Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Dalam Idiologi Syi’ah.

Sahabat para nabi dan rasul adalah manusia-manusia pilihan. Mereka dipilih Allah untuk meneladani dan membela dakwah para nabi dari hambatan dan rintangan pemuja Iblis. Pengorbanan mereka dalam membela dan memperjuangkan dakwah para nabi tidak dapat diragukan lagi.

Tidak mengherankan bila mereka menjadi generasi paling unggul pada setiap masa.

Sahabat nabi Nuh ‘alaihissalaam yang ikut serta dalam perahunya adalah generasi paling unggul dari umatnya. Sahabat Nabi Musa ‘alaihissalam yang ikut serta bersama beliau ketika menyebrangi laut Merah adalah generasi paling unggul dari umatnya. Sahabat Nabi ‘Isa ‘alaihissalam yang dengan gagah membelanya dari makar musuh-musuh adalah generasi paling istimewa dari umatnya.

Demikian pula halnya dengan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka adalah generasi paling unggul dari umat Islam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره ثم إنها تخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون ويفعلون ما لا يؤمرون فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن، وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

“Tidaklah ada seorang nabipun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali ia memiliki para pengikut dan sahabat yang setia, yang mengikuti ajarannya dan mematuhi perintahnya. Kemudian datang setelah mereka itu suatu generasi yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barang siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia itu orang yang beriman, dan barang siapa yang memerangi mereka dengan lisannya maka dia itu orang yang beriman, dan barang siapa yang memerangi mereka dengan hatinya maka dia itu orang yang beriman. Setelah itu, tidak ada keimanan walau hanya sebesar biji sawipun”. Riwayat imam Muslim

Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu menuturkan:

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِى قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِى قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ رواه أحمد والطبراني وغيرهما.

“Sesungguhnya Allah telah memandangi hati-hati umat manusia, lalu Dia mendapatkan hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hati manusia yang paling baik. Karenanya, Dia memilih Nabi Muhammad sebagai utusan yang mengemban risalah-Nya. Selanjutnya Allah memandangi hati-hati umat manusia selain Nabi Muhammad, lalu Dia mendapatkan bahwa hati-hati sahabat Nabi Muhammad adalah hati-hati manusia yang paling baik. Karenanya Dia memilih mereka sebagai pembantu Nabi-Nya, mereka berperang memperjuangkan agama-Nya.” Riwayat Ahmad, AT Thabrany dan lainnya.

Bahkan sahabat-sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mendapat gelar yang sangat istimewa. Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah dinyatakan oleh Allah Ta’ala sebagai umat terbaik yang pernah terlahir ke dunia.

]كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ [ آل عمران 110

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah.” Ali Imran 110

Sejarah umat Islam telah membuktikan akan hal ini. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengorbankan segala sesuatu yang mereka miliki guna mendakwahkan dan menyebarkan agama islam. Dengan hati yang tulus dan amal yang sholeh mereka berhasil mewujudkan pertolongan Allah dalam dunia nyata.

Walaupun berjumlah sedikit dan berperlengkapan seadanya, mereka berhasil menundukkan dunia dan menanamkan agama Islam di berbagai penjuru dunia. Semua itu berhasil mereka capai tidak lebih dari tiga puluh tahun. Waktu yang sangat singkat bila dibanding dengan keberhasilan yang demikian luas dan cemerlang.

Berkat keikhlasan dan perjuangan mereka yang demikian besar, Allah ta’ala memberikan mereka balasan yang setimpal. Amalan mereka dilipat gandakan pahalanya, sampai-sampai tidak akan pernah ada seseorang selain mereka yang akan dapat menyamai kedudukan mereka di sisi Allah.

(لا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فلوا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، ما بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ ولا نَصِيفَهُ) متفق عليه

“Janganlah kamu mencela sahabatku, karena andai kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya pahalanya tidak akan menyamai pahala sedekah mereka yang berupa bahan makanan dan hanya sejumlah dua cakupan kedua telapak tangan, (bahkan) tidak juga menyamai pahala sedekah segenggam makanan.” Muttafaqun ‘alaih

Imam Al Baidhaawy As Syafi’i menjelaskan makna hadits ini dengan berkata:

معنى الحديث: لا ينال أحدكم بإنفاق مثل أحد ذهبا من الفضل والأجر، ما ينال أحدهم بإنفاق مد طعام أو نصيفه. وسبب التفاوت، ما يقارن الأفضل من مزيد الإخلاص وصدق النية.

“Makna hadits ini: Tidaklah kamu dengan menginfakkan emas sebesar gunung Uhud dapat menyamai pahala dan keutamaan yang diperoleh oleh para sahabat dengan menginfakkan makanan walau hanya sejumlah dua cakupan kedua telapak tangan atau satu cakupan saja. Sebab terjadinya perbedaan ini ialah, tingkat keikhlasan dan kejujuran yang jauh lebih besar yang menyertai sedekah para sahabat.”([1])

Demikiankah keimanan umat islam sepanjang sejarah tentang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka memuliakan para sahabat, menjaga kehormatan mereka dan senantiasa mendoakan keridhaan untuk mereka. Bukan hanya sampai di situ, mereka juga dijadikan sebagai teladan dalam memahami dan mengamalkan Al Qur’an dan As Sunnah.

]وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [ التوبة 100

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang meneladani mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,  mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” At Taubah 100

Pada ayat ini Allah Ta’ala hanya menyebutkan tiga golongan orang yang diridhai dan berhak masuk surga:

1-    Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin.

2-    Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Anshar.

3-    Orang-orang yang meneladani orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Inilah salah satu hal yang mendasari umat Islam menjadikan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai teladan mereka dalam beragama. Sebagai imbalan atas keteladanan ini, umat islam disepanjang masa dan dimanapun mereka berada senantiasa berdoa kepada Allah memohonkan ampunan dan keridhaan untuk para sahabat. Setiap kali menyebut nama seorang sahabat nabi, umat islam selalu mengiringinya dengan doa:

(رضي الله عنه) أو (رضي الله عنهم)

“Semoga Allah senantiasa meridhainya) atau “Semoga Allah senantiasa meridhai mereka”.

