Posts tagged Artikel

Keluarga Rasulullah


* Majalah Qiblati Edisi Khusus Haji dan Majalah Qiblati Edisi 3 Volume 4

Nikah Mut’ah (bag.2)

oleh :

Abu Sholeh SP.

C.3. Pemahaman yang Benar terhadap Hadits

Hadits sahabat Jabir di atas oleh para Ulama telah dijelaskan bahwa hadits tersebut bukanlah dalil tentang bolehnya nikah mut’ah. Hal ini karena hadits tersebut telah dihapus dengan dalil-dalil lain yang lebih shahih dan sharih dalam masalah ini. Syubhat tersebut sebenarnya juga berasal dari Syi’ah yang berusaha mencari pembenaran aqidah mereka dari dalil-dalil Ahli Sunnah. Al-‘Alamah Dr. Musa al-Musawi menjelaskan masalah ini sebagai berikut.

Para ahli fiqh Syi’ah –semoga Allah memaafkan mereka- berkata: sesungguhnya mut’ah adalah boleh pada masa Rasulullah yang mulia -Shalallahu alaihi wa salam- dan pada masa Khalifah Abu Bakar dan pada setengah masa Khalifah Umar bin Khathab sampai Umar melarangnya dan memerintahkan kaum muslimin berhenti dari padanya, dan mereka mengambil dalil atas hal ini dengan berbagai riwayat yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syi’ah dan sebagian kitab-kitab Sunnah.

Adapaun firqah-firqah Islam yang lain maka mereka mengatakan bahwasanya mut’ah adalah adat jahiliyyah yang dilakukan manusia pada tahun-tahun awal kerasulan sampai Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- memerintahkan tentang keharamannya pada perang Khaibar atau Haji Wada’, keadannya seperti keadaan khamr yang diharamkan beberapa tahun setelah diutusnya Nabi yang mulia dan telah turun tentangnya ayat-ayat pengharaman.[1]

(more…)

Nikah Mut’ah

BENARKAH:

NIKAH MUT’AH BOLEH PADA MASA RASULULLAH -Shalallahu alaihi wa salam- HIDUP KEMUDIAN DIHARAMKAN UMAR -Radiallahu anhu-?[1]

A. PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluq yang dianugerahi nafsu dan selalu berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan nafsu tersebut. Banyak diantara mereka yang berhasil mengendalikan nafsunya dan berusaha memenuhi kebutuhannya hanya dengan perkara-perkara yang telah dihalalkan oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala-, akan tetapi banyak pula yang justru dikendalikan nafsu sehingga nafsu menjadi sesembahannya. Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman yang artinya :

43. Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. Al-Furqan).

Kebutuhan nafsu yang terpenting dan harus dipenuhi manusia adalah kebutuhan biologis (hubungan sexual). Allah -Subhanahu wa ta’ala- sebagai pencipta dan yang Maha Mengetahui tentang ciptaannya telah menyiapkan sarana pemenuhan kebutuhan tersebut secara halal yaitu dengan pernikahan atau budak wanita yang dimiliki. Akan tetapi banyak diantara manusia yang justru lebih memilih jalan lain yang keji dan telah diharamkan oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala-, yaitu dengan berzina atau homoseksual (liwath). Bahkan mereka menghias-hiasi perbuatan keji tersebut dengan berbagai syubhat agar terlihat manis dan indah. Perbuatan keji yang sejak masa awal Islam telah diperjuangkan oleh para penyembah nafsu adalah zina yang berkedok nikah (nikah mut’ah) atau yang lazim disebut sebagai kawin kontrak.

