Menyoal “Wasiat” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk Ali bin Abi Thalib.

Permasalahan paling krusial yang dipropagandakan oleh agama Syi’ah untuk menyebarkan pahamnya ialah masalah adanya wasiat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk sahabat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah sepeninggal beliau. Saya yakin anda masih ingat betapa banyak klaim agama Syi’ah tentang ayat-ayat yang dimanipulasi oleh para sahabat. Bahkan bukan sekedar memanipulasi ayat, agama Syi’ah juga meyakini bahwa para sahabat telah menghapuskan atau menyembunyikan satu surat yang nyata-nyata menegaskan bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib adalah pemangku wasiat dan penerus tampuk kepemimpinan umat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Surat tersebut oleh agama Syi’ah disebut dengan surat Al Wilayah.

Berikut surat wilayah yang diklaim oleh agama Syi’ah telah disembunyikan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

(Surat wilayah sebelum diperbaiki gambarnya)

(Surat Wilayah setelah gambarnya diperbaiki)

Inilah surat Al Wilayah yang diimani oleh agama Syi’ah sebelum diperbaiki gambarnya. Agar teks surat ini lebih mudah anda baca, maka berikut saya sertakan juga surat Al Wilayah yang telah diperbaiki dengan meghapuskan berbagai komentar yang memenuhinya dan dengan memperjelas gambarnya:

Arti surat wilayah di atas kira-kira sebagaimana berikut:

Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah engkau dengan seorang nabi dan seorang wali yang telah Kami utus guna membimbingmu kepada jalan yang lurus. Seorang Nabi dan seorang wali sebagian mereka dan sebagian lainnya adalah sama, sedangkan Aku adalah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang menepati janji Allah, bagi mereka surga yang penuh dengan kenikmatan. Sedangkan orang-orang  yang bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka mendustakan ayat-ayat Kami, sesungguhnya bagi mereka kedudukan besar dalam neraka Jahannam. Bila diseru kepada mereka: Manakah orang-orang yang berbuat lalim lagi mendustakan para rasul: apa yang menjadikan mereka menyelisihi para rasul? melainkan dengan kebenaran, dan tidaklah Allah akan menjadikan mereka berkuasa hingga waktu yang dekat. Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sedangkan Ali termasuk para saksi.”

Dan telah saya nukilkan sebelumnya bahwa diantara ayat-ayat Al Qur’an yang diyakini oleh agama Syi’ah telah dipalsukan oleh para sahabat ialah ayat pertama dalam surat Al Maidah. Mereka meyakini bahwa ayat tersebut sebenarnya berbunyikan sebagai berikut:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ الَّتِي عُقِدَت عَلَيكُم لأَمِيرِ المُؤْمِنِينَ صَلَوَات اللهِ عَلَيهِ )

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad yang telah diambil dari kamu untuk amirul mukminin shalawatullah ‘alaihi

Riwayat ini bisa anda dapatkan pula pada kitab: Tafsir Al Qummy, karya Abul Hasan Ali bin ibrahim Al Qummy, wafat thn: 329 H, jilid 1/160, At Tafsir As Shafy, karya Al Maula Muhsin Al Kaasyaany, wafat thn: 1091 H, jilid 2/5, Jawaahirul Kalaam, karya Muhammad hasan An Najafy, wafat thn 1266 H, jilid 35/187, Mustadrak Safinatul Bihaar, karya Ali An Namaazy As Sahruudy, wafat thn 1405 H, jilid 7/303, & Kitaab Al Bai’, karya As Sayyid Musthafa Al Khumainy, wafat Thn 1397 H, jilid 4/17.

Pemimpin Revolusi mereka, yaitu Ayatullah Al Khumainy berkata:

إننا نعتقد بالولاية وبأن الرسول (ص) استخلف بأمر من الله

“Sesungguhnya kami beriman kepada permasalahan al wilayah, dan bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi atas perintah Allah telah menunjuk/mengangkat penggantinya.”([1])

فقد استخلف بأمر من الله من يقوم من بعده على هذه المهام، وهذا الاستخلاف يدل بوضوح على ضرورة استمرار الحكومة من بعد الرسول الأكرم (ص).

“Sungguh Rasulullah atas perintah Allah  telah menunjuk orang yang menjalankan tugas-tugas ini sepeninggal beliau. Dan penunjukan/pengangkatan ini, dengan nyata menunjukkan akan pentingnya kesinambungan pemerintahan sepeninggal Rasulullah sahllallahu ‘alahi wa ‘aalihi.”([2])

Demikianlah, agama Syi’ah sepanjang sejarah meyakini bahwa sahabat Ali adalah pemangku wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjadi pengganti beliau dalam memimpin umat  (sebagai Khalifah).

