Jeritan Batin Setiap Muslim!

Setiap dari kita pasti mengetahui bahwa agama yang kita cintai ini pernah mengantarkan generasi terdahulu kita kepada kejayaan. Nenek moyang kita telah berhasil menguasai dunia dan menegakkan syari’at Islam yang indah nan adil. Kebatilan dan perbudakan terhadap umat manusia berhasil mereka hapuskan.

Berbagai dinasti diktator nan bengis mereka singkirkan, dan digantikan dengan keadilan Islam dan kelembutan sosok pemimpin muslim yang mengemban misi kerahmatan bagi alam semesta.

Nenek moyang kita telah mengukir sejarah keemasan Islam tersebut dengan tetesan darah dan kucuran keringat mereka. Jiwa dan raga mereka telah menjadi tebusan bagi terwujudnya kejayaan islam tersebut. Mereka melakukan itu semua tanpa pamprih, dan bersih dari berbagai ambisi dunia. Itu semua mereka melakukan, karena ingin menyelamatkan umat manusia dari kehinaan hidup dengan menyembah kepada berhala menuju kepada kehormatan ibadah kepada Allah Ta’ala. Menyelamatkan umat manusia dari kegelapan hidup jahiliyyah yang memuja materi menuju kepada kehidupan yang penuh dengan cahaya iman dan takwa.

Tatkala Rib’i bin ‘Amir ditanya oleh panglima perang Romawi yang bernama Rustum: “Apa perlumu datang ke negri kami?” Rib’i bin ‘Amir menjawab: “Allah-lah Yang mengutus kami, Allah-lah Yang memerintahkan kami untuk datang. Kami datang untuk mengeluarkan umat manusia dari peribadatan kepada sesama makhluq menuju kepada peribadatan kepada Allah. Mengeluarkan mereka dari himpitan kehidupan dunia menuju kepada kehidupan yang lapang. Membebaskan mereka dari penindasan (para pemimpin) agama, untuk selanjutnya menikmati keadilan agama Islam. Allah mengutus kami untuk mendakwahkan agama-Nya kepada seluruh makhluq-Nya. Barang siapa menerima agama Allah, maka kami merasa cukup dengan itu, dan kamipun akan membiarkannya mengurus negerinya sendiri tanpa campur tangan dari kami. Akan tetapi barang siapa yang enggan, maka akan kami perangi, hingga kami berhasil menggapai janji Allah (yaitu surga).”([1])

(إِنَّ اللَّهَ زَوَى لي الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا ما زوى لي منها)

“Sesungguhnya Allah telah melipatkan bumi dihadapanku, sehingga aku dapat menyaksikan belahan bumi bagian timur dan barat. Dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai seluruh belahan bumi yang telah dilipatkan dihadapanku.” Riwayat Muslim

Imam An Nawawi As Syafi’i berkata: “Pada hadits ini terdapat suatu isyarat bahwa: Sebagian besar dari perluasan kekuasaan ummat Islam mengarah ke belahan bumi bagian timur dan barat, dan demikianlah faktanya. Adapun perluasan ke belahan bumi bagian selatan dan utara sangatlah sedikit bila dibandingkan dengan perluasan ke arah timur dan barat.”([2])

Setiap orang yang menjelajahi belahan bumi barat dan timur, niscaya akan mendapatkan berbagai bukti sejarah kejayaan Umat Islam. Acap kali kita menyaksikan peninggalan sejarah Islam berupa bangunan masjid, atau lainnya, hati kita menjerit dan berkata: kapankah kita bangkit kembali? Kapankah umat Islam kembali menguasai dunia? Kapankah dunia kembali menikmati sejuknya khilafah islamiyyah dan indahnya keadilan ilahi yang terwujud pada setiap aspek kehidupan umat islam?

Beribu-ribu jeritan hati kita ini menjadikan kita menolehkan pandangan ke kanan dan kekiri, guna mencari secercah sinar harapan. Negara-negara Islam satu demi satu kita amati, guna mencari satu negara yang menjadi tambatan bagi sisa-sisa asa dan harapan yang masih melekat dalam dada.

