Artikel

Beberapa Rujukan-rujukan Agama Syi’ah

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

M. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

Beberapa Rujukan-rujukan Agama Syi’ah

Pertama:

AL-KAFI, dikarang oleh ALKULAINI, kitab ini terdiri dari tiga bagian dalam 8 juz: AL-USHUL, AL-FURU’ AL-RAWDHAH, terisi dengan 16199 Hadits.

Berkata Ulama mereka Agha Bazrak Attahrani memujinya: Dia (AL-KAFI) adalah yang paling mulia di antara keempat kitab, Ushul yang menjadi sandaran, tidak pernah ditulis riwayat-riwayat manqul dari keluarga Rasul seperti (AL-KAFI) itu, oleh kepercayaan Islam Muhammad bin Yaqub Alkulaini Arrazi, Wafat tahun 328 Hijriyyah. (Kitab Adzdzari’ah fi thashanif Assyiah 17 hlm. 245).

Berkata Annisaburi memujinya: KEPERCAYAAN ISLAM, TOKOH ULAMA-ULAMA, BULAN PURNAMA, PENGHIMPUN SUNAN DAN ATSAR, yang dihadiri oleh DUTA-DUTA AL-QAIM (Imam mereka yang ghaib), yaitu: Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Alkulaini Arrazi, telah diceritakan bahwa kitabnya dipertunjukkan kepada AL-QAIM (imam mereka yang ghaib), yang dijawab olehnya: CUKUP, ITU UNTUK SYI’AH KAMI”. (Rawdlatul Jannat 2 hlm. 116).

Berkata Husin bin Abubakar Alhabsyi Bangil, memujinya: AL-KAFI, oleh ALKULAINI, Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub Alkulaini (329), YANG PALING AGUNG, PALING BENAR DAN PALING BAGUS, isi matannya 16190 Hadits, dihimpun oleh ALKULAINI dalam masa 20 tahun. (Surat tulisan tangan dibubuhi tanda tangannya).

Kedua:

MAN LA YAHDHURUHUL-FAQIH dikarang oleh tokoh mereka ABI JA’FAR ASSADUQ, MUHAMMAD BIN ALI BIN ALHUSIN BIN MUSA BIN BABAWAIH ALQUMMI, meninggal tahun 381 H, terdiri dari 6593 Hadits; berkata Muhammad Shodiq Asshadr memujinya: Ini adalah sumber kedua bagi Assyi’ah, dan berkata: Tokoh kami ASSADUQ telah mencapai satu kedudukan yang mulia di zamannya yang tidak pernah dicapai oleh orang lain, dan merupakan orang yang pertama mendapat gelar ASSADUQ (yang benar) dimana gelar itu khusus baginya, dimana dengan gelar itu langsung orang mengenalnya, gelar itu didapat karena KEPASTIANNYA dalam meriwayatkan, serta KEKUATAN HAFALANNYA, dan KETELITIANNYA. (Assyi’ah hlm. 124).

Ketiga:

ATTAHDZIB, oleh tokoh Ulama Syi’ah, ABI JA’FAR MUHAMMAD BIN ALHASAN BIN ALI ATTHUSI, meninggal tahun 460 H, kitab ini merupakan ketiga bagi Agama Syi’ah mencakup 1590 Hadits.

Telah disebutkan tentang kitab ini: IA MERUPAKAN BEKAL BAGI SEORANG FAQIH TENTANG APA YANG DIMINTA DARI RIWAYAT-RIWAYAT HUKUM PADA UMUMNYA YANG TIDAK DAPAT DIPENUHI OLEH SELAINNYA. (Assyi’ah hlm. 125-126).

Keempat:

AL-ISTIBSHAR, oleh tokoh Ulama Syi’ah Abi Ja’far Atthusi juga yang digelar dengan SYAIKHUTTAIFAH (Tokoh Ulama Syi’ah), buku ini terdiri dari 6531 Hadits.