Fenomena ini sebagaimana digambarkan dalam firman Allah Ta’ala berikut:

]وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ [ الحشر 10

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa: Ya Rabb kami, berilah ampunan kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman ada dalam hati kami. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” Al Hasyer 10.

Pada suatu hari Ali bin Husain Zaenal Abidin -imam ke-4 dalam konsep imamah agama Syi’ah- didatangi oleh sebagian orang yang berasal dari Iraq. Selanjutnya mereka mencela sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman. Seusai mereka dari menumpahkan celaannya kepada ketiga sahabat itu, Ali bin Husain berkata kepada mereka:

ألا تخبروني أنتم المهاجرون الأولون ]الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ[ قالوا : لا، قال: أنتم  ] وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ[ قالوا: لا، قال: أما أنتم قد تبرأتم أن تكونوا من أحد هذين الفريقين، وأنا أشهد أنكم لستم من الذين قال الله تعالى فيهم ] وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا[ اخرجوا عني فعل الله بكم.

“Tidakkah kalian kabarkan kepadaku, apakah kalian termasuk dari orang-orang Muhajirin terdahulu “yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya.Mereka itulah orang-orang yang benar.”  Merekapun menjawab:  Tidak. Ali bin Hasanpun kembali bertanya: Apakah kalian termasuk : “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” Merekapun menjawab: Tidak. Selanjutnya Ali bin Husain berkata: Adapun bila kalian telah berlepas diri dari pengakuan masuk dari kedua golongan itu, maka aku bersaksi bahwa kalian tidak termasuk dari golongan orang-orang yang Allah nyatakan tentang mereka: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman“. Segera keluarlah dari tempatku, semoga Allah menimpakan (siksa) kepada kalian.”([2])

Demikianlah sekelumit gambaran tentang keimanan dan etika umat Islam terhadap sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Selanjutnya, saya mengajak pembaca untuk bersama-sama mengamati keimanan dan etika agama Syi’ah terhadap para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Untuk menggambarkan keimanan mereka, saya, mengajak anda untuk merenungkan beberapa poin berikut, yang saya nukilkan dari beberapa referensi terpercaya agama Syi’ah:

Poin pertama: Sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat menjadi murtad.

Syeikh Muhammad Ridha Al Muzhafar, wafat tahun 1381 H mengatakan:

لا شك عند من يعترف بالقرآن الكريم وحيا إلهيا، لا ينطق صاحبه عن الهوى، في أن هذا الحادث التاريخي العظيم، بموت منقذ الإنسانية، كان حدا فاصلا بين العهدين يختلفان كل الاختلاف؛ ذلك إقبال بالنفس والنفيس على الحق تعالى، وهذا انقلاب عنه على الإعقاب. إذا نحن الآن أمام أمر واقع. مات النبي صلى الله عليه وآله وسلم، ولا بد أن يكون المسلمون كلهم، لا أدري الآن، قد انقلبوا على أعقابهم.

“Setiap orang yang meyakini bahwa Alqur’an Al karim adalah wahyu dari Allah, pengembannya tidak berkata-kata atas dasar hawa nafsu, sebagai juru selamat umat manusia,  tidak akan ragu bahwa kejadian sejarah ini (wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) merupakan pembatas antara dua fase yang berlawanan. Fase pertama penuh dengan kesungguhan menghadap kepada Allah Ta’ala dengan mengorbankan jiwa dan harta, sedangkan fase berikutnya fase berpaling membelakangi Allah. Dengan demikian, kita dihadapkan kepada fakta sejarah. Nabi shallahu ‘alaihi wa ‘aalihi wa sallam telah meninggal, dan sudah barang tentu seluruh umat Islam (aku tidak tahu kalau sekarang) telah berpaling kebelakang (murtad).([3])

Al Kulainy dalam kitabnya Al Kaafy meriwayatkan dari Humran bin A’ayun menuturkan: Aku pernah berkata kepada Abu Ja’far (Muhammad bin Ali bin Al Husain (wafat tahun 114): Semoga aku senantiasa menjadi tebusanmu, betapa sedikitnya jumlah kita, andai kita semua berkumpul untuk melahap seekor kambing, niscaya kita tidak kuasa untuk menghabiskannya. Maka Abu Ja’farpun menjawab: “Sudikah engkau aku ceritakan dengan hal yang lebih menakjubkan dari pada hal itu? Seluruh kaum Muhajirin dan Al Anshar telah pergi (murtad) kecuali –beliau mengisyaratkan dengan tangannya- tiga. Humranpun bertanya: Lalu bagaimana halnya dengan ‘Ammar (bi Yasir)? Abu Ja’far menjawab: Semoga Allah merahmati ‘Ammar Abul Yaqzhan, ia telah berbaiat, lalu ia mati syahid. Humranpun berkata dalam hatinya: Apakah yang lebih utama dibanding mati syahid? Maka Abu Ja’farpun memandangku, lalu berkata: Mungkin engkau menganggapnya sama dengan mereka bertiga? Mana mungkin, mana mungkin.([4])

Al Majlisi yang wafat pada tahun 1111 H meriwayatkan satu riwayat yang dengan lebih tegas lagi menyatakan kemurtadan para sahabat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

عن سدير عن أبي جعفر عليه السلام قال: كان الناس أهل ردة بعد النبي صلى الله عليه وآله سنة، إلا ثلاثة: فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، وقال: هؤلاء الذين دارت عليهم الرحى وأبوا أن يبايعوا جتى جاؤوا بأمير المؤمنين مكرها فبايع.

