Menyoal Jati diri Imam-imam Syi’ah.
Mungkin anda bertanya-tanya: Sebenarnya, imam-imam Syi’ah itu manusia atau bukan?
Untuk mengetahui keyakinan sekte Syi’ah tentang imam-imam mereka, maka anda dapat menebaknya melalui dua idiologi Syi’ah berikut:

Idiologi pertama: Imam-imam Syi’ah Diyakini Mengetahui Yang Ghaib.
Agama Syi’ah meyakini bahwa diantara kriteria seseorang imam adalah mengetahui hal yang ghaib. Bahkan sebagian referensi mereka dengan tegas menyatakan bahwa imam mereka mengetahui segala hal yang ghaib. Sebagai salah satu implementasinya, para imam mengetahui kapan dan dimana mereka mati, bahkan mereka tidak mati melainkan bila mereka telah menghendakinya.

Berikut beberapa riwayat yang termaktub dalam kitab Al Kafy karya Al Kulainy. Perlu diketahui bahwa agama Syi’ah  meyakini bahwa kitab Al Kafy adalah kitab yang paling autentik dan riwayatnya paling shahih, atau setara dengan Sahih Imam Bukhary bagi umat Islam selain mereka.

Riwayat pertama:

عن عبد الواحد بن علي قال قال أمير المؤمنين علي بن أبي طالب عليه السلام: (أنا أورث النبيين إلى الوصيين ومن الوصيين إلى النبيين، وما بعث الله نبيا إلا وأنا أقضي دينه وأنجز عداته، ولقد اصطفاني ربي بالعلم والظفر ولقد وفدت إلى ربي اثني عشر مرة، فعرفني نفسه، وأعطاني مفاتيح الغيب.

“Diriwayatkan dari Abdul Wahid bin Ali, ia mengisahkan: Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalidb) ‘alaihissalaam berkata: Aku diberi kekuasaan untuk menyampaikan warisan para nabi kepada para washy (imam), dan warisan para washi kepada para nabi. Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun melainkan akulah yang melunasi piutangnya dan menepati janjinya. Sungguhnya Allah  telah memilihku untuk menerima ilmu dan kemenangan. Aku benar-benar telah menghadap kepada Allah (Tuhanku) sebanyak dua belas kali. Pada setiap kali itulah Allah memperkenalkan dirinya kepadaku dan Dia mengaruniaiku kunci-kunci ilmu ghaib.”([1])

Riwayat kedua:

قال أبو جعفر محمد بن علي بن الحسين (114هـ): أما علم ما كان وما سيكون، فليس يموت نبي ولا وصي إلا والوصي الذي بعده يعلمه.

“Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al Husain (114 H) berkata: “Adapun perihal ilmu tentang segala hal yang telah berlalu, dan juga yang akan terjadi pada masa mendatang, maka tidaklah ada seorang nabipun atau washi (pengemban wasiat sebagai imam-pen) yang meninggal melainkan pengemban wasiat selanjutnya telah mengetahuinya.”([2])

Riwayat ketiga:

عن سيف التمار قال: كنا مع أبي عبد الله عليه السلام جماعة من الشيعة في الحجر، فقال : علينا عين؟ فالتفتنا يمنة ويسرة، فلم نر أحدا، فقلنا: ليس علينا عين، فقال: ورب الكعبة ورب البنية –ثلاث مرات- لو كنت بين موسى والحضر، لأخبرتهما، أني أعلم منهما، ولأنبأتهما بما ليس في أيديهما؛ لأن موسى والخضر عليهما السلام، أعطيا علم ما كان، ولم يعطيا علم ما يكون، وما هو كائن حتى تقوم الساعة، وقد ورثناه من رسول الله صلى الله عليه وآله وراثة.

“Diriwayatkan dari Saif At Tammar, ia mengisahkan: Pada suatu hari kami sekelompok pengikut agama Syi’ah bersama-sama dengan Abu Abdillah (Ja’far As Shaadiq) di Hijir Ismail. Lalu beliau bertanya: Apakah ada mata-mata yang mengawasi kita? Maka kamipun segera menengok ke kanan dan ke kiri, akan tetapi kami tidak melihat seorang mata-matapun, sehingga kami berkata kepada beliau: Tidak ada seorang mata-matapun yang mengawasi kita. Selanjutnya Ja’far As Shaadiq berkata: Sungguh demi Tuhan Penguasa Ka’bah, dan sungguh demi Tuhan Penguasa Hijir Ismail -tiga kali-, andai aku berada bersama-sama dengan Nabi Musa dan Khidir, niscaya akan aku kabarkan kepada keduanya bahwa aku lebih berilmu dibanding keduanya, dan mereka berdua akan aku ajari ilmu yang tidak mereka kuasai. Yang demikian itu dikarenakan Nabi Musa dan Khidir alaihimassalaam hanya dikaruniai ilmu tentang hal-hal yang telah berlalu, dan tidak dikaruniai ilmu tentang hal-hal yang akan datang, dan yang akan terjadi hingga Hari Qiyamat.Dan sungguh, kami benar-benar telah mewarisi ilmu itu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.([3])

