Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal Jamaah (bag. 3)
PENILAIAN TERHADAP BUKU
“MADZHAB AL-ASY’ARI, BENARKAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH?
bag. 3
- Asy’ari dan Maturidi sama
Penulis mengatakan: ideologi madzhab al-Maturidi sama dengan ideologi madzhab al-Asy’ari…..perbedaan antara keduanya hanya bersifat verbalistik (lafdzi), tidak prinsip dan substantif (hakiki dan maknawi)(112)
Ini bertentangan dengan kenyataan, jika kenyataan ini dibuka(oleh mereka) maka yang namanya firqah najiyah pasti salah satu dari mereka (menurut mereka), karena firqah najiyah Cuma satu bukan firqatan.
Pertama: al-Maturidiyyah sama dengan muktazilah mengatakan bahwa ketika Allah berbicara kepada Musa Allah menciptakan kalam di pohon. Jadi Musa bukan mendengar ucapan Allah tapi ucapan dari pohon.Ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi. Kata Imam Baihaqi: imam Asyari sangat mengingkari ucapan ini dan menjelekkan sekali serta membantahnya dengan keras. (Al-Baihaqi, al-I’tiqad, tahqiq Ahmad isham, 96) Dalam hal kalam Maturidiyyah berkata: Kalamullah tidak bisa didengar, yang didengar adalah ibaratnya. Musa mendengar huruf yang diciptakan oleh Allah yang menunjukkan atas kalamnya. Sementara asy’airah: kalamullah yang an-nafsi itu bisa didengar yaitu dengan diciptakannya idrak pada diri pendengar.
Kedua: As-Subki merasa keberatan dan sewot saat kaum hanafiyyah maturidiyyah mengkafirkan ulama syafiiyyah (asyairah) dengan fatwa mereka yang tidak membolehkan shalat di belakang syafi’iyyin karena mereka mengakui ucapan ana mukmin inysaallah, dan syafi’iyyah menjadi kafir karena itu. Ini diceritakan az-zabidi dalam al-Ithaf (2/278) juga mereka melarang di belakang asyairah karena mereka mengatakan kemakhlukan iman.
Ketiga: Muhammad abu zahrah bersaksi: Banyak orang meyakini bahwa khilaf antara Asyairah dan Maturidiyyah tidak besar, akan tetappi ketika dikaji secara mendalam pandangan-pandangan al-Maturidi dan al-Asy’ari yang terakhir kita dapatkkan ada perbedaan dalam berfikir, yang satu memberikan dominasi untuk akal lebih dari yang lain. (maksudnya maturidiyyah yang lebih dekat ke mu’tazilah.) ) Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah, 176)
Keempat: ibn Hajar al-Makki dan Mulla Ali Qari berkata: Shifat aaf’al haditsah menurut asyairah dan qadimah menurut maturidiyyah (ithaf sadah, 2/158)
Kelima: Imâm Ahmad al-Faruqi as-Sarhindi an-Naqsabandi al-Hanafî al-Mâturidîy (w. 1034 H) mengatakan: “Madzhab Asy’arîy disebut Jabr Mutawassith (Jabariyyah sedang/pertengahan), tetapi pada hakikatnya adalah Jabariyyah, karena manusia tidak mempunyai ikhtiar (pilihan) sama sekali menurutnya.”[1]
Keenam:Ada banyak kitab yang ditulisuntuk menjelaskan khlifaf antara dua firqah ini. yang saya tahu ada 16 judul kitab.
Sebenarnya pertentangan ini bukan hanya maturidi vs asy’ari, tapi juga asy-ari vs asy’ari, misalnya Ad-Dasuki berkata: “Hendaklah murid yang baru belajar waspada agar tidak menggunakan potensinya untuk mengambil pokok-pokok ajaran agamanya dari kitab-kitab yang dipenuhi dengan ucapan para filosof dan yang penulisnya senang mengutip hawa (nafsu) mereka, akidah mereka yang nyata-nyata kufur yang mereka tutupi kenajisannya dengan istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan yang kebanyakannya adalah istilah-istilah tanpa makna, seperti kitab-kitab Fakhrur Razi dalam ilmu kalam dan kitab Thawali’ al-Anwar milik al-Baidhawi serta orang-orang yang mengikuti langkah mereka berdua dalam hal itu. Dan jarang selamat orang yang suka berkawan dengan ucapan para filosof, atau jarang yang memiliki cahaya iman di hatinya, atau lisannya. Bagaimana akan selamat orang yang loyal pada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”[2]
Yang dimaksud dengan orang-orang yang mengikuti ar-Razi dan al-Baidhawi menurut Dasuki adalah seperti al-Armawi (656), as-Sa’ad at-Taftazani, Adhud din al-Iiji, dan Ibnu Arfah.
