22. Ulil juga mengatakan : “Teks Qur’an tidaklah sesusatu yang “self sufficient”, mencukupi dirinya sendiri … karena teks Qur’an sebetulnya adalah teks yang tali temali, kait berkelindan dengan teks-teks lain….. antara lain adalah: sejarah sosial masyarakat Arab, tradisi literal yang sangat kaya dan maju pada zaman itu, konteks politik dan hubungan-hubungan kekuasaan pada masa turunya wahyu, tradisi-tradisi kepercayaan dan keagamaan yang hidup pada saat tersebut, dan sebagainya (Alinia 14)
Ada dua hal yang perlu kita komentari:
Pertama: “ Qur’an tidak bisa mencukupi dirinya sendiri”. Ini adalah ucapan yang lancang, tidak mengangungkan sama sekali kepada Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an dan yang telah menyatakan dengan benar[1]:
] وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ[
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu “ (an-Nahl; 89)
] مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ[
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab” (al-An’am: 38)
] وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا[
Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci” (al-An’am: 114)
] الر ! كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ[
Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,” (Huud: 1)
] مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ[
Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111).
] وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْءَانُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ[
“Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (Yunus: 37)
] وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ[
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (al-A’raf: 52)
Kedua: kemudian Ulil mengabaikan penjelasan Rasul e, padahal tugas utama Rasul Allah adalah menyampaikan dan menjelaskan. Lalu siapakah yang dusta? Allah atau Ulil? Allah Maha Benar dalam firmannya:
] وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ[
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka,” (an-Nahl: 44)
Maka Rasulpun menjelaskan seluruh al-Qur’an dengan bimbingan wahyu. Syikhul Islam menjelaskan macam-macam bayan yang dilakukan oleh Rasul e, yaitu menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan kandungannya, dengan ucapan, perbuatan atau dan iqrarnya. Penjelasan Nabi langsung diawali oleh Nabi atau mereka bertanya kepada beliau[2]
Maka teramat aneh kalau ada orang yang mengaku muslim, kemudian tidak menanyakan penjelasan Rasulnya, melainkan mencari tradisi jahiliyah sebagai syarahnya. Jadi yang betul rincian dan penjelasan al-Qur’an harus dicari di dalam Sunnah. Karena itu imam Makhul al-Syami mengatakan bahwa al-Qur’an lebih membutuhkan kepada Sunnah dari pada Sunnah kepada al-Qur’an[3]
Semakin jelaslah bahwa tujuan Abdu konteks itu bukan mencari kebenaran tetapi yang penting “beda” dan keluar dari warisan Rasul Allah e.

[1] Lihat, Abu al-Hasan al-Nadwi, al-Madkhal Ila al-Dirasat al-Qur’aniyah (Dar al-Shahwah 1406) hal. 18-20
[2] Al-Sa’di, Op. cit (1413) hal. 207
[3] Ibn Baththah, Op. cit. I/253