Inilah keempat kitab mereka dalam Hadits yang mereka anggap SHAHIH (benar), yang mereka percaya, dan mengakui KEAGUNGANNYA, KEBENARANNYA, DAN KEBAGUSANNYA yang mereka puji buku-buku itu maupun pengarangnya dengan sanjungan dan pujian setinggi langit.

(more…)

Komentar Manis (bag.2)

KOMENTAR MANIS

bagian 2

Pada komentar manis pertama telah kita tanggapi penilaian bapak Muhammad Anis tentang kasarnya bahasa syaikh Mamduh. Maka kini kita lanjutkan dengan poin kedua:

Di kata Pengantar itu bapak Abdullah Anis berkata: “Saya sama sekali tidak bermaksud memperlebar pertentangan, melainkan hanya berusaha memberikan argumentasi dalam wacana diskusi ilmiah, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya.”

Maka saya katakan: Dengan tulus ikhlas karena Allah, saya nasihatkan kepada bapak Muhammad Anis, janganlah bapak menggunakan nikmat Allah yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada bapak untuk membela orang-orang yang sudah jelas memusuhi Allah, menyakiti rasul-Nya, melaknat istri-istrinya yang suci, mengkhianati ahlul baitnya yang mulia, dan mengkafirkan para sahabatnya yang setia. Jika bapak tujuannya ingin masuk surga maka bapak telah salah arah dan salah lagkah. Kembalilah sebelum terlambat dan jauh tersesat jalan. Allah berfirman:

!إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (١٠٥)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (An-Nisa`: 105)

وَلا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا (١٠٧)

“dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,” (Al-Nisa`: 107)

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلا (١٠٩)

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah).” ? (Al-Nisa`: 109)

*****

1. SYIAH

Pada bab ini bapak Muhammad Anis menulis ingin mendudukkan istilah syiah, bahwa Syiah adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam” selain itu tidak sah disebut syiah. Untuk itu dia kemudian mengemukakan beberapa bukti. Poin yang perlu saya tanggapi adalah ucapannya sebagai berikut (Pembagian kepada poin a, b, c dst adalah dari saya):

a. ((Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro’ 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul -Shalallahu alaihi wasalam- berkata :

Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku“. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saw berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Hadits tersebut juga banyak diriwayatkan dalam kitab ahlusunnah, seperti :1. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319; 2. Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62; 3. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15; 4. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”; dan lain-lain.))

KOMENTAR MANIS:

Pertama: Jika yang dimaksud oleh bapak Muhammad Anis dengan ucapannya “Kitab ahlus sunnah” dan “dan lain-lain” adalah kitab ulama ahli hadits dalam kitab-kitab yang menjadi hujjah seperti Bukhari, Muslim dan sejenisnya dan mereka mengatakan ini hadits shahih maka ini adalah dusta dan tidak pernah ada. Jika yang dimaksud adalah kitab yang dia sebut tadi kemudian kitab sebangsa al-Fadhail milik Abu Nuaim, juga kitab tulisan al-Maghazili, Khathib Khawarizm, atau kitab-kitab fadhail, atau kitab tarikh maka sekedar adanya riwayat itu di sana bukanlah hujjah menurut kesepakatan ahli ilmu., Ini dalam masalah furu’ lalu bagaimana kalau dalam masalah imamah seperti ini?

Kedua: Hadits ini maudhu’ alias dipalsukan oleh orang menurut kesepakatan ahli ilmu tentang hadits. Hal ini dikatakan oleh Ibn Hazam, Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at, Ibn Taimiyah (dalam Minhajus sunnah jilid 7/353), al-Albani dalam silsilah al-Dhaifah, dll. Lihat misalnya al-Fawaid al-Majmu’ah karya al-Syaukani hal 346; Tanzih al-Syari’ah 1/363.

Sesungguhnya hadits seperti itu dimuat dalam kitab-kitab yang menghimpun semua berita, yang telah diketahui oleh para ulama bahwa di dalamnya ada yang dusta seperti tafsir al-Tsa’labi, al-Wahidi dan sejenisnya. Juga kitab-kitab fadhail yang memuat riwayat yang baik dan yang buruk seperti kitab Khathib Khawarizm juga al-Maghazili.