Saudaraku! Percayakah anda dengan klaim sepihak agama Syi’ah ini? Untuk membuktikan benar atau tidaknya klaim inis saya sarankan agar anda membaca kembali buku-buku sejarah Islam yang pernah anda miliki.

Sekedar membuktikan akan benar atau tidaknya klaim ini, saya mengajak anda untuk merenungkan beberapa hal berikut:

1. Pengakuan sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu bahwa tiada wasiat khusus untuk dirinya.

Isu adanya wasiat atau wahyu menunjuk sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu sebagai khalifah sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Isu ini bukanlah hal baru, karena isu ini sebenarnya telah ada sejak zaman beliau Radhiallahu ‘Anhu. Dan tatkala isu ini semakin santer dibicarakan oleh masyarakat kala itu, maka Abu Juhaifah Waheb bin Abdullah As Suwaai Radhiallahu ‘Anhu mengklarifikasi isu itu langsung kepada  Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

Abu Juhaifah Radhiallahu ‘Anhu berkata kepada sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu:

قلت لِعَلِيٍّ رضي الله عنه هل عِنْدَكُمْ شَيْءٌ من الْوَحْيِ إلا ما في كِتَابِ اللَّهِ؟ قال: وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، ما أَعْلَمُهُ إلا فَهْمًا يُعْطِيهِ الله رَجُلاً في الْقُرْآنِ وما في هذه الصَّحِيفَةِ. قلت: وما في الصَّحِيفَةِ؟ قال: الْعَقْلُ وَفَكَاكُ الْأَسِيرِ وَأَنْ لَا يُقْتَلَ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ

Apakah engkau memiliki suatu wahyu selain dari yang termaktub dalam Al Qur’an? Ali bin Abi Thalibpun menjawab: Demi Dzat Yang telah membelah biji-bijian, dan Yang menciptakan manusia, aku tidak mengetahui tentang wahyu yang engkau maksud, selain dari pemahaman terhadap Al Qur’an yang Allah karuniakan kepada siapa saja, dan selain dari apa yang tertera dalam lembaran ini. Abu Juhaifahpun kembali bertanya:  Apakah yang tertera dalam lembaran itu? Ali bin Abi Thalib menjawab: Penjelasan tentang hukum diyat (denda pembunuhan), masalah pembebasan tawanan perang dan agar seorang muslim tidak dibunuh (diqishash) karena membunuh orang kafir.Riwayat Imam Bukhary

Demikianlah pengakuan sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Dengan tegas ia menafikan adanya pesan atau wasiat apalagi wahyu khusus yang menunjuk beliau sebagai khalifah sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan kisah berikut semakin membuktikan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memberi wasiat kepada sahabat Ali bin AbI Thalib agar menjadi khalifah sepeninggal beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

أَنَّ عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ t خَرَجَ مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ rفِى وَجَعِهِ الَّذِى تُوُفِّىَ فِيهِ، فَقَالَ النَّاس: يَا أَبَا حَسَنٍ ، كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ r؟ فَقَالَ: أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللَّهِ بَارِئًا، فَأَخَذَ بِيَدِهِ عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَقَالَ لَهُ: أَنْتَ وَاللَّهِ بَعْدَ ثَلاَثٍ عَبْدُ الْعَصَا، وَإِنِّى وَاللَّهِ لأُرَى رَسُولَ اللَّهِ r سَوْفَ يُتَوَفَّى مِنْ وَجَعِهِ هَذَا ، إِنِّى لأَعْرِفُ وُجُوهَ بَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عِنْدَ الْمَوْتِ، اذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ r  فَلْنَسْأَلْهُ فِيمَنْ هَذَا الأَمْرُ، إِنْ كَانَ فِينَا عَلِمْنَا ذَلِكَ، وَإِنْ كَانَ فِى غَيْرِنَا عَلِمْنَاهُ فَأَوْصَى بِنَا. فَقَالَ عَلِىٌّ: إِنَّا وَاللَّهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُولَ اللَّهِ r فَمَنَعَنَاهَا، لاَ يُعْطِينَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ، وَإِنِّى وَاللَّهِ لاَ أَسْأَلُهَا رَسُولَ اللَّهِ r. رواه البخاري

