Buku

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (13)

22. Ulil juga mengatakan : “Teks Qur’an tidaklah sesusatu yang “self sufficient”, mencukupi dirinya sendiri … karena teks Qur’an sebetulnya adalah teks yang tali temali, kait berkelindan dengan teks-teks lain….. antara lain adalah: sejarah sosial masyarakat Arab, tradisi literal yang sangat kaya dan maju pada zaman itu, konteks politik dan hubungan-hubungan kekuasaan pada masa turunya wahyu, tradisi-tradisi kepercayaan dan keagamaan yang hidup pada saat tersebut, dan sebagainya (Alinia 14)
Ada dua hal yang perlu kita komentari:
Pertama: “ Qur’an tidak bisa mencukupi dirinya sendiri”. Ini adalah ucapan yang lancang, tidak mengangungkan sama sekali kepada Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an dan yang telah menyatakan dengan benar[1]:
] وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ[
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu “ (an-Nahl; 89) (more…)

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (12)

20. Ulil menulis untuk mengukuhkan bahwa al-Qur’an adalah “makhluq” dankonstektual Tajribah Madinah hanyalah budaya biasa. “Bahkan Az-Zarkasyi, dalam Al-Burhan Fi Ulumil Qur’an, mengutip suatu pendapat (meskipun kurang dominan) di lingkungan penafsir Qur’an klasik, bahwa Qur’an turun kepada Nabi hanyalah berupa gumpalan gagasan-gagasan, sementara “Wording” atau pengkalimatan gagasan itu dalam konteks masyarakat Makkah dam Madinah saat itu dilakukan oleh Nabi sendiri (sebagaian pendapat lain mengatakan: Jibrillah yang memberikan “baju” atas gagasan-gagasan kewahyuan)” (alinea 13).

Di sini Ulil melakukan beberapa kesalahan dan juga kecurangan:

a. Model kutipan Ulil mengesankan pembaca, bahwa imam al-Zarkasyi al-Syafi’i menyetujui pendapat yang menyimpang itu. Padahal beliau telah menjelaskan bahwa itu bukanlah pendapat yang ada dalam ahlu sunnah. Pada pembukaan, imam Zarkasyi berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyinari hati manusia dengan kitab-Nya, yang telah menurunkannya dalam lafadz yang paling ringkas dengan uslub (gaya bahasa) yang paling mu’jiz

Pada halaman 290 dia menulis: “Ketauhilah bahwa telah sepakat ahlu sunnah, bahwa firman Allah itu diturunkan, dan mereka berselisih faham tentang arti Allah menurunkannya. Ada yang mengatakan: Menampakkanya, dan ada yang mengatakan Allah memahamkan dan mengajarkan kepada Jibril di langit, lalu Jibril turun ke bumi... Lalu setelah itulah, Zarkasyi mengatakan, “sebagain mereka (?) menukil dari al-Samarqandi, cerita tentang adanya tiga pendapat tentang yang diturunkan kepada Nabi: (1) Lafadz dan makna, (2) Makna saja, lalu Nabi yang mengarabkan, mereka itu beralasan dengan ayat “ نزل به الروح الأمين على قلبك”, (3) Jibril menurunkan makna dan Jibril yang membaca dengan Arab

Seharusnya Ulil bersikap obyektif, kemudian harus berjiwa ilmiyah, artinya kalau ada lebih dari satu pendapat, ambil yang paling kuat dalilnya, jangan asal pilih, apa lagi yang dicari itu yang sesat-sesat, maka itu sama halnya dengan perbuatan “Blatung” atau “lalat hijau”, terbang ke sana-kemari, yang dihinggapi selalu onggokan bangkai.

(more…)

Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait (5)

gen2Ali ra memuji kaum Muhajirin dalam jawabannya kepada Mu’awiyah ibn Abi Sufyan:

“Sungguh beruntung “ahlu as-Sabq” (orang-orang yang masuk Islam terdahulu) dengan “kedahuluannya” (masuk Islam), dan kaum Muhajirin yang pertama telah membawa keutamaan mereka”.[1]

Ali juga berkata: “Dalam diri Muhajirin ada banyak kebaikan yang kamu ketahui, semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan”.[2]

Ali ra juga memuji kaum Anshar ra: “Mereka, demi Allah, telah mengembangkan dakwah Islam sebagaimana mereka mengembangkan anak unta yang ada dalam ghanimah mereka. Di tangan ada cemeti dan lisan mereka tegas sekali”.[3]