Ketiga: Sesungguhnya riwayat-riwayat semacam itu (yang mengatakan “Ali ini saudaraku, mentriku, penerima wasiatku, khalifahku sesudahku”) kalau diteliti sanadnya mesti ada perawi syiah atau kadzdab (pendusta). Oleh karena itulah bapak Muhammad Anis tidak menyebutkan sanadnya kepada kita karena takut ketahuan kepalsuannya. Maka menurut saya ucapan bapak Muhammad Anis di depan yang mengatakan: “melainkan hanya berusaha memberikan argumentasi dalam wacana diskusi ilmiah” belum tercermin dalam tulisannya ini. Sepertinya bapak Anis tidak mengerti tentang hadits yang shahih dan yang palsu, sehingga seolah perhatiannya yang penting adalah ada rujukan atau info yang sesuai dengan selera. Ini jauh dari unsur ilmiah. Bahkan kalau boleh saya katakan, sikap ini mirip dengan sikap kafir Quraisy dulu,yang artinya : ” Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak.” (QS. Al-Kahfi, 56). Wallahul Muwaffiq.

Keempat: Riwayat hadits tentang yaumul indzar yang shahih dan dipakai oleh Ahlu sunnah tidak ada tambahan (yang mengatakan “Ali ini mentriku, penerima wasiatku, khalifahku sesudahku”) seperti hadits Ibn Abbas yang ada pada hadits Imam Bukhari, dan Imam Muslim, hadits Abu Hurairah dalam Shahih Muslim, dan hadits-hadits lain dalam sunan Nasa`i. Turmudzi, Baihaqi dll. Lihat misalnya Misykatul Mashabih : 5372; 5373; Shahih Sirah an-Nabawiyyah, Al-Albani 1/135; Fiqh al-Sirah an-Nabawiyyah, Munir Ghadhban, 142. Untuk lengkapnya ada baiknya anda merujuk Minhaj al-Sunnah an-Nabawiyyah, 7/299-306 (M. Syamilah 1); juga kitab al-Imamah fi Dhau` al-Kitab was-Sunnah lisyaikhil Islam Ibn Taimiyah, yang dihimpun, dikomentari dan diberi prolog oleh Muhammad Malullah.

Untuk lebih jelasnya ahsan ana cantumkan langsung dari kitab al-Imamah fi Dhau` al-Kitab was-Sunnah sebagai berikut:

الثامن: أن الذي في الصحاح من نزول هذه الآية غير هذا. ففي الصحيحين عن ابن عمر وأبي هريرة – واللفظ له – عن النبي صلَّى الله عليه وسلَّم لما نزلت: { وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ } [الشعراء: 214] دعا رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم قريشاً، فاجتمعوا، فخص وعم فقال: “يا بني كعب بن لؤي أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني مُرَّة بن كعب أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد شمس أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد مناف أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني هاشم أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد المطلب أنقذوا أنفسكم من النار، يا فاطمة بنت محمد أنقذي نفسك من النار. فإني لا أملك لكم من الله شيئاً غير أن لكم رحماً سأبلها ببلالها”([1]).

وفي الصحيحين عن أبي هريرة رضي الله عنه أيضاً لَمَّا نزلت هذه الآية قال: “يا معشر قريش اشتروا أنفسكم من الله لا أغني عنكم من الله شيئاً، يا بني عبد المطلب لا أغني عنكم من الله شيئاً، يا صفية عمة رسول الله لا أغني عنك من الله شيئاً. يا فاطمة بنت محمد لا أغني عنك من الله شيئاً. سلاني ما شئتما من مالي”([2]) وخرجه مسلم من حديث ابن المخارق وزهير بن عمرو([3])، ومن حديث عائشة وقال فيه: “قام على الصفا”([4]).

