Idiologi Al Bada’ Ala sekte Syi’ah.

Saya yakin anda beriman dan tidak ragu sedikitpun bahwa ilmu Allah Azza Wa Jalla mencakup segala sesuatu.  Karenanya, saya mengajak saudara untuk mengenal sedikit tentang idiologi Syi’ah tentang masalah ini.

Dengan merujuk berbagai referensi utama agama Syi’ah, kita mendapatkan idiologi mereka nyata-nyata menyelisihi prinsip keimanan anda di atas:

Agama syi’ah memiliki satu doktrin yang menjadikannya menyelisihi seluruh aliran yang ada di tengah-tengah umat Islam sepanjang sejarah. Dotrin tersebut dikenal dengan Al Bada’.

Secara etimologi kata Al Bada’ berasal dari kata:

( بَدَا بَدْواً وَ بُدُوّاً وبَدَاءً وَبَدَاءَةً وبُدُوّاً  وبَدَاءَةً )

yang bermaknakan:

Makna pertama: Nampak/lahir (tidak tersembunyi/lawan dari batin).

Makna kedua : Munculnya pendapat/gagasan baru.([1])

Kata ini dengan kedua maknanya dipergunakan dalam Al Qur’an Al Karim:

Contoh penggunaan kata Al bada’ dengan pengertian pertama (nampak dan tidak tersembunyi) adalah pada firman Allah Ta’ala:

[وَإِن تُبْدُواْ مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللّهُ[ القرة 284

Dan jika kamu melahirkan/menampakkan apa yang ada dalam hatimu, atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatanmu itu.” Al Baqarah 284.

Contoh penggunaan kata Al bada’ dengan pengertian kedua adalah pada firman Allah Ta’ala:

[ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّن بَعْدِ مَا رَأَوُاْ الآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ[ يوسف 35

“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai suatu waktu .” Yusuf 35.

Kata bada’ dengan kedua maknanya ini nyata-nyata bertentangan dengan keimanan umat Islam tentang ilmu Allah yang maha luas, dan mencakup segala sesuatu.

Akan tetapi, sangat mengejutkan bila ternyata agama syi’ah justru meyakini adanya idiologi al bada’. Dan menjadikannya sebagai salah satu sifat Allah Ta’ala. Bahkan seluruh tokoh Syi’ah sepakat untuk menetapkan sifat ini bagi Allah Ta’ala.

As Syeikh Mufid, salah seorang tokoh Syi’ah menyatakan:

واتفقت الإمامية على وجوب رجعة كثير من الأموات إلى الدنيا قبل يوم القيامة، وإن كان بينهم في معنى الرَّجعة اختلاف، واتَّفقوا على إطلاق لفظ البداء في وصف الله تعالى، وأن ذلك من جهة السمع دون القياس.

“Agama Syi’ah Al Imamiyyah telah sepakat bahwa banyak dari orang yang telah mati akan kembali dihidupkan (ar raj’ah) ke dunia sebelum datangnya kiamat, walaupun terjadi perbedaan pendapat antara mereka tentang maksud dari kembali dihidupkan (ar raj’ah). Sebagaimana mereka juga telah sepakat untuk menggunakan kata Al bada’ dalam mensifati Allah Ta’ala, dan sesungguhnya penggunaan ini berdasarkan kepada dalil-dalil sam’i (riwayat) dan bukan dengan qiyas (nalar/logika).([2])

Dikarenakan kedua makna etimologi dari kata al bada’ ini nyata-nyata tidak benar, dan pasti ditentang dan ditolak oleh setiap muslim, walaupun yang kurang terpelajar, maka berbagai tokoh syi’ah berusaha menafsirinya dengan penafsiran yang terkesan dapat diterima.

Sebagai contoh adalah apa yang dikemukakan oleh As Syeikh Al Mufid sendiri:

وأقول في معنى البداء ما يقول المسلمون بأجمعهم في النَّسخ وأمثاله من الإفقار بعد الإغناء، والإمراض بعد الإعفاء، والإماتة بعد الإحياء

“Dan aku berpendapat tentang makna al bada’ seperti keyakinan keumuman umat islam tentang penghapusan/penganuliran suatu hukum (an nasekh) dan yang semakna dengannya, berupa: menjadikan seseorang miskin setelah sebelumnya kaya raya, menjadi sakit setelah sebelumnya sehat wal afiat dan mematikannya setelah sebelumnya hidup.”([3])