“Pada suatu hari sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu keluar dari rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pada saat beliau sedang menderita sakit yang akhirnya beliau meninggal dunia karenanya. Sepontan para sahabat lain bertanya kepadanya perihal keadaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, :Wahai Abu Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Alipun menjawab: Keadaan beliau baik, alhamdulillah. Selanjutnya Al Abbas bin Abdul Mutthalib menggandeng tangannya, seraya berkata kepadanya: Tiga hari lagi engkau akan menjadi pengikut/bawahan orang lain, dan aku –sungguh demi Allah- berpraduga bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan meninggal dunia karena penyakit yang ia derita ini. Dan aku bisa menduga bagaimana kira-kira wajah Bani Abdul Mutthalib pada saat beliau meninggal dunia esok. Karenanya, marilah kita menghadap kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, untuk bertanya kepadanya: siapakah yang akan memangku kepemimpinan umat Islam? Bila kepemimpinan itu ada pada kita, maka kita segera mengetahuinya, dan bila ternyata diemban oleh orang lain, maka kita juga segera mengetahuinya dan beliaupun akan berpesan kepada kita. Mendengar ajakan itu, sahabat Ali berkata: Sungguh demi Allah, andai kita meminta kepemimpinan ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu beliau menolak, niscaya umat Islam tidak akan pernah memberikannya kepada kita. Dan sungguh demi Allah aku tidak akan pernah meminta kepemimpinan ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Riwayat Bukhary.

Andai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat, terlebih-lebih seperti yang didakwakan oleh agama Syi’ah bahwa beliau telah berpuluh-puluh kali berwasiat, maka mana mungkin sahabat Ali menjawab ajakan pamannya dengan jawaban semacam ini?

2. Pengakuan Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu bahwa Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma lebih berhak untuk menjadi khalifah dibanding dirinya.

Anda pasti mengetahui bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib sangat menghormati dan menghargai ketiga pemimpin umat Islam sebelumnya, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhum.

Pada suatu hari, ketika sahabat Ali bin Abi Thalib sedang berada dalam kerumunan sahabatnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menyelinap, hingga akhirnya berdiri dihadapannya. Selanjutnya orang itu berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, mengapa kaum Muhajirin dan Anshar lebih mendahulukan Abu Bakar, padahal engkau lebih banyak memiliki keutamaan, lebih dahulu masuk Islam, dan lebih banyak berjasa? Bila engkau benar-benar dari keturunan Quraisy, maka aku kira engkau adalah penakut.”

Ditodong dengan pertanyaan yang kurang santun ini, beliau dengan lantang mengumandangkan kebenaran yang beliau yakini. Beliau berkata:

نعم، لو لا أن المؤمن عائذ الله، لقتلتك، ويحك، إن أبا بكر سبقني لأربع لو أوتهن ولم أعتض منهن: سبقني إلى الإمامة، أو تقدم الإمامة، وتقدم الهجرة، وإلى الغار وإفشاء الإسلام، ثم قال: لا أجد احدا يفضلني على أبي بكر إلا جلدته جلد المفتري.

“Benar, andai bukanlah seorang mukmin itu penakut kepada Allah, niscaya ekau telah aku bunuh. Ketahuilah, sesungguhnya Abu Bakar telah mendahuluiku dalam empat hal, sedangkan aku tidak pernah melakukannya dan juga tidak pernah memiliki amalan yang dapat menandinginya: Ia telah mendahuluiku dalam hal menjadi imam shalat, atau ia pernah menjadi imam shalat (semasa hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), ia lebih dahulu berhijrah, menjadi teman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau berada dalam gua (dalam perjalanan hijrah ke Madinah), dan beliau juga mendahuluiku dalam hal menampakkan keislamam. Selanjutnya Ali bin Abi Thalib berkata: Tidaklah aku mendapatkan seseorang yang mengutamakan aku dibanding Abu Bakar, melainkan ia akan aku cambuk sebanyak 80 kali, sebagai hukuman atas kedustaannya. “ ([3]

Pada riwayat lain, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkhutbah dihadapan para pengikutnya di kota Basrah, ia berpesan kepada mereka:

لا أوتَى برجل يفضلني على أبي وعمر إلا جلدته حد المفتري.

“Tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakanku dibanding Abu Bakr dan Umar, melainkan akan aku hukumi dengan hukuman pendusta (orang yang menuduh orang lain telah berzina, yaitu 80 kali cambukan-pen)”.([4])

Saudaraku, demikianlah pengakuan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Menurut anda, kira-kira apa komentar agama Syi’ah tatkala mereka mendapatkan pengakuan ini? Apakah mereka langsung menerima dan merubah idiologi mereka yang terbukti salah dan menyalahi imam pujaan mereka?