Beberapa waktu silam -dan mungkin hingga saat ini- banyak dari umat Islam merasa girang dan seakan terpancar di hadapan mata mereka secercah sinar harapan. Secercah sinar harapan itu muncul bersamaan dengan diproklamirkannya revolusi Syi’ah di Iran. Terlebih-lebih para pemimpin negara tersebut gencar menarik simpati kaum muslimin dengan memainkan  “sandiwara” permusuhan dengan bangsa Zionis Yahudi dan pendukungnya.

Banyak dari umat Islam menantikan saatnya agama Syi’ah yang telah menguasai negri Iran meluncurkan rudal dan nuklirnya ke negri Zionis.

Akankah, impian umat Islam ini akan terwujud?

Akankah, impian ini tinggal impian ?

Bila anda benar-benar menginginkan untuk mengetahui jawaban yang benar dari pertanyaan ini, maka telusurilah berbagai penuturan tokoh-tokoh syi’ah yang saya nukil dalam lembaran-lembaran buku ini. Semoga anda tidak memperpanjang daftar korban “musang berbulu domba”.

Allah Maha Mengetahui

Mengamati diri kita dan juga alam semesta yang demikian indah, dan sarat dengan hikmah, dapat kan menghantarkan kepada keyakinan bahwa semua ini tidaklah tercipta dengan sendirinya. Alam semesta beserta isinya ini adalah ciptaan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana:

[سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ [فصلت 53.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” Fusshilat 53

Pengamatan pada semesta alam yang merupakan tanda-tanda ke-Esaan Allah ini, akan menghantarkan kita –bila jiwa kita bersih- kepada pengakuan: bahwa ia adalah hamba Allah Ta’ala Yang maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dengan pengakuan ini, kita akan yang harus berbakti kepada-Nya.

[وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاَعِبِينَ [ الأنبياء 16

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi beserta segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main”. Al Anbiya’ 16

Al Qurthuby menjelaskan ayat ini dengan berkata:“Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi beserta seluruh yang ada di antara keduanya, dengan sia-sia, dan sekedar bermain-main. Kami menciptakannya guna mengingatkan manusia bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta Yang Maha Kuasa. Pencipta Yang wajib dita’ati perintah-Nya, Dia membalas orang jahat setimpal dengan kejahatannya, demikian juga halnya dengan yang berbuat kebajikan. Kami tidaklah menciptakan alam semesta ini agar umat manusia saling menindas, sebagian dari mereka berbuat kekufuran, dan sebagian lainnya melanggar perintah-Nya, lalu mereka semua mati tanpa ada pembalasan. Tidaklah Kami menciptakan alam semesta agar manusia hidup bebas tanpa ada perintah untuk berbuat kebajikan dan larangan dari kekejian.”([3])

Inilah tujuan dan manfaat utama dari mengamati alam semesta. Tidak mengherankan bila Allah Ta’ala memuji orang-orang yang berhasil mencapai tujuan ini dalam firman-Nya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ {190}
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ{191}[ آل عمران]

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Ali Imran 190-191.

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [ البقرة:[29

“Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, dan Dia berkehendak menuju langit, lalu Dia menjadikannya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui.

Pada ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan bahwa segala isi bumi diciptakan untuk kepentingan umat manusia. Yang demikian itu karena bumi beserta isinya berguna bagi mereka. Dalam urusan agama, bumi beserta isinya merupakan bukti nyata akan ke-Esaan Allah. Sedangkan dalam urusan dunia, bumi beserta isinya menjadi sumber kehidupan mereka dan bekal untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan menunaikan kewajiban agamanya.([4])

Sebagaimana pada ayat ini Allah Ta’ala juga mengabarkan, bahwa: Tiada suatu halpun yang tersembunyi dari Allah. Mungkinkah ada suatu hal yang tersembunyi dari-Nya, padahal Dialah  Yang telah menciptakan umat manusia dan menciptakan bumi beserta isinya untuk mereka?. Sebagaimana Dia pulalah yang menciptakan tujuh langit dengan segala isinya dari uap air. Allah pasti mengetahui segala amalan manusia, baik yang mereka nampakkan atau mereka rahasiakan. walaupun orang-orang munafiq berusaha menampakkan dengan lisannya ucapan: “Kami beriman  kepada Allah dan hari akhir”, Allah pasti mengetahui isi batinnya yang mendustakan keduanya.([5])

لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ

Tidak ada yang tersembunyi dari Allah (meskipun) sebesar zarrah (debu) sekalipun, baik di langit atau di bumi, tidak pula yang lebih kecil dari itu dan tidak juga yang lebih besar”. Saba’ 3.