“Dari Sudair, ia meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali Bin Al Husain) ‘alaihissalaam: Dahulu sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi, seluruh manusia murtad selama satu tahun, kecuali tiga orang. As Sudairpun bertanya: Siapakah ketiga orang tersebut: Al Miqdad bin Al Aswad Abu Dzar Al Ghifaary, dan Salman Al Faarisy, lalu beliau berkata: Mereka itulah orang-orang yang tetap kokoh dengan pendiriannya dan enggan untuk membaiat (Abu Bakar As Shiddiq-pen) hingga didatangkan Amirul Mikminin (Ali bin Abi Thalib)  alaihissalaam dalam keadaan terpaksa, lalu beliaupun berbaiat.([5])

Syeikh Mufid wafat tahun 413 H, juga meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali Bin Al Husain) ‘alaihissalaam:

ارتد الناس بعد النبي صلى الله عليه وآله إلا ثلاثة نفر: المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، ثم إن الناس عرفوا ولحقوا بعد.

“Seluruh manusia menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi kecuali tiga orang: Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifary, dan Salman Al Farisy, kemudian setelah itu manusia mulai menyadari, dan kembali masuk Islam. “([6])

Dan pada riwayat lain, mereka menambah jumlah yang tidak murtad dan tetap mempertahankan keislamannya menjadi empat orang:

Mereka meriwayatkan dari Abu Ja’far, bahwa ia berkata:

إن رسول الله صلى الله عليه وآله لما قبض، صار الناس كلهم أهل جاهلية إلا أربعة: علي والمقداد وسلمان وأبو ذر.

“Sesungguhnya tatkala Rasulullah shallallahu ‘alai wa ‘aalihi meninggal dunia, seluruh manusia kembali kepada kehidupan jahiliyyah, kecuali empat orang saja: yaitu Ali, Al Miqdad, Salman dan Abu Dzar.” ([7])

Saudaraku! apa perasaan anda tatkala membaca beberapa contoh riwayat yang termaktub dalam kitab-kitab terpercaya agama Syi’ah di atas?

Saya yakin, batin anda menjerit, keimanan anda menjadi berkobar ketika membaca riwayat-riwayat itu? Betapa tidak, sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dinyatakan telah murtad, kecuali tiga orang saja.

Saudaraku! Coba tenangkan perasaan anda, lalu baca kembali dengan seksama riwayat-riwayat di atas. Tidakkah anda mendapatkan hal yang aneh pada kedua riwayat tersebut? Pada riwayat tersebut dinyatakan bahwa yang tetap berpegang teguh dengan keimanan dan keislamannya hanya ada tiga orang. Dan pada riwayat lainnya dijelaskan maksud dari ketiga orang tersebut, yaitu: Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifaary, dan Salman Al Faarisy.

Bila demikian adanya, lalu bagaimana halnya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah bintu Rasulillah, dan kedua putranya, yaitu Al Hasan dan Al Husain? Mungkinkah mereka termasuk yang murtad, karena yang dinyatakan tetap berpegang dengan keislamannya hanyalah tiga, dan mereka semua tidak termasuk dari ketiga orang tersebut?

Dan bagaimana pula kerabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya, semisal: Al Aqil bin Abi Thalib, Al Abbas, dan lainnya?

Demikianlah fakta telah membuktikan, bahwa agama Syi’ah dengan berbagai dongeng anehnya ingin menyanjung Ahlul Bait, akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka menjatuhkan nama baik Ahlul Bait dan merendahkan kedudukannya.

Mungkin anda berkata: Mungkin riwayat-riwayat semacam ini telah ditinggalkan oleh agama Syi’ah pada zaman sekarang. Riwayat-riwayat itu hanya ada pada referensi mereka terdahulu.

Saudaraku! praduga anda ternyata kurang tepat, dikarenakan beberapa hal berikut:

1-    Riwayat-riwayat ini tetap termaktub dalam kitab-kitab referensi terpercaya agama Syi’ah tanpa ada upaya dari tokoh-tokoh mereka untuk mengingkarinya atau meluruskannya.

2- Berbagai riwayat ini ternyata masih dinukilkan dan dibawakan oleh para penulis buku dari kalangan agama Syi’ah yang hidup pada zaman sekarang. Sebagai misal: Silahkan baca buku: Al Imam Ali, hal 490, karya Ahmad Ar Rahmany Al Hamadaany, dia adalah salah seorang penulis buku yang hidup di zaman kita ini, dan mungkin sampai saat ini ia masih menghirup udara bebas, alias masih hidup. Juga silahkan baca buku Mu’jam Rijaalil Hadits wa Tafshilu thabaqaatir Ruwaat, jilid 9/196 & 19/346, karya As Sayyid Abul Qasim Al Musawy Al Khu’i, wafat tahun 1413 H. Dan baca juga kitab.

3- Saudaraku, diantara yang membuktikan bahwa praduga anda kurang tepat ialah beberapa ucapan Ruhullah Al Khumainy berikut:

إننا هنا لا شأن لنا بالشيخين، وما قاما به من مخالفات للقرآن، ومن تلاعب بأحكام الإله، وما حللاه وحرماه وما مارساه من ظلم ضد فاطمة ابنة النبي وصد أولاده، ولكننا نشير إلى جهلهما بأحكام الإله والدين ….. مثل هؤلاء الأفراد الجهال الحمقى والأفاقون والجائرون غير جديرين بأن يكونوا في موقع الإمامة، وأن يكونوا ضمن (أولي الأمر).

“Sesungguhnya pada kesempatan ini, kami tidak berkepentingan dengan dua syeikh (Abu Bakar dan Umar bin Al Khattab), dan dengan perilaku keduanya yang nyata-nyata menyelisihi Al Qur’an, bermain-main dengan hukum Allah, menghalalkan dan mengharamkan sesuka hatinya, serta kelaliman mereka terhadap Fatimah putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan seluruh putranya. Akan tetapi kami hanya ingin mengisyaratkan kepada kejahilan mereka tentang hukum-hukum Allah dan agama …..Orang-orang bodoh, dungu, pendusta, lagi kejam semacam mereka itu tidak layak untuk duduk sebagai pemimpin atau dikatagorikan sebagai ulil amri.”([8])

Pada kesempatan lain, Ruhullah Al Khumainy juga berkata:

نورد هنا مخالفات عمر لما ورد في القرآن لنبين بأن معارضة القرآن لدى هؤلاء كانت أمرا هينا، ونؤكد بأنهم كانوا سيخالفون القرآن فيما إذا كان قد تحدث بصراحة عن الإمامة.