Sangat mengejutkan, bukannya menerima, akan tetapi malah membongkar kedok yang selama ini diupayakan untuk disembunyikan oleh banyak pihak. Para pemuka agama Syi’ah dengan lugas membeberkan idiologi mereka tentang kedua Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhum. Simaklah penuturan tokoh terkemuka mereka, yaitu As Syeikh Al Mufid wafat tahun 413 H:

إن المفاضلة بينه وبين الرَّجلين إنما وجب عليه حد المفتري من حيث أوجب لهما بالمفاضلة ما لا يستحقانه من الفضل؛ لأن المفاضلة لا تكون إلا بين متقاربين في الفضل، وبعد أن يكون في المفضول فضل، وإن كانت الدلائل على أن من لا طاعة معه لا فضل له في الدين، وأن المرتد عن الإسلام ليس فيه شيء من الفضل الديني، فكيف يحصل لهما من الفضل ما يقارب فضل أمير المؤمنين عليه السلام؟

“Sesungguhnya pelaku perbandingan antara beliau (Ali bin Abi Thalib) dengan kedua lelaki ini, layak untuk dihukumi dengan hukuman penuduh orang lain berzina, dikarenakan dengan perbandingan  ini, ia telah menetapkan suatu keutaman untuk keduanya, yang tentunya tidak layak untuk mereka sandang. Karena suatu perbandingan tidaklah layak untuk dilakukan melainkan antara dua hal yang saling berdekatan dalam hal keutamaan. Dan tentunya setelah terlebih dahulu pihak kedua memiliki suatu keutamaan. Padahal berbagai dalil telah membuktikan bahwa orang yang tidak pernah berbuat ketaatan tidak memiliki keutamaan dalam hal agama, dan bahwa orang yang murtad dari agama Islam tidak memiliki keutamaan sedikitpun. Dan kedua orang ini telah menentang dalil yang tegas, sehingga keduanya telah keluar dari keimanan. Dengan penjelasan ini, batallah anggapan bahwa keduanya memiliki keutamaan dalam Islam. Maka bagaimana mungkin keduanya memiliki keutamaan yang hampir mendekati keutamaan Amirul Mukminin alaihissalaam.?”([5])

Demikianlah penafsiran tokoh-tokoh agama Syi’ah terhadap pengakuan orang yang mereka puja, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

Saudaraku seiman! Apa komentar anda tentang penafsiran tokoh-tokoh agama Syi’ah di atas? Dapatkah hati nurani anda menerima penafsiran tersebut?

Pada riwayat lain sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu menyatakan:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا؟ أَبُو بَكْرٍ، – ثُمَّ قَالَ: – أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ أَبِى بَكْرٍ؟ عُمَرُ.

“Sudikah kalian aku kabari tentang orang terbaik dari umat ini setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Ia adalah Abu Bakar. Sudikah kalian aku kabari tentang orang terbaik dari umat ini setelah Abu Bakar? Ia adalah Umar. Riwayat Imam Ahmad, Ibnu Abi Syibah, At Thabrani dan lainnya.

3. Antara sanjungan dan celaan.

Saudaraku, saya yakin setiap orang yang pernah berinteraksi dengan agama Syi’ah pasti mengetahui bahwa masalah imamah (kepemimpinan) adalah masalah yang paling krusial dalam agama mereka. Agama Syi’ah mengklaim bahwa permasalahan imamah adalah prinsip utama dalam agama Syi’ah. Bahkan dengan menyimak berbagai referansi Syi’ah, kita dapat simpulkan bahwa, tidak sah keislaman seseorang, walaupun telah beriman dengan kelima rukun Islam, bila tidak mengimani masalah imamah. Karenanya, betapa pedih –menurut mereka- siksa yang akan ditanggung oleh sahabat Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma- akibat merebut kepemimpinan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Ruhullah Al Khumainy berkata:

أوضحنا بأن الإمامة إحدى أصول الدين الإسلامي، وأن القرآن إشار إلى ذلك إلى حد ما.

“Telah kami jelaskan bahwa masalah imamah adalahsalah satu prinsip agama Islam, dan bahwa Al Qur’an telah mengisyaratkan kepadanya  dalam batas tertentu.” ([6])

Mufti Syi’ah pada abad ke 11, yaitu Muhammad Baqir Al Majlisy menukilkan ucapan As Syeikh Al Mufid berikut:

اتفقت الإمامية على أن من أنكر إمامة أحد من الأئمة وجحد ما أوجبه الله تعالى له من فرض الطاعة فهو كافر ضال مستحق للخلود في النار.

“Agama Syi’ah Imamiyyah telah sepakat bahwa orang yang mengingkari keimamahan (kepemimpinan) salah seorang imam, dan ia menyangkal kewajiban taat kepadanya yang telah Allah wajibkan, maka ia adalah orang kafir, sesat dan pantas untuk kekal di dalam neraka .” ([7])

Inilah yang mendasari agama Syi’ah untuk meyakini bahwa kebanyakan sahabat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi murtad selama satu tahun. Agama Syi’ah meyakini bahwa kebanyakan sahabat telah merampas hak imamah dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Mufti mereka pada abad ke 11 H, yaitu Muhammad Baqir Al Majlisy menukilkan riwayat berikut dalam kitanya Bihaarul Anwar:

عن سدير عن أبي جعفر عليه السلام قال: كان الناس أهل ردة بعد النبي صلى الله عليه وآله سنة، إلا ثلاثة: فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، وقال: هؤلاء الذين دارت عليهم الرحى وأبوا أن يبايعوا جتى جاؤوا بأمير المؤمنين مكرها فبايع.

