Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (10)

16. Ulil mengatakan: “Setiap teks selalu mengandung lapisan-lapisan penafsiran yang bertingkat-tingkat”. (alinea 11)
Ucapan ini perlu diluruskan, pertama: Tidak setiap teks mengandung lapisan makna, karena ada teks yang bersifat manshush (ketentuan) yaitu kata bilangan seperti satu atau sepuluh, dan kata yang pemakaianya ada dalam satu model atau cara disetiap tempat kehadirannya. Maka kedua bentuk kata ini bersifat nash tidak menerima Ta’wil atau Majaz
Kedua: Lapisan-lapisan penafsiran itu tidak boleh menyalahi Zhahirnya lafadz atau teks, kalu tidak maka itulah yang disebut Tahrif (menyelewengkan) yang berarti Takdzib (mendustakan), sebagaimana yang dilakukan oleh Iblis laknatullah alaih.
Syaikhul Islam ibn Taimiyah mengatakan: “Ta’wil yang diterima adalah tafsir yang menunjukkan kepada maksud pemilik ucapan, apabila tidak demikian, maka hal itu adalah tahrif (penyimpangan) dan ilhad (pengingkaran), bukan termasuk tafsir atau penjelasan terhadap maksud
17. Ulil mengatakan: “Teks juga tidak bisa berbicra dengan sendirinya kepada masyarakat yang menerimanya, Qur’an misalnya, tidak bisa berbicara sendiri atas nama Tuhan tanpa adanya masyarakat tafsir yang membuat kitab suci itu berbicara kepada mereka”. (alinea 11)
Al-Qur’an yang dimaksud oleh Ulil bukanlah al-Qur’an yang diimani oleh Rasul Allah e dan umat Islam. Setiap muslim tahu bahwa al-Qur’an adalah ucapan Allah yang diwahyukan kepada utusan-Nya Muhammad e. Al-Qur’an dengan sendirinya adalah ucapan Allah, Tuhan semesta alam, bukan makhluk atau bukan ucapan makhluk dan bukan ucapan malaikat, bukan pula ucapan manusia, dia ucapan Allah yang berisi perintah, larangan dan petunjuk untuk manusia (baca: al-Taubah:6; al-Furqan: 1; al-Mudlatstsir: 25-26; Yasin: 69; dll).
18. Ulil berdalih: “Innama Yunthiquhhu Rijal”, kata Sayyidina Ali t:sesungguhnya yang membuat mushhaf atau Qur’an itu berbunyi adalah orang-orang”. Artinya teks agama tidak bisa hadir sebagai sesuatu yang bermakna bagi manusia tanpa adanya suatu “perantara” atau “makelar” (alinea 11).
Ucapan Ulil ini mengandung banyak kelemahan:
a. Tidak menyebutkan sumbernya
b. Tidak menyebutkan konteksnya. Sekali lagi ia adalah tekstual dalam hal-hal yang mendukung keinginannya, dan kontekstual dalam hal-hal yang tidak setuju dengannya.
c. Ucapannya “teks agama (al-Qur’an dan Sunnah) tidak bisa hadir sebagai sesuatu yang bermakna bagi manusia tanpa adanya suatu perantara atau makelar”, adalah terlalu lancang dan bertentangan dengan ijma’ umat Islam dan firman Allah, misalnya:
]وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْأَنَ فَهَلْ مِنْ مَدَّكِرْ[
“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar: 17,22,32,40)
Syeh Abd al-Aziz Alu Salman menyimpulkan bahwa siapa saja yang ingin mengambil petunjuk dengan al-Qur’an maka pintunya terbuka lebar.
Selain itu banyak cerita orang kafir masuk Islam karena membaca atau mempelajari al-Qur’an, atau berkesimpulan bahwa al-Qur’an itu adalah haqq; Firman Allah bukan ucapan Muhammad, setelah mereka meneliti isi al-Qur’an, seperti Prof. Keith L. Moore, Prof. Taganat Tagason, Prof. Marshall Johnson, Prof. Persad, Prof. Palmar dan Prof. Syawda. Walhasil Ulil hanya “asbun” (asal bunyi), dan inilah yang akan membuat seseorang itu sengsara, apalagi berbicaranya atas nama Allah, sungguh dosa yang teramat besar dan keji.