“Berikut saya akan bawakan beberapa sikap Umar yang menyelisihi ayat-ayat Al Qur’an, untuk membuktikan bahwa sikap menyelisihi Al Qur’an menurut mereka (para sahabat) adalah urusan sepele. Dan kami tekankan, bahwa mereka pasti akan menyelisihi Al Qur’an, andai Al Qur’an benar-benar membicarakan masalah Al Imamah (kepemimpinan).”([9])

Saudaraku, setelah mengetahui tiga hal ini, masihkan ada beranggapan bahwa riwayat-riwayat di atas hanya ada pada zaman dahulu kala saja, adapun sekarang telah dilupakan? Mungkinkah masih ada diantara kita yang beranggapan bahwa penganut Syi’ah zaman sekarang telah berubah, sehingga layak bagi kita untuk bergandengan tangan dengan mereka?

Poin kedua: Semasa hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat menyembunyikan kemunafikan & ambisi kekuasaan.

Salah seorang tokoh  ahli tafsir agama Syi’ah yang bernama Al Maula Muhsin Al Faidh Al Kaasyaany wafat tahun 1091 H, berkata:

أكثرهم كانوا يبطنون النفاق ويجترؤون على الله ويفترون على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في عزة وشقاق، هكذا كان حال الناس قرنا بعد قرن، فكان لهم في كل قرن رؤساء ضلالة، عنهم يأخذون وإليهم يرجعون. هم بأرائهم يجيبون وإلى كبرائهم يستندون.

“Dahulu kebanyakan mereka (sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) menyembunyikan kemunafikan, lancang terhadap Allah dan berdusta atas Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi wa sallam, berperilaku sombong lagi menampakkan permusuhan. Demikianlah keadaan manusia dari generasi ke generasi. Pada setiap generasi, mereka memiliki para pemimpin yang sesat, dan setiap generasi mengamalkan pendapat para pemimpin itu dan berhakim kepadanya. Dengan pendapat merekalah setiap generasi itu menjawab pertanyaan dan kepada pembesar-pembesar itu mereka bersandarkan.”([10])

Pemimpin revolusi agama Syi’ah zaman sekarang, yaitu Ruhullah Al Khumainy berkata:

إن الله منزه بالطبع عن الاستهانة بالعدل والتوحيد. ومن هنا فإن عليه أن يضع أسسا لثبات هذه المبادئ من بعد النبي، حتى لا يترك الناس حائرين في أمرهم، وحتى لا يجعلهم يقعون فريسة حفنة من الانتهازيين المتربصين.

“Sesungguhnya Allah Maha Suci dari perilaku meremehkan keadilan dan tauhid. Berdasarkan itu, maka Allah berkewajiban untuk meletakkan prinsip-pinsip yang menjadi dasar bagi tegaknya idiologi ini sepeninggal nabi. Dan agar masyarakat tidak menjadi kebingungan dalam menentukan urusan mereka, dengan demikian mereka tidak menjadi mangsa empuk bagi orang-orang yang suka untuk memancing dalam air keruh yang senantiasa menanti-nantikan kesempatan.”([11])

Saudaraku! Apa yang anda rasakan dalam sanubari anda tatkala membaca ucapan dua tokoh terkemuka agama Syi’ah di atas? Menurut hemat anda, mungkinkah para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang benar-benar haus akan kekuasaan dan gila kedudukan, sebagaimana digambarkan oleh Al Khumainy?

Mungkinkah masih ada keraguan pada diri anda bahwa agama Syi’ah zaman sekarang adalah kepanjangan dari agama Syi’ah yang ada pada zaman dahulu? Mungkinkah, anda masih tidak mempercayai bahwa segala idiologi yang dianut oleh agama Syi’ah pada zaman dahulu hingga saat ini masih diajarkan dan diyakini oleh pengikut agama Syi’ah?

Saudaraku! Apa pendapat anda tentang tuduhan sekte Syi’ah kepada para sahabat, bahwa ambisi kekuasaan telah menguasai mereka ini? Tidakkah anda bertanya kepada para penganut sekte Syi’ah: bila demikian, mengapa tidak seorangpun dari Abu Bakar, Umar, Utsman yang mewariskan kekuasaanya kepada anak keturunannya atau karib kerabatnya. Sebaliknya, mengapa sekte Syi’ah diam seribu bahasa, dan bahkan mewajibkan agar kepemimpinan atau khilafah adalah hak sahabat Ali dan anak keturunannya? Bukankah sikap sekte Syi’ah ini adalah wujud nyata dari sikap mereka yang memasang standar ganda atau bermuka dua?

Saudaraku! bandingkanlah sikap sahabat Ali bin Abi Thalib yang menunjuk putranya Al Hasan sebagai khailah penggantinya dengan ucapan sahabat Umar bin Al Khattab yang beliau ucapkan pada deti-detk terakhir dari hidupnya berikut ini:

مَا أَجِدُ أَحَقَّ بِهَذَا الأَمْرِ مِنْ هَؤُلاَءِ النَّفَرِ أَوِ الرَّهْطِ الَّذِينَ تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ عَنْهُمْ رَاضٍ . فَسَمَّى عَلِيًّا وَعُثْمَانَ وَالزُّبَيْرَ وَطَلْحَةَ وَسَعْدًا وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ وَقَالَ يَشْهَدُكُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَلَيْسَ لَهُ مِنَ الأَمْرِ شَىْءٌ رواه البخاري

