Kepercayaan Syi’ah dan Pernyataan Mereka Tentang Kekafiran Para Ibu Kaum Mukminin (Istri-istri Rasulullah) dan Para Sahabat Rasulullah

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

M. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)


Ketiga: kepercayaan Syi’ah dan pernyataan mereka tentang kekafiran para ibu kaum Mukminin (istri-istri Rasulullah) dan para sahabat Rasulullah serta kebohongan yang mereka atas namakan Allah dan Rasul-Nya serta para pendahulu dari umat Islam ini yang telah membuktikan kebenaran janji-janji mereka kepada Allah serta membela kebenaran dan berlaku adil.

Kami akan nukilkan untuk anda, wahai kaum Muslimin sebagian dari pernyataan ulama-ulama Syi’ah dalam kitab-kitab induk mereka (kami memohon ampun kepada Allah Dzat Yang Maha Mulia dan kami bertaubat kepada-Nya, karena menukil pernyataan kekafiran dan kebohongan yang mereka atas namakan para wali-wali Allah) sekedar untuk maksud memberikan bukti atas kesesatan mereka, sehingga setelah melihat kebenaran dipersilahkan untuk binasa, barangsiapa menghendaki kebinasaan, dan tetap selamat orang yang mau mengikuti kebenaran.

1. Tokoh ulama Syi’ah yaitu al-Majlisi di dalam kitabnya “Hayatul Qulub” 2:700, cetakan Teheran”, menyebutkan: “Sungguh al-Ayyaasyi meriwayatkan dengan sanad yang masyhur dari ash-Shadiq a.s bahwa Aisyah dan Hafsah keduanya dilaknat oleh Allah begitu pula kedua bapaknya, karena kedua wanita tersebut telah membunuh Rasulullah dengan racun yang diminumkan kepadanya.”

2. Ulama Besar Syi’ah, Muhammad Baqir al-Majlisi dalam kitabnya “Haqqul Yaqiin, hal.519″ berkata: “Kepercayaan kami mengenai tabarru’ ialah bahwa kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyyah, serta empat orang wanita: Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummu Hakam, serta pengikut mereka dan golongan mereka, Meraka adalah makhluk Allah yang paling jahat di muka bumi. Sesungguhnya tidaklah sempurna keimanan kepada Allah, Rasul-Nya dan para Imam, kecuali jika seseorang telah melepaskan diri dari musuh-musuh mereka.”

Wahai para hamba Allah, perhatikanlah kebencian dan kedengkian Syi-i Rafidli durhaka ini yang berlaku bohong dengan keji, yang mencerca kehormatan para ibu kaum Mukminin, dan para sahabat Rasulullah yang adalah manusia terbaik sesudahnya dan celaan mereka kepada segenap kaum Muslimin. Namun kita merasa cukup Allah sebagai pelindung kita atas mereka. Sedangkan kepada penjahat-penjahat konco iblis, kami menjadikan Allah sebagai penghukum mereka dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan-kejahatan mereka.

3. Seorang tokoh Ahli Hadits Syi’ah dan salah seorang ulamanya, yaitu al-Kulaini di dalam kitabnya “Ar-Raudhah Minal Kaafi, 8:245, menyebutkan: “Para shahabat sepeninggal Rasulullah murtad dari padanya, kecuali tiga orang al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.”

4. Seorang tokoh dan ulama mereka, Salim bin Qais al-Amiri di dalam kitabnya halaman 96, berkata: “Semua sahabat sepeninggal Rasulullah saw menjadi murtad, kecuali empat orang.”

5. Ahli hadits mereka yang terkemuka, Husein bin Abdul Shamad al-Amili di dalam kitabnya “Wushulul Akhyar ilaa Wushulil Akhbar” mengenai sifat-sifat shahabat ia berkata: “Kami bertaqarrub kepada Allah dan Rasul-Nya dengan jalan membenci shahabat-shahabat, mencela mereka dan membenci setiap orang yang mencintai mereka.” (Baca halaman 164, cetakan Qom, Iran).

