Buku
Aqidah Agama Syi’ah
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)
BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIEM
Segala puji bagi Allah, Tuhan pemberi hidayah kita kepada Islam, dan tiada mungkin kita mendapat petunjuk sekiranya bukan dengan hidayah Allah SWT. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi-Nya yang mulia, yang telah meninggalkan kita pada jalan yang terang sehingga malamnya laksana siang, tiada sesat orang yang berjalan meniti jalan-Nya dan tiada terbimbing orang yang menyimpang dari pada-Nya. Shalawat dan salam untuk keluarganya dan sahabat-sahabatnya sebaik-baik manusia yang telah menjadi bintang-bintang penunjuk jalan, begitu pula teruntuk barangsiapa yang mencintai mereka dan mengikuti petunjuk mereka sampai kelak hari kiamat dan hancurnya bumi dan langit.
Kata-kata ini menjelaskan kepercayaan Syi’ah dan Aqidahnya, saya himpun dalam kerangka ini dari Buku-buku Induk Agama dan sumber referensi mereka, dengan menyebut nama buku rujukan itu dan nomor halamannya, agar menjadi saksi, bahwa apa yang kami katakan dan nukil adalah semata-mata dari kajian dan literatur mereka sendiri.
Selanjutnya saya susul dengan kumpulan Fatwa Imam-imam dan Ulama Kaum Muslimin Ahlissunnah Wal-Jama’ah, menjelaskan pendirian mereka mengenai kepercayaan dan I’tikad kaum Syi’ah Rawafidh.
Kumpulan fatwa itu saya nukil dengan sedikit keringkasan (dari sebuah Risalah yang ditulis oleh Dr. Nashir al Ghitari) dengan harapan akan memberikan penerangan kepada kaum Muslimin Ahlissunnah Wal-Jama’ah agar mereka tidak tertipu oleh berbagai slogan Syi’ah, atau dengan aneka macam propaganda mereka yang mempesona.
Sebab banyak orang di kalangan kaum muslimin karena prasangka mereka yang baik dan hati mereka yang tulus, serta kurangnya pengetahuan mereka perihal kepercayaan Syi’ah dan buku-buku agama mereka, telah menjadi korban tipuan propagandis-propagandis Syi’ah dan dalang-dalangnya. Dan hal yang menyedihkan sekali, ada sebagian orang dikalangan Ahlissunnah Wal-Jama’ah yang disebut dengan nama Ilmuwan, telah tertipu oleh tipu muslihat Syi’ah dan terbius oleh alunan irama langgam mereka, padahal sekiranya ilmuwan-ilmuwan itu waspada dan sadar sejenak dan berupaya untuk membaca dan meneliti buku-buku rujukan agama Syi’ah, niscaya akan menjadi jelas bagi mereka kejelian Firman Allah:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa’: 36).
Bila demikian halnya, gerangan apakah yang bakal disediakan oleh ilmuwan-ilmuwan itu dihadapan Allah SWT nanti untuk menetralisir kegegabahan mereka yang telah menjatuhkan banyak korban yang telah tersesat dalam Aqidahnya di kalangan anak-anak muda Ahlissunnah Wal-Jama’ah disebabkan oleh tulisan-tulisan maupun ucapan simpati mereka terhadap doktrin Syi’ah dan kaumnya, Sambung-rasa mana telah disebar-luaskan oleh media propaganda mereka serta lembaga pendekatan mereka yang telah menghembuskan angin berbisa untuk mensyi’ahkan kaum Muslimin di tengah-tengah kampung halamannya. Hanya kepada Allah-lah kami hadapkan keluhan kami dari pola berpikir picik mereka itu. Perlu anda ketahui juga, bahwa yang terbanyak dikalangan Syi’ah sendiri dalam memeluk agama, mereka tidak tahu menahu tentang buku-buku rujukan agama mereka, karena buku-buku itu dijauhkan dari penglihatan mereka dan ditarik dari peredaran di tengah-tengah mereka, dengan demikian pengetahuan dan cara mereka beragama, adalah semata-mata taklid buta kepada apa yang diindoktrinasikan dan disuapkan kepada mereka oleh penghulu-penghulu dan juru-juru kunci imam-imam mereka dengan memanipulasi slogan “Pembela Ahlilbait” yang selalu mereka jadikan umpan dan kuda tunggangan keserakahan mereka, padahal I’tikad dan kepercayaan, ucapan dan perangai mereka sungguh bertolak belakang dengan I’tikad, prilaku dan perangai “Ahlilbait Radhiallahu Anhum”.