“Dari Sudair, ia meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali Bin Al Husain) ‘alaihissalaam: Dahulu sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi, seluruh manusia murtad selama satu tahun, kecuali tiga orang. As Sudairpun bertanya: Siapakah ketiga orang tersebut: Al Miqdad bin Al Aswad Abu Dzar Al Ghifaary, dan Salman Al Faarisy, lalu beliau berkata: Mereka itulah orang-orang yang tetap kokoh dengan pendiriannya dan enggan untuk membaiat (Abu Bakar As Shiddiq-pen) hingga didatangkan Amirul Mikminin (Ali bin Abi Thalib)  alaihissalaam dalam keadaan terpaksa, lalu beliaupun berbaiat.([8])

Dan sebelumnya tokoh terkemuka mereka yaitu Syeikh Mufid wafat tahun 413 H, juga meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali Bin Al Husain) ‘alaihissalaam:

ارتد الناس بعد النبي صلى الله عليه وآله إلا ثلاثة نفر: المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، ثم إن الناس عرفوا ولحقوا بعد.

“Seluruh manusia menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi kecuali tiga orang: Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifary, dan Salman Al Farisy, kemudian setelah itu manusia mulai menyadari, dan kembali masuk Islam. “([9])

Saudaraku! tidakkah anda bertanya-tanya, gerangan menurut agama Syi’ah, dengan apa para sahabat kembali masuk Islam setelah sebelumnya murtad? Apakah dengan mengucapkan kembali dua kalimat syahadat? Ataukah dengan mengakui keimamahan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiaallahu ‘anhu?

Kedua alternatif ini tidak terjadi, sebab tidak pernah ada riwayat yang menyebutkan bahwa para sahabat setelah satu tahun dari kematian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ramai-ramai mengikrarkan kembali dua kalimat syahadat. Terlebih-lebih menurut agama Syi’ah mengikrarkan dua kalimat syahadat tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai seorang muslim.

Sebagaimana alternatif kedua ([10]) juga tidak dapat diterima, sebab pengakuan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap keimamahan sahabat Ali bin Abi Thalib hanya terjadi setelah berlalu kurang lebih 21 tahun dari wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yang demikian itu, dikarenakan beliau dibai’at menjadi khalifah pada bulan Dzul Hijjah tahun 35 hijriyah.

Dengan penjelasan ini, jelaslah bahwa sahabat Ali bin AbI Thalib beserta para pengikut setianya dan juga orang-orang yang dianggap kembali ke pangkuan islam -setelah sebelumnya murtad- tetap tidak kunjung bernyali untuk menegakkan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selama lebih dari dua puluh tahun mereka membungkam tidak berani untuk menuntut hak sahabat Ali untuk menjadi khalifah yang  dirampas oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu ‘anhum.

Bila sahabat Al Husain bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhma berani untuk berusaha merebut khilafah dari tangan bani Umayyah –walaupun akhirnya gagal-, maka mengapa ayahnya tidak berani melakukannya?

Menurut hemat anda, apakah konsep imamah Syi’ah ini dapat dianggap sebagai sanjungan terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib dan para pengikut setianya?

Saudaraku, anda adalah seorang muslim yang pemberani dan pantang menyerah. Menurut hemat anda, lelaki model apakah yang berpangku tangan menyaksikan wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikhianati? Lelaki model apakah yang ciut hati menghadapi orang-orang yang menginjak-injak salahs atu prinsip utama agamanya?

Belum lagi bila anda kembali mengingat alasan yang dikemukakan agama Syi’ah tentang tidak berdayanya sahabat Ali dalam memperjuangkan Al Qur’an yang asli.

As Sayyid Ni’matullah Al Jazaa’iry mengatakan:

ولما جلس أمير المؤمنين عليه السلام لم يتمكن من إظهار القرآن وإخفاء هذا، لما فيه من إظهار الشنعة على من سبقه

“Dan tatkala Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) ‘alaihissalaam telah menjadi khalifah, ia tidak mendapatkan kesempatan untuk menampakkan Al Qur’an (yang asli) dan tetap menyembunyikannya. Beliau melakukan hal ini, untuk menutup-nutupi kesalahan pemimpin-pemimpin sebelumnya.”([11])

Belum lagi bila anda mengaitkannya juga dengan penafsiran agama Syi’ah terhadap sikap sahabat Ali bin Abi Thalib yang menikahkan putrinya Zaenab dengan Amirul Mukminin Umar bin Al Khattab radhiaallahu ‘anhum.