6. Mereka menisbatkan suatu kisah bohong dan dusta kepada Ja’far ash-Shadiq, katanya: “Apabila sampai kepada kalian dua hadits yang berlawanan, maka ambillah hadits yang berlawanan dengan umat ini (umat Islam).” Dan katanya pula: “Sesuatu yang menyalahi umat Islam, maka itulah sesuatu yang benar.”

7. Dan katanya pula: “Demi Allah, kalian sama sekali tidak benar meniru apa yang ada pada mereka (umat Islam). Dan mereka pun sama sekali tidak benar meniru apa yang ada pada kalian. Karena itu berbedalah kalian dari mereka. Apapun yang mereka lakukan sama sekali tidaklah termasuk hal yang benar.”

8. Mereka pun menisbatkan kepada Ash-Shadiq juga, katanya: “Demi Allah, tidak ada sedikitpun kebenaran yang masih tinggal ditangan mereka (umat Islam). Yang tersisa pada mereka hanyalah menghadap Ka’bah.” (Al Fushulul Muhimmah fii Ushulil Aimmah, karya al-Khur al-Amili, halaman 225/425).

Mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak sependapat dengan mereka dan tidak membenarkan kepercayaan mereka yang sesat itu dan tidak tunduk kepada mereka sekalipun itu para Nabi dan para Rasul, silahkan mengikuti apa yang mereka katakan: (more…)

Abu l-Hasan Al-Asy’ari Imam Yang Terdzalimi

Abu al HasanJudul Buku : Abul Hasan Al-Asy’ari Imam yang terdzalimi
tebal : 246 Hal
Ukuran :
15,5 x 24
Harga : Rp. 50.000,-
Pemesanan : 085855041000

Umat Islam Indonesia adalah ahlus sunnah waljama’ah, yang mayoritasnya adalah pengikut Aqidah Asy’ariyyah. Aqidah Asy’ariyyah ditandai dengan keimanan kepada sifat 20; serta menakwil sifat-sifat Allah yang lainnya.

Semua permasalahan yang terkait dengan imam Al-Asy’ari dan Asya’irah; petualangan beliau dalam pemikiran, akidah dan dakwah, serta penyimpangan kaum Asya’irah dan pertaubatan tokoh-tokoh Asya’irah, serta sikap ulama pengikut madzhab 4 terhadap Asya’irah bisa anda baca di buku ini.

Ustadz KH. Khalil Ridwan, Ketua MUI pusat bidang Dakwah berkata:

“Dalam buku yang ditulis oleh ananda Agus Hasan Bashori ini, anda bisa temukan apa yang barangkali selama ini seakan tertutupi (tidak anda ketahui) tentang Imam Abul Hasan, mulai dari biografi hingga akidah dan kezaliman yang dituduhkan kepada beliau. Dalam hal ini, penulis mengupas permasalahan secara memuaskan, apalagi melihat background-nya yang sangat kental dengan Asy’ariyah, dimana penulis muda ini menghabiskan masa-masa belajarnya di awal usia dalam lingkup pesantren tradisional salafiyah…… karya tulis ini semakin memiliki nilai dan pantas untuk dibaca.”

Ustadz M. Yusuf Harun, MA., berkata: “Dalam kajian ini, ustadz Agus Hasan Bashori – Jazahullahu khairan – telah mengupas sisi-sisi perjalanan hidup sang tokoh dengan merujuk kepada referensi yang patut dipercaya. Bukan hanya sekedar itu, dia juga melakukan kajian perbandingan antara aqidah al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan aqidah kaum Asya’irah atau Asy’ariyyah pada umumnya, sehingga dengan demikian dapat ditemukan titik-titik persamaan dan perbedaan antara keduanya.