Inilah keyakinan umat Islam sepanjang sejarah, mereka meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang terdahulu atau yang akan datang, dan bahkan segala sesuatu yang tidak terjadi andai terwujud bagaimana kejadiannya.

اللّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنثَى وَمَا تَغِيضُ الأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ وَكُلُّ شَيْءٍ عِندَهُ بِمِقْدَارٍ {8} عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ {9} سَوَاء مِّنكُم مَّنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَن جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ [ الرعد 8-10

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna, dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nampak (lahir), Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Sama saja (bagi Allah), siapa diantara kamu yang menyembunyikan ucapannya dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.” Ar Ra’du 8-10

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

[وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ {13} أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ[ لملك 13-14

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan), dan Dia Maha Halus Lagi Maha Mengetahui.” Al Muluk 13-14.

Sahabat Ali bin Abi Thalib Radiallahu Anhu mengisahkan: “Pada suatu hari, kami sedang mengurus penguburan seorang jenazah di kuburan Baqi’ Al Gharqad, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjumpai kami, lalu beliau duduk, maka kamipun duduk di sekitarnya. Kala itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membawa sebatang tongkat, lalu beliau mengangguk-anggukkan kepalanya dan menggaris-gariskan tongkatnya ke tanah. Tak selang berapa lama, beliau bersabda:

(ما مِنْكُمْ من أَحَدٍ، ما من نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ، إلاَّ وقد كَتَبَ الله مَكَانَهَا من الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلاَّ وقد كُتِبَتْ شَقِيَّةً أو سَعِيدَةً)، قال: فقال رَجَلٌ: يا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلا نَمْكُثُ على كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ؟ فقال: (من كان من أَهْلِ السَّعَادَةِ، فَسَيَصِيرُ إلى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَمَنْ كان من أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إلى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ) فقال: (اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ، أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ، فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ)

“Tidaklah ada seorangpun dari kalian, tidaklah ada seorang jiwapun yang hidup, melainkan telah Allah tuliskan tempat huniannya di surga atau di neraka, dan juga telah dituliskan nasibnya, apakah ia sebagai orang yang sengsara atau bahagia.” Lalu ada seorang sahabat yang bertanya: Ya Rasulullah, Tidakkah lebih baik bagi kita, berserah diri kepada suratan takdirnya dan tidak usah susah payah beramal? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: “Barang siapa yang ditakdirkan untuk menjadi orang yang bahagia, maka ia akan beramal dengan amalan orang-orang yang bahagia, dan Barang siapa yang ditakdirkan untuk menjadi orang yang sengsara, maka ia akan beramal dengan amalan orang-orang yang sengsara.” Lalu Beliau melanjutkan sabdanya: “Beramallah, karena setiap manusia akan dimudahkan; adapun orang-orang yang (telah ditakdirkan menjadi orang bahagia) maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang bahagia. Sebaliknya, orang-orang yang (telah ditakdirkan menjadi orang sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang sengsara.” Lalu beliau membaca ayat:

[فَأَمَّا من أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا من بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى[

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah ) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil lagi merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” Muttafaqun ‘Alaih.

Hadits yang diriwayatkan oleh Khalifah Ali bin Abi Tholib Radiallahu Anhu, yang sekaligus imam pertama agama Syi’ah ini menjadi salah satu dalil kuat bagi penetapan sifat Ilmu Allah Ta’ala yang mencakup segala sesuatu.

