Buku

Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait (3)

gen2Orang-Orang Syi’ah memiliki sebuah do’a yang mereka namai “do’a dua berhala Quraisy” maksudnya Abu Bakar dan Umar, yaitu do’a yang mereka idolakan sebagai wasilah taqarrub kepada Allah SWT -menurut dugaan mereka yang sesat itu-, mereka sangat memeperhatikannya dalam shalat-shalat mereka.

Do’a itu berbunyi: “Ya Allah laknatilah kedua berhala Quraisy, kedua patung Quraisy, kedua thaghut Quraisy, kedua pendusta Quraisy dan kedua putrinya. Keduanya telah menyalahi perintah-Mu, menolak wahyu-Mu, mengingkari nikmat-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, membalik agama-Mu, merubah kitab-Mu, mencintai musuh-musuh-Mu, melupakan semua karunia-Mu, menelantarkan hukum-hukum-Mu dan mengingkari bukti-bukti kebenaran (dari)-Mu…..Ya Allah laknatilah keduanya dalam relung rahasia-Mu dan dalam alam nyata-Mu, laknat yang banyak, terus-menerus, abadi, selama-lamanya, tidak pernah henti dan tidak pernah putus, tidak pernah habis dan tidak pernah pupus, menerjang awalnya dan tidak kembali akhirnya, untuk mereka, pembantu mereka, penolong mereka, pecinta mereka, para mawali mereka, yang pasrah kepada mereke, yang cenderung kepada mereka, yang meninggikan mereka, yang meneladani ucapan mereka dan yang membenarkan hukum mereka. Ya Allah siksalah mereka dengan siksa yang penduduk nerakapun berlindung dari padanya. Amin ya Rabbal ‘Alamin”.[1]

Mereka mengatakan keutamaan do’a ini luar biasa agung dan luhur, mereka mengucapkan dusta atas Ali bahwa Ali membacanya dalam qunut dan mengatakan tentang fadhilahnya,

“Orang yang berdo’a dengannya bagaikan pemanah bersama Nabi pada perang Badar dan pada perang Hunain dengan seribu anak panah”.[2]

Ya Allah jadikanlah seribu anak panah di leher-leher mereka sendiri!

Al-Kasy-syi pembesar Syi’ah ini, meriwayatkan dalam al-Jarh wa at-Ta’dil dari Hamzah ibn Muhammad ath-Thayyar, ia berkata: “Kami menyebut Muhammad ibn Abi Bakar di hadapan Abu Abdillah.” Maka imam berkata: “Semoga Allah merahmatinya, ia (Muhammad ibn Abi Bakar) berkata kepada Amirul Mukminin pada suatu hari: “Berikan tanganmu aku akan membai’atmu,” (more…)

Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait (2)

Allah SWT benar-benar telah memuliakan ahlul bait dan menjauhkan dari semua yang disebut di atas, sebagaimana bukanlah sifat orang-orang yang bertakwa itu harus tidak ada dosa dan maksiat sama sekali. Firman Allah SWT telah menunjukkan bahwa barang siapa yang bertaubat dari dosa-dosanya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

Sebagaimana firman-Nya, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (an-Nisa’: 31).

Sebagaimana yang kami jelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa “tasyayyu’” bermula didorong oleh tujuan politik, akan tetapi karena banyak sebab -dan sudah kami sebutkan yang paling penting- maka berubahlah Ibn Saba’ dan jama’ahnya menjadi kelompok agama yang sesat dan menyesatkan.