Nikah mut’ah menjadi sebuah keyakinan beragama yang harus dilakukan oleh orang-orang syi’ah. Ajaran ini sangat menggiurkan bagi para muda-mudi terutama mahasiswa dan mahasiswi untuk melampiaskan hasrat nafsunya[2]. Orang-orang bodoh selain Syi’ah juga banyak melakukan perbuatan ini karena besarnya nafsu mereka kemudian tertipu dengan indahnya syari’at buatan syi’ah ini. Apalagi jika yang melakukannya adalah orang-orang Arab yang berkunjung ke Indonesia pada musim liburan ditambah dengan kemiskinan yang dialami sebagian besar masyarakat menjadikan mereka semakin bersemangat ketika ditawari menikah dengan orang Arab yang secara ekonomi lebih mampu dari mereka.[3] Hal ini pernah diliput oleh sebuah reality show di salah satu televisi swasta yang secara khusus membahas maraknya pernikahan model mut’ah ini oleh orang-orang Arab di Indonesia. Selain itu, masih banyak kalangan umat Islam yang terpengaruh syubhat bahwa nikah mut’ah dibolehkan pada masa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- dan baru diharamkan oleh khalifah Umar bin Khathab -Radiallahu anhu- melalui ijtihadnya. Makalah ini membahas dalil yang menjadi sumber syubhat tersebut di atas beserta pemahaman yang benar terhadap dalil tersebut.

B. PENGERTIAN NIKAH MUT’AH

Nikah secara bahasa artinya berkumpul atau bercampur, sedangkan menurut syari’at secara hakekat adalah akad (nikah) dan secara majaz adalah al-wath’u (hubungan seksual) menurut pendapat yang shahih[4], karena tidak diketahui sesuatupun tentang penyebutan kata nikah dalam kitab Allah -Subhanahu wa ta’ala- kecuali untuk makna at-tazwiij (perkawinan).[5]

Kata mut’ah dan derivasinya disebutkan sebanyak 71 kali dalam Al-Qur’an, dalam surat yang berbeda-beda, walaupun maknanya bermacam-macam tetapi kembali kepada satu pokok seputar pengambilan manfaat atau keuntungan.[6] Menurut istilah, nikah mut’ah adalah seseorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan sesuatu dari harta untuk jangka waktu tertentu, pernikahan ini berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut tanpa adanya perceraian, juga tidak ada kewajiban nafkah dan tempat tinggal serta tidak ada waris-mewarisi diantara keduanya apabila salah satunya meninggal sebelum berakhirnya masa pernikahan.[7] Pernikahan ini juga tidak mensyaratkan adanya saksi, tidak disyaratkan adanya ijin dari bapak atau wali, dan status wanitanya sama dengan wanita sewaan atau budak.[8]

C. DALIL SUMBER SYUBHAT DAN PEMAHAMAN YANG BENAR

Syubhat berikut ini adalah syubhat yang banyak beredar di kalangan Ahli Sunnah yaitu syubhat bahwa nikah mut’ah diperbolehkan pada masa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- dan baru diharamkan melalui ijtihad sahabat Umar bin Khathab -Radiallahu anhu- ketika beliau menjadi khalifah. Dalil yang mereka gunakan adalah hadits Jabir bin Abdillah -Radiallahu anhu- berikut.

قال مسلم[9]: حَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى أَبُو الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ كُنَّا نَسْتَمْتِعُ بِالْقُبْضَةِ مِنَ التَّمْرِ وَالدَّقِيقِ الأَيَّامَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ حَتَّى نَهَى عَنْهُ عُمَرُ فِى شَأْنِ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ.

Imam Muslim berkata: telah berkata kepadaku Muhammad bin Rafi’, berkata kepada kami ‘Abdurrazzaq, mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, mengabarkan kepadaku Abu Zubair, dia berkata: saya mendengar Jabir bin Abdillah berkata: “Kami dahulu nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- juga Abu Bakar sampai Umar melarangnya pada perkara ‘Amr bin Huraits”.

