Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam persepsi para Imam-imam sekte Syi’ah .

Mungkin anda bertanya-tanya karena penasaran, dari manakah asal usul keyakinan agama Syi’ah tentang para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang demikian itu? Mungkinkah idiologi mereka itu benar-benar diajarkan oleh kedua belas imam mereka ?

Agar anda dapat mengetahui sejauh mana keselarasan idiologi agama Syi’ah dengan keimanan kedua belas Imam mereka, maka saya mengajak anda untuk merenungkan beberapa hal berikut:

1.    Para Imam Menamakan putra-putranya dengan nama-nama para sahabat.

Sejarah telah mencatatkan untuk kita sederetan nama dari putra-putra ke duabelas imam agama Syi’ah yang sama dengan nama-nama para khulafa’urrasyidin dan juga sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya.

Fakta sejarah ini menjadi bukti bahwa sebenarnya antara para imam agama Syi’ah dengan para sahabat lainnya terjalin hubungan kecintaan dan bukan kebencian sebagaimana yang didakwakan oleh agama Syi’ah.

Saudaraku, penamaan anak keturunan dengan nama seseorang adalah apresiasi dari kecintaan yang benar-benar mendalam antara mereka.

Mungkinkah anda menamakan buah hati anda dengan nama orang yang anda benci? Mungkinkah anda menamakan putra anda dengan nama Iblis, atau nama seorang perampok besar, pelacur, atau koruptor kakap?

Berikut daftar putra-putra para kedua belas imam yang namanya sama dengan nama-nama para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang selama ini dikesankan sebagai musuh bebuyutan para imam.

NoKeterangan
Nama : Abu BakarSemua kita mengetahui bahwa nama ini adalah nama panggilan sahabat Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan khalifah beliau pertama.
1Abu Bakar bin Ali bin Abi ThalibFakta ini dimuat dalam beberapa referensi agama Syi’ah, diantanya: Maqaatilut Thalibiyyin oleh Abul Faraj Al Asfahany hal 56, Al Ikhtishas karya As Seikh Al Mufid hal 82, Biharul Anwaar oleh Al Majlisy  1/544, Tarikh Al Ya’quby 2/213, & Mu’jam Rijalul Hadits, karya Abul Qasim Al Musawy Al Khu’i 22/70.Ia ikut serta berperang bersama saudaranya Al Husain di daerah Karbala’ hingga terbunuh.
2Abu Bakar bin Al Hasan bin Ali bin AbI ThalibFakta ini diungkapkan oleh beberapa referensi Syi’ah, diantaranya: Al Irsyad oleh As Syeikh Al Mufid 2/109, & Mu’jam Rijalul Hadits, karya Abul Qasim Al Musawy Al Khu’i 22/70. Abu Bakar bin Al Hasan juga ikut serta berperang bersama pamannya Al Husain di daerah Karbala’, hingga terbunuh.
3Abu Bakar bin Al Husain bin Ali bin Abi ThalibFakta ini diungkapkan olej Al Mas’udi dalam kitabnya At Tnbih wa Al Irsyad hal 263. Ini adalah suatu fakta yang sangat mengejutkan dan mungkin menjengkelkan agama Syi’ah, betapa tidak ketiga imam mereka secara berturut-turut, Ali, Al Hasan dan Al Husain radhiallahu ‘anhum memberi nama putra mereka masing-masing dengan nama Abu Bakar.
4Abu Bakar Ali Ar Ridha bin Musa Al Kazhim bin Ja’far As ShadiqAli Ar Ridha adalah imam agama Syi’ah yang ke-8, ia memiliki dua kuniyah (panggilan), yaitu Abul Hasan dan Abu Bakar.  Fakta ini diungkap oleh Abul Faraj Al Ashfahaany dalam kitab Maqaatilut Thalibiyyin 374.
Nama : UmarAnda pasti tahu bahwa tokoh sahabat yang paling terkenal dengan nama ini ialah Umar bin Al Khatthab, khalifah Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kedua.
1Umar Al Athraf bin Ali bin Abi ThalibFakta ini diungkapkan oleh Al Majlisy dalam kitab: Biharul Anwaar 42/91 & 93, dan Syeikh Ali An Nammaazy As Syaharudy dalam kitab: Mustadrak Safinatul Bihaar 7/386.
2Umar bin Al Hasan bin Ali Bin Abi ThalibFakta ini diungkapkan oleh Al Majlisy dlam kitabnya: Bihaarul Anwaar 49/221 & Abul Qasim Al Musawy Al Khu’i dalam kitabnya Mu’jam Rijalul Hadits 14/29
3Umar bin Musa Al Kazhim bin Ja’far As ShadiqFakta ini diungkapkan oleh AL Kulainy dalam kitabnya Al Kafy 6/330 & Al Musawy Al Khu’i dalam kitabnya Mu’jam Rijalul Hadits 14/64.
Nama : UtsmanSaya yakin andapun mengetahui bahwa figur yang paling terkenal pada abad pertama hijriyah dengan nama ini ialah Utsman bin Affan, khalifah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketiga.
1Utsman bin Ali bin Abi ThalibFakta ini diungkap oleh Syeikh Al Mufid pada kitabnya Al Irsyad 2/109, Abul Faral Asl Ashfahany 57, & Al Musawy Al Khu’i dalam kitabnya Mu’jam Rijalul Hadits 12/127.
2Utsman bin Ali bin Al Husain bin Ali bin Abi ThalibFakta ini diungkap oleh AL Hur Al ‘Amily dalam kitabnya Wasaailus Syi’ah 10/267 & 14/342.
Nama : ‘AisyahSemua kita mengetahui bahwa, figur yang paling terkenal dengan nama ini ialah ‘Aisyah bin tu Abu Bakar As Shiddiq.
1‘Aisyah bin Musa Al Kazhim bin Ja’far As ShaadiqFakta ini diungkapkan oleh As Syeikh Al Mufid dalam kitabnya Al Irsyad, 2/244.
2‘Aisyah bin Ali Ar Ridha bin Musa Al KazhimFakta ini diungkapkan oleh As Syeikh Mufid dalamkitabnya Al Irsyad 2/312. Perlu diingat, bahwa Ali Ar Ridha bin Musa Al Kazhim ini dikarunia Allah lima putra, dan hanya dikarunia satu putri. Subhanallah, begitu istimewanya nama ‘Aisyah di mata Ali Ar Ridha, sehingga ia menjadi nama pilihan yang ia berikan kepada satu-satunya putrinya.