Syi’i kenamaan Muhammad Amin dalam kitabnya, menukil dari al-Azhari memperkenalkan bahwa Syi’ah itu adalah kaum yang menginginkan apa yang diinginkan oleh keturunan Nabi Saw dan menolong mereka.[1]

Tajuddin al-Husaini pemuka Aleppo mengatakan: “Syi’ah seseorang adalah para pengikut dan penolongnya, dikatakan “والاه من الولي أي شايع .” artinya “Ia loyal kepadanya maksudnya mendukung dan menolongnya”.[2]

Sebagaimana Maghniyah mengatakan: “Barang siapa mencintai Ali dan mengikutinya atau barang siapa yang mencintai dan menolongnya”.[3]

Sekarang mari kita perhatikan Syi’ah yang mengaku sebagai pengikut ahlul bait, mencintai dan menolong mereka. Bagaimana sikap mereka terhadap para sahabat ra. Kemudian kita komparasikan dengan sikap ahlul bait sendiri terhadap para sahabat Nabi Saw. Agar menjadi jelas siapakah gerangan yang benar-benar cinta ahlul bait. Kita tidak akan menulis melainkan dari kitab-kitab dan sumber-sumber mereka dari orang-orang yang menganggap dirinya adalah Imam ahlul bait padahal tidak ada hubungan sama sekali. (more…)

Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait

gen2

Sesungguhnya Syi’ah berupaya menipu manusia dengan mengatakan bahwa mereka mencintai ahlul bait dan mereka adalah kelompok terbaik karena berpegang pada keluarga Nabi dengan seluruh ucapan dan ajaran mereka. Padahal yang mereka maksud bukanlah keluarga Nabi yang sebenarnya, melainkan Ali dan orang-orang tertentu dari keturunannya. Kita tidak tahu mengapa mereka mengkhususkan Ali dalam masalah ini padahal ia bukan satu-satunya orang yang menikahi putri Nabi Saw. Utsman justru menikahi dua orang putri Nabi Saw dan Abu al-‘Ash ibn ar-Rabi’ juga menikahi Zainab putri Nabi Saw. Jika mereka berdalih bahwa Ali memiliki sifat kekerabatan dengan Nabi Saw sebab putra dari paman Nabi Saw. Kita bertanya kepada mereka, apakah hanya Ali yang memiliki sifat ini? Tentu tidak, sebab Ali memiliki 2 saudara yaitu Ja’far dan Aqil. Begitu pula Rasulullah Saw memiliki 2 orang paman yaitu al-Abbas ibn Abdul Muth-thalib yang dimuliakan oleh Rasulullah Saw dan dijadikannya seperti bapaknya sendiri, dan Hamzah Sayyid Syuhada’ ra.

Jika keutamaan Ali karena statusnya sebagai putra paman Rasul Saw bukankah yang lebih utama mendapatkannya adalah paman Rasul Saw! Jika tidak, apakah kekerabatan putra paman lebih kuat dari paman?!

Supaya lebih jelas kita perlu membahas arti “ahl” dalam bahasa Arab. Ar-Raghib berkata dan diikuti oleh al-Munawi: ahl ar-rajul adalah orang-orang yang dikumpulkannya dalam satu tempat tinggal begitu pula dia dan orang-orang yang disatukan oleh nasab.

Ibnu Manzhur al-Ifriqi mengatakan: “ahlu al-mazhab” berarti orang-orang yang meyakininya. “Ahlu al-amr” adalah orang-orang yang mengurusnya. Dan “ahlu ar-rajul” adalah orang yang paling khusus dengannya.

Az-Zabidi juga berkata: “ahl” bagi seseorang adalah istrinya, termasuk di dalamnya adalah putra putrinya. Dengan arti seperti ini ia menafsirkan firman Allah

وَسَارَ بِأَهْلِهِ

“Dan dia berjalan bersama istri dan keluarganya” .

Al-Khalil berkata: “ahl ar-rajul”, adalah “istrinya”, “taahhul” berarti menikah. “Ahl ar-rajul”, berarti orang yang paling khusus dengannya, “ahlul bait” adalah penghuni rumah, “ahlu al-Islam” adalah orang-orang yang meyakininya.

Muhammad Jawad Maghniyah seorang Syi’ah kontemporer mengatakan: “ahlul bait” adalah para penghuninya, “ahlu ar-rajul” adalah “ahluhu” (keluarganya).

