Buku

Bai’at Ali Radhiallahu ‘Anhu kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu

Mamduh Farhan Buhairi

Ali Radhiallahu ‘Anhu telah membai’at Utsman dan menetapkan kekhalifahannya, berbeda dengan apa yang disuarakan oleh anak cucu Majusi. Dalam salah satu khutbahnya Ali Radhiallahu ‘Anhu membantah Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu. Dia berkata: “Sesungguhnya “syura” adalah milik Muhajirin dan Anshar, jika mereka telah bersepakat memilih seseorang dan menyebutnya sebagai imam maka Allah meridhainya. Jika dia keluar dari perkara mereka, keluar dengan karena celaan atau bid’ah maka mereka mengembalikannya dari yang menyebabkan ia keluar. Jika dia menolak maka mereka memeranginya karena telah mengikuti langkah yang bukan langkahnya kaum mukminin, dan Allah menyerahkannya kepada arah yang ia kehendaki”.[1] (more…)

Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 23)

Awas! Taring Syi’ah Menancap Di Bumi Pertiwi.

Sebagian pengamat menyatakan bahwa paham syi’ah masuk ke negri Indonesia jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia. Bahkan kesultanan Pasai atau Samudra Pasai yang berdiri di sekitar kota Kota Lhokseumawe, atau Aceh Utara pada sekitar tahun 1267 M, ditengarai oleh sebagian pengamat berkulturkan Syi’ah. Bahkan salah seorang raja kesultanan ini pernah didampingi dua orang Persia terkenal, yaitu Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraj dan Taj Ad-Din dari Isfahan. ([1])

Bahkan sebagian lain, lebih jauh menengarai bahwa Syi’ah telah masuk ke Indonesia sejak abad ke- 9. Praduganya ini berdasarkan pada asumsi bahwa kerajaan Islam pertama yang berdiri di Nusantara, yaitu kerajaan Peureulak (Perlak) yang konon, didirikan pada 225H/845M telah menganut paham Syi’ah. Sebagaimana diketahui bahwa Kerajan ini didirikan oleh para pelaut-pedagang Muslim asal Persia, Arab dan Gujarat yang mula-mula datang untuk mengislamkan penduduk setempat. Belakangan mereka mengangkat seorang Sayyid Maulana Abdul ‘Aziz Syah, keturunan Arab-Quraisy, yang konon katanya menganut paham politik Syi’ah, sebagai sultan Perlak.([2]) (more…)

Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 22)

Impian Di Siang Bolong: Menyandingkan Sunnah & Syi’ah.

Persatuan umat Islam di atas kebenaran, yang dilandasi oleh pengamalan syari’at Islam dengan utuh dan benar adalah harapan setiap muslim. Bukan sekedar harapan belaka, akan tetapi mempersatukan umat adalah tanggung jawab dan perintah Allah Ta’ala. Dan sudah barang tentu, berjuang untuk mewujudkan cita-cita luhur ini di dunia nyata adalah amal ibadah yang sangat agung.

Terlalu banyak dalil, baik dari Al Qur’an ataupun As Sunnah yang menjelaskan akan hal ini. Diantaranya dalil-dalil itu ialah firman Allah Ta’ala berikut:

[وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ[ الأنفال 46

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berselesih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Al Anfal 46. (more…)

Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 21)

Rekam Jejak Kelam Penganut Sekte Syi’ah.

Sejarah setiap umat dan bangsa begitu berharga bagi generasi penerusnya. Suatu bangsa dan umat yang melalaikan sejarah pendahulunya ialah umat yang lemah dan telah kehilangan jati dirinya.

Tidak heran bila dalam Al Qur’an Al Karim dan Asunnah kita mendapatkan banyak anjuran agar kita mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang terdahulu. Dengan demikian, kita dapat menghindari berbagai jalan yang telah menghantarkan mereka kepada kehancuran:

[قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذَّبِينَ [ آل عمران 137

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”. Ali Imran 137 (more…)

Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 6)

(189 PERTANYAAN YANG DAPAT MENUNTUN MEREKA KEPADA AGAMA NABI SAW DAN AHLUL BAIT)

OLEH

Sulaiman ibn Shalih al-Kharasyi

diterjemah dan disajikan

oleh Abu Hamzah al-Sanuwi

 

Kita telah mendapatkan banyak di antara para pembesar sahabat yang menjalin hubungan pernikahan dengan keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menikah dengan mereka, begitu pula sebaliknya, terutama dua orang syaikh dari mereka (Abu Bakar dan Umar), sebagaimana hal itu disepakati oleh para ahli sejarah dan perawi hadits, baik dari kalangan sunni atau kelompok Syi’ah. (more…)

Go to Top