وقال في حديث قبيصة: “انطلق إلى رضمة من جبل، فعلا أعلاها حجراً، ثم نادى: يا بني عبد مناف إني لكم نذير، إنما مثلي ومثلكم كمثل رجل رأى العدو فانطلق بربأ أهله، فخشي أن يسبقوه، فجعل يهتف: يا صباحاه”([5]).

وفي الصحيحين من حديث ابن عباس قال: “لما نزلت هذه الآية خرج رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم حتى صعد الصفا، فهتف: ”يا صباحاه“ فقالوا: من هذا الذي يهتف؟ قالوا: محمد، فاجتمعوا إليه، فجعل ينادي: ”يا بني فلان، يا بني عبد مناف، يا بني عبد المطلب“ وفي رواية: ”يا بني فهر، يا بني عدي، يا بني فلان“ لبطون قريش فجعل الرجل إذا لم يستطع أن يخرج أرسل رسولاً ينظر ما هو، فاجتمعوا فقال: ”أرأيتكم لو أخبرتكم أن خيلاً تخرج بسفح هذا الجبل، أكنتم مصدّقي“؟ قالوا: ما جربنا عليك كذباً. قال: ”فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد“ قال: فقال أبو لهب: تبّاً لك أما جمعتنا إلا لهذا؟ فقام فنـزلت هذه السورة: { تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ } [المسد: 1]([6]).

وفي رواية: “”أرأيتم لو أخبرتكم أن العدو يصبّحكم ويمسّيكم أكنتم تصدّقوني“؟ قالوا: بلى”([7]).

Malang, Selasa15. Jumada Tsaniyah 1430


([1]) الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه في: البخاري 6/111-112 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، مسلم 1/192 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}، المسند (ط. الحلبي) 2/333، 360، 519 .

([2]) الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه في: البخاري 4/6-7 (كتاب الوصايا، باب هل يدخل النساء والولد في الأقارب)، 4/185 (كتاب المناقب، باب من انتسب إلى آبائه في الإسلام والجاهلية)، 6/112 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، مسلم 1/192-193 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}. والحديث في سنن النسائي والدارمي والمسند.

([3]) الحديث في: مسلم في الموضع السابق 1/193 (رقم 353، 354).

([4]) الحديث في: مسلم 1/192 (الموضع السابق) حديث رقم 350 .

([5]) الحديث هو حديث ابن المخارق وزهير بن عمرو السابق، وابن المخارق هو قبيصة بن المخارق. والرضمة: حجارة مجتمعة ليست بثابتة في الأرض كأنها منثورة، وعبارة “فعلا أعلاها حجراً”: أي فرقي في أرفعها، وكلمة “يربأ” على وزن يقرأ: معناه: يحفظهم ويتطلع لهم، ويقال لفاعل ذلك؛ ربيئة. وكلمة “واصباحاه” هي كلمة يعتادونها عند وقوع أمر عظيم، فيقولونها ليجتمعوا ويتأهبوا له.

([6]) الحديث عن ابن عباس رضي الله عنهما – مع اختلاف في الألفاظ – في: البخاري 6/111 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، 6/122 (كتاب التفسير، سورة سبأ)، 6/179-180 (كتاب التفسير، سورة تبت يدا أبي لهب وتب)، مسلم 1/193-194 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}، سنن الترمذي 5/121 (كتاب التفسير، ومن سورة تبت)، المسند (ط. المعارف) 4/186، 286 .

([7]) هذه الرواية جزء من حديث عن ابن عباس رضي الله عنهما في: البخاري 6/122 (كتاب التفسير، سورة سبأ)، 6/180 (كتاب التفسير، سورة تبت يدا أبي لهب وتب).

Bahaya JIL Bagi Aqidah Umat, Pembentengan dan Solusinya

BAHAYA JIL BAGI AKIDAH UMAT,

PEMBENTENGAN DAN SOLUSINYA

Oleh: Abu Hamzah Agus Hasan Bashori al-Sanuwi

PENDAHULUAN

Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah -Subhanahuwata’ala- kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- (QS. 48: 28;33:40) sebagai rahmat bagi semesta alam (QS 21:107) dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah -Subhanahuwata’ala- (QS 3:19; 5:3). Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ia termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah, dan yang keluar daripadanya maka ia termasuk firqah-firqah yang halikah.

Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda. Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik Barat” Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio – Kultural dan Politik Masyarakat. (Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn IX/81)

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu, namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya, Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haqq tetapi pada hekikatnya suara mereka itu adalah bathi,l karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam-. Tetapi bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam-.

Maka dalam makalah ini akan kita uraikan sanad firqah liberal, visi, misi agenda jIL, bahaya mereka terhadap akidah umat, pembentengan dan solusinya. insyaallah. .

SANAD FIRQAH LIBERAL

Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur`an dan sunnah. Pada saat itu muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.

Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani (Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam. (Charless Kurzman: xx-xxiii)

Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-1890) yang membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ia membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh (1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- adalah Pelopor Agung Rasionalisme. (William Montgomery Watt: 132)

Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq (1888-1966) yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatakan bahwa yang dikehendaki oleh al-Qur`an hanyalah sistem demokrasi tidak yang lain.(Charless: xxi,18)

Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis. Ia menggagas tafsir al-qur`an model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya ia ingin menelaah Islam berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar Islam. (Mu’adz, Muhammad Arkoun Anggitan tentang cara-cara tafsir al-Qur`an, Jurnal Salam vol. 3 No. 1/2000 hal 100-111; Abd Rahman al-Zunaidi: 180; Willian M. Watt: 143)

Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan al-Qur`an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju oleh al-Qur`an adalah ideal moralnya, karena itu ia yang lebih pantas untuk diterapkan. (Fazhul Rahman: 21; William M. Watt: 142-143)

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton; Sabili no. 15: 88). Nurcholis Madjis telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun 1970-an. Pada saat itu ia telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini, dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama.” (Nurcholis Madjis: 239)

Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang mengusung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok dengan pikirannya.

Demikian sanad Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William Montgomery Watt, Charless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis la’natulllah ‘alaih. (Ali Ibn Abi al-‘Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”. Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar What The Caesar’s and to the God What the God’s (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada hak Tuhan). (Muhammad Imarah: 45) Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang membidani lahirnya peradaban Barat.”

(more…)

Keutamaan Ummul Mukminin, ‘Aisyah -Radiallahuanha-

Keutamaan Ummul Mukminin, ‘Aisyah -Radiallahuanha-

qiblati0406

Pernikahan Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- dengan ‘Aisyah -Radiallahuanha- tidaklah seperti pernikahan manapun. Sungguh, Allah -Subhanahu wata’ala- telah memerintahkan Nabi-Nya -Shalallahu alaihi wasalam- untuk menikahi ‘Aisyah -Radiallahuanha-. Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- telah melihat ‘Aisyah -Radiallahuanha- di dalam mimpi beliau -Shalallahu alaihi wasalam- sebelum pernikahan. Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda kepada ‘Aisyah -Radiallahuanha-:

« رَأَيْتُكِ فِى الْمَنَامِ [مَرَّتَيْنِ] يَجِىءُ بِكِ الْمَلَكُ فِى سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ فَقَالَ لِى هَذِهِ امْرَأَتُكَ . فَكَشَفْتُ عَنْ وَجْهِكِ الثَّوْبَ ، فَإِذَا أَنْتِ هِىَ فَقُلْتُ إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُمْضِهِ »

“Aku telah melihatmu di dalam mimpi [dua kali]. Satu malaikat datang dengan membawa (gambar)mu dalam sebuah potongan sutera yang bagus. Dia berkata kepadaku: “Ini adalah istrimu.” Maka akupun menyingkap wajahmu, ternyata engkaulah orangnya. Maka kukatakan, ‘Jika ini adalah dari sisi Allah, niscaya Dia akan melaksanakannya.” (HR. al-Bukhari (4832), (Ahmad )

Dia adalah istri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- di dunia dan akhirat, sebagaimana telah valid di dalam as-Shahih.