Dia menambahkan dalam memuji para sahabat Nabi Saw dengan mengatakan:

“Wahai manusia! Demi Allah, sungguh kalian di tengah-tengah negara ini lebih banyak jumlahnya dari pada Anshar ra di tengah-tengah bangsa Arab. Akan tetapi mereka telah membela dan menjaga Rasulullah Saw beserta kaum Muhajirin, hingga Rasulullah Saw berhasil menyampaikan risalah Rabbnnya kepada dua qabilah, yang kehadirannya tidak lebih dulu dari pada orang Arab dan jumlahnya tidak lebih besar dari mereka. Maka tatkala mereka melindungi Nabi Saw dan Muhajirin dan bersama-sama menolong agama Allah, bangsa Arab menyerang secara bersatu dan serempak serta bersekutu dengan Yahudi dan didukung oleh berbagai macam kabilah. Maka mereka (Muhajirin dan Anshar) dengan tulus bangkit membela agama Allah. Mereka memutus hubungan dengan bangsa Arab dan memutus hubungan dengan Yahudi. Mereka tegak menghadapi penduduk Najed, Tihamah, Makkah dan Yamamah dari penghuni bukit dan lembah. Mereka tabah menegakkan pilar agama, sabar hidup di bawah tapak-tapak kaki kuda hingga seluruh Arab tunduk kepada Rasulullah Saw, dan Rasulullah Saw memandang sahabatnya dengan pandangan sejuk, senang dan tenang sebelum Allah SWT mengambilnya ke sisi-Nya. Kalian lebih banyak bilangannya dari pada mereka pada waktu itu di tengah-tengah bangsa Arab”.[4]

Al-Majlisi menyebutkan dari ath-Thusi riwayat dari Ali ibn Abi Thalib ra bahwasanya dia berkata kepada para sahabatnya:

“Aku berwasiat kepada kalian tentang para sahabat Nabi Saw, janganlah kalian mencela mereka karena mereka adalah sahabat Nabimu, mereka adalah sahabatnya yang tidak melakukan bid’ah sedikitpun di dalam agama ini dan tidak pernah menghormati ahli bid’ah. Ya, aku diwasiati oleh Rasul Saw terhadap mereka ra”.[5]

Sekalipun ada konflik dengan Mu’awiyah ra, Ali ra tidak mengkafirkannya. Hal ini ia tulis dalam surat-suratnya yang ia kirim ke berbagai daerah dalam rangka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di “Shiffin”. Surat ini diriwayatkan oleh imam Syi’ah Muhammad ar-Ridha dalam Nahj al-Balaghah. Ali menulis untuk mereka:

“Awalnya, kita bertemu dengan kelompok dari penduduk Syam, yang nampak memang Rabb kita satu dan dakwah kita satu. Kita tidak menambahi (melebihi) mereka dalam iman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya, mereka juga tidak melebihi kita. Semuanya sama kecuali apa yang kita perselisihkan tentang darah Utsman ra, dan kita bersih dari padanya”.[6]

Ali ra telah mengingkari orang-orang yang mencela Mu’awiyah dan bala tentaranya. Ar-Ridha meriwayatkan dari Ali ra, dia berkata:

“Sesungguhnya aku membenci untuk kalian jika kalian menjadi (more…)

Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait (4)

Begitu pula, Syi’ah telah menyombongkan diri di atas orang-orang yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan menyertai manusia terbaik-Nya, semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang terbaik untuknya.

Inilah akidah Syi’ah Rafidhah tentang sahabat Rasul Saw yang telah menyiarkan Islam ke seluruh ujung dunia. Seandainya bukan karena mereka tentu Islam tidak memiliki negara dan wilayah. Mereka telah mengorbankan darah-darah mereka demi mencari wajah dan ridha Allah SWT.

Untuk merekalah Allah berfirman: “Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya” (at-Taubah: 89).

Mereka adalah bukti kebenaran ayat “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam keadaan ketakutan menjadi aman sentausa” (an-Nur: 55).

Dengan mencaci sahabat berarti Syi’ah berbuat buruk kepada Allah dan merendahkan martabat Rasul-Nya yang mulia. Allah SWT tatkala mengutus Rasul-Nya yang “amin” kepada seluruh manusia, mengutusnya sebagai “pengajar”, “pendidik” dan “pemberi hidayah”, Allah menyatakan: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (al-Jumu’ah: 12).