Apa yang saya bawakan di atas, hanyalah sekulumit dari nama-nama anak keturunan para imam agama Syi’ah yang menggunakan nama-nama para sahabat. Andai kita hendak mendata lebih lanjut nama-nama yang sama dengan selain ketiga sahabat di atas, niscaya kita akan mendapatkan data yang sangat banyak.

Fakta ini membuktikan akan adanya kecintaan antara mereka, tidak seperti yang diwacanakan oleh agama Syi’ah bahwa antara Ali bi Abi Thalib dan anak cucunya terjadi permusuhan dengan sahabat-sahabat lainnya .

2. Hubungan Pernikahan Antara Mereka.

Pada poin di atas, saya telah menyebutkan penggunaan nama-nama sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam oleh para imam agama Syi’ah untuk menamai buah hati mereka. Pada poin ini, saya akan menyebutkan beberapa contoh pernikahan antara mereka. Suatu fenomena yang semakin menguatkan kesimpulan saya bahwa antar para imam dan sahabat Nabi lainnya terjalin hubungan kasih sayang, dan bukan permusuhan.

1. Pernikahan antara Ahlul Bait dengan keluarga Abu Bakar As Shiddiq.

A. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammenikahi ‘Aisyah bintu Abi Bakar Radhiallahu ‘Anhu.

Pernikahan ini tidak ada satu orangpun, baik dari kalangan Syi’ah ataupun Ahlis Sunnah yang mengingkarinya. Walau demikian, sedikit sekali tokoh agama Syi’ah, baik yang hidup pada zaman dahulu atau sekarang yang sudi untuk mengucapkan doa “semoga Allah meridhoinya” (radhiallahu ‘anha) . Yang tejadi malah sebaliknya, banyak sekali dari mereka yang dengan terus terus mengutuknya dan menuduhnya telah berzina.

