Air Mata Buaya Para Penganut Sekte Syi’ah.

Buaya dikenal sebagai salah satu binatang buas yang sangat ganas.  Akan tetapi ada suatu hal yang sangat unit pada diri buaya ketika ia sedang memakan mangsanya.

Zoologis dari Universitas Florida, yang bernama Kent Vliet benar-benar telah membuktikan hal itu ketika ia mengamati perilaku beberapa ekor buaya di salah satu kebun binatang di kota Florida. Tidak mengherankan bila sejak dahulu kala nenek moyang kita menjadikan fenomena unik sebagai pepatah.

(Seekor buaya sedang menyantap mangsanya, dan nampak pada gambar mata yang diperbesar butiran air matanya yang menetes)

Anda pasti telah mengetahui apa maksud dari pepatah “air mata buaya”. Meneteskan air mata, mengesankan berduka, akan tetapi hati menari ria kegirangan. Itulah kira-kira maksud dari pepatah nenek moyang kita ini.

Saudaraku! Dalam konteks agama Syi’ah, tangisan dan ratapan adalah suatu hal yang wajar anda temukan dalam kehidupan mereka. Terlebih-lebih pada bulan ‘Asyura alias  Muharram, dan tepatnya pada tanggal 10. Mereka meratap, meraung-raung,melukai diri sendiri dan lain sebagainya.

Mereka mengatakan bahwa perilaku nista ini mereka lakukan guna meratapi terbunuhnya cucu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu Al Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, yang terbunuh di bumi Karbala’ pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H. Agama Syi’ah mengklaim bahwa perayaan ini merupakan ekspresi kesedihan mereka yang sangat mendalam atas terbunuhnya imam mereka tersebut.

Saudaraku, pernahkah anda mengkaji sikap Syi’ah yang sebenarnya terhadap Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu, dan selanjutnya kronologi terbunuhnya Husain Radhiallahu ‘Anhu?

Berikut ini saya mengajak anda untuk merenungkan beberapa poin seputar idiologi agama Syi’ah seputar Al Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Dengan harapan, anda dapat mengetahui siapa sebenarnya agama Syi’ah, dan dapat mengetahui apakah mereka itu benar-benar para pembela Al Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu dan keluarganya atau bukan.

Poin pertama: Kisah pilu kelahiran Al Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

جاء جبريل إلى رسول الله صلى الله عليه وآله فقال له: يا محمّد إن الله يبشرك بمولود يولد من فاطمة تقتله أمتك من بعدك فقال: يا جبريل وعلى ربي السلام، لا حاجة لي في مولود يولد من فاطمة، تقتله أمتي من بعدي، فعرج ثم هبط فقال مثل ذلك: يا جبريل وعلى ربي السلام، لا حاجة لي في مولود تقتله أمتي من بعدي. فعرج ثم هبط فقال مثل ذلك: يا جبريل وعلى ربي السلام لا حاجة لي في مولود تقتله أمتي من بعدي. فعرج جبريل إلى السماء ثم هبط فقال: يا محمّد إن ربك يقرئك السلام ويبشرك بأنه جاعل في ذريته الإمامة والولاية والوصية، فقال: إني رضيت، ثم أرسل إلى فاطمة أن الله يبشرني بمولود يولد لك تقتله أمتي من بعدي، فأرسلت إليه أن لا حاجة لي في مولود تقتله أمتك من بعدك، وأرسل إليها إن الله عز وجل جعل في ذريته الإمامة والولاية والوصية، فأرسلت إليه إني رضيت، فحملته كرهاً .. ووضعته كرهاً ولم يرضع الحسين من فاطمة عليها السلام ولا من أنثى، كان يؤتى بالنبي صلى الله عليه وآله فيضع إبـهامه في فيه فيمص ما يكفيه اليومين والثلاثة).

“Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi, lalu ia berkata kepadanya: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memberimu kabar gembira dengan terlahirnya seorang putra yang akan dilahirkan oleh Fatimah, dan ia sepeninggalmu akan dibunuh oleh umatmu sendiri. Lalu Rasulullah berkata kepada Jibril: Wahai Jibril, Ucapan salam aku panjatkan untuk Tuhan-ku, aku tidak butuh terhadap anak yang terlahir dari Fatimah, dan yang sepeninggalku akan dibunuh oleh umatku sendiri. Selanjutnya Malaikat Jibrilpun naik ke langit, kemudian turun kembali, dan mengulang lagi ucapannya tersebut. Dan Nabi-pun kembali berkata: Wahai Jibril, Ucapan salam aku panjatkan untuk Tuhan-ku, aku tidak butuh terhadap anak yang terlahir dari Fatimah, dan yang sepeninggalku akan dibunuh oleh umatku sendiri. Selanjutnya untuk ketiga kali Malaikat Jibril kembali naik ke langit, kemudian turun kembali, dan mengulang lagi ucapannya tersebut. Dan untuk ketigakali pula  Nabi kembali berkata: Wahai Jibril, Ucapan salam aku panjatkan untuk Tuhan-ku, aku tidak butuh terhadap anak yang terlahir dari Fatimah, dan yang sepeninggalku akan dibunuh oleh umatku sendiri. Selanjutnya Malaikat Jibril kembali naik ke langit, dan kemudian turun kembali menjumpai Rasulullah, dan berkata kepadanya: Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhan-mu mengucapkan salam kepadamu, dan memberimu kabar gembira bahwa Dia akan menjadikan anak keturunannya sebagai pemimpin, wali dan pemangku wasiat. Mendengar kabar gembira itu Rasulullah berkata: Sesungguhnyaaku telah rela. Selanjutnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim utusan kepada Fatimah, untuk mengabanya bahwa Allah Azza wa Jalla telah memberiku kabar gembira dengan seorang putra yang akan engkau lahirkan, dan yang sepeninggalku akan dibunuh oleh umatku sendiri. Mendengar kabar itu, Fatimahpun mengutus jawaban kepada beliau: Aku tidak butuh kepada seorang putra yang sepeninggalmu akan dibunuh oleh umatmu sendiri. Rasulullahpun kembali mengirim utusan kepadanya untuk mengabarinya: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan menjadikan anak keturunannya sebagai pemimpin, wali dan pemangku wasiat. Mendengar kabar itu, Fatimah memberikan jawaban kepada Rasulullah: Sesungguhnya aku telah rela, dan selanjutnya Fatimahpun hamil dalam kebencian dan melahirkannyapun dalam kebencian. Setelah terlahirkan, Al Husain tidak pernah menyusu dari Fatimah ‘alaihassalaam, tidak juga dari seorang wanitapun. Dahulu Al Husain dibawa ke Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi, lalu beliau memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut Al Husain, daniapun segera mengisapnya sebanyak keperluaanya terhadap air susu untuk dua atau tiga hari.” ([1])