Demikianlah upaya sebagain tokoh agama Syi’ah untuk menutupi kejelekan mereka. Akan tetapi orang yang membaca berbagai riwayat yang termaktub dalam berbagai referensi agama syi’ah tidak akan dapat dengan mudah mempercayai penafsiran ini. Berikut sebagian riwayat yang nyata-nyata termaktub dalam berbagai referansi mereka:

Riwayat Pertama:

قال أبو هاشم الجعفري: كنت عند أبي الحسن عليه السلام بعد مضي ابنه أبو جعفر، وإنِّي لأفكر في نفسي أريد أن أقول: كأنهما -أعني أبا جعفر وأبا محمد في هذا الوقت- كأبي الحسن موسى وإسماعيل ابني جعفر بن محمد عليهم السلام، وإن قصتهما كقصتهما، إذ كان أبو محمد المرجي بعد أبي جعفر عليه السلام، فأقبل علي أبو الحسن قبل أن انطق فقال: نعم يا أبا هاشم، بدا لله في أبي محمد بعد أبي جعفر ما لم يكن يعرف له، كما بدا في موسى بعد مضي إسماعيل ما كشف له عن حاله، وهو كما حدثتك نفسك، وإن كره المبطلون.

Abu Hasyim Al Ja’fary menuturkan: “Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah Abu Al Hasan (Ali bin Muhammad-pen) ‘alaihissalam sepeninggal putranya Abu Ja’far (Muhammad-pen). Kala itu aku berencana untuk mengatakan: Seakan kejadian yang menimpa Abu Ja’far dan Abu Muhammad  (Al Hasan bin Ali ) pada saat ini serupa dengan yang dialami oleh Abu Al Hasan Musa dan Ismail putra Ja’far bin Muhammad ‘alaihimussalam. Kisah keduanya (Ali dan Muhammad bin Muhammad) serupa dengan kisah keduanya (Musa dan Ismail bin Ja’far), dikarenakan Abu Muhammad Al Murji menjadi imam sepeninggal Abu Ja’far ‘alaihissalam. Tiba-tiba Abu Al Hasan menatapku sebelum aku sempat mengucapkan sepatah katapun, lalu ia berkata: “Benar, wahai Abu hasyim, Allah memiliki pendapat baru tentang Abu Muhammad sepeninggal Abu Ja’far yang sebelumnya tidak Dia ketahui. Sebagaimana sebelumnya muncul pendapat baru pada Musa (bin Ja’far) sepeninggal Ismail (bin Ja’far) suatu pendapat baru yang selaras dengan keadaannya. Kejadian ini  sebagaimana yang terbetik dalam jiwamu, walaupun orang-orang yang sesat tidak menyukainya.” ([4])

Riwayat kedua:

عن مالك الجهني قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: لو علم الناس ما في القول بالبداء من الأجر، ما فتروا عن الكلام فيه.

“Diriwayatkan dari Malik Al Juhani, ia menuturkan: Aku pernah mendengar Abu Abdullah berkata: “Andai masyarakat mengetahui pahala yang didapat dengan membahas permasalahan albada’, niscaya mereka tidak akan pernah lelah untuk membicarakannya.”([5])     

Riwayat ketiga :

عن زرارة عن أبي عبد الله قال: ما عُبِد الله بشيء مثل البداء، وفي رواية: ما عُظِم اللهُ بمثْلِ البداء.

“Diriwayatkan dari Zurarah, dari Abu Abdillah, ia menyatakan: “Tidaklah Allah pernah diibadahi dengan suatu amalan yang lebih agung dibanding meyakini idiologi al bada’.”

Pada riwayat lain ia menyatakan: “Tidaklah Allah pernah diagung-agungkan dengan suatu hal yang lebih besar dibanding idiologi al bada’.([6])

Saudaraku! Akankah kita sebagai umat Islam sedemikian lugu sehingga dengan mudah diperdaya dengan penafsiran berbagai tokoh agama syi’ah tentang makna al bada’ yang mereka imani? Padahal pahala yang mereka siapkan untuk orang yang meyakini Al Bada’ sedemikian besarnya? Sampai-sampai al bada’ merupakan amalan ibadah yang paling agung atau minimal termasuk paling agung menurut agama Syi’ah?

Andai yang mereka maksud dengan al bada’ adalah seperti yang diungkap, maka mengapa dijadikan sebagai bagian dari prinsip dasar idiologi mereka?

Bila memang benar maksud mereka dari al bada’ adalah menganulir hukum, mengapa mereka berjuang mati-matian mempertahankan istilah itu, padahal telah jelas maknanya secara bahasa tidak layak untuk digunakan pada Allah.