“Aku tidak menemukan orang yang lebih layak memikul urusan ini (khilafah) dibanding orang-rang yang telah mendapat keridhoan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga beliau meninggal dunia. Selanjutnya beliau menyebut nama-nama berikut: Ali (bin Abi Thalib), Utsman (bin Affan), Az Zubair (bin Awwam), Tholhah (bin Ubaidillah), Sa’ad (bin Abi Waqqash) dan Abdurrahman (bin Auf). Selanjutnya beliau berkata: Dan putraku Abdullah bin Umar bertugas sebagai saksi mereka, akan tetapi ia tidak berhak untu dicalonkan.” Riwayat Bukhari

Poin ketiga : Celaan terhadap seluruh Al Khulafa’ selain Ali bin Abi Thalib dan Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Dari beberapa riwayat yang telah saya nukilkan di atas, dapat kita pahami bahwa agama Syi’ah meyakini bahwa yang berhak menjadi kahlifah sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Dan selanjutnya sepeninggal sahabat Ali Radhiallahu ‘Anhu, yang berhak mengemban khilafah adalah keturunan beliau, tidak lain dan tidak bukan.

Karena idiologi agama Syi’ah demikian ini adanya, maka sebagai konsekwensi langsungnya, mereka meyakini bahwa kepemimpinan siapapun selain dari sahabat Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah batil alias tidak sah. Bukan hanya tidak sah, kepemimpinan selain mereka dianggap sebagai dosa besar, bahkan dosa paling besar.

Tidak mengherankan bila, salah satu misi utama imam mahdi mereka, yaitu imam mereka yang ke dua belas, adalah pembalasan dendam terhadap setiap orang yang pernah menjadi pemimpin umat Islam di dunia.

عن عبد الله بن المغيرة عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إذا قام القائم من آل محمد عليه السلام، أقام خمس مئة من قريش، فضرب أعناقهم، ثم أقام خمس مئة فضرب أعناقهم ثم أقام خمس مئة أخرى حتى يفعل ذلك ست مرات. قلت: ويبلغ عدد هؤلاء هذا؟ قال: نعم، منهم ومن مواليهم.

Abdullah bin Al Mughirah meriwayatkan dari Abu Abdillah (Ja’far As Shodiq) ‘alaihissalaam, ia berkata: “Bila Al Qaim (imam ke dua belas) dari keturunan (nabi) Muhammad telah bangkit, ia akan membangkitkan lima ratus orang dari orang-orang Quraisy, lalu ia akan memancung leher mereka. Lalu ia kembali membangkitkan lima ratus lainnya, dan memancung leher mereka juga. Ia kembali membangkitkan lima ratus lainnya, hal itu ia lakukan sebanyak enam kali”. Aku  bertanya: apakah jumlah mereka mencapai sebanyak itu? (mungkin Abdullah bin Al Mughirah  keheranan, karena Khulafa’ Ar Rasyidin, Dinasti Umawiyyah, Abbasiyah dan seluruh penguasa umat Islam hingga zaman Ja’far As Shadiq tidak mencapai tiga ribu) Abu Abdillah menjawab: Ya, dari mereka dan juga dari pengikutnya.([12])

Mungkin karena rasa dendam yang bergemuruh dalam dada imam mahdi versi agama Syi’ah (yaitu imam mereka yang kedua belas) ini tidak juga kunjung padam, walau telah membantai tiga ribu manusia, iapun melampiaskan dendamnya kepada kedua sahabat Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Al Khatthab.

Saudaraku! saya harap anda masih kuasa menahan ledakan-ledakan iman dalam dada anda, sehingga anda kuasa membaca riwayat yang dibawakan oleh mufti mereka pada abad ke 1111 H Muhammad Baqir Al Majlisy. Riwayat tersebut sangat panjang, dan berikut saya penggalkan sebagiannya saja:

يقول المهدي: يا معشر الخلائق، هذا قبر جدي رسول الله صلى الله عليه وآله؟ فيقولون: نعم، يا مهدي آل محمد، فيقول: ومن معه في القبر؟ فيقولون : صاحباه وضجيعاه؛ أبو بكر وعمر …..فيخرجان غضين طريين كصورتهما، فيكشف عنهما أكفانهما، ويأمر برفعهما على دوحة يابسة نخرة، فيصلبهما عليها……. ثم يقص عليهم قصص فعالهما في كل كور ودور حتى يقص عليهم قتل هابيل بن آدم عليه السلام وجمع النار لإبراهيم عليه السلام وطرح يوسف عليه السلام في الجب وحبس يونس عليه السلام في الحوت وقتل يحيى عليه السلام وصلب عيسى عليه السلام وعذاب جرجيس ودانيال عليهما السلام وضرب سلمان الفارسي وإشعال النار على باب أمير المؤمنين وفاطمة والحسن والحسين عليهم السلام لإحراقهم بها، وضرب يد الصديقة الكبرى فاطمة بالسوط ورفس بطنها وإسقاطها محسنا، وسم الحسن عليه السلام وقتل الحسين عليه السلام وذبح أطفاله وبني عمه وأنصاره وسبي ذراري رسول الله صلى الله عليه وآله وإراقة دماء آل محمد صلى الله عليه وآله وكل دم سفك وكل فرج نكح حراما وكل رين وخبث وفاحشة وإثم وظلم وجور وغشم منذ عهد آدم عليه السلام إلى وقت قيام قائمنا عليه السلام كل ذلك يدده عليه السلام عليهما، ويلزمهما إياه فيعترفان به، ثم يأمر بهما فيقتص منهما في ذلك الوقت بمظالم من حضر ثم يصلبهما على الشجرة ويأمر نارا تخرج من الأرض فتحرقهما والشجرة ثم يأمر بهما ريحا فتنسفهما في اليم نسفا. قال المفضل: يا سيدي، ذلك آخر عذابهما؟ قال: هيهات يا مفضل، والله ليردن وليحضرن السيد الأكبر محمد رسول الله صلى الله عليه عليه وآله والصديق الأكبر أمير المؤمنين وفاطمة والحسن والحسين والأئمة عليهم السلام وكل من محض الإيمان محضا أو محض الكفر محضا وليقتصن منهما لجميعهم حتى إنهما ليقتلان في كل يوم وليلة ألف قتلة.   بحار الأنوار 53/12-14.