Saudaraku, simaklah kembali komentar imam ke-6 mereka, yaitu Ja’far As Shaadiq tentang pernikahan ini:

إِنَّ ذَلِكَ فَرْجٌ غُصِبْنَاهُ

“Sesungguhnya pernikahan itu adalah kemaluan yang telah diambil dengan paksa dari kami.”([12])

Demikianlah agama Syi’ah mengapresiasikan sanjungan dan pujian mereka terhadap para imamnya.  Tidak heran bila sebagian ulamak menggambarkan agama Syi’ah dengan ucapannya:

هُمْ مِنْ أَكْذَبِ النَّاس فِي النَّقْلِيَاتِ وَمِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ فِي العَقْلِيَاتِ

“Mereka itu manusia paling pendusta dalam hal riwayat, dan paling bodoh dalam hal logika.”

Pembaca yang budiman! Menurut anda, manusia model apakah agama Syi’ah yang mengapresiasikan sanjungan dan pujian terhadap imam mereka dengan cara-cara semacam ini?

Apa perasaan dan sikap anda bila mendapatkan orang yang mengaku mencintai anda sehingga ia senantiasa menyanjung anda, akan tetapi sanjungannya diwujudkan dengan kisah-kisah naif semacam ini?

Saudaraku! orang-orang arab kuno memiliki pepatah yang mungkit tepat untuk menggambarkan perilaku agama Syi’ah terhadap imam mereka ini:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ السَّيْفَ يَنْقُصُ قِيْمَةً … إِذَا قُلْتَ هَذَا السَّيْفُ أَمْضَى مِنَ العَصَا

“Tidakkah engkau sadari bahwa pedang akan kurang bermartabat

Bila engkau katakan bahwa pedang ini lebih tajam dibanding tongkat.

4. Perbandingan antara Nabi Harun ‘alaihissalam dan sahabat Ali bin Abi Thalib.

Mungkin anda pernah mendengar sebagian agama Syi’ah berdalil tentang status sahabat Ali Radhiallahu ‘Anhu sebagai khalifah langsung sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan hadits berikut:

عن سَعْدِ بن أبي وَقَّاصٍ t قال: خَلَّفَ رسول اللَّهِ e عَلِيَّ بن أبي طَالِبٍ في غَزْوَةِ تَبُوكَ فقال: يا رَسُولَ اللَّهِ، تُخَلِّفُنِي في النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ؟ فقال: أَمَا تَرْضَى أن تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ من مُوسَى غير انه لا نَبِيَّ بَعْدِي.) متفق عليه

“Dari sahabat Sa’a bin Abi Waqqaas Radhiallahu ‘Anhu, ia mengisahkan: Pada peperangan Tabuk, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meniggalkan sahabat Ali bin Abi Thalib (untuk memimpin kota Madinah speninggal beliau-pen), maka sahabat Alipun berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Wahai Rasulullah, apakah engkau tega meninggalkan aku bersama-sama kaum wanita  dan anak-anak kecil? Mendengar ucapan itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Tidakah engkau ridha bila engkau berkedudukan dalam diriku bagaikan kedudukan nabi Harun dari nabi Musa, hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku. Muttafaqun ‘alih

As Syeikh Al Mufid, tokoh terkemuka agama Syi’ah yang wafat pada tahun 413 H, menjelaskan pendaliln dari hadits ini dengan berkata:

فأوجب له الوزارة والتخصص بالمودة والفضل على الكافة، والخلافة عليهم في حياته وبعد وفاته لشهادة القرآن بذلك كله لهارون من موسى عليهما السلام…… فلما جعل رسول الله صلى الله عليه وآله لأمير المؤمنين عليه السلام جميع منازل هارون من موسى عليهما السلام في الحكم له منه إلا النبوة، وجبت له وزارة الرسول صلى الله عليه وآله وشد الأزر بالنصرة والفضل والمحبة لما تقتضيه هذه الخصال من ذلك في الحقيقة، ثم الخلافة في الحياة بالتصريح وبعد النبوة بتخصيص الاستثناء لما أخرج منها بذكر البعد.

“Beliau menetapkan sahabat Ali sebagai wakil beliau, sebagaimana beliau juga mengabarkan tentang adanya rasa cinta dan keutamaan dibanding orang lain untuk sahabat Ali. Tak lupa kepemimpinan (al khilafah) atas seluruh umat Islam semasa hidup Nabi, dan juga sepeninggal beliau. Semua ini telah ditegaskan dalam Al Qur’an sebagai bagian dari pengikat antara nabi Harun dari nabi Musa ‘alahimassalaam. ……. Dan karena Rasulullah shallallahu ‘alahi wa ‘aalihi telah menetapkan bagi Amirul Mukminin segala kedudukan nabi Harun dari nabi Musa ‘alaihimassalaam dalam hal kepemimpinan mewakili beliau kecuali kenabian, maka tetaplah kedudukan beliau sebagai wakil Rasul shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi, peneguh kekuatan yaitu dengan pembelan, keutamaan, kecintaan, sebagaimana layaknya karakter-karakter itu yang sebenarnya. Selanjutnya Rasul juga dengan tegas mentetapkan kedudukan beliau sebagai khalifahnya semasa hidup beliau, dan sepeninggal beliau, karena Rasul hanya mengecualikan kenabian semata.”([13])

Sudaraku, tidak ada keraguan akan status hadits di atas, akan tetapi apakah anda merasa puas dan percaya dengan cara pendalilan As Syeikh Al Mufid di atas?