Saudaraku! Apa komentar anda tentang anak yang kelahirannya tidak diharapkan oleh orang tuanya? Apakah perasaan anda tentang seorang wanita yang membenci putra yang ada dalam kandungannya, demikian juga ia tidak bahagia tatkala melahirkannya? Apa persepsi anda tentang seorang wanita yang tidak suka dengan putranya, sampai-sampai ia enggan untuk menyusuinya?

Coba kembali anda membaca dan mencermati riwayat agama Syi’ah di atas. Mungkinkah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga Fatimah menolak kabar gembira Allah Ta’ala, bahakan bukan hanya sekali, kabar gembira dari Allah ditawarkan kepada beliau sebanyak tiga, kali dan sebanyak itu pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menolaknya.

Apapun komentar dan tanggapan anda tentang kandungan riwayat ini, akan tetapi inilah fakta agama Syi’ah. Mereka mengapresiasikan pengagungannya kepada Rasulullah, Fatimah dan Al Husain dalam cerita-cerita nista semaca ini. Benar-benar rasa iba dan kecintaan yang diungkapkan dalam wujud tetesan air mata buaya.

Poin kedua: Tuduhan bahwa Ahlul Bait, tanpa terkecuali Al Husain sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi murtad.

Saya yakin anda masih teringat dengan berbagai riwayat agama Syi’ah yang menegaskan bahwa pasca kematian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seluruh sahabat beliau menjadi murtad alis kafir, kecuali tiga orang saja, yaitu:Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Zar Al Ghifaari, dan Salman Al Farisi.

Syeikh Mufid wafat tahun 413 H, juga meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali Bin Al Husain) ‘alaihissalaam:

ارتد الناس بعد النبي صلى الله عليه وآله إلا ثلاثة نفر: المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، ثم إن الناس عرفوا ولحقوا بعد.

“Seluruh manusia menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi kecuali tiga orang: Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifary, dan Salman Al Farisy, kemudian setelah itu manusia mulai menyadari, dan kembali masuk Islam. “([2])

Al Majlisi yang wafat pada tahun 1111 H juga meriwayatkan satu riwayat yang nyata-nyata menyatakan kemurtadan para sahabat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

عن سدير عن أبي جعفر عليه السلام قال: كان الناس أهل ردة بعد النبي صلى الله عليه وآله سنة، إلا ثلاثة: فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، وقال: هؤلاء الذين دارت عليهم الرحى وأبوا أن يبايعوا جتى جاؤوا بأمير المؤمنين مكرها فبايع.

“Dari Sudair, ia meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali Bin Al Husain) ‘alaihissalaam: Dahulu sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi, seluruh manusia murtad selama satu tahun, kecuali tiga orang. As Sudairpun bertanya: Siapakah ketiga orang tersebut: Al Miqdad bin Al Aswad Abu Dzar Al Ghifaary, dan Salman Al Faarisy, lalu beliau berkata: Mereka itulah orang-orang yang tetap kokoh dengan pendiriannya dan enggan untuk membaiat (Abu Bakar As Shiddiq-pen) hingga didatangkan Amirul Mikminin (Ali bin Abi Thalib)  alaihissalaam dalam keadaan terpaksa, lalu beliaupun berbaiat.([3])

Saudaraku, simaklah dengan baik, pada kedua riwayat ini dengan jelas bahwa seluruh sahabat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi murtad. Hanya ada tiga orang sahabat yang tetap bertahan dengan keislamannya, dan dari ketiga orang tersebut tidak seorangpun dari ahlul bait, tanpa terkecuali Ali bin Abi Thalib dan kedua putranya.

Setelah membaca kedua riwayat di atas, menurut hemat anda, apakah orang-orang yang mengakui sebagai para pembela ahlul bait dan secara khusus Al Husain benar-benar pembela mereka? Ataukah sebenarnya mereka itu adalah musuh dalam selimut yang menyusup ke dalam barisan umat islam?