- Ciri Ahlussunnah:
Gus idrus berkata: Apabila anda ditanya, apakah ciri khas akidah ahlussunnah waljama;ah” maka jawabannya adalah: ahlussunnah waljama’ah meyakini bahwa Allah itu ada tanpa arah dan tanpa tempat. (178)
Pertama: Sunnguh ini ciri yang aneh, tak terpikir oleh orang yang fitrah dan berakal sehat.
Seandainya gus menjawab misalnya: yaitu orang yang berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf shalih (sahabat dan para imam ahli hadits) Tentu semua orang menerima dan faham.
Abdullah Ibn Saba’
ABDULLAH IBN SABA`
Sayyid Husain al-Musawi
(diterjemah oleh Abu Hamzah ibnul Qamari)
Sayyid Husain al-Musawi (ulama Najaf) dalam kitabnya Lillahi Tsumma Littarikh, terbitan Darul Amal Kairo, halaman 9-13 mengatakan:
Sesungguhnya yang yang masyhur di tengah-tengah kita- kaum syiah- bahwa Abdullah ibn Saba` adalah tokoh fiktif yang tidak ada hakikatnya, diciptakan oleh ahlussunnah untuk menikam orang syiah dan aqidahnya, sehingga mereka menisbatkan pendirian tasyayyu’ kepadanya agar manusia lari daripadanya dan dari madzhab ahlul bait.
Saya bertanya kepada sayyid Muhammad al-Husain Alu Kasyif al-Ghitha` tentang Ibn Saba` maka beliau berkata: Ibnu Saba` adalah khurafat (dongeng) yang diciptakan oleh dinasti umawiyyah dan abbasiyyah karena dengki kepada ahlul bait yang suci. Maka orang yang berakal tidak seharusnya menyibukkan diri dengan tokoh fiktif ini.
Akan tetapi saya menemukan dalam kitab beliau yang terkenal “Ashl as-Syiah wa Ushuluha” halaman 40-41 sesuatu yang menunjukkan adanya tokoh ini dan kebenarannya,. Beliau berkata: Adapun Abdullah ibn saba` yang mereka kaitkan dengan syiah atau mereka kaitkan syiah dengannya maka kitab-kitab syiahini semuanya melaknatnya dan berlepas diri darinya..”
Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah pernyataan tentang adanya sosok ini. Ketika saya menanyakan hal itu kepada beliau, beliau berkata: Sesungguhnya kkami mengatakan itu hanya karena taqiyyah (berbohong). Jadi kita tersebut yang dituju adalah ahlussunnah, oleh karena itu aku katakan sesudahnya: dengan catatan bahwa sangat mungkin hadits-hadits tentang abdullah ibn saba` dan semacamnya hanyalah khurafat yang dipalsukan oleh tukang cerita dan tukang begadang.”
Sayyid Murtadha al-Askari telah menulis kitabnya: Abdullah ibn saba` wa asathir ukhra (Abdullah ibn saba dan dogeng-dongeng lain), dia didalamnya mengingkari adanya sosok ibn saba`, sebagaimana diingkari oleh sayyid Muhammad Jawad Maghniyyah dalam prolognya terhadap kitab al-Askari tersebut.
Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal Jamaah (bag. 2)
PENILAIAN TERHADAP BUKU
“MADZHAB AL-ASY’ARI, BENARKAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH?
bag. 2
8.Klaim Ibn Abdil Barr Asy’ari (133)
Jawabannya ada dalam Jami’ Bayan Al-Ilmi Wa Fadhlihi tahqiq Abul Asybal Az-Zuhairi, 2/939-943)
9.Untuk membuktikan ibanah yang asli mengikuti ibn Kullab, dan tidak sama dengan paradigma Hanabilah dulu dan Wahabi sekarang ini penulis membawakan riwayat yang tidak benar (51-52) bahwa al-Barbahari tidak menerima al-Ibanah. Kisah ini (al-Barbahari tidak menerima al-Ibanah, kemudian al-Asy’ari keluar dari Baghdad) dibatalkan oleh imam ibn Ibnu Asakir ra dalam Tabyin kadzibil Muftari yang ditahqiq oleh al-Kautsari alhanafi al-maturidi (288). Juga didustakan oleh Ibn Taimiah, Dzahabi, karena bertentangan dengan fakta bahwa Asyairah dan Hanabilah waktu itu rukun, dan Asy’ari tidak pernah keluar dari Baghdad hingga meninggal.
