL BAGI SEORANG FAQIH TENTANG APA YANG DIMINTA DARI RIWAYAT-RIWAYAT HUKUM PADA UMUMNYA YANG TIDAK DAPAT DIPENUHI OLEH SELAINNYA. (Assyi’ah hlm. 125-126).
Keempat:
AL-ISTIBSHAR, oleh tokoh Ulama Syi’ah Abi Ja’far Atthusi juga yang digelar dengan SYAIKHUTTAIFAH (Tokoh Ulama Syi’ah), buku ini terdiri dari 6531 Hadits.
Inilah keempat kitab mereka dalam Hadits yang mereka anggap SHAHIH (benar), yang mereka percaya, dan mengakui KEAGUNGANNYA, KEBENARANNYA, DAN KEBAGUSANNYA yang mereka puji buku-buku itu maupun pengarangnya dengan sanjungan dan pujian setinggi langit.
Fatwa dan Pendirian Ulama Sunni Terhadap Aqidah Syiah
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)


PENDAHULUAN
Apabila orang mengkaji buku-buku referensi dan rujukan Agama Syi’ah untuk mendalami dan meneliti kepercayaan, aqidah dan landasan berpijak agama mereka itu, maka seseorang akan tersentak heran dan tercekam kaget, hampir tidak terbayang baginya kalau ada di antara manusia yang mengaku berilmu dan beradab telah dirangsang oleh nafsunya untuk mengarang dan menulis buku-buku semacam itu yang dijejali dengan tumpukan kebathilan, kepicikan, khurofat, caci-maki, dan kebohongan, kemudian menamakan tumpukan sampah busuk itu “RUJUKAN AGAMA”; begitu juga rasanya tidak terbayang bahwa di antara anak-anak Adam yang masih menghargai dirinya dan prikemanusiaannya serta menghormati budi dan akalnya begitu bodoh, picik dan terkecoh untuk mempercayai literatur yang terjangkit wabah itu, serta bersimpati dengannya, mengikuti dan menjadi missionarisnya.
Maka untuk melepaskan diri dari cekaman yang menherankan dan sesak napas yang membingungkan akibat membaca dan meneliti literatur Agama Syi’ah yang tidak kepalang joroknya yang membuat orang bijak terheran-heran, terpanggillah jiwa untuk mengingat dan mengenang firman-firman Allah subhanahu wataala:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ • وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسَادَ • وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
Artinya: “dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan[130]. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (Albaqarah 204-206).
[130] Ungkapan ini adalah ibarat dari orang-orang yang berusaha menggoncangkan iman orang-orang mukmin dan selalu Mengadakan pengacauan.
Dan Firman Allah:
وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ
Artinya: “aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk” (An-Naml 24).
Dan Firman-Nya pula:
وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ
Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?“ (Aljatsiah 23)
[1384] Maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa Dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
Selanjutnya Firman Allah:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ
Artinya: “Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; Maka janganlah dirimu binasa karena Kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.“ (Fathir 8).
Firman-firman Allah yang merupakan ayat-ayat mulia yang mu’jaz inilah satu-satunya penenang dan penawar yang mujarrab bagi akal yang terheran-heran dan jiwa yang tertegun kaget dari kedurhakaan kaum Syi’ah itu dan kecerobohan dusta mereka kepada Allah, Rasul-Nya dan Wali-wali-Nya, maka hanyalah kepada Allah saja kami berlindung dari kejahatan-kejahatan mereka.
Sebenarnya, Syi’ah itu tidaklah dikenal maupun mempunyai sesuatu dinegeri ini sebelum Revolusi Khumaini, apalagi literatur dan buku-buku rujukan Agama mereka, tetapi disana-sini dalam negeri kaum Muslimin mereka mempunyai missionaris-missionaris dan lembaga-lembaga penerbitan dan distribusi, malah mereka mempunyai satu lembaga yang mereka namakan “RUMAH PENDEKATAN” yang mereka dirikan di negeri Mesir dengan menyalahgunakan prasangka baik penghuni negeri itu dengan tujuan menyebarluaskan racun kepercayaan Syi’ah melalui literatur-literatur propaganda yang menyembunyikan hakekat kepercayaan Syi’ah untuk menarik dan mendekatkan anak-anak kaum Muslimin kepada Syi’ah Rawafidh dan tidak sebaliknya, agar kaum Muslimin yang selalu mendahulukan prasangka baik terjerat dalam perangkap Syi’ah dan mewarnai mereka dengan warnanya.
Hal ini mereka lakukan dikala kaum Muslimin tidak banyak mengetahui Aqidah dan ajaran Syi’ah, kesempatan ini mereka gunakan dengan sebaik-baiknya sebagaimana mereka lakukan terhadap kaum Muslimin sebelum ini di Iran semasa kekuasaan Shofawiyah , di Irak, di Lebanon, di India dan negeri-negeri Teluk.