Untuk sedikit membantu anda menemukan jawaban dari pertanyaan ini, berikut saya nukilkan pengakuan imam mereka ke-6, yaitu Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad As Shaadiq wafat thn: 148 H.

قال أبو عبد الله عليه السلام: إن فيمن ينتحل هذا الأمر لمن يكذب حتى يحتاج الشيطان إلى كذبه

“Abu Abdullah ‘alaihissalaam berkata: “Sesungguhnya diantara orang-orang yang menganut paham syi’ah ini ada yang berbuat kedustaan, sampai-sampai setanpun merasa perlu untuk berguru dusta kepadanya.”

Riwayat ini  dapat anda jumpai dalam kitab Al Amaali karya Muhammad bin Al Hasan At Thusi  415, Bihaarul Anwaar 69/26, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn: 1111H, &  Mizaanul Hikmah, karya Muhammad Rai Syahri (seorang penulis dari agama Syi’ah zaman sekarang) 3/2673.

Luar biasa, setanpun merasa kurang lihai dalam berdusta, sehingga merasa perlu untuk berguru dan mengasah kemahirannya berdusta kepada sebagian penganut paham Syi’ah.

Ini adalah pengakuan salah seorang imam agama Syi’ah yang diyakini bersifat ma’shum alias tidak mungkin berbuat kesalahan.

Pada riwayat lain, beliau juga menegaskan:

قال أبو عبد الله عليه السلام: ما أنزل الله سبحانه آية في المنافقين إلا وهي فيمن ينتحل التشيع

“Abu Abdullah ‘alaihissalaam menegaskan: “Tidaklah Allah Yang Maha Suci menurunkan satu ayatpun tentang orang-orang munafiqin, melainkan ayat itu mengenai orang-orang yang menganut paham syi’ah.”

Riwayat ini dapat anda baca dalam beberapa referensi utama agama Syi’ah, diantaranya: Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal 2/589, karya As Syeikh Muhammad bin Al Hasan At Thusi wafat thn: 460 H & Bihaarul Anwaar 65/166, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn : 1111 H & Mu’jamu Rijalil Hadits 15/265, karya As Sayyid Abul Qasim Al Musawi Al Khu’i  wafat thn: 1413 H.

Inilah hakikat para penganut aliran Syi’ah menurut imam mereka sendiri. Mungkinkah setelah membaca riwayat ini, masih ada seorang muslim yang merasa lebih paham dan mengenal mereka daripada imam mereka sendiri? Atau mungkinkah ada dari kita yang juga merasa perlu untuk turut menimba ilmu dan mengasah kemahiran dalam berdusta kepada mereka? Na’uzubillah.

Poin ketiga : Kronologi kematian Al Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu.

Para ahli sejarah islam, tanpa terkecuali dari kalangan Syi’ah, telah mencatatkan bahwa kebanyakan penduduk kota Kufah yang nota bene kala itu adalah para penganut paham Syi’ah telah berkali-kali mengirimkan surat kepada Al Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu. Mereka mengharapkan agar Al Husain segera datang ke Kufah guna memimpin mereka.

Pada mulanya, Al Husain tidak begitu menggubris surat-surat tersebut. Akan tetapi dikarenakan surat dari para penganut Syi’ah terus menerus datang, pada akhirnya beliaupun menjadi terpengaruh karenanya. Walaupun para sahabat yang ada di Madinah kala itu, diantaranya Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id Al Khudri, Ibnu Abbas, Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyaam mengisyaratkan kepada Al-Husain agar ia mengurungkan niatnya.

Bahkan tatkala sahabat Abdullah bin Umar Al Khatthab yang baru saja tiba di Madinah, dikabari bahwa Al Husain telah berangkat menuju ke Kufah, beliau bergegas menyusulnya. Setelah melakukan perjalanan dua atau tiga malam, ia berhasil menyusul rombongan Al Husain dan keluarganya.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, sahabat Abdullah bin Umar berusaha sekuat tenaganya membujuk-rayu Al Husain agar mengurungkan perjalannya ke Kufah.

Diantara argumentasi yang beliau sampaikan kepada Al Husain adalah sebagai berikut:

إن الله خير نبيه بين الدنيا والآخرة، فاختار الآخرة ولم يرد الدنيا، وإنكم بضعة من رسول الله صلى الله عليه وسلم، والله لا يليها أحد منكم أبدا، وما صرفها عنكم إلا للذي هو خير منكم، فارجعوا، فأبى وقال: هذه كتبهم وبيعتهم، قال: فاعتنقه ابن عمر وقال: أستودعك الله من قتيل.

“Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam antara kedudukan di dunia dan di akhirat, lalu beliau memilih kedudukan di akhirat, dan beliau tidak menghendaki kedudukan di dunia. Sedangkan anda adalah darah daging (keturunan) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sungguh demi Allah selamanya tidak akan seorangpun dari kalian (keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) yang akan pernah memangkunya. Dan ketahuilah bahwa kepemimpinan di dunia tidaklah Allah berikan kepada orang yang lebih mulia dibanding kalian, karena itu hendaknya engkau kembali saja. Akan tetapi Al Husain enggan untuk kembali, dan ia malah berdalih: Saksikan, ini adalah surat-surat dan janji setia mereka (penduduk Kufah) ini. Selanjutnya sahabat Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu memeluk Al Husain Radhiallahu ‘Anhu, dan ia berkata kepadanya: Aku titipkan engkau kepada Allah, wahai orang yang tak lama lama lagi akan terbunuh.” Riwayat At Thabrani, Ibnu Hibban & Al Baihaqi.

