Buku
Dasar-Dasar Madzhab Syi’ah
DASAR-DASAR MADZHAB SYIAH
(Ushul Madzab Asy-Syi’ah)
Dr. Nashir ibn Abdillah al-Qifari
(Kajur Aqidah dan Aliran kontemporer
di universitas al-Qashim)
Penerjemah:
Abu Hamzah Agus Hasan Bashori

PENGANTAR PENERJEMAH
Bismillah, alhamdulillah, was-Shalatu was-Salamu Ala rasulillah wa shahbihi wa man walah.
Perasaan bersalah dan berhutang janji kepada Syaikh Dr. Al-Qifari –hafizhahullah- selalu menghantui dan mengganggu hati. Sebab sejak tahun 1418 H, amanah untuk menerjemahkan kitab beliau yang berjudul Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiyyah al-Itsnay Asyriyah (3 Jilid besar) belum bisa juga terlaksana.
Hutang menerjemahkan kitab tadi belum lunas, datang lagi hutang yang lain, yaitu pada saat syaikh al-Qifari menitipkan kitab Protokolat Ayat Qom beserta file dalam cd melalui tangan seorang Syaikh agar saya menerjemahkannya.
Alhamdulillah, dengan adanya web ini maka minimal semangat itu terbaharui. Semoga dengan terjemahan tematik ini, hutang tersebut dapat dicicil dan terbayarkan, apalagi syaikh al-Qifari memberikan mandat penuh untuk menerjemahkan bagian-bagian tertentu yang dianggap penting, jika tidak bisa secara utuh.
Semoga Allah menerima amal baik beliau dan menjadikan kemanfaatan untuk umat Islam.
Malang, Jumadil Akhir 1430 H/ 31 Mei 2009
Abu Hamzah Agus Hasan Bashori ibn Qomari
Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur`an
KATA PENGANTAR
buku :

Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur`an
Oleh: Bpk. H. Hartono Ahmad Jaiz
(Penulis Buku Aliran-Aliran Sesat di Indonesia)
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Shalawat dan salam semoga tetap atas Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- , keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.
Amma ba’du.
Saya diberi kehormatan untuk menulis kata pengantar di buku yang berjudul: Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur`an (Bantahan terhadap 2 makalah Ulil Abshar) ditulis oleh Ustadz Agus Hasan Bashori.
Sebenarnya saya agak khawatir kalau tulisan saya ini justru memberi warna sedemikian rupa yang menjadikan buku ini akan berkurang bobotnya. Karena nama saya oleh Ulil Abshar Abdalla –yang disoroti buku ini— ia sebut garis keras, dan bahkan dia tidak terima kenapa orang justru mengkritik dia (Ulil) tidak mengkritik saya (Hartono). Hingga Ulil mengatakan kepada sebuah majalah terbitan Jakarta, kenapa Hartono Ahmad Jaiz itu tidak dikritik, apakah karena sudah ketahuan jeleknya, sehingga tidak dikritik? Di lain kesempatan, Ulil juga menyebut-nyebut bahwa dia menulis di Kompas yang dia akui vulgar itu hanya mengimbangi orang-orang seperti Hartono, Adian Husaini dan lainnya, yang istilah balaghohnya musyakalah (mengimbangi). Sehingga sama sekali Ulil tidak menyesali tulisannya yang banyak dihujat orang itu, malahan diterus-teruskan, sampai mengemukakan di suatu majalah bahwa Vodca (minuman beralkohol lebih dari 16%, pen) boleh jadi di Rusia dihalalkan karena di sana udaranya dingin sekali.
Terlepas dari hal-hal itu, ada sesuatu yang menjadikan tanda tanya. Sehari sebelum tulisan Ulil yang menghebohkan, berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam muncul di Harian Kompas Senin 18 November 2002, Ulil telah mengemukakannya di Masjid Kampus UGM (Universitas Gajah Mada) Jogjakarta, dalam Dialog Ramadhan yang diselenggarakan para mahasiswa UGM yang tergabung dalam Jama’ah Salahuddin. Kata Ulil, besok (yaitu hari Senin) akan keluar tulisannya di Kompas. Maka dia uraikan isi tulisannya itu. Saat itulah saya bantah ungkapan-ungkapannya langsung di depannya. Karena ia menganggap bahwa hukum Islam seperti jilbab, qishosh, hudud dan semacamnya yang sifatnya mu’amalah itu tidak usah diikuti. Al-hamdulillah, saya sempat menyebutnya bahwa teori yang ia kemukakan itu hanyalah teori Nicollo Machiavelli yang dikenal menghalalkan segala cara, dan teori Anthrophocentrism yang menjadikan manusia sebagai sentral pertimbangan. Dan ini pada hakekatnya adalah teori Ibliscentrism, yaitu sudah ada perintah Allah, namun perintah itu disanggah dengan menjadikan diri Iblis sebagai ukurannya. Saya katakan, orang Yahudi saja ketika mengadakan perjanjian dengan Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- saw maka mereka menyepakati, apabila ada perselisihan pendapat hendaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan As-Sunnah), yang hal itu dicantumkan dalam Piagama Madinah. Apakah Anda yang Muslim malah lebih dari Yahudi? Tampaknya pertanyaan saya itu oleh Ulil dicarikan jawabnya, lalu dikemukakan dalam diskusi di Paramadina Jakarta, 8 Februari 2003, yang menganggap rujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang difahami ummat Islam itu sebagai penyembahan terhadap teks. Ulil melontarkan istilah penyembahan teks itu merujuk kepada orang kafir. Ini. agak berbeda dengan Pak Munawir Sjadzali ketika jadi menteri agama RI 1983-1993 merujuk kasus yang sama kepada seorang tokoh di Pakistan. Baik yang merujuk langsung kepada tokoh kafir maupun tokoh sekuler semuanya sama, mengkotak-katik Al-Qur’an dan As-Sunnah agar tidak diberlakukan lagi. Masalah inilah yang kini dibantah tajam oleh Ustadz Agus Hasan Bashori di buku ini.
Buku Gen Syi’ah
MUKADDIMAH
Buku Gen Syi’ah