Yang demikian itu, dikarenakan para ulama’ telah menjelaskan bahwa setiap takdir mencakup empat tingkatan:

1.    Ilmu tentang hal tersebut, yaitu Allah telah mengetahui segala hal terkait dengan sesuatu tersebut sebelum ditakdirkan (diciptakan). Diantara dalil tingkatan ini adalah firman Allah Ta’ala:

]اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا[ الطلاق 12

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah terus menerus berlaku diantara alam langit dan alam bumi, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” At Thalaq 12.

2.    Penulisan, yaitu Allah telah menuliskan penciptaan sesuatu tersebut pada lembaran-lembaran takdir, yang telah dituliskan oleh Al Qalam 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Diantara dalil tingkatan ini adalah hadits berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: (كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ). رواه مسلم

“Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amer Al ‘Ash Radiallahu Anhu, ia menuturkan: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” Riwayat Muslim. Dan pada hadits lain Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

(أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْقَلَمَ، فقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّي وَمَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شِيءٍ حتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ) رواه أحمد وأبو داود والطَّبراني وغيرهم وصححه الألباني.

Pertama kali Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakan Al Qalam, Allah berfirman kepadanya: “Tulislah”, Maka Al Qalampun bertanya: “Wahai, Tuhanku, apa yang harus aku tulis? Allah menjawab: “Tulislah takdir segala sesuatu hingga bangkitnya hari kiyamat.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Thabrany dan dinyatakan sebagai hadits shohih oleh Al Albani.

3.    Kehendak, yaitu Allah menghendaki penciptaan sesuatu tersebut. Diantara dalil tingkatan ini adalah firman Allah Ta’ala:

[إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ[ يس 82

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “jadilah”, maka terjadilah ia.” Yasin 82

4.    Penciptaan, yaitu pewujudan sesuatu yang telah Allah ketahui, lalu dituliskan, selanjutnya dikehendaki dan pada akhirnya diwujudkan dalam alam nyata, dalam bentuk suatu benda atau kejadian atau perbuatan.  Diantara dalil kedua tingkatan ini adalah firman Allah Ta’ala :

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {101} ذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمْ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ[ الأنعام[ 101-102

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri, Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat ) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu, tiada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah  Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. ” Al An’am 101-102.

Tidak mengherankan bila para ulama’, diantaranya Imam As Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal berkata:

ناظروا القدرية بالعلم، فان أقرُّوا به خصموا، وإن جحدوه كفروا .

“Debatlah orang-orang yang mengingkari taqdir dengan masalah penetapan Ilmu Allah, bila mereka mengakuinya, maka mereka telah terkalahkan, dan bila mereka mengingkarinya, berarti mereka telah kufur.”([6]) Yang demikian itu, dikarenakan pengakuan bahwa: Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum diciptakannya langit dan bumi, dan sebelum terjadinya segala sesuatu, merupakan tingkat paling dasar dari keimanan kepada takdir Allah.

Imam Utsman bin Sa’id Ad Darimy As Syafi’i berkata: “Barang siapa benar-benar beriman dengan Al Qur’an dan mempercayai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, niscaya ia merasa puas walau hanya dengan membaca sebagian saja dari dalil-dalil yang telah saya sebutkan. Dalil-dalil itu dengan nyata menetapkan bahwa Allah telah mengetahui segala makhluq sebelum diciptakan beserta  seluruh amalannya sebelum mereka mengamalkannya. Demikian pula halnya setiap orang yang mengumpulkan seluruh ayat-ayat, hadits-hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan keterangan-keterangan para sahabat dan tabi’in yang semuanya dengan tegas menetapkan ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu. Dan sebenarnya untuk mengetahui hal tersebut tidak perlu mendatangkan dalil sebanyak yang saya sebutkan. Saya menyebutkan dalil-dalil sebanyak itu, agar menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang berakal sehat dan berpemahaman baik. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui sejauh mana kesesatan orang-orang yang enggan untuk menetapkan ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu, dan bahkan menafikannya. Mereka menganggap Allah dalam hal ilmu pengetahuan layaknya manusia biasa, tanpa ada perbedaan sedikitpun. Mereka berpendapat: Menurut mereka: sebagaimana manusia tidak dapat mengetahui sesuatu sebelum terwujud, demikian pula halnya dengan Allah, tidak mengetahui sebelum terwujud. Bila demikian adanya, apa perbedaan antara Dzat Yang Maha Mengetahui hal yang gaib (sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Maidah ayat 109-pen), Yang mengetahui segala hal yang rahasia dan yang lebih tersembunyi (sebagaimana disebutkan dalam surat Thoha ayat 8-pen) dari manusia yang tidak memiliki ilmu selain yang diajarkan Allah kepadanya?([7])

