Membongkar Kejahatan Syiah
B. Pembacaan “Baru” Atas Al-Qur`An: Go Beyond Text
(Lanjutan dari Bantahan Makalah Ulil)
] وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ [
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (al-Baqarah: 170)
] إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ[
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mu’min: 56)
Pada bagian pertama, Ulil bermaksud meruntuhkan kesucian al-Qur’an dan keagungan Sunnah. Ulil menegaskan kepada seluruh umat Islam, bahwa keyakinan mereka selama ini, semenjak Rasul Allah e hingga abad 15 H ini salah; keyakinan kepada al-Qur’an, keyakinan kepada wahyu, keyakinan kepada Nabi, keyakinan kepada sunnah, keyakinan kepada sahabat, keyakinan kepada ulama’, keyakinan kepada hukum-hukum Allah, keyakinan kepada ushul fiqh dan keyakinan kepada dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Semua kesalahan itu menurutnya disebabkan karena umat Islam selama ini, 15 abad ini tidak mengetahui bagaimana cara “membaca’ al-Qur’an dengan benar.
Setelah semua bangunan Islam dianggapnya runtuh, maka Ulil ingin menggantinya dengan bangunan baru yang dia sebut dengan “pembacaan “baru” atas al-Qur’an: go beyond text”, karena taqlid terhadap Arkoun yang pada tahun 1969 telah mempertanyakan: Bagaimana membaca al-Qur’an?[1]
Bangunan Islam yang dibongkar dan yang diruntuhkan oleh Ulil, terdiri dari “Firman Allah”, “Sabda Rasul-Nya”, “Pemahaman seluruh tauhid, ushul, bahasa, sejarah, dan lain-lain”. Sedangkan bangunan pengganti yang diperjuangkan mati-matian terdiri dari: Gagasan-gagasan, Pendapat-pendapat, akal-akalan yang dilakukan oleh beberapa sarjana yang mengaku muslim dan beberapa sarjana dari orang kafir yang tidak beriman kepada syahadat لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدً رَسُوْلُ اللهِ
Nama-nama sarjana yang sempat disebut namanya oleh Ulil dalam makalah ini adalah: Nashr Hamid Abu Zaid, Hasan Hanafi, Muhammad Arkoun, T. H. Huxley, Roxanne L. Euben, Fazlur Rahman, Munawir Syadzali, Mahmud Muhammad Taha, Abdullah Ahmad an-Na’im dan Masdar f. Mas’udi. Maka ayat-ayat suci al-Qur’an, yang saya kutip di atas sangat tepat untuk menggambarkan fenomena yang sedang terjadi. Kalau menurut al-Qur’an orang yang tidak setuju dengan agama Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad e adalah Safih, kalau banyak “Sufaha”. Menurut bahasa “arepas” (arek-arek Pasuruan) artinya “Longor alias Goblok”. Karena itu ketika saya mengisi pengajian di kota Pasuruan, mereka bilang: “Ustadz, seharusnya JIL itu kepanjangan dari “Jaringan Intelektual Longor”. Maka kamipun tersenyum dan tertawa kecil mendengar kecerdasan mereka yang masih fitrah itu.
Kembali ke permasalahan; berikut ini adalah sambungan bantahan terhadap makalah Ulil yang membabat ke sana kemari dengan membati buta (karena memang buta mata hatinya). Karena yang dirusak terlalu banyak, maka tanggapan berikut ini hanyalah garis besarnya saja.
bersambung ….
[1] Charles Kurzman, Op. cit, hal. 338
Jaringan Intelektual Longor?… :D
https://isyfatihah.wordpress.com/2011/04/07/dasar-negara-ganti-menjadi-islam-liberal/
saya copi artikel diatas dari eramuslim
oalah ulil ulil…keblinger telnan maksud saya doyan telnan (alas kayu untuk potong daging)