Al Husain Radhiallahu ‘Anhu begitu percaya dengan janji-janji agama Syi’ah, sehingga beliau tidak menggubris nasehat para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tetap nekad meneruskan perjalannya ke Kufah. Beliau benar-benar telah terperdaya oleh janji-janji manis agama Syi’ah yang tertuang dalam surat-surat mereka.

Untuk sedikit mengetahui janji-janji manis agama Syi’ah, yang telah memperdaya cucu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, berikut saya nukilkan dua teks surat mereka yang dibukukan oleh beberapa tokoh mereka sendiri:

Surat pertama:

بسم الله الرحمن الرحيم، للحسين بن علي من شيعته من المؤمنين والمسلمين، أما بعد: فحي هلا، فإن الناس ينتظرونك، لا رأي لهم غيرك، فالعجل العجل، ثم العجل العجل، والسلام.

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kepada Al Husain bin Ali dari para pembelanya, kaum mukminin dan muslimin, Amma ba’du: Segera bergegaslah, karena masyarakat telah menanti-nantikanmu, mereka tidak memiliki pilihan selain dirimu, cepat dan cepatlah, kemudian segera bergegaslah, Wassalaam.”

Surat ini dapat anda baca dalam beberapa referensi agama Syi’ah, diantaranya dalam kitab: Al Irsyad 2/38, karya As Syeikh Al Mufid wafat thn: 413 H, Manaaqib Aal Abi Thaalib 3/241′ karya Ibnu Syahri Asyuub, wafat thn 588 H,  Bihaarul Anwaar 44/334, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn 1111 H, & Al ‘Awaalim 183, karya Abdullah Al Bahraani wafat thn 1130 H.

Surat kedua:

أما بعد: فقد أخضرت الجنات وأينعت الثمار وأعشبت الأرض وأورقت الأشجار فإذا شئت فأقبل على جند لك مجندة، والسلام عليك ورحمة الله وبركاته وعلى أبيك من قبلك

“Amma ba’du:  Sesungguhnya taman-taman telah menghijau, buah-buahan telah masak, bumi telah menghijau dengan rerumputannya, serta pepohonan telah bersemi, bila engkau menghendaki, maka datanglah kemari bersatu dengan pasukanmu yang berjumlah besar. Semoga keselamatan dan kerahmatan Allah senantiasa menyertaimu dan juga ayahmu.”

Surat inai dapat anda baca dalam beberapa referansi mereka, diantaranya: Al Irsyad 2/38, karya As Syeikh Al Mufid wafat thn: 413 H, Manaaqib Aal Abi Thaalib 3/241′ karya Ibnu Syahri Asyuub, wafat thn 588 H, Bihaarul Anwaar 44/334, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn 1111 H, & Al ‘Awaalim 183, karya Abdullah Al Bahraani wafat thn 1130 H.

Setelah surat-surat agama Syi’ah dari Kufah diterima untuk kesekian kalinya, Al Husain bin Alipun membalas surat mereka. Beliau menjawab surat-surat mereka, yang ia kirimkan bersama saudara sepupunya, yaitu Muslim bin Aqil bin Abi Thalib, dan dua orang sahabatnya. Pada surat balasan itu, Al Husain berkata kepada para penganut agama Syi’ah:

بسم الله الرحمن الرحيم من الحسين بن علي إلى الملأ من المؤمنين والمسلمين، أما بعد:

فإن هانئا وسعيدا قدما علي بكتبكم وكانا آخرا من قدم علي من رسلكم، وقد فهمت كل الذي اقتصصتم وذكرتم مقالة جلكم، أنه ليس علينا إمام، فأقبل لعل الله أن يجمعنا بك على الحق والهدى، فأنا باعث إليكم أخي وابن عمي وثقتي من أهل بيتي مسلم بن عقيل، فإن كتب إلي بأنه قد اجتمع رأي ملئكم وذوي الحجى والفضل منكم على مثل ما قدمت به رسلكم وقرأت في كتبكم، فإني أقدم إليكم وشيكا إن شاء الله، فلعمري ما الإمام إلا الحاكم بالكتاب والقائم بالقسط الدائن بدين  الحق الحابس نفسه على ذلك لله.

والسلام.

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Al Husain bin Ali kepada seluruh kaum mukminin danmuslimin, amma ba’du:

Sesungguhnya Hani’ dan Sa’id telah menemuiku dengan membawa surat-surat kalian, dan mereka berdua ialah utusan terakhir kalian yang menemuiku.Sungguh aku telah memahami seluruh apa yang kalian ceritakan dan sebutkan tentang tekad kebanyakan kalian bahwa: “Kami tidak memiliki seorang pemimpin, maka hendaknya engkau segera datang ke tempat kami, semoga Allah menyatukan kami dibawah kepemimpinanmu di atas kebenaran dan petunjuk.” Selanjutnya aku mengutus saudaraku, sekaligus anak pamanku dan orang kepercayaanku dari keluargaku sendiri, yaitu Muslim bin ‘Aqil kepada kalian. Bila kemudian sesampainya dia ditempat kalian, dan dia melaporkan kepadaku bahwa tekad kalian dan pemuka kalian telah bulat atas apa yang telah disampaikan oleh para utusan kalian dan yang aku baca dalam surat-surat kalian, maka sesungguhnya aku –insya Allah- dalam waktu dekat akan datang ke tempat kalian. Karena sesungghnya seorang pemimpin ialah orang yang menegakkan hukum Al Qur’an, keadilan, beragama dengan agama yang benar dan hanya karena Allah ia senantiasa istiqamah di atas prinsip ini.