d. Kemudian yang dimaksud dengan masyarakat tafsir itu siapa? Apakah orang kafir? Atau masyarakt muslim? Muslim yang mana? Para ulama’nya? Atau orang awamnya? Atau kaum fasiknya?, lalu muslim yang di mana? Muslim siapa? Apakah orang seperti Ulil? Lalu sebelum Ulil bagaimana?. Semua pertanyaan ini akan menyadarkan kepada kita bahwa ucapan Ulil adalah “Hadzayan” (igauan orang yang tidak sadar).
e. Ibarat orang tenggelam, ingin mendapat pegangan, tangan Sayyidina Ali t dipegang, dikiranya akan menolong, ternyata Sayyidina Ali malah melemparkannya ke pusaran air. Sayyidina Ali tidak menginginkan apa yang diinginkan oleh Ulil, tetapi beliau ingin mengatakan bahwa al-Qur’an yang Rahmatan lil alamain itu tidak akan dirasakan oleh dunia kalau tidak diamalkan oleh generasi Qur’ani sebagaimana generasi sahabat yang telah mempraktekkan seluruh isi al-Qur’an, meniru panutan mereka Muhammad e yang seluruh prilakunya adalah al-Qur’an, sehingga disebut dengan “al-Qur’an bergerak”.
Perlu diketahui, bahwa Sayyidina Ali pernah berkata: “Tidak akan bangkit hari kiamat sebelum umat Islam ini pecah menjadi lebih dari tujuh puluh golongan, semuanya di neraka dan hanya satu yang di surga.
Sayyidina Ali juga pernah mendengar bahwa Rasul Allah e pernah bersabda :
(( َألاَ إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتَنٌ .فَقُلْتُ: مَا اْلمَخْرَجُ مِنْهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: كِتَابُ الله فِيْهِ نَبَأُ مِنْ قَبْلِكُمْ وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ, وَهُوَ الْفَصْلُ لَيْسَ بِالْهَزْلِ. مَنْ تَرَكَهُ مِنْ جَبَّاٍر قَصَمَهُ الله, وَمَنْ ابْتَغِى اْلهُدَى مِنْ غَيْرِهِ أَضَلَّهُ الله, وَهُوَ حَبْلُ الله الْمَتِيْنُ, وَهُوَ الذِّكْرُ الْحَكِيْمُ, وَهُوَ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ ))
“Ketahuilah bahwasannya bakal terjadi fitnah-fitnah (kekacauan, termasuk kekacauan pemikiran, pent.)! Kami bertanya: “Bagaimana jalan keluarnya wahai Rasul Allah?” Beliau bersabda: “Berpegang teguh dengan kitabullah, sebab di dalamnya disebutkan sejarah orang-orang sebelum kalian, dan kabar tentang yang akan datang setelah kalian, dan di dalamnya juga terdapat hukum terhadap perselisihan di antara kalian. Ia adalah pemisah antara hak dan bathil, ia adalah kata putus bukan senda gurau. Barang siapa meninggalkannya karena keangkuhan, niscaya Allah akan membinasakannya. Dan barang siapa mencari petunjuk dari selainnya, nisvcaya Allah akan menyesatkannya. Ia adalah tali Allah yang kokoh. Dan ia adalah bacaan yang penuh hikmah. Dan ia adalah jalan Allah yang lurus.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Ibn. Al-Qayyim, Bada’i al-Fawaid (Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1414), Jilid I0, hal. 14
Al-Sa’di, Op. cit (1413), hal. 47 dan 205
Abd. al-Aziz Alu Salman, Al-Anwar al-Sathi’at Li Ayat Jami’at (Cet 6, 1421) hal. 396
Lihat, Taufiq Muhammad Alwan, Muhammad Wa al-Mu’jizah al-Uzhma (Riyadh, Dar Balansiyah, 1421) hal. 63-75; Kitab Innahu al-Haqq yang diterbitkan oleh Hai’ah al-I’jaz al-ilmi Li al-Qur’an Wa al-Sunnah, Makkah. tt
Ibn. Baththah, Op. cit, hal. 375
Abdullah ibn Jibrin, Malapetaka Akhir Zaman (Jakarta, al-Sofwa, 1420) hal. 4-5
Related Posts
Comments are closed.
Komentar