C.1. Takhrij Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim[10] dalam shahihnya pada kitab 16. An-Nikah Bab 3. Nikah Mut’ah…, ‘Adurrazaq dalam mushnafnya dari jalan Abu Zubair[11], Abu ‘Uwanah dalam mustakhrajnya dari jalan Ad-Dabari dari ‘Abdurrazzaq[12], dan Al-Baihaqi dalam sunannya dari jalan Abu Abdillah dari Abul Walid dari Ibrahim bin Abi Thalib dari Muhammad bin Rafi’[13].

C.2 Syubhat Hadits

Hadits shahih di atas bagi sebagian orang merupakan dalil yang kuat untuk mengatakan bahwa nikah mut’ah pada masa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- diperbolehkan, demikian juga pada masa Abu Bakar -Radiallahu anhu-. Nikah mut’ah baru dilarang oleh Khalifah Umar -Radiallahu anhu- melalui ijtihadnya. Dalil lain yang mendukung syubhat ini adalah riwayat berikut.

أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه خرج ليلة يحرس الناس فمر بامرأة وهي في بيتها وهي تقول :

( تطاول هذا الليل واسود جانبه وطال علي ألا خليل ألاعبه )

( فوالله لولا خشية الله وحده لحرك من هذا السرير جوانبه )

فلمل أصبح عمر أرسل إلى المرأة فسأل عنها فقيل : هذه فلانة بنت فلان وزوجها غاز في سبيل الله فأرسل إليها امرأة فقال : كوني معها حتى يأتي زوجها وكتب إلى زوجها فأقفله ثم ذهب إلى حفصة بنته فقال لها يا بنية ! كم تصبر المرأة عن زوجها ؟ فقالت له : يا أبه ! يغفر الله لك أمثلك يسأل مثلي عن هذا ؟ فقال لها : إنه لولا أنه شيء أريد أن أنظر فيه للرعية ما سألتك عن هذا قالت : أربعة أشهر أو خمسة أشهر أو ستة أشهر فقال عمر : يغزو الناس يسيرون شهرا ذاهبين ويكونون في غزوهم أربعة أشهر ويقفلون شهرا فوقت ذلك للناس من سنتهم في غزوهم

“Bahwasanya Umar bin Khathab -Radiallahu anhu- keluar pada suatu malam menjaga (sidak) manusia, maka dia melewati seorang wanita di dalam rumahnya berkata:

‘Malam ini begitu lama, sisi-sisinya begitu hitam, menjadi semakin lama pula atasku, tanpa ada kekasih yang bercumbu dengannya. Demi Allah, seandainya bukan karena rasa takut terhadap Allah semata, pastilah sisi-sisi tempat tidur ini sudah bergerak-gerak’. Maka ketika pagi Umar mengirim utusan kepada wanita tersebut dan bertanya tentangnya, maka dikatakan: ini adalah Fulanah binti Fulan, suami berperang dijalan Allah, maka Umar mengirim seorang wanita kepanya dengan berkata: ‘tinggallah kamu bersamanya sampai suaminya datang’, dan Umar menulis kepada suaminya lalu pulang kemudian pergi kepada Hafshah putrinya dan berkata kepadanya: ‘wahai putriku! Berapa lama seorang wanita sabar ditinggal suaminya?’ Maka dia menjawab: ‘Wahai ayahanda! Semoga Allah mengampuni Anda, orang seperti Anda bertanya kepada orang sepertiku tentang masalah ini?’ Umar Menjwab: ‘seandainya bukan karena aku ingin melihat urusan kaum muslimin, aku tidak akan bertanya kepadamu’. Dia menjawab: ’empat bulan atau lima bulan atau enam bulan’. Maka Umar berkata: ‘Manusia akan berperang (maksimal) selama satu bulan perjalanan berangkat, dalam medan perang selama empat bulan dan pulang selama satu bulan, dan ini adalah waktu yang menjadi ketetapan manusia dalam berperang’”[14]

Riwayat tersebut di atas dipahami oleh sebagian orang bahwa Khalifah Umar pada awalnya mengirimkan pasukan perang dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan kebutuhan biologis mereka dapat dipenuhi dengan melakukan nikah mut’ah selama dalam masa tugas tersebut. Ketika Khalifah Umar mendengar keluhan seorang wanita yang ditinggal suaminya berjihad, akhirnya ia mengubah kebijakannya dengan membatasi masa tugas prajurit dan mengharamkan nikah mut’ah

Bersambung ke Bagian 2


[1] Makalah ini disampaikan untuk presentasi mata kuliah Studi Hadis oleh Harno Purwanto pada Jurusan Magister Pemikiran Islam UMS-DDII.