Beberapa Rujukan-rujukan Agama Syi’ah
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)
Beberapa Rujukan-rujukan Agama Syi’ah
Pertama:
AL-KAFI, dikarang oleh ALKULAINI, kitab ini terdiri dari tiga bagian dalam 8 juz: AL-USHUL, AL-FURU’ AL-RAWDHAH, terisi dengan 16199 Hadits.
Berkata Ulama mereka Agha Bazrak Attahrani memujinya: Dia (AL-KAFI) adalah yang paling mulia di antara keempat kitab, Ushul yang menjadi sandaran, tidak pernah ditulis riwayat-riwayat manqul dari keluarga Rasul seperti (AL-KAFI) itu, oleh kepercayaan Islam Muhammad bin Yaqub Alkulaini Arrazi, Wafat tahun 328 Hijriyyah. (Kitab Adzdzari’ah fi thashanif Assyiah 17 hlm. 245).
Berkata Annisaburi memujinya: KEPERCAYAAN ISLAM, TOKOH ULAMA-ULAMA, BULAN PURNAMA, PENGHIMPUN SUNAN DAN ATSAR, yang dihadiri oleh DUTA-DUTA AL-QAIM (Imam mereka yang ghaib), yaitu: Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Alkulaini Arrazi, telah diceritakan bahwa kitabnya dipertunjukkan kepada AL-QAIM (imam mereka yang ghaib), yang dijawab olehnya: CUKUP, ITU UNTUK SYI’AH KAMI”. (Rawdlatul Jannat 2 hlm. 116).
Berkata Husin bin Abubakar Alhabsyi Bangil, memujinya: AL-KAFI, oleh ALKULAINI, Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub Alkulaini (329), YANG PALING AGUNG, PALING BENAR DAN PALING BAGUS, isi matannya 16190 Hadits, dihimpun oleh ALKULAINI dalam masa 20 tahun. (Surat tulisan tangan dibubuhi tanda tangannya).
Kedua:
MAN LA YAHDHURUHUL-FAQIH dikarang oleh tokoh mereka ABI JA’FAR ASSADUQ, MUHAMMAD BIN ALI BIN ALHUSIN BIN MUSA BIN BABAWAIH ALQUMMI, meninggal tahun 381 H, terdiri dari 6593 Hadits; berkata Muhammad Shodiq Asshadr memujinya: Ini adalah sumber kedua bagi Assyi’ah, dan berkata: Tokoh kami ASSADUQ telah mencapai satu kedudukan yang mulia di zamannya yang tidak pernah dicapai oleh orang lain, dan merupakan orang yang pertama mendapat gelar ASSADUQ (yang benar) dimana gelar itu khusus baginya, dimana dengan gelar itu langsung orang mengenalnya, gelar itu didapat karena KEPASTIANNYA dalam meriwayatkan, serta KEKUATAN HAFALANNYA, dan KETELITIANNYA. (Assyi’ah hlm. 124).
Ketiga:
ATTAHDZIB, oleh tokoh Ulama Syi’ah, ABI JA’FAR MUHAMMAD BIN ALHASAN BIN ALI ATTHUSI, meninggal tahun 460 H, kitab ini merupakan ketiga bagi Agama Syi’ah mencakup 1590 Hadits.