” Al Qaa’im (Imam agama Syi’ah yang ke-12) berkata kepada seluruh hadirin: Wahai seluruh makhluq, bukankah ini adalah kuburan kakekku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi? Merekapun menjawab: Benar, wahai Imam Mahdi dari keluarga Muhammad. Ia kembali berkata: Siapakah yang bersamanya dalam kuburan? Merekapun menjawab: Kedua sahabatnya dan kedua teman peristirahatannya, yaitu Abu Bakar dan Umar…..Lalu keduanya (Abu Bakar dan Umar) dikeluarkan dari kuburannya dalam keadaan segar dan utuh sebagaimana wujud aslinya. Lalu kain kafan yang membungkus mereka berdua disingkap, dan imam Mahdipun segera memerintahkan agar keduanya dinaikkan ke atas pohon besar yang telah kering dan rapuh, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut…….Selanjutnya Imam Mahdi menceritakan kepada seluruh hadirin kisah-kisah perilaku keduanya (Abu Bakar dan Umar) di setiap pedesaan dan perkampungan, sampai-sampai ia menceritakan tentang kisah pembunuhan Habil putra nabi Adam ‘alaihissalaam, pengobaran api atas nabi Ibrahim ‘alaihissalam, penjeblosan nabi Yusuf ‘alaihissalam ke dalam sumur, tertahannya nabi Yunus di dalam perut ikan, pembunuhan nabi Yahya ‘alaihissalam, penyaliban nabi Isa’ ‘alaihissalam, penyiksaan Jarjis dan Danial ‘alaihimassalam, pemukulan Salman Al Farisy, pengobaran api pada pintu amirul mukminin (ali bin abi Thalib), Fatimah, Al Hasan, dan Al Husain ‘alaihimussalaam untuk membakar mereka berempat, pemukulan tangan As Shiddiqah Al Kubra Fatimah dengan cambuk, penendangan perut beliau hingga ia keguguran putranya yang bernama Muhsin, pengracunan Al Hasan ‘alaihissalaam, pembunuhan Al Husain ‘alaihissalaam, pembantaian putra-putranya, para sepupunya, dan juga para pengikutnya, penawanan anak cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi, penumpahan darah kerabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi, seluruh pertimpahan darah, seluruh perzinaan, seluruh perbuatan kotor, keji, nista, dosa, perbuatan lalim, kecurangan sejak zaman nabi Adam ‘alaihissalaam hingga hari kebangkitan Imam Mahdi kita ‘alaihissalaam. Semua perbuatan itu beliau (imam agama Syi’ah yang ke-12) tuduhkan kepada keduanya (Abu Bakar dan Umar) dan keduanyapun mengakuinya. Selanjutnya imam Mahdi memerintahkan agar keduanya dibalas atas segala tindak kelaliman yang pernah mereka berdua lakukan atas seluruh orang yang hadir kala itu. Selanjutnya imam Mahdi menyalib keduanya di atas pohon itu, dan iapun memerintahkan api yang keluar dari perut bumi untuk membakar keduanya beserta pohon itu. Lalu ia memerintahkan air untuk berhembus menaburkan debu keduanya di lautan.

Al Mufaddhal (perawi kisah ini) berkata kepada Imam Mahdi: Wahai tuanku, apakah hukuman itu adalah hukuman terakhir bagi keduanya? Ia menjawab: Mustahil wahai Mufaddhal, sungguh demi Allah, As Sayyid Al Akbar Muhammad Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa aalihi, As Shiddiq Al Akbar Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), Fatimah, Al Hasan, Al Husain, dan seluruh imam ‘alaihimussalam, dan seluruh orang yang benar-benar beriman dan juga seluruh orang yang benar-benar kafir, pasti akan hadir, dan selanjutnya beliau (Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) pasti akan membalaskan mereka semua terhadap mereka berdua, sampai-sampai mereka berdua setiap sehari-semalam akan dibunuh sebanyak seribu kali.”([13])

Pembalasan yang sangat  keras, dan hukuman yang sangat berat. Walau demikian, apakah anda kira bahwa dongeng tentang hukuman mereka berdua yang telah dikisahkan dalam riwayat ini telah memuaskan jiwa dendam agama Syi’ah terhadap kedua khalifah Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini?

Pembalasan yang demikian dahsyat ternyata belum cukup memuaskan jiwa pendendam para penganut agama Syi’ah. Oleh karena itu. merekapun masih merasa untuk meningkatkan dongeng siksaan yang akan ditimpakan kepada sahabat Umar bin Al Khattab Radhiallahu ‘Anhu. Tokoh mereka yang bernama As Sayyid Ni’matullah Al Jazaa’iry menyatakan:

قد وردت في روايات الخاصة –يعني شيعته- أن الشيطان يغل بسبعين غلا من حديد جهنم، ويساق إلى المحشر فينظر ويرى رجلا أمامه يقوده ملائكة العذاب، وفي عنقه مئة وعشرون غلا من أغلال جهنم، فيدنو الشيطان إليه، ويقول: ما فعل الشقي حتى زاد علي في العذاب، وأنا أغويت الخلق وأوردتهم موارد الهلاك، فيقول عمر للشيطان: ما فعلت شيئا سوى أني غصبت خلافة علي بن أبي طالب.