[2] Andita dan Dwi Nugroho, Kawinilah Aku, Kau Kukontrak (Media Indonesia: 5 Oktober 1997) dalam Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Mengapa Kita Menolak Syi’ah (Jakarta: LPPI. Cet V. 2002) hlm. 259-260
[3] Internet, Media Arab Bahas Maraknya Nikah Mut’ah di Indonesia (http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9132:media-arab-bahas-maraknya-nikah-mutah-di-indonesia&catid=1:nasional&Itemid=54). Masalah ini juga sudah ditulis secara berseri pada berita utama (halaman muka) harian Jawa Pos selama 3 hari beruntun tanggal 11-13 Mei 2009 oleh Agung Putu Iskandar, Pergi ke Puncak ketika Musim Turis Timur Tengah Tiba (1-3). (http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=68557)
[4] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari (Maktabah Syamilah) j. 14, hlm. 288

[5] Muhammad bin Mukarram al-Mishri, Lisanul ‘Arab (Beirut: Dar Shadir, cet I, TT) j. 2, hlm. 625

[6] Yusuf Jabir al-Muhammady, Tahrimul Mut’ah fil Kitabi was Sunnah (http://www.ansar.org/books/Motaa.zip) hlm. 5

[7] Sulaiman bin Shalih al-Khurrasyi, al-Farqu baina: Zawajil Musayyar wa Zawajil Mut’ah waz Zawajil ‘urfi (http://www.saaid.net/Warathah/Alkharashy/m/74.htm)

[8] Mamduh Farhan al-Buhairi, asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim (Indonesia: Dar al-Faruq lin Nasyr wat Tauzi’, cet I, 1422 H) hlm. 208

[9] Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim, (Indonesia: Maktabah Dahlan, TT), j. 2 hlm. 1022, hadits no 16 (1405) dan Maktabah Syamilah j. 9 hlm. 102 hadits no 3482

[10] Penentuan hukum hadits ini mengikuti metode tesis hadits Universitas Yordania tahun 1996 M yang ditulis ‘Ali bin Ibrahim bin Su’ud ‘Ajin, Mukhalafatul Kuffar fis Sunnah an-Nabawiyyah (Aman: Darul Ma’ali, 1419 H), hlm. 9, dia berkata: “Apabila hadits tersebut berasal dari Ash-Shahihain atau dari salah satunya maka saya tidak menghukumi atasnya karena peneriamaan umat pada keduanya dengan sebenar-benar penerimaan .”

[11] ‘Adurrazzaq ash-Shan’ani, Mushnaf ‘Abdirrazzaq (Maktabah Syamilah), j. 7, hlm. 500 no. 14028

[12] Abu ‘Uwanah, Mustakhraj Abi ‘Uwanah (Maktabah Syamilah), j. 8, hlm. 372, no. 3331

[13] Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin ‘Ali al-Baihaqi, Sunan Al-Baihaqi (Maktabah Syamilah), j. 2, hlmn. 253, no. 14758.