Saudaraku! Anda adalah seorang muslim, tentu anda memiliki hati nurani yang senantiasa memancarkan cahaya keimanan. Coba bandingkan doktrin agama Syi’ah ini dengan firman Allah Ta’ala berikut:

[قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ الأعراف 188

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku, dan tidak (pula) menolak kemadharatan, kecuali yang Allah kehendaki. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku telah banyak  mengumpulkan harta kekayaan, dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” Al A’raf 188.

Saudaraku! bila pada ayat ini Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengikrarkan bahwa dirinya tidak mengetahui hal yang ghaib, menurut anda, mungkinkah beliau dapat mewariskan ilmu tentang yang ghaib tersebut kepada anak cucunya?

Saudaraku! menurut hemat anda, apa alasan yang menjadikan agama Syi’ah membiarkan riwayat-riwayat semacam ini ada pada kitab paling autentik menurut mereka?

Riwayat keempat:

عن أبي عبد الله جعفر الصادق: إني لأعلم علم ما في السماوات وما في الأرض وأعلم ما في الجنة وأعلم ما في النار، وأعلم ما كان وما يكون.

“Diriwayatkan dari Abu Abdullah Ja’far As Shaadiq, ia menegaskan: “Sungguh aku telah menguasai ilmu tentang segala isi langit dan segala isi bumi, aku juga mengetahui tentang isi surga dan juga isi neraka. Sebagaimana aku juga telah menguasai ilmu tentang segala yang telah berlalu dan yang terjadi pada masa mendatang.”([4])

Riwayat kelima:

عن أبي بصير قال قال أبو عبد الله عليه السلام: أي إمام لا يعلم ما يصيبه وإلى ما يصير فليس ذلك بحجة لله على خلقه.

“Abu Bashir meriwayatkan dari Abu Abdullah (Ja’far As Shaadiq) alaihissalam: Imam siapapun yang tidak mengetahui tentang segala apa yang akan menimpanya dan nasib yang akan akan ia alami, maka ia tidak dapat menjadi hujjah bagi Allah atas makhluq-Nya.”([5])

Riwayat keenam:

عن أبي عبد الله جعفر الصَّادق (148هـ) قال: إن عندنا علم ما كان وعلم ما هو كائن إلى أن تقوم السَّاعة.

“Dari Abu Abdullah Ja’far As Shaadiq (148 H), ia menuturkan: “Sesungguhnya kami memiliki ilmu tentang segala hal yang telah berlalu dan ilmu tentang segala hal yang akan terjadi hingga kebangkitan hari qiyamat.”([6])

Ini hanyalah setetes dari lautan riwayat yang ada dalam kitab Al Kaafi karya Al Kulainy -kitab yang menurut agama Syi’ah sebagai kitab paling autentik setelah Al Qur’an.

Andai kita sekedar membaca judul-judul yang ada dalam kitab Al Kafi karya Al Kulainy, niscaya bulu kuduk kita akan merinding karenanya. Betapa tidak, berbagai judul yang diluar kewajaran, sehingga menjadikan khayalan kita menjadi membayangkan sosok dewa-dewa Hindu dan Budha. Berikut sebagian judul-judul tersebut:

باب: أن الأئمة عليهم السلام عندهم جميع الكتب التي نزلت من عند الله عز وجل وأنهم يعرفونها على اختلاف ألسنتها.

Bab: Bahwa para imam memiliki seluruh kitab, dan mengetahuinya dengan segala perbedaan bahasanya.([7])

باب: إنَّ الأئمة يعلمون جميع العلوم التي خرجت إلى الملائكة والأنبياء والرسل عليهم السلام.

Bab: Bahwasanya para imam mengetahui segala ilmu yang turun kepada para malaikat, nabi dan rasul.([8])

باب: أنَّ الأئمة عليهم السلام يعلمون متى يموتون، وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم

Bab: Bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal melainkan atas kehendak mereka sendiri.([9])

باب: إنه ليس شيء من الحق في يد الناس إلا ما خرج من عند الأئمة عليهم السلام، وإن كل شيء لم يخرج من عندهم فهو باطل.

