Gen Syi’ah
artikel tentang buku Gen Syi’ah
Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait

Sesungguhnya Syi’ah berupaya menipu manusia dengan mengatakan bahwa mereka mencintai ahlul bait dan mereka adalah kelompok terbaik karena berpegang pada keluarga Nabi dengan seluruh ucapan dan ajaran mereka. Padahal yang mereka maksud bukanlah keluarga Nabi yang sebenarnya, melainkan Ali dan orang-orang tertentu dari keturunannya. Kita tidak tahu mengapa mereka mengkhususkan Ali dalam masalah ini padahal ia bukan satu-satunya orang yang menikahi putri Nabi Saw. Utsman justru menikahi dua orang putri Nabi Saw dan Abu al-‘Ash ibn ar-Rabi’ juga menikahi Zainab putri Nabi Saw. Jika mereka berdalih bahwa Ali memiliki sifat kekerabatan dengan Nabi Saw sebab putra dari paman Nabi Saw. Kita bertanya kepada mereka, apakah hanya Ali yang memiliki sifat ini? Tentu tidak, sebab Ali memiliki 2 saudara yaitu Ja’far dan Aqil. Begitu pula Rasulullah Saw memiliki 2 orang paman yaitu al-Abbas ibn Abdul Muth-thalib yang dimuliakan oleh Rasulullah Saw dan dijadikannya seperti bapaknya sendiri, dan Hamzah Sayyid Syuhada’ ra.
Jika keutamaan Ali karena statusnya sebagai putra paman Rasul Saw bukankah yang lebih utama mendapatkannya adalah paman Rasul Saw! Jika tidak, apakah kekerabatan putra paman lebih kuat dari paman?!
Supaya lebih jelas kita perlu membahas arti “ahl” dalam bahasa Arab. Ar-Raghib berkata dan diikuti oleh al-Munawi: ahl ar-rajul adalah orang-orang yang dikumpulkannya dalam satu tempat tinggal begitu pula dia dan orang-orang yang disatukan oleh nasab.
Ibnu Manzhur al-Ifriqi mengatakan: “ahlu al-mazhab” berarti orang-orang yang meyakininya. “Ahlu al-amr” adalah orang-orang yang mengurusnya. Dan “ahlu ar-rajul” adalah orang yang paling khusus dengannya.
Az-Zabidi juga berkata: “ahl” bagi seseorang adalah istrinya, termasuk di dalamnya adalah putra putrinya. Dengan arti seperti ini ia menafsirkan firman Allah
“ وَسَارَ بِأَهْلِهِ ”
“Dan dia berjalan bersama istri dan keluarganya” .
Al-Khalil berkata: “ahl ar-rajul”, adalah “istrinya”, “taahhul” berarti menikah. “Ahl ar-rajul”, berarti orang yang paling khusus dengannya, “ahlul bait” adalah penghuni rumah, “ahlu al-Islam” adalah orang-orang yang meyakininya.
Muhammad Jawad Maghniyah seorang Syi’ah kontemporer mengatakan: “ahlul bait” adalah para penghuninya, “ahlu ar-rajul” adalah “ahluhu” (keluarganya).
Di antara yang menetapkan secara pasti bahwa ahlul bait digunakan secara khusus untuk “istri”, dan dipakai secara majaz untuk anak-anak dan kerabatnya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Di antaranya adalah ketika Allah memberi kabar gembira kepada istri Ibrahim melalui lisan malaikat: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait!” (Hud: 73).
Hal ini telah diakui oleh ulama Syi’ah dan para mufasir mereka seperti ath-Thubrusi dalam Majma’ al-Bayan, al-Kasyani dalam Manhaj ash-Shadiqin.
Begitu pula Allah SWT mengisahkan Nabi Musa as:
“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: Tunggulah di sini sesungguhya aku melihat api” (al-Qashash: 29).