[14] Sa’id bin Manshur, Sunan Sa’id bin Manshur (Maktabah Syamilah), j. 2, hlm. 174, no. 2463, lihat juga Abdurrazaq, Mushnaf Abdirrazaq (Maktabah Syamilah), j. 7, hlm. 152, no. 12594 dan Majalah Qiblati Ed 02 tahun IV/ November 2008, hlm. 56-57

Beberapa Rujukan-rujukan Agama Syi’ah

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

M. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

Beberapa Rujukan-rujukan Agama Syi’ah

Pertama:

AL-KAFI, dikarang oleh ALKULAINI, kitab ini terdiri dari tiga bagian dalam 8 juz: AL-USHUL, AL-FURU’ AL-RAWDHAH, terisi dengan 16199 Hadits.

Berkata Ulama mereka Agha Bazrak Attahrani memujinya: Dia (AL-KAFI) adalah yang paling mulia di antara keempat kitab, Ushul yang menjadi sandaran, tidak pernah ditulis riwayat-riwayat manqul dari keluarga Rasul seperti (AL-KAFI) itu, oleh kepercayaan Islam Muhammad bin Yaqub Alkulaini Arrazi, Wafat tahun 328 Hijriyyah. (Kitab Adzdzari’ah fi thashanif Assyiah 17 hlm. 245).

Berkata Annisaburi memujinya: KEPERCAYAAN ISLAM, TOKOH ULAMA-ULAMA, BULAN PURNAMA, PENGHIMPUN SUNAN DAN ATSAR, yang dihadiri oleh DUTA-DUTA AL-QAIM (Imam mereka yang ghaib), yaitu: Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Alkulaini Arrazi, telah diceritakan bahwa kitabnya dipertunjukkan kepada AL-QAIM (imam mereka yang ghaib), yang dijawab olehnya: CUKUP, ITU UNTUK SYI’AH KAMI”. (Rawdlatul Jannat 2 hlm. 116).

Berkata Husin bin Abubakar Alhabsyi Bangil, memujinya: AL-KAFI, oleh ALKULAINI, Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub Alkulaini (329), YANG PALING AGUNG, PALING BENAR DAN PALING BAGUS, isi matannya 16190 Hadits, dihimpun oleh ALKULAINI dalam masa 20 tahun. (Surat tulisan tangan dibubuhi tanda tangannya).

Kedua:

MAN LA YAHDHURUHUL-FAQIH dikarang oleh tokoh mereka ABI JA’FAR ASSADUQ, MUHAMMAD BIN ALI BIN ALHUSIN BIN MUSA BIN BABAWAIH ALQUMMI, meninggal tahun 381 H, terdiri dari 6593 Hadits; berkata Muhammad Shodiq Asshadr memujinya: Ini adalah sumber kedua bagi Assyi’ah, dan berkata: Tokoh kami ASSADUQ telah mencapai satu kedudukan yang mulia di zamannya yang tidak pernah dicapai oleh orang lain, dan merupakan orang yang pertama mendapat gelar ASSADUQ (yang benar) dimana gelar itu khusus baginya, dimana dengan gelar itu langsung orang mengenalnya, gelar itu didapat karena KEPASTIANNYA dalam meriwayatkan, serta KEKUATAN HAFALANNYA, dan KETELITIANNYA. (Assyi’ah hlm. 124).

Ketiga:

ATTAHDZIB, oleh tokoh Ulama Syi’ah, ABI JA’FAR MUHAMMAD BIN ALHASAN BIN ALI ATTHUSI, meninggal tahun 460 H, kitab ini merupakan ketiga bagi Agama Syi’ah mencakup 1590 Hadits.

Telah disebutkan tentang kitab ini: IA MERUPAKAN BEKAL BAGI SEORANG FAQIH TENTANG APA YANG DIMINTA DARI RIWAYAT-RIWAYAT HUKUM PADA UMUMNYA YANG TIDAK DAPAT DIPENUHI OLEH SELAINNYA. (Assyi’ah hlm. 125-126).

Keempat:

AL-ISTIBSHAR, oleh tokoh Ulama Syi’ah Abi Ja’far Atthusi juga yang digelar dengan SYAIKHUTTAIFAH (Tokoh Ulama Syi’ah), buku ini terdiri dari 6531 Hadits.