Bab: Bahwa tidaklah ada sedikitpun kebenaran yang ada di masyarakat selain yang pernah diajarkan oleh para imam, dan bahwa segala sesuatu yang tidak diajarkan oleh mereka, maka itu adalah batil.([10])

باب أن الأئمة عليهم السلام علم ما كان وما يكون، وأنه لم يخف عليهم الشيء صلوات الله عليهم.

“Bab: bahwasanya para imam alaihimussalam, memiliki ilmu tentang segala yang telah berlalu dan yang akan datang, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi atas mereka.([11])

Akhi! Saya yakin, ketika membaca judul-judul bab di atas, batin anda menjerit, iman anda berkobar, terlebih-lebih bila anda mengingat ikrar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang telah diabadikan dalam Al Qur’an:

]قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُونَ[ الأنعام 50

“Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Tidaklah aku mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah : “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkannya.” Al An’am 50.

Dan bila anda hendak mendapatkan riwayat-riwayat atau judul-judul bab yang semakna dengan yang telah diutarakan di atas, niscaya anda akan kewalahan untuk membacanya. Begitu banyak dan begitu nyata.

Saudaraku, setelah membaca sekelumit riwayat dan judul-judul bab yang termaktub dalam kitab Al Kafi, mungkin anda bertanya: apa mungkin para imam-imam agama Syi’ah adalah jelmaan Malaikat? Atau mungkin anda bertanya: Apa sebenarnya perbedaan imam-imam agama Syi’ah dengan dewa-dewa yang diyakini oleh penganut agama Hindu dan Budha?

Idiologi kedua: Para Imam bersifat Ma’shum (terlindung dari kesalahan).

Sebagai konsekwensi langsung dari keyakinan bahwa para imam agama Syi’ah mengetahui segala hal yang ghaib, mereka meyakini bahwa para imam tidak pernah lupa, lalai atau salah, apalagi berbuat dosa.

Ayatullah Al Khumainy berkata:

نحن نعتقد أن المنصب الذي منحه الأئمة (ع) للفقهاء لا يزال محفوظا لهم؛ لأنَّ الأئمة الذين لا تتصور فيهم السهو أو الغفلة ونعتقد فيهم الإحاطة بكل ما فيه مصلحة للمسلمين، كانوا على علم بأن هذا المنصب لا يزول عن الفقهاء من بعدهم بمجرد وفاتهم.

“Kami meyakini bahwa kedudukan yang diberikan oleh para imam (عليه السلام) kepada para fuqaha’ (ahli fiqih) senantiasa akan terjaga. Yang demikian itu dikarenakan para imam yang memiliki kriteria tidak mungkin lupa atau lalai, dan kami meyakini bahwa mereka juga telah menguasai segala hal yang dapat merealisasikan setiap kemaslahatan bagi umat islam, telah mengetahui bahwa kedudukan ini tidak akan sirna dari para ahli fiqih, hanya sekedar kematian mereka.”([12])

Inilah pernyataan imam agama Syi’ah pada zaman ini tentang idiologi mereka berkaitan dengan para imam mereka yang dua belas.

Sebagai seorang muslim, apakah gambaran pertama yang terbetik dalam benak anda tentang karakter para imam agama Syi’ah ini?

Bila anda menjadi termenung setelah membaca pernyataan Ayatullah Al Khumainy pemimpin revolusi Iran diatas, maka coba kaitkan renungan anda dengan firman Allah Ta’ala berikut:

]قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى {51}  قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى[ طه 51-52

Fir’aun berkata: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu”? Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi tuhan-ku, di dalam suatu kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak pula lupa.” Thoha 51-52.

Adapun Al Majlisy yang merupakan mufti agama syi’ah pada beberapa puluh tahun silam, mengatakan:

اعلم أن الأمامة اتفقوا على عصمة الأنبياء عليهم السلام من الذنوب صغيرها وكبيرها، فلا يقع منهم ذنب أصلا، لا عمدا ولا نسيانا ولا لخطأ في التأويل، ولا للإسهام من الله سبحانه.

“Ketahuilah, bahwa agama Syi’ah Al Imamiyyah telah menyepakati akan terlindungnya para imam dari perbuatan dosa, baik yang kecil atau yang besar. Dengan demikian, mereka tidak pernah melakukan perbuatan dosa, baik dengan sengaja, atau karena lupa, tidak pula karena salah penafsiran, dan tidak pula karena dilalaikan oleh Allah Ta’ala.”([13])

Saya yakin bahwa anda adalah seorang muslim yang senantiasa menyadari jati dirinya, sehingga tidak akan mudah terperdaya dengan pernyataan Al Majlisy ini. Terlebih–lebih anda telah membaca sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam:

(كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ) رواه الترمذي وابن ماجة وغيرهما

“Setiap anak keturunan nabi Adam senantiasa banyak melakukan perbuatan dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang selalu bertaubat. ” Riwayat At tirmizy, Ibnu Majah, dan lainnya.