Setelah Rasul Saw mengajar, mandidik dan menyucikan para sahabatnya Saw dan mengentaskan dari jurang kebodohan menuju cahaya Islam mengenyangkan arwah mereka dengan keutamaan-keutamaan iman, membersihkan jiwa mereka dengan al-Qur’an dan al-Hikmah. Allah SWT memujinya dan para sahabatnya dalam firman-Nya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (al-Fath: 29).

Sebagaimana yang kita sebutkan, kita akan melumpuhkan penghinaan Rafidhah terhadap sahabat Rasul Saw dengan kitab-kitab mereka sendiri.

Inilah Ali ra beliau mencaci dan menjelekkan Syi’ah dan memuji para sahabat Rasul Saw. Beliau berkata:

“Sungguh saya telah melihat para sahabat Muhammad Saw, tidak satupun di antara mereka yang mirip dengan kamu! Mereka di pagi hari rambutnya kusut dan wajahnya penuh debu, karena semalaman telah sujud (more…)

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (11)

19. Ulil selanjutnya menyatakan: “Seolah-olah yang disebutkonstektual al-Qur’an hanyalah ayat-ayat yang tertera dalam mushhaf saja, asumsi ini tidak bisa kita terima…. Sama saja dengan mengandaikan Qur’an hanya teks mati belaka…kalau boleh saya hendak mengajukan suatu konsep tentang “wahyu yang hidup, yaitu wahyu yang terdiri dari teks dan konteksnya sekaligus,…Prof. Arkoun mempunyai analisa yang baik mengenai hal ini. Dia mengajukan suatu istilah “Tajribatul Madinah”, atau pengalaman Madinah…ketika al-Qur’an sibukukan dan diresmikan dalam “Mushhaf” dalam lembaran-lembaran, maka yang tercatat sebagian besar hanyalah teks al-Qur’an, tetapi konteks yang melekat pada wahyu saat turun tidak ikut tercatat di dalamnya. Gerakan-gerakan Islam yang memperjuangkan agar umat kembali kepda “teks”, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang mengajak kepada suatu dokumen wahyu yang sudah kehilangan konteksnya” (alinea 12).

Asumsi yang kedua inipun sangat rapuh dan rancu:

a. Keyakinan bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang ada dalam Mushhaf, ini bukan seolah-olah tetapi hakekat kebenaran yang diimani oleh setiap mukmin dan yang ditolak oleh orang kafir.

Al-Qadhi Abu al-Fadhl Ayyadh al-Yahshubi al-Andalusi (544 H) menegaskan: “Umat Islam telah berijma’ (sepakat bulat) bahwa al-Qur’an yang telah dibaca di seantero dunia, yang ditulis dalam mushhaf yang ada di tangan umat Islam, yang disatukan di antara dua sampul kitab yang dimulai dari awal Alhamdulillah Rabb al-Alamin, hingga akhir Qul A’udzu Bi Rabb al-Nas, adalah kalam (ucapan) Allah dan wahyu-Nya yang diturunkan kepada Nabi Muhammad e. Dan bahwa semua yang ada di dalamnya adalah haqq[1]

Dr. Shubhi al-Shaleh mengatakan: “Al-Qur’an adalah al-kalam al-Mu’jiz (firman yang jadi mukjizat) yang diturunkan kepada Nabi e yang ditulis di dalam mushhaf, yang diriwayatkan secara mutawattir dan membacanya adalah ibadah.” Pengertian al-Qur’an seperti ini adalah disepakati oleh para ulama ahli Ushul, ahli fiqh, dan ahli bahasa Arab.[2] Ucapan Qadhi Ayyadh dan Shubhi al-Shaleh ini betul, seluruh ulama ahli sunnah disetiap zaman dan di setiap negeri mengimani seperti itu, termasuk imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafi’i dan imam Akhmad dll.[3]

b. Dalam alinea ke 12 ini, Ulil menyebut al-Qur’an adalah teks mati, sebanyak dua kali dan menyebut ia adalah dokumen wahyu yang sudah kehilangan konteksnya. Ucapan Ulil ini sangat merendahkan al-Qur’an yang agung, Allah saja menyebutnya sebagai al-Furqan, Dzikr Mubarak, ‘Aliy Hakim, Majid, Aziz, dan seterusnya hingga lebih dari 90 (sembilan puluh) gelar keagungan.[4]

c. Setelah Ulil merendahkan al-Qur’an yang ada dan keyakinan terhadapnya, ia mengusulkan konsep baru yang lebih baik, yang sebelumnya tidak diketahui oleh siapapun termasuk oleh seluruh sahabat Nabi e, bahkan oleh Nabi sendiri, yaitu apa yang ia sebut sebagai “wahyu Hidup” yang terdiri dari teks dan konteksnya sekaligus. Di sini Ulil melakukan dua kebodohan besar sekaligus