B. Al Hasan bin Ali Bin Abi Thalib.

Muhammad Baqir Al Majlisi, wafat thn 1111 H, menyebutkan  bahwa A Hasan bin Ali bin Abi Thalib, yang oleh agama Syi’ah dinobatkan sebagai imam mereka yang ke-2, telah menikahi Hafshah binti Abdurrahman bin Abi Bakar As Shiddiq.([1])

Fakta ini menunjukkan bahwa antara Abu Bakar As Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib, dan juga anak keturunannya tidak saling bermusuhan. Bahkan antara mereka terjaling hubungan yang sangat harmonis dan persaudaraan yang sangat erat.

C. Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin Al Husain.

Imam ke-5 agama Syi’ah ini menikahi Ummu Farwah binti Al Qaasim bin Muhammad bin Abi Bakar As Shiddiq. Pernikahan ini diungkapkan oleh As Syeikh Al Mufid dalam kitabnya Al Irsyad 2/176, juga oleh Al Kulainy dalam kitabnya Al Kaafi 1/472, Abul Faraj Al Ashfahaany dalam kitabnya Maqaatilut Taalibiyyin 109 & Al Majlisy dalam kitabnya Bihaarul Anwaar 47/5.

Dari pernikahan ini, Muhammad Al Baqir dikaruniai putra yang kemudian diberi nama Ja’far As Shaadiq, yang oleh agama Syi’ah dinobatkan sebagai imam mereka yang ke-6.

Pada suatu hari, Ja’far As Shaadiq berbangga-bangga dengan silsilah nasabnya dengan berkata:

وَلَدَنِي أَبُو بَكَر مَرَّتَينِ

“Aku telah dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali”.([2])

Maksud ucapan Ja’far As Shadiq ini – Abul Qasim Al Musawi Al Khu’i- adalah: Ibu kandung Ja’far As Shaadiq adalah Ummu Farwah binti Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar, sedangkan ibu kandung Ummu Farwah adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abi Bakar As Shiddiq.

Menurut hemat anda, mungkinkah seorang imam agama Syi’ah berbangga-bangga dengan nasabnya yang tersambung dengan Khalifah Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Abu Bakar As Shiddiq, bila antara imam-imam agama Syi’ah dan para khulafa’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga sahabat lainnya terjadi permusuhan?

Perlu diketahui bahwa Ali Zainal Abidin dan Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar adalah saudara sepupu, yang demikian itu dikarenakan Ibu mereka berdua adalah dua bersaudara, yaitu kedua putri raja Persia yang bernama Yazdajird bin bin Syahriyar bin Kisra.([3])

Yang lebih unik lagi adalah perihal Asma’ bintu ‘Umais radhiallahu ‘anha, ia adalah istri Ja’far bin Abi Thalib  Radhiallahu ‘Anhu saudara kandung Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Sepeninggal Ja’far Radhiallahu ‘Anhu, ia dinikahi oleh Abu Bakar As Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, dan dari pernikahan ini terlahirlah Muhammad bin Abi Bakar. Lalu sepeninggal Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu , Asma’ bintu Umais radhiallahu ‘anha dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, sehingga Muhammad bin Abu Bakarpun diasuh oleh ayah tirinya, yaitu Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya dari pernikahan ini mereka berdua (Ali & Asma’) dikaruniai dua orang putra yang diberi nama Yahya dan ‘Aun.([4])

Saudaraku! Apa perasaan anda setelah mengetahui fakta yang membuktikan akan adanya saling santun menyantuni antara keluarga Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dan keluarga Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Mungkinkah anda masih bisa menolerir anggapan agama Syi’ah bahwa Abu Bakar As Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu telah merebut kekuasaan dari tangan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, sehingga terperciklah api permusuhan yang tak kunjung padam antara mereka dan keturunannya hingga hari qiyamat?

Pernikahan antara Ahlul Bait dengan Keluarga Umar bin Al Khatthab.

A. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahi Hafshah binti Umar bin Al Khatthab.