Inilah keempat kitab mereka dalam Hadits yang mereka anggap SHAHIH (benar), yang mereka percaya, dan mengakui KEAGUNGANNYA, KEBENARANNYA, DAN KEBAGUSANNYA yang mereka puji buku-buku itu maupun pengarangnya dengan sanjungan dan pujian setinggi langit.

(more…)

Komentar Manis (bag.2)

KOMENTAR MANIS

bagian 2

Pada komentar manis pertama telah kita tanggapi penilaian bapak Muhammad Anis tentang kasarnya bahasa syaikh Mamduh. Maka kini kita lanjutkan dengan poin kedua:

Di kata Pengantar itu bapak Abdullah Anis berkata: “Saya sama sekali tidak bermaksud memperlebar pertentangan, melainkan hanya berusaha memberikan argumentasi dalam wacana diskusi ilmiah, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya.”

Maka saya katakan: Dengan tulus ikhlas karena Allah, saya nasihatkan kepada bapak Muhammad Anis, janganlah bapak menggunakan nikmat Allah yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada bapak untuk membela orang-orang yang sudah jelas memusuhi Allah, menyakiti rasul-Nya, melaknat istri-istrinya yang suci, mengkhianati ahlul baitnya yang mulia, dan mengkafirkan para sahabatnya yang setia. Jika bapak tujuannya ingin masuk surga maka bapak telah salah arah dan salah lagkah. Kembalilah sebelum terlambat dan jauh tersesat jalan. Allah berfirman:

!إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (١٠٥)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (An-Nisa`: 105)

وَلا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا (١٠٧)

“dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,” (Al-Nisa`: 107)

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلا (١٠٩)

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah).” ? (Al-Nisa`: 109)

*****

1. SYIAH

Pada bab ini bapak Muhammad Anis menulis ingin mendudukkan istilah syiah, bahwa Syiah adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam” selain itu tidak sah disebut syiah. Untuk itu dia kemudian mengemukakan beberapa bukti. Poin yang perlu saya tanggapi adalah ucapannya sebagai berikut (Pembagian kepada poin a, b, c dst adalah dari saya):

a. ((Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro’ 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul -Shalallahu alaihi wasalam- berkata :

Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku“. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saw berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Hadits tersebut juga banyak diriwayatkan dalam kitab ahlusunnah, seperti :1. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319; 2. Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62; 3. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15; 4. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”; dan lain-lain.))

KOMENTAR MANIS:

Pertama: Jika yang dimaksud oleh bapak Muhammad Anis dengan ucapannya “Kitab ahlus sunnah” dan “dan lain-lain” adalah kitab ulama ahli hadits dalam kitab-kitab yang menjadi hujjah seperti Bukhari, Muslim dan sejenisnya dan mereka mengatakan ini hadits shahih maka ini adalah dusta dan tidak pernah ada. Jika yang dimaksud adalah kitab yang dia sebut tadi kemudian kitab sebangsa al-Fadhail milik Abu Nuaim, juga kitab tulisan al-Maghazili, Khathib Khawarizm, atau kitab-kitab fadhail, atau kitab tarikh maka sekedar adanya riwayat itu di sana bukanlah hujjah menurut kesepakatan ahli ilmu., Ini dalam masalah furu’ lalu bagaimana kalau dalam masalah imamah seperti ini?

Kedua: Hadits ini maudhu’ alias dipalsukan oleh orang menurut kesepakatan ahli ilmu tentang hadits. Hal ini dikatakan oleh Ibn Hazam, Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at, Ibn Taimiyah (dalam Minhajus sunnah jilid 7/353), al-Albani dalam silsilah al-Dhaifah, dll. Lihat misalnya al-Fawaid al-Majmu’ah karya al-Syaukani hal 346; Tanzih al-Syari’ah 1/363.