Telah disebutkan tentang kitab ini: IA MERUPAKAN BEKAL BAGI SEORANG FAQIH TENTANG APA YANG DIMINTA DARI RIWAYAT-RIWAYAT HUKUM PADA UMUMNYA YANG TIDAK DAPAT DIPENUHI OLEH SELAINNYA. (Assyi’ah hlm. 125-126).
Keempat:
AL-ISTIBSHAR, oleh tokoh Ulama Syi’ah Abi Ja’far Atthusi juga yang digelar dengan SYAIKHUTTAIFAH (Tokoh Ulama Syi’ah), buku ini terdiri dari 6531 Hadits.
Inilah keempat kitab mereka dalam Hadits yang mereka anggap SHAHIH (benar), yang mereka percaya, dan mengakui KEAGUNGANNYA, KEBENARANNYA, DAN KEBAGUSANNYA yang mereka puji buku-buku itu maupun pengarangnya dengan sanjungan dan pujian setinggi langit.
Fatwa dan Pendirian Ulama Sunni Terhadap Aqidah Syiah
FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH
M. O. BAABDULLAH
(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)


PENDAHULUAN
Apabila orang mengkaji buku-buku referensi dan rujukan Agama Syi’ah untuk mendalami dan meneliti kepercayaan, aqidah dan landasan berpijak agama mereka itu, maka seseorang akan tersentak heran dan tercekam kaget, hampir tidak terbayang baginya kalau ada di antara manusia yang mengaku berilmu dan beradab telah dirangsang oleh nafsunya untuk mengarang dan menulis buku-buku semacam itu yang dijejali dengan tumpukan kebathilan, kepicikan, khurofat, caci-maki, dan kebohongan, kemudian menamakan tumpukan sampah busuk itu “RUJUKAN AGAMA”; begitu juga rasanya tidak terbayang bahwa di antara anak-anak Adam yang masih menghargai dirinya dan prikemanusiaannya serta menghormati budi dan akalnya begitu bodoh, picik dan terkecoh untuk mempercayai literatur yang terjangkit wabah itu, serta bersimpati dengannya, mengikuti dan menjadi missionarisnya.
Maka untuk melepaskan diri dari cekaman yang menherankan dan sesak napas yang membingungkan akibat membaca dan meneliti literatur Agama Syi’ah yang tidak kepalang joroknya yang membuat orang bijak terheran-heran, terpanggillah jiwa untuk mengingat dan mengenang firman-firman Allah subhanahu wataala:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ • وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسَادَ • وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
Artinya: “dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan[130]. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (Albaqarah 204-206).
[130] Ungkapan ini adalah ibarat dari orang-orang yang berusaha menggoncangkan iman orang-orang mukmin dan selalu Mengadakan pengacauan.
Dan Firman Allah:
وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ
Artinya: “aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk” (An-Naml 24).
Dan Firman-Nya pula:
وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ
Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?“ (Aljatsiah 23)
[1384] Maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa Dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
Selanjutnya Firman Allah:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ
Artinya: “Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; Maka janganlah dirimu binasa karena Kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.“ (Fathir 8).
Firman-firman Allah yang merupakan ayat-ayat mulia yang mu’jaz inilah satu-satunya penenang dan penawar yang mujarrab bagi akal yang terheran-heran dan jiwa yang tertegun kaget dari kedurhakaan kaum Syi’ah itu dan kecerobohan dusta mereka kepada Allah, Rasul-Nya dan Wali-wali-Nya, maka hanyalah kepada Allah saja kami berlindung dari kejahatan-kejahatan mereka.