Kajian ini menurut kami, sangat penting karena melalui berbagai referensi yang menjadi rujukan penulisnya dapat memberikan kepada kita gambaran yang benar tentang perjalanan hidup seorang tokoh yang mempunyai banyak penganut dan pengagum di seluruh dunia Islam.”

Ustadz Dr. Mawardi Muhammad, MA., Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau berkata: “Buku yang ada di hadapan anda ini memberikan keterangan yang jelas, ilmiah dan akurat tentang hakikat manhaj aqidah yang diikuti oleh Abu Hasan Al-Asyari. Penulis telah dapat menjelaskan periodisasi perkembangan pemikiran akidah Abu Hasan Al-Asyari, yang mana pemikiran akidah beliau berakhir pada manhaj akidah salaf, setelah lama beliau bergelut dengan pemikiran aqidah Mu’tazilah dan Kullabiyah. Dengan merujuk kepada referensi-referensi asli yang terpercaya, ditambah lagi dengan pemaparan ide-ide pemikirannya yang sistematik, disertai dengan dalil dan berbagai argumentasi, maka buku yang ditulis oleh al-Ustadz Agus Hasan Bashori ini sangat patut dibaca dan dijadikan referensi oleh banyak kalangan, khususnya yang ingin tahu tentang perjalanan hidup dan perkembangan pemikiran tokoh ulama terkenal ini yang sarat dengan nilai, pelajaran dan motivasi.”

kepercayaan Syi’ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

M. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

Kedua: kepercayaan Syi’ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka.

Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah berkepercayaan terhadap Imam-imam mereka, bahwa mereka mengetahui hal ghaib dan merupakan manusia Ma’shum serta mempunyai derajat lebih tinggi dari para Nabi dan Rasul Allah, dan mereka hanyalah bisa mati atas kehendak mereka sendiri. Mereka menempatkan martabat para imam mereka setaraf dengan derajat ketuhanan, sebagaimana mereka katakan, bahwa para imam tersebut mengetahui hal yang sudah terjadi dan segala yang akan terjadi serta mengetahui segala isi Surga dan Neraka dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka – kebohongan dan kedustaan yang mereka lakukan atas nama Allah, dimana seseorang yang berakal sehat dan berjiwa waras berdiri bulu romanya untuk menukil ucapan semacam itu, tetapi anda mendapatinya semuanya tercantum di dalam buku-buku induk mereka yang paling terpercaya dan paling mereka agungkan.

Berikut ini wahai saudaraku Muslim, kami kutipkan keyakinan dan pendapat-pendapat mereka sebagaimana tersebut di atas dari kitab-kitab kaum Syi’ah, agar anda mengetahui permasalahannya secara jelas tentang ajaran dan perihal mereka, sehingga anda dapat membantah kebohongan mereka dan tipu daya mereka serta dapat menghentikan nafas mereka dan membungkam trompet mereka.

1. Dari Mufadhdhal bin Umar, dari Abi Abdillah a.s; adalah Amirul Mukminin semoga kesejahteraan Allah banyak terlimpah kepadanya, berkata: “Aku adalah penyalur Allah antara Surga dan Neraka. Aku adalah pembeda agung antara hak dan batil. Akulah pemilik tongkat Musa dan telah mengakui diriku semua Malaikat dan ruh serta rasul-rasul sebagaimana mereka lakukan pengakuan itu kepada Muhammad saw. Telah dipikulkan amanat kepadaku seperti yang dipikulkan kepadanya, yaitu amanat Tuhan. Dan sesungguhnya Rasulullah saw, pernah dipanggil lalu dibekali, dan aku pun pernah dipanggil lalu dibekali serta dia diajak bicara dan aku pun juga diajak bicara sehingga aku mengucapkan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Aku telah diberi beberapa pemberian yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumku. Aku mengetahui kematian dan bencana serta seluruh silsilah keturunan dan kata-kata pemutus, sehingga apa yang terlebih dahulu daripadaku tiada terluput dari diriku, dan tiada sesuatu yang jauh dariku dapat terlepas dari pengetahuanku. Aku memberi kabar gembira dengan izin Allah dan menunaikan tugas atas nama-Nya. Semua itu dari Allah yang telah menempatkannya pada diriku dengan Ilmu-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, hal. 196-197, juz 1, cetakan Teheran).