Dengan Nama Allah, ya Allah dengan pujian yang layak bagi keagungan-Mu dan bagi kebesaran kerajaan-Mu. Engkau adalah pemilik segala puji dan anugerah. Aku bershalawat dan berucap salam kepada orang yang diutus Allah sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam, sebagai pembawa berita gembira dan kabar peringatan, sebagai cahaya penerang, pemuka para utusan, Muhammad Saw.
Amma ba’du.
Ketika saya menginjakkan kaki di negri India, kedua mata saya menyaksikan berbagai fenomena syirik dan paganisme, patung-patung dan arca-arca tersebar di mana-mana. Kondisi yang lumrah jika dilakukan oleh orang-orang Musyrik, akan tetapi kita sangat mengingkari orang-orang yang mengaku sebagai umat Islam kemudian mereka beribadah dengan berbagai acara ritual yang menjijikkan, tiangnya adalah syirik dan puncaknya adalah menghina para sahabat Rasul Saw.
Akan tetapi, ketika saya berkunjung ke negara-negara di Asia Tenggara, saya belum pernah berpikir bahwa penyebaran Syi’ah telah mencapai Indonesia dan menebar kotorannya di sana, apa lagi di negara selain Indonesia.
Pada suatu hari saya mengiringkan sebuah jenazah, di salah satu wilayah Indonesia. Setelah mereka meratakan tanah di atas kuburnya, seorang imam maju ke depan kemudian sambil membelakangi kiblat mulai membacakan talqin untuk si mayat: “Hai Fulan, jikalau kedua malaikat mendatangimu dan menanyakan kepadamu, siapa imammu? Maka katakanlah, “Imamku adalah Ali, imamku adalah Hasan, Husain, Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Musa al-Kazhim…….,” dan seterusnya sampai genap dua belas imam.” Baru saya menyadari bahwa ketika itu saya sedang mengantar jenazah orang Syi’ah, dan berdiri di atas kuburan orang Syi’ah. Maka saya sangat menyesal atas apa yang saya perbuat karena ketidak tahuan saya. Allah SWT telah memperingatkan kita dari orang-orang kafir, dari golongan mereka atau yang lainnya, sebab yang namanya kufur adalah satu sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah, Allah berkata kepada kita:
“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya.” (at-Taubah: 84).
“Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali , namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.” (at-Taubah: 80).
Tentang Nabi Ibrahim Allah berfirman: “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” (at-Taubah: 114).
Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait (bag.2)
AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG AHLUL BAIT
(bag.2)
Abu Abdillah al-Dzahabi