Pernikahan ini diakui oleh setiap orang muslim, tanpa terkecuali agama Syi’ah. Walau demikian adanya, sangat jarang ada tokoh agama Syi’ah yang mengucapkan doa memohonkan keridhaan Allah (radhiallahu ‘anha) untuknya. Yang terjadi malah sebaliknya, yaitu kutukan, celaan serta tuduhan, sebagaimana telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya.

B. Al Hasan Al Afthas bin Ali bin Ali Zaenal Abidin bin Al Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Putra imam agama Syi’ah ke-5 ini menikahi putri Khalib bin Abu Bakar bin Abdullah bin Umar bin Al Khatthab. Fakta pernikahan ini diungkapkan oleh Ibnu ‘Ambah, dalam kitabnya ‘Umdathut Thaalib hal 344.

C. Ummu Kultsum bintu Ali bin Abi Thalib.

Rasa hormat dan cinta kepada sahabat Umar bin Al Khatthab benar-benar telah tertanam pada jiwa Ali bin Abi Thalib, demikian juga sebaliknya. Ini adalah fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri. Sebagai salah satu bentuk nyata kecintaan ini, sahabat Umar bin Al Khattab melamar Ummu Kultsum untuk dijadikan sebagai istrinya. Dan karena merasa mendapat kehormatan yang sangat besar, maka sahabat Ali bin Abi Thalib pun menerima lamaran ini. Sejak saat itulah antara dua keluarga besar ini terjalin hubungan perbesanan. Dan dari pernikahan ini Umar bin Al Khatthab dikaruniai seorang putra yang selanjutnya diberi nama: Zaid.

Fakta pernikahan ini sangat terkenal diantara para ahli sejarah, sehingga tidak ada yang dapat dapat memungkirinya, termasuk para tokoh-tokoh agama Syi’ah.

Oleh karena itu tokoh-tokoh agama Syi’ah berusaha menempuh jalur lain untuk mengingkari hubungan kasih sayang dan persaudaraan antara dua keluarga ini.

Saudaraku! Kira-kira menurut anda, apa tanggapan agama Syi’ah tentang pernikahan Umar bin Al Khatthab dengan Ummu Kultsum bin tu Ali bin Abi Thalib ini?

Untuk mengetahui komentar tokoh-tokoh agama Syi’ah, simaklah riwayat yang mereka bawakan dari imam mereka ke-6 mereka Abu Abdillah Ja’far As Shaadiq. Ja’far As Shaadiq mengomentari pernikahan tersebut dengan berkata:

إِنَّ ذَلِكَ فَرْجٌ غُصِبْنَاهُ

“Sesungguhnya pernikahan itu adalah kemaluan yang telah dirampas dari kami.”([5])

Demikianlah penafsiran tokoh-tokoh Syi’ah tentang pernikahan ini.

Saudaraku! Apa perasaan anda setelah membaca riwayat ini? Menurut hemat anda, manusia model apa Ali bin Abi Tholib, sehingga merelakan putrinya dinikahi oleh lelaki yang tidak dia inginkan? Menurut anda, sebesar apa kira-kira nyali dan kejantanan sahabat Ali bin Abi Thalib, sehingga tidak kuasa membela kehormatan putrinya?

Pada kisah ini berdasarkan riwayat agama Syi’ah ini, sahabat Ali tidak bernyali untuk membela kehormatan putrinya. Pada bab sebelumnya, Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya tidak bernyali untuk memperjuangkan Kitab Suci yang ia yakini.

Demikianlah persepsi tokoh-tokoh agama Syi’ah tentang imam-imam mereka. Subhanallah! Maksud hati agama Syi’ah ingin membela, akan tetapi yang terjadi malah penghinaan.

2. Pernikahan antara Ahlul Bait dengan marga Bani Umayyah.

A. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahi Ummu Habibah Ramlah bintu Abu Sufyan Al Umawy.

Pernikahan ini juga diakui oleh setiap orang muslim, tanpa terkecuali agama Syi’ah.