2. Ia berkata: “Sungguh aku benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi serta segala yang ada di surga dan neraka dan apa yang telah terjadi serta sedang dan akan terjadi”, (Al Kaafi fil Ushul, 1:261, cetakan Teheran).

3. Ia berkata: “Allah Tuhan Yang Maha berbarakah dan Maha Tinggi memiliki dua ilmu: Satu ilmu ditampakkan kepada Malaikat-Nya, para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya. Semua yang ditampakkan kepada para Malaikat, para Rasul-Nya dan para Nabi-Nya sesungguhnya kami juga mengetahuinya. Dan satu ilmu yang dikhususkan untuk Dzat-Nya. Bilamana ada sesuatu hal yang terlintas pada Allah, kami pun diberitahu hal yang demikian itu. Dan para imam yang ada sebelum kami juga diberitahu. (Al Ushul Minal Kaafi, 1:255).

4. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Allah telah menciptakan Ulul Azmi di antara Rasul-rasul-Nya dan mereka dikaruniai kelebihan ilmu dan kami mewarisi ilmu mereka dan kelebihan mereka itu serta kami dilebihkan di atas ilmu mereka. Dan diajarkan kepada Rasulullah saw apa yang mereka tidak ketahui dan diajarkan kepada kami ilmu Rasulullah saw serta ilmu mereka.” (Bashairud Darajat, 5:248 dan Al Fushulul Muhimmah, hal. 156).

5. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Sesungguhnya dunia ini milik imam dan akhirat pun milik Imam. Dia meletakkannya di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:409, cetakan Teheran).

6. Mirza Muhammad Haadi al-Khurasaani berkata: “Telah bersabda saw: Sungguh surga itu diciptakan untuk orang yang mencintai Ali, sekalipun ia durhaka kepada Rasulullah. Neraka diciptakan untuk orang yang membenci Ali, walaupun ia taat kepada Rasulullah.” (Risalatul Islam Wal Mukjizat, hal. 276).

7. Kulaini dalam bukunya Al Kaafi di dalam bab “Para Imam Syi’ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya akan mati atas kehendak sendiri”, meriwayatkan dari Abi Bashir, dari Ja’far bin Muhammad al-Baqir, bahwa ia berkata: “Seseorang Imam yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari dirinya dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi, maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untul makhluk-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:285, cetakan Teheran).

(more…)

Komentar Manis (bag.3)

KOMENTAR MANIS

(bag.3)

Pada komentar manis 2 sudah kita tanggapi hadits ( a) yaumul indzar yang dipakai oleh bapak Muhammad Anis sebagai hujjah. Kini kita lanjutkan dengan hadits berikutnya yang dijadikan hujjah oleh Bapak Muhammad Anis (mengutip dari Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam “Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah”, jilid 3), yaitu;

(b). Abu Sa’id Al-Khudri berkata :

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :

Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul -Shalallahu alaihi wa salam-. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam- menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam- dengan pengkhianat amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam-. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

KOMENTAR MANIS

Pertama: Ucapan Abu Said ra perlu dibuktikan keabsahannya, jika tidak, maka sekedar menyebutkan tidaklah menjadi hujjah sama sekali menurut kesepakan para ulama dan seluruh manusia. Apalagi dalam riwayat itu abu said al-Khudri membenarkan pengkafiran seluruh sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Ini adalah riwayat mereka seperti yang disebutkan oleh salah satu situs mereka:

عن أبي هارون العبدي، قال: كنت أرى [رأي] الخوارج لا رأي لي غيره حتَّى جلست إلى أبي سعيد الخدري رحمه الله فسمعته يقول:

أمر الناس بخمس، فعملوا بأربع وتركوا واحدة.