Pada Artikel yang lalu telah kita sampaikan 7 Keyakinan Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait secara global. Kemudian kita lengkapi dengan kesaksian sebagian ulama salaf. Mereka adalah:
1. Khalifatu Rasulillah saw Abu Bakar al-Shiddiq ra (w. 13 H):
2. Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab ra (w. 23 H)
3. Zaid ibn Tsabit (w. 42 H)
4. Muawiyah ibn Abi Sufyan ra (w. 60 H)
5. Abdullah ibnu Abbas ra ( w. 68 H)
6. Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad at-Thahawi (w. 321 H)
7. Al-Hasan ibn Ali al-Barbahari (w. 329 H)
8. Abu Bakar Muhammad ibnul Husain al-Ajjurri (w. 360 H)
Kini marilah kita lanjutkan dengan keesaksian ulama yang lain:
9. Abdullah ibn Muhammad al-Andalusi al-Qahthani (w. 387 H)
Beliau berkata dalam Nuniyyahnya:
وَاحْفَظْ لِأَهْلِ اْلبَيْتِ وَاجِبَ حَقِّهِمْ # وَاعْرِفْ عَلِيّاً أَيَّمَا عِرْفَانِ
لاَتَنْتَقِصْهُ وَلاَ تَزِدْ فِي قَدْرِهِ # فَعَلَيْهِ تَصْلىَ النَّارَ طَائِفَتَانِ
إِحْدَاهُمَا لاَ تَرْتَضِيْهِ خَلِيْفَةً # وَتَنُصُّهُ الْأُخْرَى إِلَهاً ثَانِي
“Jagalah hak ahlul bait yang wajib # kenalilah Ali dengan sebenar-benar mengenal
Jangan engkau merendahkannya dan jangan pula engkau lebihkan dalam kedudukannya # Atas dasar itu ada dua kelompok masuk neraka
Yang satu tidak ridha ia menjadi khalifah # Yang lain menyatakan bahwa ia adalah sesembahan yang kedua.
(Lihat Kifayatul Insan Minal Qashaid al-Ghurr al-Hisan yang dikumpulkan oleh Muhammad Ahmad Sayyid: 41)
10. [Abu Utsman Ismail al-Shabuni al-Syafi’i -Rahimahullah- (w. 449)]*
Dalam kitab Aqidatus Salam Ashahabil Hadits ( Tahqiq DR. Nashir al-Judai’: 294) mengatakan: “Ashhabul Hadits memandang adanya tarahhum (mendoakan rahmat) untuk semua (maksud beliau seluruh sahabat yang pernah terlibat konflik karena fitnah Sabaiyyah; Ali, Mu’awiyyah, Aisyah dll) serta setia kepada mereka. Begitu pula mereka memandang adanya pengagungan kepada para isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, mendoakan mereka, mengakui jasa mereka, dan mengakui mereka sebagai ibunda kaum mukminin.”
Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait

AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG AHLUL BAIT (bag.1)
Abu Abdillah al-Dzahabi
Wasiat Nabi Tentang Ahlul Bait Yang Mulia:
Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:
قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. (QS. Al-Syura: 23)
Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:
Zaid ibn Arqam -Radiallahu anhu- bercerita: Rasulullah berkhutbah di sebuah sumber mata air yang disebut Khum (Ghadir Khumm) yang terletak di antara makkah dan Madinah. Beliau memuji-muji Allah, memberi mau’izhah dan peringatan. Kemudian beliau bersabda: (more…)
Komentar