Gen Syi’ah
artikel tentang buku Gen Syi’ah
Buku Gen Syi’ah
MUKADDIMAH
Buku Gen Syi’ah

Dengan Nama Allah, ya Allah dengan pujian yang layak bagi keagungan-Mu dan bagi kebesaran kerajaan-Mu. Engkau adalah pemilik segala puji dan anugerah. Aku bershalawat dan berucap salam kepada orang yang diutus Allah sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam, sebagai pembawa berita gembira dan kabar peringatan, sebagai cahaya penerang, pemuka para utusan, Muhammad Saw.
Amma ba’du.
Ketika saya menginjakkan kaki di negri India, kedua mata saya menyaksikan berbagai fenomena syirik dan paganisme, patung-patung dan arca-arca tersebar di mana-mana. Kondisi yang lumrah jika dilakukan oleh orang-orang Musyrik, akan tetapi kita sangat mengingkari orang-orang yang mengaku sebagai umat Islam kemudian mereka beribadah dengan berbagai acara ritual yang menjijikkan, tiangnya adalah syirik dan puncaknya adalah menghina para sahabat Rasul Saw.
Akan tetapi, ketika saya berkunjung ke negara-negara di Asia Tenggara, saya belum pernah berpikir bahwa penyebaran Syi’ah telah mencapai Indonesia dan menebar kotorannya di sana, apa lagi di negara selain Indonesia.
Pada suatu hari saya mengiringkan sebuah jenazah, di salah satu wilayah Indonesia. Setelah mereka meratakan tanah di atas kuburnya, seorang imam maju ke depan kemudian sambil membelakangi kiblat mulai membacakan talqin untuk si mayat: “Hai Fulan, jikalau kedua malaikat mendatangimu dan menanyakan kepadamu, siapa imammu? Maka katakanlah, “Imamku adalah Ali, imamku adalah Hasan, Husain, Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Musa al-Kazhim…….,” dan seterusnya sampai genap dua belas imam.” Baru saya menyadari bahwa ketika itu saya sedang mengantar jenazah orang Syi’ah, dan berdiri di atas kuburan orang Syi’ah. Maka saya sangat menyesal atas apa yang saya perbuat karena ketidak tahuan saya. Allah SWT telah memperingatkan kita dari orang-orang kafir, dari golongan mereka atau yang lainnya, sebab yang namanya kufur adalah satu sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah, Allah berkata kepada kita:
“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya.” (at-Taubah: 84).
“Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali , namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.” (at-Taubah: 80).
Tentang Nabi Ibrahim Allah berfirman: “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” (at-Taubah: 114).
Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait (bag.2)
AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG AHLUL BAIT
(bag.2)
Abu Abdillah al-Dzahabi

Pada Artikel yang lalu telah kita sampaikan 7 Keyakinan Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait secara global. Kemudian kita lengkapi dengan kesaksian sebagian ulama salaf. Mereka adalah:
1. Khalifatu Rasulillah saw Abu Bakar al-Shiddiq ra (w. 13 H):
2. Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab ra (w. 23 H)
3. Zaid ibn Tsabit (w. 42 H)
4. Muawiyah ibn Abi Sufyan ra (w. 60 H)
5. Abdullah ibnu Abbas ra ( w. 68 H)
6. Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad at-Thahawi (w. 321 H)
7. Al-Hasan ibn Ali al-Barbahari (w. 329 H)
8. Abu Bakar Muhammad ibnul Husain al-Ajjurri (w. 360 H)
Kini marilah kita lanjutkan dengan keesaksian ulama yang lain:
9. Abdullah ibn Muhammad al-Andalusi al-Qahthani (w. 387 H)
Beliau berkata dalam Nuniyyahnya:
وَاحْفَظْ لِأَهْلِ اْلبَيْتِ وَاجِبَ حَقِّهِمْ # وَاعْرِفْ عَلِيّاً أَيَّمَا عِرْفَانِ
لاَتَنْتَقِصْهُ وَلاَ تَزِدْ فِي قَدْرِهِ # فَعَلَيْهِ تَصْلىَ النَّارَ طَائِفَتَانِ
إِحْدَاهُمَا لاَ تَرْتَضِيْهِ خَلِيْفَةً # وَتَنُصُّهُ الْأُخْرَى إِلَهاً ثَانِي
“Jagalah hak ahlul bait yang wajib # kenalilah Ali dengan sebenar-benar mengenal
Jangan engkau merendahkannya dan jangan pula engkau lebihkan dalam kedudukannya # Atas dasar itu ada dua kelompok masuk neraka
Yang satu tidak ridha ia menjadi khalifah # Yang lain menyatakan bahwa ia adalah sesembahan yang kedua.
(Lihat Kifayatul Insan Minal Qashaid al-Ghurr al-Hisan yang dikumpulkan oleh Muhammad Ahmad Sayyid: 41)
10. [Abu Utsman Ismail al-Shabuni al-Syafi’i -Rahimahullah- (w. 449)]*
Dalam kitab Aqidatus Salam Ashahabil Hadits ( Tahqiq DR. Nashir al-Judai’: 294) mengatakan: “Ashhabul Hadits memandang adanya tarahhum (mendoakan rahmat) untuk semua (maksud beliau seluruh sahabat yang pernah terlibat konflik karena fitnah Sabaiyyah; Ali, Mu’awiyyah, Aisyah dll) serta setia kepada mereka. Begitu pula mereka memandang adanya pengagungan kepada para isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, mendoakan mereka, mengakui jasa mereka, dan mengakui mereka sebagai ibunda kaum mukminin.”
Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait

AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG AHLUL BAIT (bag.1)
Abu Abdillah al-Dzahabi
Wasiat Nabi Tentang Ahlul Bait Yang Mulia:
Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:
قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. (QS. Al-Syura: 23)
Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:
Zaid ibn Arqam -Radiallahu anhu- bercerita: Rasulullah berkhutbah di sebuah sumber mata air yang disebut Khum (Ghadir Khumm) yang terletak di antara makkah dan Madinah. Beliau memuji-muji Allah, memberi mau’izhah dan peringatan. Kemudian beliau bersabda: (more…)
Komentar