Idiologi ini merupakan konsensus seluruh agama Syi’ah

Saudaraku! Bila anda membaca berbagai ayat yang menjelaskan tentang jati diri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, niscaya anda menemukan bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah manusia biasa. Merasakan lapar, sakit, berjalan di pasar dan tidak mengetahui sedikitpun tentang hal ghaib selain yang diwahyukan Allah kepadanya:

[وَما أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الأَسْوَاقِ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا [ الفرقان 20

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” Al Furqan 20.

[ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء [ البقرة 255

“Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.”

Imam Ibnu Katsir As Syafi’i menjelaskan ayat ini dengan berkata: “Tiada seorangpun yang menguasai sedikitpun dari ilmu Allah Ta’ala, selain ilmu yang telah Allah Azza wa Jalla ajarkan kepadanya.” ([14])

Dengan demikian ayat ini semakna dengan pengakuan para Malaikat :

[قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ [ البقرة 32

“Mereka menjawab:  Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Al Baqarah 32.

Bila para malaikat dan juga para rasul demikian halnya, maka mengapa para penganut sekte Syi’ah menymatkan berbagai sifat yang begitu luar biasa kepada para imam mereka? Mungkinkah para penganut  Syi’ah meyakini bahwa kedudukan imam-imam mereka melebihi kedudukan malaikat dan juga rasul?

Untuk mengetahui jawaban pertanyaan anda, maka saya mengajak pembaca untuk menyimak pengakuan tokoh pujaan mereka Ayatullah Al Khumainy:

من يعرف شيئا عن بدايات ظهور الإسلام، وأول أيام الدعوة النبوية، يوقن بأن الإمامة كانت منذ اليوم الأول وحتى آخر أنفاس رسول الإسلام صنوا للنبوة.

“Orang yang mengetahui sejarah awal mula munculnya agama islam, dan awal perjalanan dakwah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam walau sedikit, pasti meyakini bahwa imamah sejak hari pertama hingga akhir nafas Rasul Islam (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) adalah saudara kandung kenabian.”([15])

Pada kesempatan lain, dengan lebih vulgar Al Khumainy menjelaskan tentang kedudukan imam-imam mereka :

إن للإمام مقاما محمودا ودرجة سامية وخلافة تكوينية، تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون. وإن من ضروريات مذهبنا: أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل.

“Sesungguhnya seorang imam –dalam idiologi Syi’ah memiliki kedudukan yang terpuji, dan, derajat yang tinggi, dan khilafah (perwakilan) dalam hal penciptaan. Seluruh parsial alam semesta ini tunduk kepada kewaliannya dan kekuasaannya. Dan diantara prinsip mazhab kami: Bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat yang didekatkan tidak pula oleh nabi yang telah ditunjuk menjadi seorang rasul.”([16])

Inilah pengakuan pemimpin agama Syi’ah zaman sekarang tentang idiologi mereka berkaitan dengan imam-imamnya. Inilah pengakuan pemimpin revolusi agama Syi’ah zaman sekarang. Dengan demikian tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengatakan bahwa tiga penyelewengan Syi’ah diatas hanya ada pada zaman dahulu.

Saudaraku! setelah anda membaca pengakuan Al Khumainy ini, akankah anda masih menutup mata dan berkata: bahwa kultus terhadap para imam hanya terjadi pada agama Syi’ah di masa lampau, adapun sekarang, semuanya telah berubah?.  

Penganut paham Syi’ah Itsna ‘Asyari’ah belum merasa cukup dengan perwujudan kultus ini dalam bentuk doktrin, akan tetapi mereka benar-benar mewujudkannya dalam bentuk yang lebih kongkret.


[1] ) Biharul Anwaar 39/350 & Tafsir Furaat hal: 67.

[2] ) Al Kafy oleh Al Kulainy  1/240.

[3] ) Idem 1/260-261.

[4] ) Idem 1/261.

[5] ) Idem 1/258.

[6] ) Idem 1/252

[7] ) Idem 1/227.

[8] ) Idem 1/255.

[9] ) Idem  1/258.

[10] ) Idem 1/399.

[11] ) Idem 1/260.

[12] ) Al Hukumah Al Islamiyyah oleh Ayatullah Al Khumainy 91.

[13] ) Bihaarul Anwaar 25/209.

[14] ) Tafsir Ibnu Katsir 1/679.

[15] ) Kasyful Asraar oleh Ayatullah Al Khumainy 173.

[16] ) Al Hukumah Al Islamiyyah oleh Ayatullah Al Khumainy 52.