Tidakkah upaya agama Syi’ah untuk tetap mempertahankan istilah ini dengan segala daya dan upaya mereka,  mengundang tanda tanya besar, bagi setiap muslim?

Latar Belakang Munculnya Idiologi Al Bada’.

Bila kita telah mengetahui dengan baik apa maksud dari idiologi Al Bada’, maka mungkin anda bertanya-tanya: Mengapa agama Syi’ah meyakini idiologi yang penuh dengan kontroversial ini? Apa untungnya, agama Syi’ah tetap mempertahankan idiologi ini?

Yang melatar belakangi sekte Syi’ah meyakini adanya al bada’ ialah dua hal berikut
1.    Anggapan bahwa para imam agama Syi’ah mengetahui seluruh hal ghaib.
2.    Keyakinan bahwa para imam senantiasa terhindar dari kesalahan. ([7])

Kedua idiologi ini menjadi biang utama dari munculnya idiologi al bada’. Doktrin al bada’ ini oleh agama Syi’ah dijadikan sebagai benteng lapis terakhir untuk mempertahankan dua idiologi mereka tentang para imamnya.

Anda dapat bayangkan, betapa kecewanya perasaan para pengikut Syi’ah, tatkala mendapatkan beribu-ribu ramalan imamnya tidak terwujud. Terlebih-lebih ramalan yang berkaitan dengan sosok imam penerusnya.

Sebagai contoh: Pada mulanya agama Syi’ah meyakini bahwa sosok pengganti Imam Ja’far As Shadiq (imam ke 6-pen ) adalah putranya yang bernama Ismail. Tanpa ragu, merekapun menyebarkan hal ini kepada setiap penganut paham Syi’ah. Sebagaimana, mereka juga merekayasa berbagai riwayat tentang regenerasi ini. Akan tanpa mereka duga dan kira, Ismail terlebih dahulu meninggal dunia sebelum ayahnya. Menurut anda, kira-kira apa dan bagaimana sikap penganut paham Syi’ah menghadapi fakta ini? Kira-kira bagaimana reaksi mereka dengan berbagai ramalan imam Ja’far As Shodiq yang telanjur mereka ekspos secara luas? Akankah mereka masih dapat mempercayai sepenuhnya berbagai berita /ramalan tersebut.

Kejadian yang sama menimpa ramalan Ali bin Muhammad bin Ali Al Hady (imam ke 10). Agama Syi’ah terlanjur menyebarkan ramalnya: bahwa  yang akan menggantikan kedudukannya sebagai imam adalah putranya yang bernama Muhammad Abu Ja’far. Akan tetapi tanpa diduga dan dikira, Muhammad meninggal dunia sebelum ayahnya. Dengan terpaksa, agama Syi’ah kembali menggunakan tameng al bada’ untuk menenangkan gejolak pengikutnya. Mereka kembali mendoktrin pengikutnya bahwa Allah telah berubah keinginan, yaitu menunjuk Al Hasan Abu Muhammad sebagai calon imam mereka yang ke 11.

Agar pamor imam-imam mereka tidak padam, dan agar para pengikutnya tidak kecewa lalu menggunakan akal sehatnya, maka dicetuskanlah doktrin al bada’.

Tidak hanya cukup sampai disitu, mereka juga mendoktrin pengikutnya untuk benar-benar mematikan akal sehat dan hati nuraninya. Oleh karena itu, mereka menjanjikan pahala berlipat bagi yang berhasil menutup rapat pintu hati nurani dan akal sehatnya. Mereka meriwayatkan dari imam mereka Abu Ja’far alaihissalam ucapan:

إذا حدثناكم الحديث، فجاء على ما حدثناكم، فقولوا: صدق الله، وإذا حدثناكم الحديث فجاء على خلاف ما حدثناكم به، فقولوا: صدق الله، تؤجروا مرتين.

“Bila kami menyampaikan suatu hadits (kabar), selanjutnya benar-benar terjadi sebagaimana yang kami kabarkan, maka hendaknya kalian mengucapkan: Maha Benar Allah. Dan Bila kami menyampaikan suatu hadits (kabar), selanjutnya kejadiannya tidak seperti yang kami kabarkan, maka hendaknya kalian mengucapkan: Maha Benar Allah, niscaya kalian mendapatkan dua pahala.” ([8])

Tidak mengherankan bila sebagian ulama’ mensifati agama syi’ah Imamiyyah dengan ucapan:

هُمْ مِنْ أَكْذَبِ النَّاس فِي النَّقْلِيَاتِ وَمِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ فِي العَقْلِيَاتِ

“Mereka itu adalah manusia paling pendusta dalam hal riwayat, dan paling bodoh dalam hal logika.”