10.Penulis mengatakan: Ibnu Kullab konsisten dengan metodologi salaf, dan bahwa metodologi salaf dan ibn Kullab sama, dan itu yang diikuti oleh al-Asy’ari (44, 50). Ucapan ini: -bertentangan dengan ucapan imam Asy’ari; dalam kitab Maqalat al-Islamiyyin. Al-Asy’ari menyebutkanHadza Dzikr al-ikhtilaf. Lalu dia menyebut perselisihan firaq-firaq yang ada, termasuk penyebutan Ibnu Kullab dan Ashhab ibn Kullab secara tersendiri (146,398, 421, 432) sebagaimana menyebut jahmiyyah, murjiah, mu’tazilah syiah dll., dan kemudian mengkhususkan bab “Hadzihi hikayah jumlah qawl ashhhab al-Hadits wa ahl as-sunnah (226).
11.Penulis menjelaskan sebab dituduhnya ibnu Kullab telah menyimpang dari ahlussunnah, dengan mengatakan: “Hal tersebut sebenarnya berangkat dari persolalan yang sepele yaitu pendapat apakah bacaan seseorang terhadap al-Qur`an termasuk makhluk atau bukan.” (47-48)
Saya berhusnuzhan bahwa penulis benar-benar tidak tahu perbedaan antara salaf dan ibnu Kullab, jika tidak berarti benar-benar memilih untuk menyalahi salaf shalih- dan itu mustahil menurut saya-. Imam al-Asy’ari dalam al-Maqalat mengatakan bahwa Ibnu Kullab mengatakan bahwa kalamullah adalah ‘ma’na wahid ( almaqalat,421). Selanjtnya imam asy’ari mengatakan: “Abdullah ibn Kullab mengklaim bahwa yang kita dengarkan dari para pembaca al-Qur`an adalah ibarah ‘an kalamillah (ungkapan dari kalam Allah, bukan kalam Allah itu sendiri, jadi konsekuensinya al-Qur’an yang bisa dibaca ini adalah makhluk), …. dan makna firman Allah yang artinya:
“Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (At-Taubah: 6) artinya hingga ia memahami kalam Allah[1], dan mengandung kemungkinan menurut madzhabnya, artinya adalah: hingga ia mendengar para pembaca al-Qur`an membacanya.”
Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal Jamaah (bag. 1)
PENILAIAN TERHADAP BUKU
“MADZHAB AL-ASY’ARI, BENARKAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH?
Jawaban Terhadap Aliran Salafi”
Tulisan:Muhammad Idrus Ramli
Oleh

الحمد لله وبعد : لقد بعث الله نبينا محمدًا صلى الله عليه وسلم- بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون، وقد تحقق هذا كماوعد- سبحانه وتعالى وقد ترك أمته على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها إلا هالك
Setelah membaca buku yang ditulis Gus Muhammad Idrus ini ternyata ada banyak informasi, asumsi, argumentasi, persepsi dan kesimpulan yang kurang atau salah bahkan menyesatkan. Dalam kesempatan yang sangat singkat ini kita bahas beberapa hal, antara lain:
- Istilah Asy’ari dan Salafi
Judul buku melawankan antara al-asy’ari dan as-Salafi- memang demikian adanya, namun penulis mengunggulkan al-asy’ari atas as-salafi.
Asy’ari adalah nisbat kebada imam abul Hasan al-Asy’ari (260-324 H). Sedang salafi adalah nisbat kepada as-salaf as-shalih yaitu generasi terdahulu dari para sahabat dan tabi’in dan atba’ attabi’in.
Jika nisbat kepada seorang imam dari abad ke 3 boleh dan terpuji tentu nisbat kepada seluruh imam dari 3 generasi awal islam yang pertama adalah lebih boleh dan lebih terbuji.
Jika mengikuti seorang imam di abad ketiga –yang tidak ma’shum- diyakini benar tentu mengikut seluruh imam pada 3 kurun waktu yang utama –yang ijma’ mereka ma’shum- lebih dijamin kebenarannya.
Jika mengikuti seorang imam pada abad ketiga tidak ada perintahnya maka mengikuti para ulama salaf ada banyak perintahnya, bahkan sebagai tanda golongan yang selamat.
Imam asy’ari bergantung pada salaf, bukan sebaliknya dan imam asy’ari diukur dengan salaf bukan sebaliknya.