Wassalaam.”

Surat balasan Al Husain kepada penduduk Kufah ini dapat anda baca dalam kitab: Al Irsyad 2/39, karya As Syeikh Al Mufid wafat thn: 413 H, Bihaarul Anwaar 44/334-335, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn 1111 H.

Sesampainya Muslim bin Aqil dan kedua sahabatnya di Kufah, para penganut agama Syi;ah bergegas menyatakan janji setianya kepada Al Husain bin Abi Thalib. Hingga tatkala jumlah mereka telah mencapai 18 ribu, Muslim bin Aqil segera mengirim surat kepada Al Husain memintanya agar segera datang ke Kufah, guna memimpin mereka.

Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu, sejalan dengan itu pula jumlah penduduk kufah yang telah menyatakan janji setianya mencapi ratusan ribu. Oleh karena itu, pada surat yang ia kirimkan selanjutnya, Muslim dan juga penduduk Kufah berkata kepada Al Husain:

إن لك ههنا مائة ألف سيف، فلا تتأخر

“Sesungghnya di sini engkau memiliki seratus ribu pasukan, maka hendaknya engkau segera datang dan jangan sampai terlambat.” ([4])

Karena merasa percaya dengan janji setiap agama Syi’ah, maka sahabat Al Husain bin Alipun, dengan membawa serta seluruh keluarganya, segera bergegas berangkat menuju Kufah.

Sebelum berangkat, beliau menuliskan surat untuk penduduk Kufah yang ia kirimkan bersama Qais bin Mushir As Shaidawi atau saudara sepersusuannya, yaitu Abdullah bin Yaqthur. Pada surat itu Al Husain berkata:

بسم الله الرحمن الرحيم.

من الحسين بن علي إلى وجوه إخوانه من المؤمنين والمسلمين، سلام الله عليكم، فإني أحمد إليكم الله الذي لا إله إلا هو، أما بعد:

فإن كتاب مسلم جاءني يخبرني فيه بحسن رأيكم وإجماع ملئكم على نصرنا والطلب بحقنا، فسألت الله أن يحسن لنا الصنيع، وأن يثيبكم على ذلك أعظم الأجر، وقد شخصت إليكم من مكة يوم الثلاثاء لثمان مضين من ذي الحجة يوم التروية، فإذا قدم إليكم رسولي، فانكمشوا في أمركم وجدوا، فإني قادم عليكم في أيامي هذه.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Al Husain bin Ali kepada saudara-saudaranya para pemuka kaum mukminin dan  muslimin, semoga salam sejahtera dari Allah senantiasa menyertai anda semua. Amma ba’du:

Sesungguhnya surat Muslim telah sampai kepadaku, padanya ia mengabarkan bahwa kalian berpikiran positif tentang aku, sebagaimana rakyat kalian juga telah seiya-sekata untuk membelaku dan bersama-sama menuntut hakku. Makanya aku berdoa memohon kepada Allah agar memudahkah rencana kita dan melimpahkan pahala sebesar-besarnya kepada kalian semua. Aku telah berangkat dari kota Mekah pada hari selasa tanggal * Dzul Hijjah, yang bertepatan dengan hari Tarwiyyah. Bila utusanku telah tiba ditempat kalian, maka hendaknya kalian tetap menahan diri, dan tetap terus menggalang kekuatan, karena sesungguhnya hanya dalam hitungan hari saja aku akan tiba di tempat kalian.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.” ([5])

Tatkala Al Husain dan rombongannya tiba di satu derah yang disebut Zubalah, ia menerima kabar bahwa para utusannya telah ditangkap pasukan Abdullah bin Ziyad gubernur Kufah. Mengetahui kejadian ini, beliaupun segera menyampaikannya kepada seluruh rombongannya :

بسم الله الرحمن الرحيم:

أما بعد، فإنه قد أتانا خبر فظيع، قتل مسلم بن عقيل وهانئ بن عروة وعبد الله بن يقطر، وقد خذلنا شيعتنا، فمن أحب منكم أن ينصرف فلينصرف غير حرج، ليس عليه ذمام.

“Bismillahirrahmanirrahim.

Amma ba’du: selanjutnya telah sampai kepadaku kabar buruk, Muslim bin Aqil, Hani’ bin Urwah dan Abdullah bin Yaqthur telah terbunuh, dan para pengikut kita telah ingkar janji, maka barang siapa dari kalian yang hendak pergi, maka silahkan, tanpa ada rasa sungkan dan ia juga tidak tercela.” ([6])

Saudaraku, demikianlah pengakuan Al Husain, agama Syi’ah yang pada mulanya menyatakan janji setiap, siap berperang membela Al Husain, ternyata pengecut. Mereka ramai-ramai berkhianat, dan membiarkan Al Husain dan kelaurganya menanggung ulah mereka. Agama Syi’ahlah yang memulai gerakan ini, merekalah yang mengundang Al Husain agar datang ke Kufah, akan tetapi setelah ia dan keluarganya telah dekat dari kota Kufah, agama Syi’ah membuktikan sifat aslinya; pengecut dan pengkhianat.