Sesungguhnya hadits seperti itu dimuat dalam kitab-kitab yang menghimpun semua berita, yang telah diketahui oleh para ulama bahwa di dalamnya ada yang dusta seperti tafsir al-Tsa’labi, al-Wahidi dan sejenisnya. Juga kitab-kitab fadhail yang memuat riwayat yang baik dan yang buruk seperti kitab Khathib Khawarizm juga al-Maghazili.

Ketiga: Sesungguhnya riwayat-riwayat semacam itu (yang mengatakan “Ali ini saudaraku, mentriku, penerima wasiatku, khalifahku sesudahku”) kalau diteliti sanadnya mesti ada perawi syiah atau kadzdab (pendusta). Oleh karena itulah bapak Muhammad Anis tidak menyebutkan sanadnya kepada kita karena takut ketahuan kepalsuannya. Maka menurut saya ucapan bapak Muhammad Anis di depan yang mengatakan: “melainkan hanya berusaha memberikan argumentasi dalam wacana diskusi ilmiah” belum tercermin dalam tulisannya ini. Sepertinya bapak Anis tidak mengerti tentang hadits yang shahih dan yang palsu, sehingga seolah perhatiannya yang penting adalah ada rujukan atau info yang sesuai dengan selera. Ini jauh dari unsur ilmiah. Bahkan kalau boleh saya katakan, sikap ini mirip dengan sikap kafir Quraisy dulu,yang artinya : ” Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak.” (QS. Al-Kahfi, 56). Wallahul Muwaffiq.

Keempat: Riwayat hadits tentang yaumul indzar yang shahih dan dipakai oleh Ahlu sunnah tidak ada tambahan (yang mengatakan “Ali ini mentriku, penerima wasiatku, khalifahku sesudahku”) seperti hadits Ibn Abbas yang ada pada hadits Imam Bukhari, dan Imam Muslim, hadits Abu Hurairah dalam Shahih Muslim, dan hadits-hadits lain dalam sunan Nasa`i. Turmudzi, Baihaqi dll. Lihat misalnya Misykatul Mashabih : 5372; 5373; Shahih Sirah an-Nabawiyyah, Al-Albani 1/135; Fiqh al-Sirah an-Nabawiyyah, Munir Ghadhban, 142. Untuk lengkapnya ada baiknya anda merujuk Minhaj al-Sunnah an-Nabawiyyah, 7/299-306 (M. Syamilah 1); juga kitab al-Imamah fi Dhau` al-Kitab was-Sunnah lisyaikhil Islam Ibn Taimiyah, yang dihimpun, dikomentari dan diberi prolog oleh Muhammad Malullah.

Untuk lebih jelasnya ahsan ana cantumkan langsung dari kitab al-Imamah fi Dhau` al-Kitab was-Sunnah sebagai berikut:

الثامن: أن الذي في الصحاح من نزول هذه الآية غير هذا. ففي الصحيحين عن ابن عمر وأبي هريرة – واللفظ له – عن النبي صلَّى الله عليه وسلَّم لما نزلت: { وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ } [الشعراء: 214] دعا رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم قريشاً، فاجتمعوا، فخص وعم فقال: “يا بني كعب بن لؤي أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني مُرَّة بن كعب أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد شمس أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد مناف أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني هاشم أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد المطلب أنقذوا أنفسكم من النار، يا فاطمة بنت محمد أنقذي نفسك من النار. فإني لا أملك لكم من الله شيئاً غير أن لكم رحماً سأبلها ببلالها”([1]).

وفي الصحيحين عن أبي هريرة رضي الله عنه أيضاً لَمَّا نزلت هذه الآية قال: “يا معشر قريش اشتروا أنفسكم من الله لا أغني عنكم من الله شيئاً، يا بني عبد المطلب لا أغني عنكم من الله شيئاً، يا صفية عمة رسول الله لا أغني عنك من الله شيئاً. يا فاطمة بنت محمد لا أغني عنك من الله شيئاً. سلاني ما شئتما من مالي”([2]) وخرجه مسلم من حديث ابن المخارق وزهير بن عمرو([3])، ومن حديث عائشة وقال فيه: “قام على الصفا”([4]).