Fakta kelam ini mendasari salah seorang tokoh Syi’ah Zaidiyyah yang bernama Sulaiman bin Jarir untuk berkata:

إن أئمة الرافضة وضعوا لشيعتهم مقالتين لا يظهرون معهما من أئمتهم على كذبهم أبدا، وهما القول بالبداء وإجازة التقية. فأما البداء، فإن أئمتهم لما أحلوا أنفسهم من شيعتهم محل الأنبياء (ع) من رعيتها في العلم فيما كان وما يكون، والإخبار بما يكون في الغد، وقالوا لشيعتهم : إنه سيكون في غد وفي غابر الأيام: كذا وكذا، فإن جاء ذلك الشيء على ما قالوه، قالوا لهم: ألم نعلمكم أن هذا يكون، فنحن نعلم من قبل الله عز وجل ما علمه الأنبياء، وإن لم يكن ذلك الشيء الذي أخبروا به على ما قالوا، اعتذروا لشيعتهم بقولهم: بدا لله في ذلك.

“Sesungguhnya para imam agama rafidhah (syi’ah itsna ‘asyariyah) telah mengadakan dua keyakinan yang dengan keduanya, mereka tidak akan dapat membuktikan kedustaan para imam mereka. Dua keyakinan itu adalah : Al bada’, dan dibolehkannya taqiyyah. Adapun Al Bada’, maka dikarenakan imam-imam mereka telah menobatkan dirinya bak para nabi ‘alaihis salam di hadapan umatnya, yaitu dalam hal pengetahuan tentang hal yang telah berlalu atau yang akan datang, dan pengabaran tentang hal  yang akan terjadi pada esok hari. Mereka sering berkata: Esok hari akan terjadi demikian dan demikian. Bila esok hari benar terjadi seperti yang mereka katakan, maka mereka kembali berkata kepada pengikutnya: Bukankah telah kami kabarkan kepadamu bahwa hal ini akan terjadi. Ini merupakan bukti bahwa kami benar-benar telah mendapatkan ilmu dari Allah Azza wa Jalla yang pernah Dia ajarkan kepada para nabi ‘alaihimussalam. Dan sebaliknya, bila hal yang mereka kabarkan itu tidak terjadi, maka mereka buru-buru menutupi kesalahannya itu dengan berkata kepada pengikutnya: Allah telah memiliki pendapat baru tentang hal itu.”([9])

Saudaraku, sudikah akal pikiran dan hati nurani anda dipermainkan orang lain dengan idiologi remeh semacam ini?

Sudah sepantasnya anda menggunakan akal sehat dan hati nurani anda untuk membedakan segala yang dijajakan orang lain kepada anda.

Saudaraku! Sudikah anda bila akal sehat serta hati nurani anda ditindas oleh orang lain semacam ini? Relakah anda menjadi seperti orang yang dikisahkan pada ayat berikut:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ

[الْغَافِلُونَ[ الأعراف 179

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakanya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” Al A’raf 179.


[1] ) Al Qamus Al Muhith oleh Fairuz Abaadi As Syafi’i  2/1657 & Al Misbah Al Munir oleh Al Fayyumy As Safi’i 1/41.

[2] ) Awa’ilul Maqalaat oleh As Syeikh Al Mufid  As Syi’i hal 46, baca juga Biharul Anwar oleh Al Majlisi 4/93.

[3] ) Idem hal 80.

[4] ) Al Kafi oleh Al Kulainy 1/327.

[5] ) Idem 1/148.

[6] ) Al Kafi, 1/146, Bihaarul Anwar oleh Al Majlisy 4/107, Al Bayaan fi Tafsiril Qur’an oleh Al Khu’i hal. 392, Nurul Barahiin oleh As Sayyid Ni’matullah Al Jazairy 2/221.

[7] ) Kedua hal ini akan saya bicarakan lebih terperinci pada pembahasan “menyoal jati diri imam-imam Syi’ah”.

[8] ) Bihaarul Anwaar oleh As Sayyid Ni’matullah Al Jaza’iry 4/132.

[9] ) Al Maqaalaat Wal Firaq oleh Sa’ad Al Qummy hal. 78 & Firaq As Syi’ah Oleh An Nubakhty hal. 65.