Coba, anda kembali membaca sejarah Nabi Musa dan nabi Harun ‘alaihimassalaam. Apakah benar nabi Harun adalah khalifah/pengganti Nabi Musa ‘alaihissalam sepeninggal beliau dalam memimpin Bani Isra’il, sebagaimana yang diklaim oleh para pemuka agama Syi’ah?

Saudaraku! Inilah salah satu kelemahan umat Islam zaman sekarang. Kita mengaku sebagai generasi penerus para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita juga mengakut beriman kepada seluruh para nabi dan rasul yang telah Allah utus kepada umat manusia, tanpa terkecuali. Akan tetapi sering kali dakwaan dan keimanan kita hanya sebatas ucapan. Kita tidak pernah membaca biografi mereka, kita juga jarang membaca sejarah perjalanan hidup mereka. Akibatnya banyak dari kita dengan mudah dikibuli/ditipu oleh orang lain dengan memanipulasi sebagian dari sejarah kita.

Saudaraku! Coba anda kembali membuka dan membaca sejarah perjalanan nabi Musa dan nabi Harun ‘alaihimassalaam, sehingga anda dapat mengetahui taraf kebenaran pendalilan agama Syi’ah di atas.

Para ahli sejarah, bahkan ahli sejarah dari agama Syi’ah telah mencatatkan bahwa nabi Harun ‘alaihissalam lebih dahulu meninggal dunia dibanding nabi Musa ‘alaihissalaam.

Diantara yang mengungkapkan fakta sejarah ini ialah, AT Thobary, Ibnu Katsir, Ibnu Atsir, dan dari kalangan agama Syi’ah: Syeikh Abdu ‘Ali bin Jum’ah Al Huwaizy, wafat tahun 1112 H, dalam tafsirnya: Tafsir Nur As Tsaqalain 1/608, Al Maula Muhsin Al Faidh Al Kasaany wafat tahun 1091 H, dalam tafsir As Shaafi 2/27 & As Sayyid Muhammad Husain At Thobathobai wafat tahun 1402 H, dalam tafsir Al Mizaan 16/40.

Bahkan imam mereka ke-5, yaitu Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al Husain:

مات هارون قبل موسى عليه السلام، وماتا جميعا في التيه.

“Nabi Harun telebih dahulu meninggal sebelum nabi Musa ‘alaihissalaam. Keduanya meninggal ketika Bani Israil masih tersesat (terhalang dari sampai ke Baitul Maqdis-pen).([14])

Dengan demikian, hadits di atas tidak dapat dijadikan dalil bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib adalah pemangku khilafah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hadits di atas hanya dapat dijadikan sebagai dalil bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu pernah ditunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengurus keluarga beliau selama beliau memimpin sahabat-sahabatnya dalam perang Tabuk. Tugas yang diemban sahabat ini oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperumpamakan dengan tugas yang pernah diemban oleh nabi Harun ‘alaihissalam, yaitu memimpin Bani Isra’il selama nabi Musa ‘alaihissalam pergi untuk bermunajat menerima wahyu dari Allah Ta’ala selama empat puluh hari. Simaklah kisah mereka berdua pada ayat berikut:

(وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلاَثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلاَ تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ ( الأعراف 142

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun:”Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”. Al A’araf 142.

Pembaca yang budiman! Bila maka sebenarnya hadits diatas dapat mejadi

Saudaraku! Perlu anda ketahui, bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib  pada kesempatan ini hanya ditugasi untuk mengurusi istri-istri dan anak-anak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja. Adapun untuk mewakili beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mengurus kota Madinah, beliau memilih  sahabat lain, yaitu Muhammad bin Maslamah Al Anshaary atau Sibaa’ bin Urfuthah Al Ghifaari.

Fakta ini tidak disia-siakan oleh orang-orang munafikin untuk mencemooh sahabt Ali bin Abi Thalib. Orang-orang munafikun segera menyebarkan isu bahwa: tidaklah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan sahabat Ali bin Abi Thalib di Madinah tidak lain kecuali karena ia menjadi penghambat misi dan keinginan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tak kuasa mendengar isu keji ini, sahabat Alipun bergegas menyandang senjatanya lalu menyusul rombongan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akhirnya beliau berhasil menyusul rombongan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di perbatasan kota Madinah yang disebut dengan Al Juruf.