Sebenarnya, Syi’ah itu tidaklah dikenal maupun mempunyai sesuatu dinegeri ini sebelum Revolusi Khumaini, apalagi literatur dan buku-buku rujukan Agama mereka, tetapi disana-sini dalam negeri kaum Muslimin mereka mempunyai missionaris-missionaris dan lembaga-lembaga penerbitan dan distribusi, malah mereka mempunyai satu lembaga yang mereka namakan “RUMAH PENDEKATAN” yang mereka dirikan di negeri Mesir dengan menyalahgunakan prasangka baik penghuni negeri itu dengan tujuan menyebarluaskan racun kepercayaan Syi’ah melalui literatur-literatur propaganda yang menyembunyikan hakekat kepercayaan Syi’ah untuk menarik dan mendekatkan anak-anak kaum Muslimin kepada Syi’ah Rawafidh dan tidak sebaliknya, agar kaum Muslimin yang selalu mendahulukan prasangka baik terjerat dalam perangkap Syi’ah dan mewarnai mereka dengan warnanya.
Hal ini mereka lakukan dikala kaum Muslimin tidak banyak mengetahui Aqidah dan ajaran Syi’ah, kesempatan ini mereka gunakan dengan sebaik-baiknya sebagaimana mereka lakukan terhadap kaum Muslimin sebelum ini di Iran semasa kekuasaan Shofawiyah , di Irak, di Lebanon, di India dan negeri-negeri Teluk.
Maka tidak lama setelah tercetus Revolusi Iran dan tokoh-tokoh Syi’ah mulai menampakkan warna dan corak asli dari ke-Syi’ahan revolusi itu dengan berupaya mengekspor gagasan mereka itu dan menjalarkannya ke negeri ini dan negeri-negeri kaum Muslimin pada umumnya dengan menyebarluaskan kader-kader mereka dan propagandis-propagandis bayaran mereka serta mendirikan di sana-sini lembaga-lembaga penerbitan dan mencetak jutaan buku dan brosur yang disebarluaskan di tengah-tengah kaum Muslimin yang bersahaja dan selalu berprasangka baik, guna menjebak dan memperdaya mereka dengan umpan dan dalih, bahwa Syi’ah itu adalah salah satu Madzhab diantara Madzhab-madzhabnya kaum Muslimin dan tidak ada sedikit pun pertentangan dalam Ushul dan Aqidah antara aliran Syi’ah dan Madzhab-madzhab yang empat, sedangkan selisih yang ada, hanya sedikit dalam soal Furu’ saja, sama halnya yang ada di antara keempat Madzhab itu sendiri.
Demikianlah tipu daya Syi’ah itu, malah lebih dari itu, mereka berkata bahwa keempat Madzhab itu sesungguhnya bersumber kepada “Madzhab Ja’fariyah”. Dengan kebohongan dan tipu daya ini, mereka berusaha keras dengan tujuan menghalalkan segala cara untuk menjual dagangan mereka yang palsu itu dengan mengelabui kaum Muslimin.
Setelah Syi’ah Rawafidh mulai menunjukkan giginya dan menyebarkan racunnya serta memakai segala cara dengan menipu, memalsu dan memperdaya orang dalam persoalan Agama dan Aqidah, membuat kami terpanggil oleh rasa tanggung jawab dan merasa berkewajiban untuk bangkit menghadapi mereka dan menghentikan ekspansi mereka serta mematahkan tipu daya mereka dengan membuka kedok mereka dan membongkar rahasia Agama mereka yang selama ini disembunyi-sembunyikan, agar orang ramai tahu gerangan siapakah sebenarnya mereka itu dan agama apa yang sebenarnya mereka anut. Untuk upaya ini, kami hanya memohon petunjuk, taufiq, hidayah dan inayah dari Allah Subhanahu Wata’ala semata.
Untuk memberi satu gambaran yang jelas mengenai Syi’ah dan kepercayaannya, kami mengharuskan diri dalam berargumentasi untuk berpaling kepada referensi dan buku-buku rujukan agama mereka, yang merupakan dasar dan landasan berpijak Agama Syi’ah itu, sebab tanpa adanya buku-buku rujukan itu, tentu tidak aka nada Syi’ah Imamiyah, Itsnaa ‘asyariyah, Ja’fariyah.