Tak ayal lagi, sebagai seorang kesatria yang berjiwa besar, Al Husain Radhiallahu ‘Anhu pantang mundur dan bertanggung jawab atas setiap perbuatan dan keputusannya.

Kelanjutan kisah beliau sudah dapat anda tebak, yaitu Al Husain terpaksa berperang dengan jumlah seadanya melawan pasukan Abdullah bin Ziyad yang berjumlah besar. Dan terjadilah apa yang telah Allah Ta’ala takdirkan, dan sebagaimana yang jauh-jauh hari telah RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam kabarkan:

قال علي بن أبي طالب  : دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ   ذَاتَ يَوْمٍ وَعَيْنَاهُ تَفِيضَانِ ، فَقُلْتُ : هَلْ أَغْضَبَكَ أَحَدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ مَالِي أَرَى عَيْنَيْكَ مُفِيضَتَيْنِ ؟ قَالَ : (قَامَ مِنْ عِنْدِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ ، فَأَخْبَرَنِي أَنَّ أُمَّتِي تَقْتُلُ الْحُسَيْنَ ابْنِي، ثُمَّ قَالَ : هَلْ لَكَ أَنْ أُرِيَكَ مِنْ تُرْبَتِهِ ؟ قُلْتُ : نَعَمْ ، فَمَدَّ يَدَهُ فَقَبَضَ ، فَلَمَّا رَأَيْتُهَا لَمْ أَمْلِكْ عَيْنَيَّ أَنْ فَاضَتَا) رواه أحمد والطبراني والحاكم

“Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu mengisahkan: Pada suatu hari aku menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedangkan beliau dalam keadaan berlinangkan air mata. Maka akupun bertanya : Ya Rasulullah, adakah seseorang yang telah membuatmu murka? Mengapa kedua matamu berlinang air mata? Beliau menjawab: “Baru saja Malaikat Jibril ‘alaihissalam beranjak dari sisiku, ia mengabariku bahwa umatku akan membunuh Al Husain cucuku, lalu ia berkata kepadaku: Sudikah engkau aku tunjukkan tanah tempat ia terbunuh? Akupun menjawab: Ya, lalu Malaikat Jibril menjulurkan tangan dan mengambil segenggam tanah tersebut. Tatkala aku menyaksikannya, akupun tak kuasa menahan linang air mataku.” Riwayat Ahmad, At Thobrani dan Al Hakim. ([7])

Saudaraku, Coba andai anda adalah Al Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu , apa perasaan anda terhadap para penganut agama Syi’ah? Demikianlah kira-kira kekecewaan yang dirasakan oleh Al Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu. Karenanya, beliau berdoa kepada Allah Ta’ala dengan berkata:

اللهم إن متعتهم إلى حين ففرقهم فرقا واجعلهم طرائق قددا ولا ترض عنهم الولاة أبدا فإنهم دعونا لينصرونا فعدوا علينا فقتلونا

“Ya Allah, andai Engkau memanjangkan umur mereka hingga beberapa waktu, maka cerai beraikanlah mereka, jadikanlah mereka terpcah-pecah ke dalam banyak jalan, dan janganlah pernah Engkau menjadikan seorang penguasapun yang merasa ridho terhadap mereka; karena mereka telah mengundang kami untuk selanjutnya membela kami, akan tetapi mereka malah menyerang kami dan selanjutnya membantai kami.”

Saudaraku! bila anda adalah salah seorang penganut agama Syi’ah, mungkin anda akan berkata, doa ini hanyalah rekayasa ahlissunnah yang memang memendam kebencian terhadap agama Syi’ah.

Tunggu sejenak, saudaraku, tenangkan batin dan perasaanmu, sehingga anda dapat bersikap arif setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.

Saudaraku! Cermatilah beberapa daftar referensi berikut ini, saya yakin anda tidak meragukan bahwa ini adalah referensi terpercaya agama Syi’ah.

  1. Al Irsyad 2/111, karya As Syeikh Al Mufid wafat thn 413 H .
  2. Mutsirul Ahzaan hal: 56, karya Ibnu Nama Al Hilli, wafat thn 645 H.
  3. Bihaarul Anwaar 44/230-231, karya Muhammad Baqir Al Majlisy wafat thn 1111 H.
  4. Al ‘Awaalim, Al Imam Al Husain 117, karya Abdullah Al Bahraani wafat thn 1130 H.
  5. Ma’alim Al Madrasatain 3/128, karya As Sayyid Murtadha Al Askari.

Doa kutukan Al Husain kepada para penduduk Kufah -yang nota benenya adalah nenek moyang, dan generasi terdahulu agama Syi’ah- diatas, di riwayatkan dalam kelima refensi di atas.

Bila anda adalah pengikut agama Syi’ah, apa yang anda rasakan tatkala membaca doa kutukan Imam anda Al Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu? Kuasakah anda menahan jeritan batin anda menghadapi fakta kelam pendahulu anda dengan imam anda ini? Mungkinkah anda tetap beranggapan bahwa pendahulu anda adalah para pembela Al Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu?