Maka tidak lama setelah tercetus Revolusi Iran dan tokoh-tokoh Syi’ah mulai menampakkan warna dan corak asli dari ke-Syi’ahan revolusi itu dengan berupaya mengekspor gagasan mereka itu dan menjalarkannya ke negeri ini dan negeri-negeri kaum Muslimin pada umumnya dengan menyebarluaskan kader-kader mereka dan propagandis-propagandis bayaran mereka serta mendirikan di sana-sini lembaga-lembaga penerbitan dan mencetak jutaan buku dan brosur yang disebarluaskan di tengah-tengah kaum Muslimin yang bersahaja dan selalu berprasangka baik, guna menjebak dan memperdaya mereka dengan umpan dan dalih, bahwa Syi’ah itu adalah salah satu Madzhab diantara Madzhab-madzhabnya kaum Muslimin dan tidak ada sedikit pun pertentangan dalam Ushul dan Aqidah antara aliran Syi’ah dan Madzhab-madzhab yang empat, sedangkan selisih yang ada, hanya sedikit dalam soal Furu’ saja, sama halnya yang ada di antara keempat Madzhab itu sendiri.
Demikianlah tipu daya Syi’ah itu, malah lebih dari itu, mereka berkata bahwa keempat Madzhab itu sesungguhnya bersumber kepada “Madzhab Ja’fariyah”. Dengan kebohongan dan tipu daya ini, mereka berusaha keras dengan tujuan menghalalkan segala cara untuk menjual dagangan mereka yang palsu itu dengan mengelabui kaum Muslimin.
Setelah Syi’ah Rawafidh mulai menunjukkan giginya dan menyebarkan racunnya serta memakai segala cara dengan menipu, memalsu dan memperdaya orang dalam persoalan Agama dan Aqidah, membuat kami terpanggil oleh rasa tanggung jawab dan merasa berkewajiban untuk bangkit menghadapi mereka dan menghentikan ekspansi mereka serta mematahkan tipu daya mereka dengan membuka kedok mereka dan membongkar rahasia Agama mereka yang selama ini disembunyi-sembunyikan, agar orang ramai tahu gerangan siapakah sebenarnya mereka itu dan agama apa yang sebenarnya mereka anut. Untuk upaya ini, kami hanya memohon petunjuk, taufiq, hidayah dan inayah dari Allah Subhanahu Wata’ala semata.
Untuk memberi satu gambaran yang jelas mengenai Syi’ah dan kepercayaannya, kami mengharuskan diri dalam berargumentasi untuk berpaling kepada referensi dan buku-buku rujukan agama mereka, yang merupakan dasar dan landasan berpijak Agama Syi’ah itu, sebab tanpa adanya buku-buku rujukan itu, tentu tidak aka nada Syi’ah Imamiyah, Itsnaa ‘asyariyah, Ja’fariyah.
Marilah kita mulai dengan memperkenalkan buku-buku rujukan agama mereka yang terpenting, yang menurut mereka adalah “AGUNG, BAGUS, HEBAT dan SEMPURNA’, serta merupakan sumber agama mereka yang utama dan tertua yang menurut pengarang-pengarangnya langsung mereka terima dari imam-imam mereka yang Ma’shum, yang mereka namakan “EMPAT RUJUKAN SYI’AH YANG SHAHIH”, yang dari keempat sumber itu literatur-literatur mereka yang lain bercabang.
Tentang keempat rujukan itu, Ulama mereka yang bernama Abdulhusain Syaraf Almausawi dalam bukunya “Al-muraja’at” halaman 311, berkata: Kitab-kitab itu adalah: AL-KAFI, AT-TAHZIB, AL-ISTIBSHAR, dan MAN LA YAHDHURUHUL-FAQIH, dan kitab-kitab itu adalah MUTAWATIR, isinya adalah PASTI KEBENARANNYA (SHAHIHNYA), dan diantaranya AL-KAFI adalah yang TERTUA, TERAGUNG, TERBAGUS dan TERSEMPURNA.
Dasar-Dasar Madzhab Syi’ah
DASAR-DASAR MADZHAB SYIAH
(Ushul Madzab Asy-Syi’ah)
Dr. Nashir ibn Abdillah al-Qifari
(Kajur Aqidah dan Aliran kontemporer
di universitas al-Qashim)
Penerjemah:
Abu Hamzah Agus Hasan Bashori

PENGANTAR PENERJEMAH
Bismillah, alhamdulillah, was-Shalatu was-Salamu Ala rasulillah wa shahbihi wa man walah.
Perasaan bersalah dan berhutang janji kepada Syaikh Dr. Al-Qifari –hafizhahullah- selalu menghantui dan mengganggu hati. Sebab sejak tahun 1418 H, amanah untuk menerjemahkan kitab beliau yang berjudul Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiyyah al-Itsnay Asyriyah (3 Jilid besar) belum bisa juga terlaksana.
Hutang menerjemahkan kitab tadi belum lunas, datang lagi hutang yang lain, yaitu pada saat syaikh al-Qifari menitipkan kitab Protokolat Ayat Qom beserta file dalam cd melalui tangan seorang Syaikh agar saya menerjemahkannya.
Alhamdulillah, dengan adanya web ini maka minimal semangat itu terbaharui. Semoga dengan terjemahan tematik ini, hutang tersebut dapat dicicil dan terbayarkan, apalagi syaikh al-Qifari memberikan mandat penuh untuk menerjemahkan bagian-bagian tertentu yang dianggap penting, jika tidak bisa secara utuh.
Semoga Allah menerima amal baik beliau dan menjadikan kemanfaatan untuk umat Islam.
Malang, Jumadil Akhir 1430 H/ 31 Mei 2009
Abu Hamzah Agus Hasan Bashori ibn Qomari
Komentar