B. Ummu Kultsum & Ruqayyah binti Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedua putri Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini dinikahi oleh Utsman bin Affan Al Umawi. Pernikahan inipun tidak dapat dipungkiri oleh siapapun, termasuk tokoh-tokoh agama Syi’ah. Akan tetapi coba simak komentar tooh agama Syi’ah tentang pernikahan kedua putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini dengan sahabat beliau Utsman bin Affan.

Syeikh Mufid wafat tahun 413 H mengomentari pernikahan ini dengan berkata:

إنما زوجه النبي صلى الله عليه وآله على ظاهر الإسلام، ثم إنه تغير بعد ذلك، ولم يكن على النبي صلى الله عليه وآله تبعة فيما يحدث في العاقبة، هذا على قول بعض أصحابنا.
وعلى قول فريق آخر : إنه زوجه على الظاهر، وكان باطنه مستورا عنه، وليس بمنكر أن يستر الله عن نبيه نفاق كثير من المنافقين….ويمكن أن يكون الله تعالى قد أباحه مناكحة من ظاهره الإسلام وإن علم من باطنه النفاق، وخصه بذلك.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi menikahkannya karena secara lahir ia adalah seorang muslim, lalu dikemudian hari ia berubah, dan nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi tidak bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi dikemudian hari. Ini adalah tanggapan sebagian ulama’ kita.

Dan menurut pendapat lainnya: Ia menikahkannya berdasarkan keadaannya yang nampak secara lahir, sedangkan batinnya tidak diketahui oleh Nabi. Dan bukan hal yang aneh bila Allah tidak memberitahu Nabi-Nya tentang kemunafikan banyak dari orang-orang munafiq…. Dan mungkin saja, Allah Ta’ala membolehkan Nabi-Nya untuk menikahkan (putrinya) dengan lelaki yang secara lahir adalah seorang muslim, walaupun ia telah mengetahui bahwa sebenarnya secara batin lelaki itu adalah seorang munafiq, dan ini adalah kekhususan untuk beliau saja.”([6])

Demikianlah persepsi mufti agama Syi’ah pada abad ke 11 H tentang suami kedua putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sekaligus khalifah ketiga beliau Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu. Kira-kira, menurut perasaan anda, apakah opini mufti Syi’ah ini pada tempatnya? Bila anda seorang penganut agama Syi’ah, apa tanggapan anda terhadap persepsi mufti agama anda yang hidup pada abad ke 11 H ini?

Pembaca yang budiman! Mungkinkah nabi yang anda Imani selugu dan selengah ini, sehingga dengan mudah terperdaya oleh kamuflase seorang munafik?

Andai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar mudah terperdaya,seperti yang diopinikan oleh mufti Syi’ah di atas, maka mungkinkah anda akan tetap beriman kepadanya?

Saudaraku! menurut hemat saya, opini mufti Syi’ah tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini hanya ada dua penafsiran:

1-    Agama Syi’ah tidak beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga mereka berusaha merendahkan martabat beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan berbagai cara, dan menggambarkannya sebagai seorang yang pandir. Oleh karena itu dari hari ke hari, kita mendengar dan mendapatkan orang-orang kafir menghina dan melecehkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perbuatan mereka itu dikarenakan mereka tidak beriman kepada kerasulan beliau.

2-    Agama Syi’ah adalah perkumpulan orang-orang bodoh nan pandir, sehingga mengimani kenabian dan kerasulan seorang yang pandir semacam mereka. Oleh karena itu, dahulu Imam As Sya’by berkata tentang agama Syi’ah:

لَوْ كَانُوا دَوَاباً، لَكَانُوا حَمِيراً، وَلَوْ كَانُوا طَيْراً لَكَانُوا رُخْماً

“Andai mereka itu binatang ternak, niscaya mereka itu adalah keledai.”

C. Zaenab bintu Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ulama’ ahli sirah dan tarikh menyepakati bahwa Zaenab adalah putri tertua Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau menikahkan putrinya ini dengan salah seorang saudara sepupu Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu. Yang demikian itu dikarenakan mereka berdua bertemu pada kakek mereka yang bernama Abdus Syamsy.

Pernikahan ini demikian masyhurnya, sehingga tidak ada satu orangpun, baik dari kalangan Ahlissunnah ataupun Syi’ah.