Saudaraku, bila anda belum percaya jua dengan pengakuan Imam Al Husain bin Ali bin Abi Thalib tentang apa yang menimpa dirinya, maka simaklah pengakuan ahli warisnya, yaitu Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, atau yang dikenal dengan Zaenal Abidin.

Setelah Al Husain terbunuh, dan keluarga beliau yang selamat diiring memasuki kota Kufah, maka  segerombol wanita agama Syi’ah meratapi kematiannya sambil merobek-robek baju mereka sendiri. Menyaksikan pemandangan ini, Ali Zaenal Abidin dengan suara yang lirih –dikarenakan sedang sakit parah- berkata kepada mereka:

إن هؤلاء يبكون علينا فمن قتلنا غيرهم؟

“Sesungguhnya mereka itu sedang menangis meratapi nasib yang menimpa kami, lalu siapakah yang telah memerangi kami selain mereka sendiri?.”

Demikianlah pengakuan Ali Zaenal Abidin tentang apa yang menimpa ayahandanya dan juga keluarganya. Pengakuan Ali Zaenal Abidin ini dapat anda baca pada : Al Ihtijaaj 2/29, karya Ahmad bin Ali At Thabrasi wafat thn 560 H, Bihaarul Anwaar oleh Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn 1111 H & Al ‘Awaalim, Al Imam Al Husain 368, karya  Abdullah Al Bahraani wafat thn 1130 H.

Fakta inilah yang mendasari Abu Ja’far Muhammad bin Ali Al Baqir, imam agama Syi’ah ke-5, untuk membuat pengakuan tentang agama Syi’ah:

لو كان الناس كلهم لنا شيعة، لكان ثلاثة أرباعهم لنا شُكَّاكاً، والربع الآخر أحمق

“Andai seleruh manusia menjadi penganut syi’ah, niscaya tiga perempat dari mereka adalah orang-orang yang hobi menghunus pedang terhadap kami, dan sisanya adalah orang-orang dungu.”

Pengakuan Abu Ja’far Al Baqir ini dapat anda baca pada refensi agama Syi’ah berikut: Al Ghaibah hal: 268, karya Muhammad bin Ibrahim An Nu’maani wafat thn: 380 H, Ikhtiyaar Ma’rifatir Rijaal, 2/460, karya As Syeikh At Thusi wafat thn 460 H, Bihaarul Anwaar 46/251, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn : 1111 H, & Mu’jam Rijalil Hadits 3/251, karya As Sayyid Abul Qasim Al Musawi Al Khu’i, wafat thn: 1413 H.

Kronologi terbunuhnya Al Husain bin Ali ini saya sarikan dari referensi agama Syi’ah, dan bukan dari referensi ahlissunnah. Dan Hasilnya, sebagaimana yang anda baca sendiri.

Setelah membaca kronologi singkat terbunuhnya Al Husain dan juga pengakuan beliau dan anak keturunannya, masihkah anda beranggapan bahwa agama Syi’ah adalah para pembela Al Husain bin Ali ? Atau mungkinkah anda masih tetap terperdaya oleh penampilan bulu domba yang melekat pada punggung musang? Atau terlena karena terperdaya oleh linangan air mata para penerus buaya, sang predator berdarah dingin berikut ini?

Saudaraku! Ada satu hal yang janggal dari kisah-kisah kronologi kematian Al Husain yang oleh para penjaja sekte dijadikan sebagai jaring untuk menjerat pengikut.

Berikut salah satu contoh kejanggalan yang saya maksud:

Salah seorang tokoh Syi’ah terkemuka, yaitu Ja’far bin As Syeikh Khidir An Najefi dalam kitabnya Kasyful Ghitha’ : menyebutkan bahwa Khalifah Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu dibunuh oleh orang-orang Muhajirin dan Ansar. Dan menurutnya, para eksekutor pembunuhan Khalifah Utsman adalah para pengikut setia sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.  Ia juga lebih jauh menyimpulkan bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib merestui pembunuhan Khalifah Utsman ini. Sehingga –menurutnya- ini menjadi bukti bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib telah berkeyakinan bahwa Khalifah Utsman bin Affan telah murtad sehingga layak untuk dibunuh. ([8])

Demikianlah pola pikir dan sudut pandang tokoh Syi’ah ini. Ia berusaha memanfaatkan rasa simpati anda untuk menggiring anda agar berburuk sangka kepada Khalifah Utsman bin Affan. Tapi pada saat yang sama, ia lalai bahwa ucapannya ini mengandung pembelaan kepada sahabat Mu’awiyah dan putranya Yazid.

Betapa tidak, bila ia meyakini bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib merestui pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, maka itu adalah pengakuan bahwa sahabat Mu’awiyah dan putranya Yazid benar-benar berhak untuk menuntut balas kematian kerabatnya, yaitu Khalifah Utsman bin Affan. Dan sudah barang tentu keduanya beranggapan bahwa Khalifah Utsman bin Affan adalah seorang muslim dan tidak halal untuk di bunuh. Tidak heran bila mereka menuntut agar sahabat Ali bin Abi Tholib, anak cucunya  dan juga seluruh pasukannya mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Bila demikian adanya, maka masihkah ada alasan untuk mencela Mu’awiyah yang  menuntut Khalifah Ali bin Abi Thalib agar mempertanggung jawabkan pembunuhan Khalifah Utsman? Terlebih-lebih Utsman bin Affan adalah tokoh terkemuka dan termulia dalam kabilah Umawiyah, sedangkan Mu’awiyah adalah kerabat terkuat dan terdekat beliau.