Syi’ah dan Saba’iyah
Oleh :
Mamduh Farhan al-Buhairi
(Dari buku Gen Syiah)
Ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah, Ali memiliki pendukung (syi’ah) yang membelanya, demikian pula Muawiyah, ia memiliki pendukung (syi’ah) yang berperang di pihaknya. Tentang kasus ini para sahabat dan tabi’in berselisih pendapat. Akan tetapi setelah matinya Ali ra, Abdullah ibn Saba’ mengklaim bahwa Ali ibn Abi Thalib lah yang mengajarkan kepadanya ajaran-ajaran tasyayyu’, dalam bingkai sebuah mazhab yang berbeda dengan apa yang diketahui oleh khalayak. Maka terkecohlah sebagian syi’ah Ali dan cenderung mengikuti ajaran Ibn Saba’. Dengan demikian berubahlah paradigma tasyayyu’, setelah menjadi tasyayyu’ (dukungan) politik kini menjadi tasyayyu’ teologi dan religi, pada sebagian pengikutnya, kecuali para sahabat dan tabi’in yang tadinya memang mendukung secara politik, bukan karena mazhab. Ibnu Saba’ menebarkan di tengah-tengah pengikutnya berbagai ajaran yang diambil dari khurafat, mitos dan legenda yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Ibnu Saba’ dan kelompoknya telah terbiasa menjadikan “dusta” sebagai kendaraan bagi cita-citanya, “dusta” atas nama “ahlul bait”.
Hal ini telah di akui olehAl-Kasy-syi dalam kitab “Rijal”nya menceritakan dari Ibn Sinan, Abu Abdillah berkata:
“Kami ahlul bait adalah orang-orang jujur (benar), tetapi selalu ada pendusta yang berdusta atas nama kami. Maka runtuhlah kejujuran kami di mata manusia. Adalah Rasulullah Saw manusia yang paling jujur ucapannya, dan adalah Musailamah al-Kazzab telah berani berbuat dusta atasnya. Adalah Amirul Mukminin (Ali) orang yang paling jujur -yang dibersihkan namanya oleh Allah- sepeninggal Rasulullah Saw, dan adalah Abdullah ibn Saba’ -semoga dilaknat oleh Allah- telah berani berdusta atasnya. Dan adalah Abu Abdillah al-Husain ibn Ali telah diuji dengan al-Mukhtar (ats-Tsaqafi),” kemudian Abu Abdilah menyebut nama al-Harits asy-Syami dan Banan: “Keduanya telah berdusta atas Ali ibn al-Husain,” kemudian menyebut al-Mughirah ibn Sa’id, Buzaigh, as-Surri, Abu al-Khath-thab, Mu’ammar, Basy-syar al-‘Asy’ari, Hamzah al-Yazidi dan Shaid al-Nahdi, beliau berkata: “Semoga Allah melaknat mereka, sesungguhnya para pendusta selalu berdusta atas kami. Cukuplah Allah yang menghukum setiap pendusta dan Allah pasti merasakan kepada mereka panasnya besi (neraka)”[1].
Kita ketika membantah dakwaan-dakwaan kaum yang fasiq dan yang keluar dari agama Allah ini tidak berdalil (berhujjah) melainkan dari kitab-kitab mereka sendiri. Maka dari mereka untuk mereka, hingga yang haq menjadi jelas. (more…)
Gerakan Saba’iyah
oleh : Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi
Buku gen syiah
Abdullah Ibn Saba’ adalah Yahudi dari San’a (Yaman) ibunya adalah wanita berkulit hitam, ia dikenal dengan “Ibnu as-Sawda’”. Dia masuk Islam pada zaman Utsman ra. Dia dan para pengikutnya dari Yahudi Jazirah Arab berpindah-pindah tempat antara Hijaz, Bashrah, Kufah dan Syam. Dia berusaha dengan keras untuk mempengaruhi kelompok orang-orang bodoh, orang yang berjiwa lemah dan orang-orang yang menyimpan dendam terhadap Islam (dan atau orang-orangnya). Ternyata ia tidak berhasil (dengan gemilang), kemudian ia pindah ke Mesir dan diikuti oleh pengikutnya. Di sana ia tinggal menetap dan hidup di tengah-tengah penduduk Mesir. Dia mulai mempengaruhi mereka, ternyata bumi Mesir subur untuk dakwahnya. Dia berkata kepada mereka: “Aku sangat heran kenapa kalian mempercayai bahwa Isa putra Maryam akan kembali ke dunia sementara kalian tidak percaya bahwa Muhammad akan kembali kepadanya ?!” Dia berdalil dengan firman Allah yang artinya:
“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”.(Al-Qashash : 85).”