فقال له رجل: يا أبا سعيد ما هذه الأربع التي عملوا بها؟

قال: الصلاة والزكاة والحج وصوم شهر رمضان.

قال: فما الواحدة التي تركوها؟

قال: ولاية علي بن أبي طالب (عليهِ السَّلام).

قال الرجل: وإنَّها لمفترضة؟

قال أبو سعيد: نعم ورب الكعبة.

قال الرجل: فقد كفر الناس إذن؟

قال أبو سعيد: فما ذنبي.( أمالي الشيخ المفيد 90 مجلس 17 ح3)

Apalagi Syiah terbukti memalsukan atau menggunakan beberapa hadits palsu atas nama sahabat Abu said (salah satu situs mereka memuat makalah berisi 48 hadits palsu atas nama sahabat yang mulia ini), misal hadits untuk menafsiri ayat al-Maidah: 3, yaitu hadits:

فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: الله أكبر على إكمال الدين، وإتمام النعمة، ورضا الرب برسالتي، وبالولاية لعليٍّ من بعدي.

Hadits ini banyak mereka kutib di situs-situs mereka untuk menjelaskan peristiwa Ghadir Khum. Juga hadits:

عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( أعطيت في علي خمسا ، أما إحداها : فيواري عورتي ، والثانية : يقضي ديني ، والثالثة : إنه متكئ في طول المواقف ، والرابعة : فإنه عوني على حوضي ، والخامسة : فإني لا أخاف عليه أن يرجع كافرا بعد إيمان ، ولا زانيا بعد إحصان )

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Muhammad ibn Abdir rahman al-Qusyairi, dia adalah pendusta. IbnHatim mengatakan: Ia matruk al-hadits, ia berdusta dalam hadits. Abul Fath al-Azdi berkata: Ia kadzdzab matruk al-Hadits sebagaimana biografinya dalam al-Mizan dan al-Tahdzib dan lainnya.

(more…)

Aqidah Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

M. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt – berikut ini marilah dicamkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para Imam dan Ulama Islam, yang dengan pernyataan mereka yang tegas menyatakan kekafiran Syi’ah Rafizhah Imamiah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah serta terhempasnya mereka dari Islam laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Dalil yang digunakan oleh para Ulama dalam menetapkan hukum tersebut adalah dalil-dalil Qathi’, di mana golongan yang telah keluar dari Islam ini sudah berbeda prinsip maupun detailnya serta konsep-konsepnya dari Aqidah Ahlil Kiblat, yaitu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, agar kaum muslimin tidak terkecoh oleh mereka dan dengan secara jelas memahami golongan yang telah keluar dari Islam ini serta aqidah-aqidahnya yang sesat.

Golongan yang telah keluar dari Islam ini berusaha dengan berbagai macam cara menyelubungi dirinya di balik slogan-slogan yang sesat, bahwa mereka “masih termasuk Ahlil Kiblat” dengan mengerahkan kemampuan penulisan dan propagandis bayaran mereka. Untuk dakwah dan propagandanya ini golongan tersebut membelanjakan harta yang banyak sekali guna menjaring orang-orang awam dan memasukkan mereka di dalam jebakannya. Golongan ini terkadang mempergunakan slogan “demi persaudaraan Islam”, padahal mereka adalah manusia yang paling jauh dari Islam dan pengikutnya. Terkadang pula mereka menggunakan slogan “sambung rasa” antara golongan Sunnah dan Syi’ah. Tetapi bagaimana mungkin dan kapan bisa terjadi adanya “sambung rasa” antara yang hak dengan yang bathil. Prinsip apa yang akan digunakan untuk membangun persatuan antara yang baik dengan yang buruk. Bagaimana bisa berhasil mempertemukan serta terjadinya kesepakatan antara hidayah dan kesesatan?. Dan terkadang di tampilkan slogan “apakah boleh mengkafirkan golongan sesama satu Kiblat?” Slogan-slogan tersebut memang benar, tetapi dimanipulasi untuk tujuan bathil. Sebab Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah dan tidak menyatakan sesuatu pernyataan seperti yang dikatakan oleh golongan Syi’ah, bahwa Karbala, Qom, Kufah lebih mulia daripada kota Makkah dan Madinah. Ahlil Kiblat tidak akan mengatakan “barangsiapa pergi haji 20 kali ke Makkah tertulis pahalanya senilai dengan sekali pergi ziarah ke kuburan Husein”. Ahlil Kiblat tidak akan berkeyakinan bahwa “Allah menyaksikan para pengunjung kuburan Husein sebelum menyaksikan para Haji di Arafah”. Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah sebagaimana diucapkan dan menjadi keyakinan golongan Syi’ah, bahwa Allah berkata kepada Ka’bah: “Pemberian-Ku kepadamu bila dibandingkan dengan pemberian-Ku kepada bumi Karbala adalah laksana kelembaban sebuah jarum yang dicelup dalam laut berbanding dengan air laut itu. Sekiranya tidak karena bumi Karbala, niscaya Aku tidak memuliakanmu dan sekiranya tidak karena orang yang terkubur di bumi Karbala, niscaya Aku tidak menciptakanmu.”