Dan layakkah Yazid bin Mu’awiyah dicela karena membiarkan pasukannya membunuh sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib? Bukankah menurut penulis kitab Kasyful Ghitha’, Ali bin Abi Thalib, dan kedua putranya Hasan serta Husain juga telah melakukan hal yang sama. Mereka telah membiarkan dan merestui pasukannya membunuh Khalifah Utsman bin Affan.

Dengan demikian, pernyataan Kasyful Ghitha’ ini adalah pengakuan bahwa sahabat Mu’awiyah dan juga Putranya tidak layak dicela karena memerangi sahabat Ali bin Abi Thalib serta kedua putranya.

Satu-satunya yang layak dicela ialah para penganut paham Syi’ah yang telah mengundang sahabat Husain agar datang ke Kufah untuk memimpin mereka merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Sekte Syi’ahlah satu-satunya yang layak dicela, karena mereka telah mengundang Husain, menjanjikan pembelaan dan akhirnya meninggalkannya di medan laga menghadapi keganasan pasukan Yazid bin Mu’awiyah.([9])

Demikianlah saudaraku! Apapun alasan dan tuduhan sekte Syi’ah, pada kenyataanya menghujat diri mereka sendiri. Dan ini semua semakin menyingkap kedok, siapa sejatinya sekte Syi’ah.


[1] )   Al kaafi oleh Al Kulainy 1/464, At Tafsir As Shaafi oleh Al Kaasyaani 5/14, Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisi 66/266, Tafsir Nur As tsaqalain oleh Al Huwaizi 5/13,  Al Hadaaiq An Nadhirah oleh Al Bahraani 25/81.

[2] ) Al Ikhtishash, karya As Syeikh Mufid hal: 6.

[3] ) Bihaaru; Anwaar oleh Al Majlisy 22/351 & Tafsir Nur As Tsaqalain, karya Abdu Ali bin Jum’ah Al ‘Arusy Al Huwaizy 1/396.

[4] )  Al Irsyad oleh As Syeikh Al Mufid 2/71,  Biharul Anwaar oleh Al Majlisi 44/370 & Al ‘awaalim, Al Imam Al Husain, oleh Abdullah Al Bahraani 220.

[5] )  Al Irsyad  oleh As Syeikh Al Mufid 2/70,  Biharul Anwaar oleh Al Majlisi 44/369 & Al ‘awaalim, Al Imam Al Husain, oleh Abdullah Al Bahraani 220.

[6] )  Al Irsyad oleh As Syeikh Al Mufid 2/75, Raudhatul Wa’izhin 179,  & Bihaarul Anwar oleh Al Majlisi 44/374.

[7] )  Saudaraku! Mungkin anda menduga bahwa hadits ini hanya diriwayatkan oleh ulama’ hadits ahlis sunnah saja. Ketahuilah, bahwa tokoh-tokoh agama Syi’ahpun juga meriwayatkan beberapa riwayat yang semakna dengan hadits ini. Bila anda tidak percaya, maka silahkan baca referensi berikut ini: Dalaa’il Al Imamah 179-180, karya Muhammad bin Jarir At Thobary As Syi’i wafat awal abad ke-4, Al Irsyad 2/129, karya As Syeikh Al Mufid wafat thn 413 H, Al Amaali 317, karya Muhammad bin Al Hasan At Thusy wafat thn 460 H, Bihaarul Anwaar 44/230-231, karya Muhammad Baqir Al Majlisy wafat thn 1111 H, & Al ‘Awaalim, Al Imam Al Husain 117, karya Abdullah Al Bahraani wafat thn 1130 H.

[8] ) Tidak diragukan bahwa anggapan penulis Kasyful Ghitha’ ini tidak benar. Sahabat Ali bin Abi Thalib dan juga putra-putranya tidak pernah merestui apalagi sampai mengkafirkan sahabat Itsman bin Affan. Tiodak heran bila dalam banyak kesempatan beliau mengutuk para pembunuh sahabat Utsman bin Affan. Hanya saja, memang pada kenyataannya para pembunuh sahabat Utsman bin Affan berlindung diri dengan bergabung dalam pasukan sahabat Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi karena mereka berasalkan dari beberapa kabilah besar, maka sahabat Ali bin Abi Thalib merasa tidak kuasa untuk menangkap dan mengadili mereka, kecuali bila kekuatan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan terlebih dulu bersatu dengannya. Sedangkan sahabat Mu’awiyah berpendapat bahwa persatuan dengan sahabat Ali hanya b isa dilakukan bila beliau terlebih dahulu mengadili para pembunuh sahabat Utsman. Perbedaan pendapat inilah yang kemudian menjadi awal mula peperangan antara mereka. Wallahu Ta’ala A’alam. Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, silahkan anda menelaah kitab: Al Awashim minal Qawashim karya Abu Bakar Ibnul Arabi Al Maliky & Fitnah Maqtali Utsman karya Dr. Muhammad Ghubban.

[9] ) Al Wasyi’ah Fi Naqdi Aqa’id As Syi’ah oleh Musa Jarullah, hal: 32-33.