Kecintaan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- kepadanya dinampakkan secara terang-terangan, tidak disembunyikannya. Hingga beliau -Shalallahu alaihi wasalam- pernah ditanya:

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : عَائَشِةُ قَالَ : فَمِنَ الرِّجَالِ ؟ قَالَ : أَبُوْهَا

“Manusia yang mana yang paling anda cintai, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “’Aisyah.” Dia bertanya lagi, ‘Lalu dari golongan laki-laki?’ Beliau menjawab: “Bapaknya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Adapun ilmunya, maka sungguh ‘Aisyah –Radiallahuanha- telah mengambil banyak ilmu dari Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam-. Dia termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadits. Dan tidak ditemukan pada wanita ummat Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- yang lebih mengerti tentang agama Islam daripada ‘Aisyah -Radiallahuanha-.

Al-Hakim dan ad-Darimi meriwayatkan dari Masruq, bahwa dikatakan kepadanya, “Apakah dulu ‘Aisyah ahli dalam bidang faraidh?” Dia menjawab, “Ya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku telah melihat para sahabat Nabi yang besar bertanya kepadanya tentang faraidh.”

Az-Zuhri berkata, “Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan (kemudian) dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, maka pastilah ilmu ‘Aisyah lebih utama.”

(more…)

Iran Membunuh Dua Ulama Sunni

Iran Membunuh Dua Ulama Sunni

Ahlis Sunnah di Iran dihadang banyak tragedy serangan yang disasarkan terhadap mereka berupa tekanan, kedhaliman, dan pemusnahan dari arah rezim fanatisme golongan.ilustrasi eramuslim

Penguasa Iran melancarkan pembunuhan atas dua Ulama besar Ahlis Sunnah di kota Zahran Iran dengan tuduhan keterlibatan keduanya dalam aksi kebangkitan untuk pergolakan Iran. Ekskusi mati itu berlangsung pekan lalu dalam rangka sarana terror untuk menakut-nakuti jama’ah-jama’ah Sunni penentang di daerah-daerah yang dihuni oleh kebanyakan dari Ahlis Sunnah. Koran Al-Jumhuriyyah الجمهورية ” Mesir menyebutkan bahwa dua orang alim yang telah diekskusi mati itu adalah Maulawi Khalilullah Zari dan Hafidh Shalahuddin Sayyidi

مولوي خليل الله زاري وحافظ صلاح الدين سيدي

Dan pembunuhan terhadap kedua Ulama Sunni itu dalam rangka pengusiran abadi terhadap Ahlis Sunnah di Iran dan operasi pemberedelan politik, agama, dan informasi secara keras setelah revolusi Khumeini dimana Iran menegaskan pembersihan secara meluas terhadap buku-buku rujukan (referensi) agama yang Sunni (Ahlis Sunnah).

Ahlis Sunnah di Iran menghadapi banyak tragedy serangan yang disasarkan terhadap mereka berupa tekanan, kedhaliman, dan pemusnahan dari arah rezim fanatisme golongan di Iran, di antaranya pembunuhan terhadap pembesar-pembesar Ulama, penghancuran masjid-masjid, penutupan madrasah-madrasah Diniyyah, mengusir tokoh-tokoh agama (Islam Sunni) dan pelajar/ mahasiswa penuntut ilmu dengan menjauhkan mereka. Semua itu dilangsungkan dengan tujuan mencabut Ahlus Sunnah dan mewajibkan madzhab Syi’ah atas bangsa-bangsa di Iran yang Sunni dari suku Kurdi, Balusy, Turki, dan sebagian Arab lainnya secara paksa dan kekerasan, sebagaimana telah terjadi 5 abad yang lalu di mana Daulah Shafawiyah memaksa –dengan kerjasama dengan orang-orang salib— Iran untuk mensyi’ahkan dengan kekuatan pedang dan terror setelah tadinya bersahabat dan mempengaruhi di dunia Islam.

(more…)

Go to Top