Bualan dan kebohongan yang berjejal ditulis oleh seorang ulama Syi’ah Rafizhah Istna Asy’ariyah Ja’fariyah, bernama Al Hurru Al ‘Amili di dalam bukunya “Wassailus Syi’ah” jilid v, niscaya Ahlul Kiblat tidak akan mengucapkannya, dan tidak mungkin diucapkannya. Akan tetapi orang-orang yang mengatakan dan mempercayai bualan serta kebohongan semacam ini dan kesesatan seperti itu adalah golongan Syi’ah Rafizhah Imamiyah. Karena mereka memang bukan Ahlil Kiblat dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam dan umatnya.

Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt. Demi memahami dan mengerti dengan jelas masalah Syi’a Rafizhah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah, maka di dalam sajian ini kami akan ketengahkan keyakinan Syi’ah terhadap Al-Qur’an. Bahwa menurut mereka Al-Qur’an telah diubah, telah ditambah dan dikurangi. Sedangkan Al-Qur’an yang asli sesungguhnya ada ditangan juru selamat yang mereka khayalkan dan ditunggu kedatangannya, dimana Al-Qur’an itu adalah tiga kali lebih banyak daripada yang ada ditangan umat Islam. Mereka percaya bahwa Imam-imam mereka mengetahui soal-soal ghaib, dan imam-imam itu baru bisa mati bila mereka berkehendak untuk mati. Mereka itu adalah orang-orang yang terpelihara dari segala kekurangan dan dosa, lebih mulia dari para Nabi dan Rasul, mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi serta mengetahui segala isi surga dan neraka. Mereka menyatakan dan berkeyakinan, bahwa para sahabat yang telah mendapat ridha Allah itu setelah Rasulullah wafat semuanya murtad dari Islam, kecuali belasan orang sahabat. Mereka berkeyakinan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman dan para istri Rasulullah ‘Aisyah dan Hafsah serta sahabat Thalhah dan Zubair serta orang-orang yang mengikuti mereka, (semoga Allah melindungi kita) adalah orang-orang Zindiq dan kafir. Kebohongan, keyakinan dan pernyataan kekafiran yang mengeluarkan orang dari Islam lagi sesat serta menyesatkan semacam ini, mereka tulis didalam buku-buku induk mereka dan menjadi prinsip-prinsip agama dan panduan mereka. Di antara buku-buku yang telah menjadi kiblat mereka dan prinsip-prinsip agama mereka kami jadikan sebagai bukti kepada mereka agar menjadi binasa orang yang melawan bukti kebenaran dan menjadi selamat orang yang mau mengikuti kebenaran. Allahlah pemberi petunjuk kepada jalan yang benar.

(more…)

Go to Top