“Telah disebutkan dalam riwayat tokoh kita, bahwasannya kelak setan akan dibelenggu dengan tujuh puluh belenggu yang terbuat dari besi Jahnnam, lalu ia akan digiring menuju alam Mahsyar. Kala itu, setan memandang dan melihat seorang laki-laki di hadapannya yang digiring oleh Malaikat azab, sedangkan ditengkuknya terpasang seratus dua puluh (120) belenggu dari belenggu-belenggu Jahannam. Menyaksikan pemandangan itu, setanpun merasa keheranan, lalu mendekatinya, dan berkata: Gerangan, apa yang dilakukan oleh lelaki sial itu, sampai-sampai ia lebih berat siksanya dariku, padahal aku telah menyesatkan seluruh manusia dan menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan?  Umarpun menjawab pertanyaan setan dengan berkata: Aku tidak berbuat apapun selain merebuh khilafah (kekuasaan) dari Ali bin Abi Thalib.”([14])

Adapun Kholifah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menantunya dua kali, yaitu Utsman bin Affan, maka tidak luput pula dari lisan tokoh agama-agama Syi’ah. Coba, anda tebak, kira-kira apa tuduhan apa yang akan dilemparkan kepada beliau ?

Syeikh Mufid wafat tahun 413 H, dengan tanpa rasa sungkan sama sekali telah menuduh Utsman bin Affan, menantu Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai orang munafik. Simaklah ucapannya berikut ini:

إنما زوجه النبي صلى الله عليه وآله على ظاهر الإسلام، ثم إنه تغير بعد ذلك، ولم يكن على النبي صلى الله عليه وآله تبعة فيما يحدث في العاقبة، هذا على قول بعض أصحابنا.

وعلى قول فريق آخر : إنه زوجه على الظاهر، وكان باطنه مستورا عنه، وليس بمنكر أن يستر الله عن نبيه نفاق كثير من المنافقين….ويمكن أن يكون الله تعالى قد أباحه مناكحة من ظاهره الإسلام وإن علم من باطنه النفاق، وخصه بذلك.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi menikahkannya karena secara lahir ia adalah seorang muslim, lalu dikemudian hari ia berubah, dan nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi tidak bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi dikemudian hari. Ini adalah tanggapan sebagian ulama’ kita.

Dan menurut pendapat lainnya: Ia menikahkannya berdasarkan keadaannya yang nampak secara lahir, sedangkan batinnya tidak diketahui oleh Nabi. Dan bukan hal yang aneh bila Allah tidak memberitahu Nabi-Nya tentang kemunafikan banyak dari orang-orang munafiq…. Dan mungkin saja, Allah Ta’ala membolehkan Nabi-Nya untuk menikahkan (putrinya) dengan lelaki yang secara lahir adalah seorang muslim, walaupun ia telah mengetahui bahwa sebenarnya secara batin lelaki itu adalah seorang munafiq, dan ini adalah kekhususan untuk beliau saja.”([15])

Mufti agama Syi’ah pada abad ke 11 H, yaitu Muhammad Baqir Al Majlisy berkata tentangnya:

وقد ورد في أخبارنا إيواء عثمان المغيرة بن أبي العاص، وقد نهى الرسول صلى الله عليه وآله عن ذلك، ولعن من يحمله ومن يطعمه ومن يسقيه، وأهدر دمه، وفعل جميع ذلك، وقتل رقية بنت رسول الله صلى الله عليه وآله وزنا بجاريتها.

“Sungguh telah disebutkan dalam berbagai riwayat yang ada pada referensi kita bahwa Utsman telah melindungi Al Mughirah bin Abil ‘Ash, padahal Rasulullah shallallahu  ‘alai wa ‘aalihi telah melarang hal itu. Sebagaimana beliau juga telah melaknati orang yang melakukannya, memberi makan, minum kepadanya dan juga menghalalkan darahnya. Sedangkan Utsman telah melakukan semua perbuatan tersebut. Sebagaimana Utsman juga telah membunuh Ruqayyah bintu Rasulillah shallallahu ‘alai wa ‘aalihi, dan berzina dengan budak wanita miliknya (Ruqayyah).”([16])

Saudaraku! anda pasti menjadi berang dan muak, dan mungkin saja menjadi benci terhadap para penganut agama Syi’ah. Menurut hemat saya, sikap anda ini tidak terlalu berlebihan, karena anda adalah seorang muslim yang taat beragama dan mencintai generasi pendahulu anda, sedangkan agama Syi’ah senantiasa menghina dan memfitnah generasi idola anda, yaitu para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saudaraku! saya yakin anda lebih mencintai sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah memperjuangkan Islam hingga berhasil menguasai dunia, dibanding tokoh-tokoh agama Syi’ah yang pandai bertaqiyyah (bermuka dua), dan hobi berfoya-foya dengan kaum wanita dengan kedok mut’ah? Oleh karena itu, saya yakin anda tidak akan pernah mempercayai berbagai bualan agama Syi’ah tentang para sahabat yang nyata-nyata telah diridhai dan dinyatakan sebagai generasi yang unggul oleh Allah Ta’ala:

]كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ [ آل عمران 110

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah.” Ali Imran 110

Saya yakin, anda seorang muslim yang cerdik dan tidak terpercaya oleh tetesan air mata buaya agama Syi’ah yang mengesankan diri sebagai penentang Zionis & Amerika. Saya yakin, kehormatan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih anda imani dibanding propaganda murahan dan permainan media masa barat yang mengesankan kepada dunia Islam bahwa agama Syi’ah adalah musuh bebuyutan mereka.

Walau demikian, tidak ada salahnya bila anda sedikit meluangkan waktu untuk menyaksikan sendiri keberingasan buaya daratan, yang pandai meneteskan air matanya. Simaklah penuturan pemimpin revolusi agama Syi’ah di Iran, yaitu Ruhullah Al Khumainy, tentang perihal para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dan pada kesempatan lain, Ruhullah Al Khumainy dengan tanpa rasa segan atau malu menyatakan:

إننا لا نعبد إلها يقيم بناء شامخا للعبادة والعدالة والتدين، ثم يقوم بهدمه بنفسه، ويجلس يزيدا ومعاوية وعثمان وسواهم من العتاة في مواقع الإمارة على الناس، ولا يقوم بتقرير مصير الأمة بعد وفاة نبيه.