Sekedar berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sahabat Ali langsung mencurahkan perasaannya terhadap posisi ini. Inilah sebabnya mengapa sahabat Ali berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يا رَسُولَ اللَّهِ، تُخَلِّفُنِي في النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ؟

Wahai Rasulullah, apakah engkau tega meninggalkan aku bersama-sama kaum wanita  dan anak-anak kecil?

Menurut anda, lebih besar mana wewenang yang diemban oleh sahabat Ali bin Abi Thalib dibanding ataukah wewenang yang diemban oleh sahabat Muhammad bin Maslamah Al Anshary atau Sibaa’ bin Urfuthah Al Ghifaari?

Walau demikian, ternyata sejarah telah mencatatkan bahwa bukan hanya sahabat Ali saja yang pernah beliau tunjuk untuk menggantikannya ketika beliau safar. Ada beberapa sahabat lain yang pernah ditunjuk oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mewakili beliau dalam mengurus kota Madinah. Berikut nama-nama sahabat yang pernah mendapat kehormatan itu:

  1. Abdullah bin Ummi Maktum, pada perang Al Fare’.
  2. Sa’ad bin Ubadah, pada perang Waddan atau Abwaa’.
  3. Zaid bin Haritsah, pada perang Bader Pertama.
  4. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir Al Ausy, pada perang Bader Al Kubra.
  5. Sibaa’ bin Urfuthah Al Ghifaari, pada perang Bani Sulaim & tatkla beliau berangkat ke daerah Daumatul Jandal.
  6. Utsman Affan, pada perang Dzi Amrin melawan Bani Ghathafaan.
  7. Numailah bin Abdullah Al Laitsy atau Abu Dzar Al Ghifaary, ketika Nabi berumrah & akhirnya menjalin Perjanjian Hidaibiyyah dengan orang-orang Quraisy.
  8. Abu Dzar Al Ghifaary atau Numailah bin Abdullah Al Laitsy pada perang Bani Musthaliq.
  9. Abu Rihem Kultsun bin Husain Al Ghifaary, pada Fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah).
  10. As Saaib bin Utsman bin Mazh’un, pada perang Buwaath.

Dengan demikian, tidak ada alasan sama sekali bagi agama Syi’ah untuk tetap berdalil dengan penunjukan sahabat Ali sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mengurus keluarganya  untuk menyatakan bahwa ialah pewaris kepemimpinan beliau.


[1] ) Al Hukumah Al Islamiyyah oleh Ayatullah Al Khumainy hal: 20.

[2] ) Idem hal: 25.

[3] )  Al Ghadir oleh Abdul Husain Al Aminy, wafat tahun 1392 H, 8/39.

[4] )  Al Idhah, oleh Al Fadhel bin Syazaan Al Azdy wafat tahun 260 H, hal: 6, Al Fushul Al Mukhtaarah  oleh As Syeikh Al Mufid hal: 167, & As Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad As Syaibany 2/562.

[5] ) Al Fushul Al Mukhtaarah oleh As Syeikh Al Mufid hal 167 & As Sirathal Mustaqim oleh Ali bin Yunus Al ‘Amily 3/152.

[6] )  Kasyful Asraar  oleh Ruhullah Al Khumainy 149

[7] )  Bihaarul Anwar oleh Al Majlisy 23/390.

[8] ) Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy 22/351 & Tafsir Nur As Tsaqalain, karya Abdu Ali bin Jum’ah Al ‘Arusy Al Huwaizy 1/396.

[9] ) Al Ikhtishash, karya As Syeikh Mufid hal: 6.

[10] )  Bila anda kembali cermati riwayat yang dibawakan oleh Muhammad baqir Al Majlisi, maka nampak dengan jelas bahwa kemurtadan mereka dan kemudian taubat mereka adalah dengan mengakui keimamahan sahabat Ali bi Abi Thalib serta mengingkari keimamahan ketiga khalifah sebelumnya.

[11] ) Al Anwaar An Nu’maaniyyah, oleh As Sayyid Ni’matullah Al Jazaa’iry, jilid 2/362.

[12] ) Al Kaafy oleh Al Kulainy 5/346, Bihaarul Anwar oleh Al Majlisy 42/106 & Wasaa’ilus Syi’ah oleh Al Hur Al ‘Aamily 20/561.

[13] ) Al Irsyad Fi Ma’rifati Hujajillah ‘alal ‘Ibaad, oleh As Syeikh Al Mufid  1/8-9.

[14] )  Tafsir Nur As Tsaqalain oleh  Syeikh Abdu ‘Ali bin Jum’ah Al Huwaizy 4/128.