Ahlussunnah, ahli hadits, dan ahli atsarsudah ada sebelum imam al-Asy’ari lahir, dan tidak menjadi asy’ariyyah setelah imam al-Asy’ari menjadi imam.
Kelompok salaf, Ahlussunnah, ahli hadits dan ahli atsar berpegang teguh dengan sunnah dan membenci kalam dan ahlinya, sementara kelompok asya’irah adalah termasuk ahli kalam dan membela kalam.
Para ulama salaf sebelum imam al-Asy’ari dan sesudahnya berwasiat agar mengikuti manhaj salaf as-shalih, yaitu mengikuti hadits dan atsar dan tidak berwasiat untuk mengikuti asyairah atau ilmu kalam.
Abu Hamzah al-A’war berkata: Ketika maqalah-maqalah (pemikiran akidah) marak di Kufah saya mendatangi Ibrahim al-Nakha’I ( mufti dan faqih Irak W. 96 ), saya katakan: “Wahai Abu Imran, Tidakkah anda melihat makalah-makalah yang beredar di Kufah? Maka dia berkata:
أَوَّهْ، دَقَّقُّوْا قَوْلاً وَاخْتَرَعُوْا دِيْنًا مِنْ قِبَلِ أَنْفُسِهِمْ لَيْسَ مِنْ كِتَابِ اللهِ وَلاَ مِنْ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالُوْا: هَذَا هُوَ اْلحَقُّ وَمَا خَالَفَهُ بَاطِلٌ، لَقَدْ تَرَكُوْا دِيْنَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، إِيَّاكَ وَإِيَّاهُمْ.
“Oh. Mereka merumitkan ucapan dan merekayasa agama dari nafsunya sendiri, tidak dari kitab Allah juga tidak dari sunnah Rasul r, lalu mereka mengatakan: Inilah yang benar, dan yang menyalahi adalah batil. Sungguh mereka telah meninggalkan agama Nabi Muhammad r . Jauhilah mereka olehmu.” (Hilyatul Auliya’: 4/223)
Bahkan imam Asyari sendiri menisbatkan dirinya kepada Imam Ahmad imam Ahli hadits, dan setelah menceritakan akidah ahli hadits ahli sunnah (para salaf shalih) mengatakan:
فهذه جملة ما يأمرون به ويستسلمون إليه ويرونه، وبكل ما ذكرنا من قولهم نقول وإليه نذهب؛ وما توفيقنا إلا بالله …( مقالات الإسلاميين: 229)
Intinya, saya ingin mengatakan bahwa istilah salafiyah dan salafi adalah istilah syar’i yang harus diterima, lebih baik dan lebih mulia dari pada istilah asya’irah.
- Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:
Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).
Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).
Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah”[2] (320-324/330 H). (rinciaannya ada di buku saya Abul Hasan al-Asy’ari Imam Yang Terzhalimi, hal. 19-32)
3.Adapun pernyataan penulis bahwa tesis perjalanan pemikiran imam Asy’ari yang 3 fase itu disebarluaskan oleh wahhabi (h. 39, maka ini mengesankan sentimen penulis terhadap wahhabi cukup tingggi, sebabIbnu Katsîr j (774 H) dan Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) bukan wahhabi dan tidak mengenal wahhabi. Juga tidak setiap orang yang mengingkari adanya 3 fase itu bukan salafi, sebab masalah periodesadsi itu ijtihad, yang penting sepakat bahwa antara kitab-kitab awal pasca mu’tazilah yang belum berintisab dengan Imam Ahmad dengan kitab-kitab akhir setelah berintisab dengan imam Ahmad ada perbedaan, yaitu yang akhir lebih kental kepada salaf ahli hadits, dan menyatakan diri mengikut ucapan mereka.