Dia telah jauh menyimpang dari kebenaran dalam menafsiri ayat, karena yang dimaksud dengan “ma’ad” di sini adalah sebagaimana yang dikatakan para ahli tafsir adalah kematian atau surga atau kembalinya Rasul Saw kepada Rabb-nya pada hari kiamat.
Dengan begitu dia telah mempengaruhi akal mereka. Maka mereka meyakini adanya “Raj’ah” ini. Jadi Ibnu Saba’ adalah orang pertama yamg menyuarakan tentang “Raj’ah”. Dia sangat berlebihan dalam perkara ini sampai menetapkan “wilayah”, ia berkata: “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki seorang “washi” dan Ali ibn Abi Thalib adalah washi bagi Muhammad.Saw! Maka tidak ada orang yang paling Zalim selain orang yang tidak melaksanakan wasiat Rasulullah Saw (maksudnya ia menuduh Utsman merampas hak Ali dan menzaliminya). Maka bangkitlah kalian untuk memperjuangkan perkara ini, dan hendaklah cara kalian dalam mengembalikan hak kepada pemiliknya dengan mencela para umara dan menampakkan “amar ma’ruf dan nahi munkar”, dengan begitu kalian akan menarik simpati orang”.
Akhirnya sampailah ajaran Ibnu Saba’ kepada puncaknya ketika mengklaim ketuhanan Ali, dan bahwasanya Ali tidak dibunuh melainkan naik ke langit, dan sesungguhnya yang terbunuh adalah setan yang menjelma dengan rupa Ali. Gledek adalah suara Ali dan kilat adalah cemetinya atau senyumannya………
Padahal gledek dan kilat sudah ada sejak zaman dulu (sebelum meninggalnya Ali)!!
Demikianlah ia menyebarkan kebatilan dan khurafat ini di tengah-tengah orang yang lemah jiwanya. Maka ia dan orang-orangnya berhasil membentuk kelompok-kelompok di Mesir, Bashrah dan Kufah, dan di setiap wilayah ada amirnya. Kelompok Mesir dipimpin oleh al-Ghafiqi ibn Harb al-‘Akki al-Misri, yang menjadi ujung tombak dan alat untuk melaksanakan rencana-rencana selanjutnya. Al-Ghafiqi memiliki banyak pembantu dan orang dekatnya semisal: Sudan ibn Hamran, Khalid ibn Muljam, Kinanah ibn Bisyr at-Tujibi, Abdullah ibn Badil ibn Warqa’, Hakim ibn Jabillah dan Malik ibn al-Harits al-Asytar.
Abdullah Ibn Saba’
ABDULLAH IBN SABA`
Sayyid Husain al-Musawi
(diterjemah oleh Abu Hamzah ibnul Qamari)
Sayyid Husain al-Musawi (ulama Najaf) dalam kitabnya Lillahi Tsumma Littarikh, terbitan Darul Amal Kairo, halaman 9-13 mengatakan:
Sesungguhnya yang yang masyhur di tengah-tengah kita- kaum syiah- bahwa Abdullah ibn Saba` adalah tokoh fiktif yang tidak ada hakikatnya, diciptakan oleh ahlussunnah untuk menikam orang syiah dan aqidahnya, sehingga mereka menisbatkan pendirian tasyayyu’ kepadanya agar manusia lari daripadanya dan dari madzhab ahlul bait.
Saya bertanya kepada sayyid Muhammad al-Husain Alu Kasyif al-Ghitha` tentang Ibn Saba` maka beliau berkata: Ibnu Saba` adalah khurafat (dongeng) yang diciptakan oleh dinasti umawiyyah dan abbasiyyah karena dengki kepada ahlul bait yang suci. Maka orang yang berakal tidak seharusnya menyibukkan diri dengan tokoh fiktif ini.
Akan tetapi saya menemukan dalam kitab beliau yang terkenal “Ashl as-Syiah wa Ushuluha” halaman 40-41 sesuatu yang menunjukkan adanya tokoh ini dan kebenarannya,. Beliau berkata: Adapun Abdullah ibn saba` yang mereka kaitkan dengan syiah atau mereka kaitkan syiah dengannya maka kitab-kitab syiahini semuanya melaknatnya dan berlepas diri darinya..”
Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah pernyataan tentang adanya sosok ini. Ketika saya menanyakan hal itu kepada beliau, beliau berkata: Sesungguhnya kkami mengatakan itu hanya karena taqiyyah (berbohong). Jadi kita tersebut yang dituju adalah ahlussunnah, oleh karena itu aku katakan sesudahnya: dengan catatan bahwa sangat mungkin hadits-hadits tentang abdullah ibn saba` dan semacamnya hanyalah khurafat yang dipalsukan oleh tukang cerita dan tukang begadang.”
Sayyid Murtadha al-Askari telah menulis kitabnya: Abdullah ibn saba` wa asathir ukhra (Abdullah ibn saba dan dogeng-dongeng lain), dia didalamnya mengingkari adanya sosok ibn saba`, sebagaimana diingkari oleh sayyid Muhammad Jawad Maghniyyah dalam prolognya terhadap kitab al-Askari tersebut.
Siapakah Ahlul Bait Itu? (bag. 2)
3. Keturunan seseorang
Imâm al-Bukhari / meriwayatkan (II/541; 1414) dari Abû Hurairah ط bahwa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- pernah mengeluarkan sebutir kurma sedekah dari mulut al-Hasan atau al-Husain seraya bersabda:
«أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ r لاَ يَأْكُلُوْنَ الصَّدَقَةَ؟»
“Tidakkah engkau tahu bahwa keluarga Muhammad tidak memakan harta sedekah?”
Maka hadîts ini menunjukkan bahwa kalimah [آلُ مُحَمَّدٍ] telah mencakup ketururan pula. Dan dalilnya pula adalah firman Allah -Subhanahu wata’ala-:
قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ
“Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya di kota itu ada Luth”. Para malaikat berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS. al-Ankabut: 32)
Dan telah dimaklumi bahwa tidak ada seorangpun yang beriman kepada Luth ؛ selain kedua putrinya. Adapun istrinya, tetap berada diatas kekufuran. Oleh karena itulah Allah -Subhanahu wata’ala- mengecualikan dirinya termasuk dari orang-orang yang selamat dari keluarga Luth ؛ . Maka hal ini menunjukkan bahwa [الأَهْل] mencakup istri-istri dan keturunan.
4. Kerabat seseorang
Imâm Muslim didalam Shahihnya (IV/1873; 2408) meriwayatkan dari Hushain, dia berkata kepada Zaid ibn al-Arqam:
«وَمَنْ أْهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدٌ؟ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ؟». قَالَ: «إِنَّ نِسَاءَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ. وَلَكِنَّ أَهْلَ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةُ بَعْدَهُ». قَالَ: «وَمَنْ هُمْ؟». قَالَ: «هُمْ آلُ عَلِيٍّ، وَآلُ عَقِيْلٍ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ». قَالَ: «أَكُلُّ هَؤُلاَءِ حُرِمَ الصَّدَقَةُ؟». قَالَ: «نَعَمْ»
“Siapakah Ahlul bait-nya wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul baitnya? Dia berkata: “Sesungguhnya istri-istri beliau adalah termasuk ahlul bait beliau. Akan tetapi ahlul bait beliau adalah mereka yang diharamkan memakan sedekah setelah beliau.” Dia berkata: “Siapakah mereka?” Dia menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, Keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.” Dia berkata: “Apakah setiap mereka diharamkan dari harta sedekah?” Dia menjawab: “Ya.”
5. Pengikut seseorang dan kelompoknya
Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ(49) وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ(50)
“Dan (Ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 49-50)
Yang dimaksud di sini adalah pengikut Fir’aun dan bukan anak-anaknya. Dikarenakan ia tidak memiliki seorang anakpun berdasarkan kesepakatan ahli tafsir. Oleh karena itulah ia mengabulkan permintaan Asiyah ‘ , istrinya, untuk mengambil Musa ؛ sebagai anak angkat, sebagaimana firman Allah -Subhanahu wata’ala-:
وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ(9)
“Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (al-Qashash: 9)
Komentar