Marilah kita mulai dengan memperkenalkan buku-buku rujukan agama mereka yang terpenting, yang menurut mereka adalah “AGUNG, BAGUS, HEBAT dan SEMPURNA’, serta merupakan sumber agama mereka yang utama dan tertua yang menurut pengarang-pengarangnya langsung mereka terima dari imam-imam mereka yang Ma’shum, yang mereka namakan “EMPAT RUJUKAN SYI’AH YANG SHAHIH”, yang dari keempat sumber itu literatur-literatur mereka yang lain bercabang.
Tentang keempat rujukan itu, Ulama mereka yang bernama Abdulhusain Syaraf Almausawi dalam bukunya “Al-muraja’at” halaman 311, berkata: Kitab-kitab itu adalah: AL-KAFI, AT-TAHZIB, AL-ISTIBSHAR, dan MAN LA YAHDHURUHUL-FAQIH, dan kitab-kitab itu adalah MUTAWATIR, isinya adalah PASTI KEBENARANNYA (SHAHIHNYA), dan diantaranya AL-KAFI adalah yang TERTUA, TERAGUNG, TERBAGUS dan TERSEMPURNA.
Pengantar Penulis “Koreksi Total Buku Fikih Lintas Agama”
PENGANTAR PENULIS
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi Allah penguasa semesta alam dengan pujian yang banyak dan diberkahi, saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah, Nabi-Nya, yang diutus ke seluruh umat manusia hingga hari kiamat tiba. Semoga Allah mengalirkan shalawat dan salamnya kepada beliau; Nabi yang jujur dan terpercaya, beserta keluarga, shahabat, dan pengikut setianya hingga akhir masa.
Ini adalah buku bantahan terhadap bid’ah paham pluralisme agama-agama yang tertuang dalam buku “Fikih Lintas Agama”. Meskipun bantahan ini tidak tuntas dan tidak menyeluruh –karena terbatas waktu-, kehadirannya adalah suatu keniscayaan, demi menutup celah yang dikoyak oleh orang-orang yang ingin merusak kesucian islam.
Syaikhul Islam menjelaskan bahwa membantah orang-orang yang menyalahi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah termasuk jihad yang paling agung, bahkan terkadang bisa mengungguli nilai jihad melawan para musuh dari luar. Maksudnya, perang melawan musuh dari dalam lebih besar daripada melawan musuh dari luar. Karena musuh luar adalah sangat jelas permusuhannya, sementara musuh dari dalam terkadang tersamarkan dan tersembunyi. Diantara permusuhan yang paling berat adalah jikalau muncul di tubuh umat Islam orang-orang yang mengajak kepada selain manhaj Salafus Shalaih, seperti kelompok yang memperjuangkan bid’ah, kesyirikan, dan pemikiran sesat serta pemikiran-pemikiran yang merusak. Tentu tidak diragukan lagi bahwa jihad melawan mereka adalah bentuk ketaatan yang sangat agung dihadapan Allah Suhanallah Wa Ta’ala. Allah berfirman:
فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.(Al-Furqan:52)
Jihad melawan mereka dengan Al-Qur’an dan ilmu jihad yang agung.
Para pemeluk agama-agama yang telah diubah dan para pemilik prinsip-prinsip batil dan zalim selalu mengklaim bahwa mereka memiliki hidayah dari kesesatan yang dapat menyelamatkan manusia dari kebingungan, kemunduran, kebodohan, dan kesengsaraan.
Pengantar “Koreksi Total Buku Fiqih Lintas Agama”
Kata Pengantar Ustadz Hartono Ahmad Jaiz


Al-hamdulillahi Rabill ‘alamien.