4.Ucapan penulis: seandainya kehidupan asy’ari seperti dalam tesis diatas tentu akan populer dan tersebar luas sebagaimana halnya informasi keluarnya dari faham mu’tazilah (40). Saya katakan : Justru itu sudah terjadi, sangat terkenal kalau imam Asy’ari akhirnya menisbatkan diri kepada imam Ahmad ibn Hanbal ra. Jadi bukan hanya orang lain, justru imam Asy’ari sendiri yang menyatakan hal itu dalam kitabnya al-Ibanah seperti yang ada dalam Tabyin Kadzibil Muftari yang ditahqiq oleh al-Kautsari (hal. 125). Sedangkan di dalam kitab Maqalat beliau menyatakan mengikut para ulama ahli hadits dan ahli sunnah (maqalat: 226), serta menyendirikan penyebutan Abdullah ibn Said ibn Kulab dalam hal-hal yang pemikirannya menyalahi ahli hadits ahli sunnah. (Maqalat halaman 146, 226, 229, 398, 421, 423)
5.Adapun setelah meninggalkan mu’tazilah maka dia tidak menyatakan ikut Imam Ahmad tapilangsung mengikuti ibnu Kullab, al-Muhasibi dan al-Qalanisi seperti yang dikatakanoleh Khaldun, (dikutip oleh penulis hal 42). Semua orang itu ditahdzir oleh Imam Ahmaddan lainnya karena kalamnya. Dan kitab yang dihasilkan waktu itu adalah kitab seperti al-Luma’ fi raddi ala ahl az-Zaighi wal bida’. Dan itu adalah kitab yang pertama kali dikarang pasca mu’tazilah seperti dikutip oleh penulis dari Ibn Asakir (hal. 20)
Penulis kurang transparan saat menyebut “dalam fase kedua ini al-Asy’ari menulis kitabnya al-Ibanah (50) padahal ia meyakini bahwa fase kedua ini memanjang dari tahun 300 H hingga 324 atau 330 H), yang tentu ada puluhan kitab yang dikarang oleh al-Asy’ari selama masa 24 atau 30 tahun itu. dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya. Menurut al-Kautsari al-Ibanah ditulis saat memasuki Baghdad (hamisy Tabyin Kadzibil muftari hal. 289)
Siapakah Ahlul Bait Itu? (bag. 2)
3. Keturunan seseorang
Imâm al-Bukhari / meriwayatkan (II/541; 1414) dari Abû Hurairah ط bahwa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- pernah mengeluarkan sebutir kurma sedekah dari mulut al-Hasan atau al-Husain seraya bersabda:
«أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ r لاَ يَأْكُلُوْنَ الصَّدَقَةَ؟»
“Tidakkah engkau tahu bahwa keluarga Muhammad tidak memakan harta sedekah?”
Maka hadîts ini menunjukkan bahwa kalimah [آلُ مُحَمَّدٍ] telah mencakup ketururan pula. Dan dalilnya pula adalah firman Allah -Subhanahu wata’ala-:
قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ
“Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya di kota itu ada Luth”. Para malaikat berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS. al-Ankabut: 32)
Dan telah dimaklumi bahwa tidak ada seorangpun yang beriman kepada Luth ؛ selain kedua putrinya. Adapun istrinya, tetap berada diatas kekufuran. Oleh karena itulah Allah -Subhanahu wata’ala- mengecualikan dirinya termasuk dari orang-orang yang selamat dari keluarga Luth ؛ . Maka hal ini menunjukkan bahwa [الأَهْل] mencakup istri-istri dan keturunan.
4. Kerabat seseorang
Imâm Muslim didalam Shahihnya (IV/1873; 2408) meriwayatkan dari Hushain, dia berkata kepada Zaid ibn al-Arqam:
«وَمَنْ أْهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدٌ؟ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ؟». قَالَ: «إِنَّ نِسَاءَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ. وَلَكِنَّ أَهْلَ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةُ بَعْدَهُ». قَالَ: «وَمَنْ هُمْ؟». قَالَ: «هُمْ آلُ عَلِيٍّ، وَآلُ عَقِيْلٍ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ». قَالَ: «أَكُلُّ هَؤُلاَءِ حُرِمَ الصَّدَقَةُ؟». قَالَ: «نَعَمْ»
“Siapakah Ahlul bait-nya wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul baitnya? Dia berkata: “Sesungguhnya istri-istri beliau adalah termasuk ahlul bait beliau. Akan tetapi ahlul bait beliau adalah mereka yang diharamkan memakan sedekah setelah beliau.” Dia berkata: “Siapakah mereka?” Dia menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, Keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.” Dia berkata: “Apakah setiap mereka diharamkan dari harta sedekah?” Dia menjawab: “Ya.”
5. Pengikut seseorang dan kelompoknya
Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ(49) وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ(50)
“Dan (Ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 49-50)
Yang dimaksud di sini adalah pengikut Fir’aun dan bukan anak-anaknya. Dikarenakan ia tidak memiliki seorang anakpun berdasarkan kesepakatan ahli tafsir. Oleh karena itulah ia mengabulkan permintaan Asiyah ‘ , istrinya, untuk mengambil Musa ؛ sebagai anak angkat, sebagaimana firman Allah -Subhanahu wata’ala-:
وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ(9)
“Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (al-Qashash: 9)
Komentar