D. Ramlah binti Ali bin Abi Thalib.

Salah satu putri Ali bin Abu Thalib ini dinikahi oleh salah seorang bangsawan dari Bani Umayyah, yang bernama: Mu’awiyyah bin Marwan Bin Al Hakam. Fakta pernikahan ini diungkapkan oleh Mus’ab Az Zubairy, dalam kitabnya yang berjudul Nasab Al Quraisy hal. 45.

Saudaraku, menurut anda, apa penafsiran dari perbesanan antara dua marga besar ini, yaitu marga Ali bin Abi Thalib dengan marga Bani Umayyah? Mungkinkah perbesanan ini merupakan implikasi dari keyakinan bahwa Bani Umayyah telah murtad, karena telah mengingkari keimamahan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu dan anak keturunanya? Ataukah  pernikahan ini sebagai salah satu wujud nyata dari kecintaan dan persahabatan yang erat?

E. Fatimah binti Al Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Merupakan barang dagangan agama Syia’ah yang paling laris guna menjajakan paham Syi’ah ialah masalah terbunuhnya Al Hasan bin Ali Bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Mereka senantiasa mengesankan bahwa, Al Husain dizhalimi oleh Bani Umayyah, hingga akhirnya merekapun membunuhnya.

Agama Syi’ah senantiasa mengesankan bahwa mereka adalah para pembela Al Husain dan para pahlawan yang memperjuangkan pembalasan baginya. Mereka membius umat Islam sehingga hanyut dalam duka terbunuhnya Al Husain di daaerah Karbala’, untuk selanjutnya menyebarkan opini adanya permusuhan antara Ahlul Bait dengan Bani Umayyah.

Akan tetapi, suatu hal yang sangat mengejutkan. Sejarah telah mencatat bahwa Al Husain bin Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya yang bernama Fatimah dengan Abdullah bin Amer bin Utsman bin Affan.

Fakta pernikahan ini diungkapkan oleh beberapa tokoh terkemuka agama Syi’ah, diantaranya: Abul Faraj Al Ashfahany wafat thn 356 H, dal;am kitabnya Maqatilut Thalibiyyin hal 122, As Syahid As Tsany wafat tahun 966 H dalam kitabnya Masalik Al Afhaam 7/409, Al Hilly, wafat tahun 726 H, dalam kitabnya Tazkiratul Fuqaha’ 2/604 & Muhammad Husain An Najafy, wafat thn 1266, dalam kitabnya: Jawahirul Kalaam 30/101.

Demikianlah fakta sejarah yang membuktikan kepada kita hakekat hubungan antara keluarga besar Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu dengan keluarga besar Bani Umayyah .

Bila anda adalah salah seorang penganut agama Syi’ah, apa perasaan anda setelah mengetahui fakta sejarah ini? Mungkinkah anda akan tetap beranggapan bahwa keluarga besar bani Umayyah adalah para perampas kekuasaan dari keluarga besar Ali bin Abi Thalib? Mungkinkah anda masih tetap mempercayai berbagai statement pemuka agama anda? Atau mungkinkah anda akan mulai meragukan berbagai doktrin yang selama ini mereka susupkan ke dalam akal sehat dan hati nurani anda?


[1] ) Biharul Anwar oleh Al Majlisy 44/173.

[2] ) Al Irsyad oleh As Syeikh AL Mufid 2/176, Maqatilut Taalibiyyin oleh Abul Faraj Al Ashfahaany 109 & Bihaarul Anwaar oleh  Al Majlisy 47/5.

[3] ) Al Irsyad  oleh As Syeikh Al Mufid 2/137 & Wafayaatul A’yan oleh Ibnu Khalikaan 3/267.

[4] ) Al Ishabah oleh Ibnu Hajar Al Asqalaany 7/489 & Al Irsyad  oleh As Syeikh Al Mufid 1/354.

[5] ) Al Kaafy oleh Al Kulainy 5/346, Bihaarul Anwar oleh Al Majlisy 42/106 & Wasaa’ilus Syi’ah oleh Al Hur Al ‘Aamily 20/561.

[6] ) Al Masaa’il As Sarawiyyah oleh As Syeikh Mufid 94