Di antara yang menetapkan secara pasti bahwa ahlul bait digunakan secara khusus untuk “istri”, dan dipakai secara majaz untuk anak-anak dan kerabatnya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Di antaranya adalah ketika Allah memberi kabar gembira kepada istri Ibrahim melalui lisan malaikat: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait!” (Hud: 73).

Hal ini telah diakui oleh ulama Syi’ah dan para mufasir mereka seperti ath-Thubrusi dalam Majma’ al-Bayan, al-Kasyani dalam Manhaj ash-Shadiqin.

Begitu pula Allah SWT mengisahkan Nabi Musa as:

“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: Tunggulah di sini sesungguhya aku melihat api” (al-Qashash: 29).

(more…)

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (10)

konstektual

16. Ulil mengatakan: “Setiap teks selalu mengandung lapisan-lapisan penafsiran yang bertingkat-tingkat”. (alinea 11)

Ucapan ini perlu diluruskan, pertama: Tidak setiap teks mengandung lapisan makna, karena ada teks yang bersifat manshush (ketentuan) yaitu kata bilangan seperti satu atau sepuluh, dan kata yang pemakaianya ada dalam satu model atau cara disetiap tempat kehadirannya. Maka kedua bentuk kata ini bersifat nash tidak menerima Ta’wil atau Majaz

Kedua: Lapisan-lapisan penafsiran itu tidak boleh menyalahi Zhahirnya lafadz atau teks, kalu tidak maka itulah yang disebut Tahrif (menyelewengkan) yang berarti Takdzib (mendustakan), sebagaimana yang dilakukan oleh Iblis laknatullah alaih.

Syaikhul Islam ibn Taimiyah mengatakan: “Ta’wil yang diterima adalah tafsir yang menunjukkan kepada maksud pemilik ucapan, apabila tidak demikian, maka hal itu adalah tahrif (penyimpangan) dan ilhad (pengingkaran), bukan termasuk tafsir atau penjelasan terhadap maksud (more…)

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (9)

konstektual

14. Kemudian Ulil menutup alinea 10 dengan mengatakan: “Bahaya dari bibliolatry adalah hilangnya dimensi manusia (“ghayabul insan” istilah Hasan Hanafi) dalam modus keberagamaan. Pengalaman manusia menjadi remeh dan tidak dipentingkan, manusia menjadi tidak ada harganya, entah sebagai pribadi atau sebagai kolektif sosial yang kaya akan pengalaman-pengalaman histories yang kongkrit”.

Ulil betul-betul ingin berontak, tidak ingin menjadi hamba Allah yang taat, bahkan menggugat Islam yang telah mengajarkan agar setiap muslim patuh kepada ketentuan Allah. Ulil betul-betul keluar dari konteks ketika mengatakan: “Pengalaman manusia menjadi remeh dan tidak diperhitungkan”. Setiap muslim menyadari bahwa dunia ini adalah ujian, setiap aktivitas manusia pasti ada balasannya. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (al-Zalzalah: 7-8).

Ulil juga telah mengakui bahwa pikiran-pikirannya -yang kacau dan kusut ini- juga diambil dari Hasan Hanafi (lahir 1935, Mesir) penulis buku al-Wahyu Wa al-Waqi’ (wahyu dan realita; Teks dan Konteks), di sana ia menulis, “Aib, dan sangat aib menjadikan wahyu lepas dari dimensi waktu dan ruang”.[1]

Sedang dalam mausu’ah al-Hadharah al-Islamiyah, disebutkan bahwa ia berkata: “Wahyu tidaklah berada di luar konteks zaman, yang tetap dan tidak berubah, tetapi ia di dalam konteks zaman yang berkembang seiring dengan perkembangannya”.[2]

Prof. Dr. al-Zunaidi menjelaskan bahwa Hasan Hanafilah orang yang berupaya mempelajari Asbab Nuzul untuk mengukuhkan pahamnya bahwa pengalaman riil-lah yang telah mendekte wahyu dengan mendatangkan solusi-solusi bagi problematika yang ada, artinya realita dulu baru kemudian wahyu, seperti teori Karl Marx, realita dulu baru pemikiran. (more…)

Go to Top