Shalawat dan salam semoga tetap Allah limpahkan atas Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Amma ba’du. Buku ini berjudul Koreksi Total Buku Fiqih Lintas Agama, merupakan bantahan secara mendasar terhadap buku terbitan Paramadina yang bekerjasama dengan The Asia Foundation.
Buku Fiqih Lintas Agama itu sendiri telah menghebohkan karena isi dan misinya cukup berseberangan dengan Islam. Dan itu akan dibuktikan di dalam buku Koreksi ini.
Misi yang dikandung buku Fiqih Lintas Agama kemungkinan bukan semata-mata sekadar menerbitkan buku. Untuk memberi gambaran bahwa buku itu memiliki misi tersendiri, perkenankanlah saya memberikan gambaran satu kenyataan masa lalu yang mengharu biru (usil) terhadap Islam, namun dilakukan oleh orang yang berpredikat Kiai alias orang yang ahli Islam.
Masyarakat Islam di Solo Jawa Tengah dan sekitarnya di tahun 1955-an mesti tahu bahwa di zaman jaya-jayanya PKI (Partai Komunis Indonesia) ada tokoh yang bahkan Kiai namun dikenal sebagai Kiai PKI. Namanya Kiai Dasuki Sirodj. Dia dikenal “fatwanya” yang dicomot dari Al-Qur’an :
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ(4)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (QS Al-Ma’un/ 107: 4). Dengan adanya “fatwa” Kiai PKI itu maka orang abangan yang mengaku Islam namun ogah-ogahan shalat merasa disahkan ketidak shalatannya. Di samping itu mereka merasa lebih sreg (merasa lebih pas) bergabung dengan PKI dibanding mendekat pada muslim taat. Lantas kaum abangan dan PKI yang diimami Kiai PKI itupun nglunjak (naik ke kepala). Umat Islam diberi cap buruk sebagai Kaoem Saroengan.
Kiai PKI itu dengan modal memotong ayat semaunya disertai maksud-maksud tertentu ternyata menghasilkan tambahnya pengikut, lantas dilanjutkan dengan mulusnya pemojokan terhadap umat Islam. “Fatwa” itu sengaja dengan cara memotong ayat, bukan lantaran tidak tahu, namun karena ada maksud-makusd jahat di dalamnya. Seharusnya Kiai Dasuki kalau mau jujur, dia cukup mengemukakan apa adanya, yaitu meneruskan ayat itu sampai tuntas:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ(4)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ(5)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ(6)وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ(7)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS Al-Ma’un/ 107: 4-7).
“Fatwa” model yang drastis seperti itu bisa dilakukan secara sendiri, berkelompok, atau bahkan beramai-ramai alias kroyokan. Untuk memasarkan “fatwa” yang menjegal Islam itupun bisa dilakukan sendiri, berkelompok, ataupun berkroyokan. “Fatwa” yang tidak drastic, hanya sekadar cap-cap buruk terhadap umat Islam, juga bisa dipompakan secara sendiri, berkelompok, atau bahkan kroyokan, atau malahan secara internasional, menggelobal. Kini cap terorisme secara mendunia telah dialamatkan kepada umat Islam. Penyebar cap buruk itu diketahui adalah negara adikuasa yang ditakuti kezhalimannya. Maka dampak dari itu bukan seperti dampak dari “fatwa” Kiai Dasuki yang sifatnya local belaka, yang hanya membangunkan orang abangan setempat untuk krengkang-krengkang (mulai bertandang) memojokkan Islam, bergabung dengan Komunis. Namun komando dari Amerika, Australia, Inggeris, Singapura, dan negara-negara yang pada dasarnya di bawah pengaruh teroris murni Israel sangat nyaring dihayati oleh orang “abangan baru” yang berlabel liberal. Serentak sontak para “abangan baru” itu kluruk (berkokok) sejadi-jadinya, untuk menunjukkan kepada boss mereka bahwa mereka bekerja sekeras-kerasnya.
Komentar