وقال في حديث قبيصة: “انطلق إلى رضمة من جبل، فعلا أعلاها حجراً، ثم نادى: يا بني عبد مناف إني لكم نذير، إنما مثلي ومثلكم كمثل رجل رأى العدو فانطلق بربأ أهله، فخشي أن يسبقوه، فجعل يهتف: يا صباحاه”([5]).

وفي الصحيحين من حديث ابن عباس قال: “لما نزلت هذه الآية خرج رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم حتى صعد الصفا، فهتف: ”يا صباحاه“ فقالوا: من هذا الذي يهتف؟ قالوا: محمد، فاجتمعوا إليه، فجعل ينادي: ”يا بني فلان، يا بني عبد مناف، يا بني عبد المطلب“ وفي رواية: ”يا بني فهر، يا بني عدي، يا بني فلان“ لبطون قريش فجعل الرجل إذا لم يستطع أن يخرج أرسل رسولاً ينظر ما هو، فاجتمعوا فقال: ”أرأيتكم لو أخبرتكم أن خيلاً تخرج بسفح هذا الجبل، أكنتم مصدّقي“؟ قالوا: ما جربنا عليك كذباً. قال: ”فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد“ قال: فقال أبو لهب: تبّاً لك أما جمعتنا إلا لهذا؟ فقام فنـزلت هذه السورة: { تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ } [المسد: 1]([6]).

وفي رواية: “”أرأيتم لو أخبرتكم أن العدو يصبّحكم ويمسّيكم أكنتم تصدّقوني“؟ قالوا: بلى”([7]).

Malang, Selasa15. Jumada Tsaniyah 1430


([1]) الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه في: البخاري 6/111-112 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، مسلم 1/192 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}، المسند (ط. الحلبي) 2/333، 360، 519 .

([2]) الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه في: البخاري 4/6-7 (كتاب الوصايا، باب هل يدخل النساء والولد في الأقارب)، 4/185 (كتاب المناقب، باب من انتسب إلى آبائه في الإسلام والجاهلية)، 6/112 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، مسلم 1/192-193 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}. والحديث في سنن النسائي والدارمي والمسند.

([3]) الحديث في: مسلم في الموضع السابق 1/193 (رقم 353، 354).

([4]) الحديث في: مسلم 1/192 (الموضع السابق) حديث رقم 350 .

([5]) الحديث هو حديث ابن المخارق وزهير بن عمرو السابق، وابن المخارق هو قبيصة بن المخارق. والرضمة: حجارة مجتمعة ليست بثابتة في الأرض كأنها منثورة، وعبارة “فعلا أعلاها حجراً”: أي فرقي في أرفعها، وكلمة “يربأ” على وزن يقرأ: معناه: يحفظهم ويتطلع لهم، ويقال لفاعل ذلك؛ ربيئة. وكلمة “واصباحاه” هي كلمة يعتادونها عند وقوع أمر عظيم، فيقولونها ليجتمعوا ويتأهبوا له.

([6]) الحديث عن ابن عباس رضي الله عنهما – مع اختلاف في الألفاظ – في: البخاري 6/111 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، 6/122 (كتاب التفسير، سورة سبأ)، 6/179-180 (كتاب التفسير، سورة تبت يدا أبي لهب وتب)، مسلم 1/193-194 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}، سنن الترمذي 5/121 (كتاب التفسير، ومن سورة تبت)، المسند (ط. المعارف) 4/186، 286 .

([7]) هذه الرواية جزء من حديث عن ابن عباس رضي الله عنهما في: البخاري 6/122 (كتاب التفسير، سورة سبأ)، 6/180 (كتاب التفسير، سورة تبت يدا أبي لهب وتب).

Go to Top