“Sesungguhnya kita tidak sudi untuk beribadah kepada Sesembahan yang telah mendirikan suatu bangunan (tatanan masyarakat) yang megah demi tegaknya peribadatan, keadilan dan kehidupan beragama, selanjutnya Dia sendiri yang menghancurkannya. Dia telah mendudukkan Yazib (bin Mu’awiyyah-pen), Mu’awiyyah (bin Abi Sufyan-pen), Utsman (bin Affan-pen) dan para dektator lainnya sebagai para pemimpin masyarakat. Sebagaimana halnya Dia telah melalaikan masa depan umat sepeninggal Nabi-Nya.”([17])

Keyakinan inilah yang mendasari Ruhullah Al Khumainy untuk tidak mengakui kekhilafahan Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Utsman bin Affan, sehinga ia mengatakan bahwa pemerintahan islam hanya ada pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib saja.

Al Khumainy berkata:

فقد ثبت بضرورة الشرع والعقل أن ما كان ضروريا أيام الرسول (ص) وفي عهد الإمام أمير المؤمنين علي بن أبي طالب (ع) من وجود الحكومة، لا يزال ضروريا إلى يومنا هذا.

“Telah terbukti secara syari’at dan nalar, bahwa segala sesuatu yang urgen pada masa Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) dan juga pada masa Imam Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib (Radhiallahu ‘Anhu), berupa adanya pemerintahan , hingga hari ini tetap saja urgen.” ([18])   

Pada halaman selanjutnya, Al Khumainy juga berkata:

لم يكن أحد من المسلمين يشك في ضرورة استمرار وجود الحكومة من بعد الرسول (ص)، الكل متفقون على ذلك، وإنما الخلاف في شخص من يتولى ذلك، فقد كانت الحكومة موجودة بعد الرسول، وفي زمن الإمام أمير المؤمنين علي (ص) خاصة، بجميع مؤسساتها الإدارية والتنفيذية من غير شك.

“Tidak ada seorangpun yang meragukan tentang urgensinya kesinambungan pemerintahan sepeninggal Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Semuanya menyepakati hal itu. Perselisihan hanya terjadi pada figur yang menjalankannya. Sungguh pemerintahan dengan seluruh lembaga perundang-undangan dan pelaksananya,  benar-benar ada sepeninggal Rasul, dan secara khusus pada masa Amirul Mukminin Ali (Radhiallahu ‘Anhu), tanpa ada keraguan sedikitpun tentangnya.”([19])

Demikianlah komentar pemimpin revolusi agama Syi’ah yang disanjung-sanjung oleh seluruh penganut agama Syi’ah zaman sekarang tiga khalifah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia menganggap masa pemerintahan ketiga khalifah Nabi  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu ‘anhum sebagai masa-masa vakum, tanpa ada pemerintahan.

Bila demikian adanya, akankah masih ada dari kita yang berkata: celaan terhadap para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya terjadi pada zaman dahulu saja?

Apa yang saya paparkan di atas, menjadi alasan bagi Imam ‘Aamir bin Syurahil As Sya’bi untuk berkata tentang sekte Syi’ah:

فضلتهم اليهود والنصارى بخصلة. قيل لليهود من خير أهل ملتكم؟ قالوا: أصحاب موسى، وقيل: للنصارى من خير أهل ملتكم؟ قالوا: حواري عيسى، وقيل: للرافضة من شر أهل ملتكم؟ قالوا حواري محمد.

“Kaum Yahudi dan Nasrani memiliki satu kelebihan bila dibandingkan dengan agama Syi’ah. Bila dikatakan kepada kaum Yahudi: Siapakah orang terbaik dari penganut agamamu? Niscaya mereka menjawab: tentu para sahabat nabi Musa. Dan bila dikatakan kepada kaum Nasrani: Siapakah orang terbaik dari penganut agamamu? Niscaya mereka menjawab: tentu para sahabat sekaligus pengikut setiap nabi ‘Isa. Akan tetapi bila dikatakan kepada agama Rafidhah (Syi’ah): Siapah orang terjelek dari penganut agamamu? Niscaya mereka menjawab: tentu para sahabat sekaligus pengikut setia nabi Muhammad.”


[1] ) Fathul Bary oleh Ibnu Hajar Al Asqalaany 7/34.

[2] ) Kasyful Ghummah Fi Ma’rifatil A’immah oleh Ali bin Isa Al Arbily, wafat tahun 693 H, jilid 2/291.

[3] ) As Saqifah oleh Muhammad Ridha AL Muzhaffar 23-24.

[4] ) Al Kaffy oleh Al Kulainy 2/244 & Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy  22/345.

[5] ) Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy 22/351 & Tafsir Nur As Tsaqalain, karya Abdu Ali bin Jum’ah Al ‘Arusy Al Huwaizy 1/396.

[6] ) Al Ikhtishash, karya As Syeikh Mufid hal: 6.

[7] )  Tafsir Al ‘Ayyasyi 1/199, karya An Nadher Muhammad bin Mas’ud As Samarqandi wafat thn: 320 H, Bihaarul Anwaar 22/333 karya Al Majlisy, wafat thn 1111 H.

[8] ) Kasyful Asraar oleh Ruhullah Al Khumainy 126-127.

[9] ) Kasyful Asraar oleh Ruhullah Al Khumainy 135.

[10] ) At Tafsir As Shaafy, oleh Al Maula Muhsin Al Faidh Al Kaasyaany 1/9.

[11] ) Kasyful Asraar oleh Ruhullah Al Khumainy hal 123.

[12] ) Al Irsyad oleh As Syeikh Al Mufid 2/383.

[13] ) Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy  53/12-14.

[14] ) Al Anwar AN Nu’maniyyah 1/81-82.

[15] ) Al Masaa’il As Sarawiyyah oleh As Syeikh Mufid 94

[16] ) Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy 31/174.

[17] ) Kasyful Asraar oleh Ruhullah Al Khumainy hal hal 123.

[18] ) Al Hukumah Al Islamiyyah oleh Ruhullah Al Khumainy 26.

[19] ) Idem hal. 27.