Pertama: ia menolak ajaran, bahwa al-Qur’an itu adalah firman Allah yang kemudian ditulis ke dalam Shuhuf oleh Nabi Muhammad dan disatukan dalam Mushhaf oleh khalifahnya atas kesepakatan seluruh sahabat y. Al-Qur’an adalah ucapan Allah yang terdiri dari huruf-huruf, ayat-ayat, surat-surat dan juz-juz yang ditulis, dihafal, dibaca dan didengar. Inilah yang diturunkan oleh Allah dan inilah yang disebut al-Qur’an. Perhatikanlah dengan hati yang bersih, firman Allah berikut ini:

] وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ[

Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (al-A’raf: 204)

] وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ[

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (al-Taubah:6)

] وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْءَانٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي[

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri.” (Yunus: 15)

] بَلْ هُوَ ءَايَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ[

Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (al-Ankabut: 49)

] إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيمٌ ! فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ ! لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ[

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (al-Waqi’ah: 77-79)

] وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْءَانُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ[

Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya).” (al-An’am: 19)

] وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا[

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan“.(al-Furqan: 30)

Allah juga membuka, mengawali 29 surat dengan huruf yang terputus, seperti كهيعص dan حم عسق Juga perhatikan sabda Rasul e yang teramat banyak, di antaranya:

(( مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالىَ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا: لاَ أَقُوْلُ (آلم) حَرْفٌ, وَلَكِنْ (أَلِف) حَرْفٌ و (لام) حَرْفٌ و (ميم) حَرْفٌ)) ( رواه الترمذى والدارمى. حديث صحيح)

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah Ta’ala. Maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan (dibalas) sepuluh kalinya, tidaklah aku berkata Alif Laam Miim itu satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf” (HR. Tirmidzi, Al-Darimi, Hadits Shahih)[5]

Dan al-Qur’an yang ada dalam Mushhaf itu sudah lengkap, tidak ada yang hilang dan tidak ada tambahan (termasuk yang disebut oleh Ulil dengan istilah konteks). Allah berfirman:

] لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ[

Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)

Kedua: Ulil usul al-Qur’an yang lebih baik, sebagai ganti dari al-Qur’an yang ada ini. Ini tergolong usul yang amat berani, menandakan orangnya punya nyali besar untuk bermusuhan dengan Allah. Ulil tidak bisa menerima al-Qaur’an kecuali jika ia itu “hidup” dalam arti lengkap dengan konteksnya. Dalam sejarah ahli Tahrif, iman dengan bersyarat itu biasa, generasi sebelum Ulil ada yang tidak mau beriman kecuali mereka melihat langsung al-Qur’an turun dari langit, bahkan generasi sebelumnya lagi ada yang mau beriman apabila Allah diperlihatkan kepadanya (baca, al-Nisa’: 153)

Orang kafir jahiliyah dulu, mengetahui bahwa yang disebut al-Qur’an itu, ya yang ada seperti sekarang ini, tetapi mereka ingin al-Qur’an versi lain (QS Yunus: 15). Dan mereka memiliki pandangan bahwa syarat kemenangan adalah dengan tidak mentaati al-Qur’an yang sesungguhnya ini, mereka berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh akan al-Qur’an ini, dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka) (QS Fushshilat: 26).