Diantara bentuk implementasi keimanan kita kepada kesempurnaan ilmu Allah Ta’ala adalah kita mengimani bahwa segala ilmu yang telah dikuasai dan yang akan dikuasai oleh manusia adalah karunia dari Allah. Allah-lah yang mengajarkan atau mengilhamkan ilmu tersebut kepada manusia. Oleh karena itu dahulu para Malaikat mengikrarkan kepada Allah ucapan berikut:

[ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ [ البقرة 32

“Maha Suci Engkau, tiada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Al Baqarah 32.

Bila kita mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, niscaya kita merasa takjub dengannya. Begitu luas dan begitu hebat hasilnya, akan tetapi semua itu terlalu sedikit bila dibanding dengan ilmu Allah Ta’ala.

[ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً [ الإسراء 85

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” Al Isra’ 85.

Imam As Syaukany Az Zaidy berkata: “Sesungguhnya kalian yang telah diajarkan oleh Allah kepada kalian, hanyalah sedikit bila dibanding dengan ilmu Allah Sang Pencipta Yang Maha Suci. Walaupun seseorang telah dikaruniai ilmu yang sangat luas, bahkan perbandingan ilmu seluruh nabi-nabi ‘alaihimussalaam, dengan ilmu Allah, bagaikan seekor burung  yang dengan paruhnya mengambil air lautan.”([8])

Tidak mengherankan bila setiap kali kita berhasil menguasai ilmu baru, ilmu tersebut menjadi bukti baru akan kebodohan kita. Inilah yang mendasari Imam As Syafi’i untuk berkata:

وَإِذَا مَا ازْدَدْتُ عِلْماً … زَادَنِي عِلْماً بِجَهْلِي

Dan acapkali aku tambah berilmu

aku bertambah sadar akan kejahilanku

Dan diantara bukti kesempurnaan ilmu Allah adalah pengetahuan tentang lima hal gaib yang merupakan kunci-kunci ilmu gaib.

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ[ الأنعام [59

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan, dan lautan, tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Al lauh Al Mahfuzh).” An An’am 59

Imam Bukhary rahimahullah telah meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar Radiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda:

(مَفَاتِحُ الْغَيْبِ، خَمْسٌ: ]إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [ لقمان 34

“Kunci-kunci ilmu ghaib itu ada lima: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah ilmu tentang Hari Kiamat, dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada orang yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Luqman 34.

Dan pada ayat lain Allah lain Allah Ta’ala berfirman:

[قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ [ النمل 65

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, selain Allah, dan mereka tidak mengetahui bahwa mereka akan dibangkitkan.” An Namel 65.


[1] ) Tarikh At Thobary 2/401 &  Al Bidayah wa An Nihaayah oleh Ibnu katsir 7/46.

[2] ) Syarah Imam Muslim oleh Imam An Nawawi As Syafi’i 18/13.

[3] ) Tafsir Al Qurthuby 11/276.

[4] ) Tafsir At Thobari 1/426.

[5] ) Tafsir At Thobary 1/438.

[6] ) Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 23/349, Jami’ul ‘Ulum Wa Al Hikam oleh Ibnu Rajab 4/16, Syarah Al Aqidah At Thohawiyyah oleh Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafy 1/354.

[7] ) Ar Raddu ‘Ala Al Jahmiyyah oleh Imam Utsman bin Sa’id Ad Darimi As Syafi’i 139.

[8] ) Tafsir Fathul Qadir oleh Imam As Saukany Az Zaidy 3/363.