Yang lebih ironis lagi, pandangan Ulil yang sesat tersebut, di atas namakan kepada Sayyidina Ali secara dusta, ia berkata dengan lugu: “Benarlah kata Sayyidina Ali seperti yang telah dikutip di atas: Sesungguhnya Qur’an itu adalah teks mati (karena dikodifikasi dengan tanpa menyatakan dokumen tentang konteksnya).” Benarlah kata imam Syatibi (790 H), bahwa setiap orang yang keluar dari sunnah pasti suka memaksakan diri dalam beristidlal, sebab jika tidak demikian, pandangan yang dia lontarkan cukup membuktikan kalau dia dusta[6]

Perlu diketahui, bahwa al-Qur’an telah disampaikan oleh Rasul e baik lafadz (teks) atau bayan (penjelasan)nya. Sesudah Rasulullah e, lafadz al-Qur’an dan al-Sunnah (bayan al-Qur’an) disampaikan oleh para Qurra’ dan huffazh. Sedangkan makna al-Qur’an dan makna hadits disampaikan oleh para imam dan para fuqaha’, kedua macam tabligh tersebut bertumpu pada dua syarat utama, yaitu: ilmu tentang yang ia sampaikan dan shiddiq (jujur) dalam menyampaikan, ditambah dengan bagus jalan hidupnya dan baik suluknya[7]

d. Pendahulu Ulil selain Hasan Hanafi adalah Muhammad Arkoun (lahir di Aljazair 1928) guru besar pemikiran Islam di Sorbone, Paris. Arkoun, sejarawan yang berlatar belakang budaya Perancis itu, ingin menggabungkan antara nalar Islami yang menurutnya telah mengalamai kemandegan, dengan nalar Barat modern yang cenderung Positivistik, dengan cara dekontruksi metodologi keislaman. Metodologi Rethinking Islam tawaran Arkoun di atas, didasarkan pada ilmu-ilmu linguistik, semiotika modern, antropologi, sejarah sosial serta kemanusiaan kontemporer. Arkoun ingin bebas dari sakralisasi terhadap teks-teks agama dan dari metodologi keilmuan yang telah dibangun dan diwariskan oleh para ulama dalam rentang sejarahnya yang panjang. Menurutnya studi agama Islam ini dihambat oleh warisan definisi dan metode yang kaku dari teologi dan metafisika klasik. Teks Qur’an adalah wacana, teks yang terbuka, tidak mungkin disempitkan jadi idiologi. Wahyu yang tertulis adalah teks simbolis, yang menerima adanya lapisan-lapisan makna. Karena itu supaya tidak mensakralkan warisan para ahli tafsir, diperlukan cara baca baru, supaya bisa melahirkan makna baru. Secara umum Arkoun membaginya ke dalam dua tahap: Tahap analisis linguistik kritis (analisis teks) dengan menggunakan perangkat tata bahasa dn leksikografis yang dihimpun oleh tafsir-tafsir klasik, dan Tahap analisis hubungan kritis yang dilanjutkan dengan analisis mistis / simbolis[8]

Mengapa Arkoun menggunakan pendekatan linguistik? Dia memaparkan: “pelajaran dasarnya adalah bahwa al-Qur’an diwahyukan dalam bahasa Arab….oleh karena itu, inti pemikiran Islam harus ditampilkan sebagai suatu isu linguistik dan semantik”.[9]

Lalu mengapa Arkoun memadukan dengan pendekatan histories, sosiologis? Menurutnya: karena dimensi historisitas yang justru menentukan, bahkan pesan wahyu pun tunduk kepadanya, selama ini diabaikan[10] tak terpikir (unthinkable) dan tak terpikirkan (unthought). Dalam sistim pemikiran Islam yang “ortodoks”, semua budaya dan sistim pemikiran yang dihubungkan dengan masyarakat pagan, politeis (musyrik), jahili (pra Islam), atau modern sekuler berada dalam wilayah yang tak terpikir dan tak terpikirkan. Maka sudah saatnya untuk memasukkannya dalam wilayah yang terpikir (thinkable)[11]. Karena itu, Arkoun juga mengusulkan untuk melakukan kritik nalar Islam dan menulis ulang dalam teologis, legal dan historiografis[12]

Walhasil, rethinking Islam model Arkoun menganggap, Islam yang dipraktekkan oleh Rasul Allah dan yang dianut oleh ahlu sunnah, hanyalah Tajribatul Madinah (pengalaman Madinah), lalu sebagai gantinya ia memakai al-Qur’an dengan berdasarkan Tajribatul Urubbiyah (pengalaman Eropa), namun sayang seribu kali sayang, bukan meniru sains Eropa, melainkan meniru kesesatannya, seperti memandang al-Qur’an sama dengan Bible, memperlakukan al-Qur’an sama dengan Bible dan memisahkan agama dari kehidupan.

(more…)

Go to Top