Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (13)

22. Ulil juga mengatakan : “Teks Qur’an tidaklah sesusatu yang “self sufficient”, mencukupi dirinya sendiri … karena teks Qur’an sebetulnya adalah teks yang tali temali, kait berkelindan dengan teks-teks lain….. antara lain adalah: sejarah sosial masyarakat Arab, tradisi literal yang sangat kaya dan maju pada zaman itu, konteks politik dan hubungan-hubungan kekuasaan pada masa turunya wahyu, tradisi-tradisi kepercayaan dan keagamaan yang hidup pada saat tersebut, dan sebagainya (Alinia 14)
Ada dua hal yang perlu kita komentari:
Pertama: “ Qur’an tidak bisa mencukupi dirinya sendiri”. Ini adalah ucapan yang lancang, tidak mengagungkan sama sekali kepada Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an dan yang telah menyatakan dengan benar[1]:
] وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ[
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu “ (an-Nahl; 89)
] مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ[
“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab” (al-An’am: 38)
] وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا[
“Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci” (al-An’am: 114)
] الر ! كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ[
“Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,” (Huud: 1)
] مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ[
“ Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111).
] وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْءَانُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ[
“Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (Yunus: 37)
] وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ[
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (al-A’raf: 52)
Kedua: kemudian Ulil mengabaikan penjelasan Rasul e, padahal tugas utama Rasul Allah adalah menyampaikan dan menjelaskan. Lalu siapakah yang dusta? Allah atau Ulil? Allah Maha Benar dalam firmannya:
] وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ[
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka,” (an-Nahl: 44)
Maka Rasulpun menjelaskan seluruh al-Qur’an dengan bimbingan wahyu. Syikhul Islam menjelaskan macam-macam bayan yang dilakukan oleh Rasul e, yaitu menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan kandungannya, dengan ucapan, perbuatan atau dan iqrarnya. Penjelasan Nabi langsung diawali oleh Nabi atau mereka bertanya kepada beliau[2]
Maka teramat aneh kalau ada orang yang mengaku muslim, kemudian tidak menanyakan penjelasan Rasulnya, melainkan mencari tradisi jahiliyah sebagai syarahnya. Jadi yang betul rincian dan penjelasan al-Qur’an harus dicari di dalam Sunnah. Karena itu imam Makhul al-Syami mengatakan bahwa al-Qur’an lebih membutuhkan kepada Sunnah dari pada Sunnah kepada al-Qur’an[3]
Semakin jelaslah bahwa tujuan Abdu konteks itu bukan mencari kebenaran tetapi yang penting “beda” dan keluar dari warisan Rasul Allah e.
23. Kemudian dengan congkaknya Ulil menawarkan diri: “Kalau saya diperkenankan untuk melihat ulang kembali sumber-sumber hukum itu dalam terang wawasan penafsiran seperti yang telah dikemukakan di atas, maka saya akan menyebutkan dua sumber saja: wahyu dan pengalaman historis manusia. Sunnah, ijma’ dan qiyas adalah cerminan dari pengalaman masyarakat (madinah) dalam pergulatannya dengan wahyu…yang saya maksudkan pengalaman disini adalah perkembangan situasi dalam kehidupan setiap masyarakat.” (alinea 15).
Sungguh Ulil benar-benar menampakkan bahwa ia adalah Abdu konteks sejati dan seorang sofistik ulung, hanya dengan “saya usul”, “saya melihat”, saya berasumsi” maka hakekat syari’ah dan hakekat akliyah tidak ada nilainya. Safsathah (perbuatan yang dilakukan oleh seorang sofistik) ada tiga macam:
1. Ragu-ragu dan bimbang terhadap sesuatu yang tidak seharusnya diragukan.
2. Menolak dan mengingkari serta mendustakan sesuatu yang sudah maklum, menolak keberadaanya atau keyakinan terhadapnya.
3. Menjadikan hakekat kebenaran sebagai makmum dari keyakinannya[4]
Sebagai orang yang bersyahadat لاإله إلاالله محمد رسول الله , tentu kita dengan mudah menerima kenyataan bahwa:
a. Sunnah itu adalah wahyu: Hasan ibn Athiyah al-Dimisyqi menerangkan: Adalah Jibril u turun kepada Nabi e dengan membawa Sunnah sebagaimana ia turun kepada beliau dengan membawa al-Qur’an. Dia mengajarkan sunnah kepada beliau sebagaimana mengajarkan al-Qur’an kepada beliau[5].
b. Hirarki sumber hukum dalam Islam: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas, adalah ijma’ umat Islam di seluruh dunia dari zaman sahabat hingga hari ini[6]
c. Wahyu adalah kalam Allah, keutamaanya di atas pengalaman manusia adalah bagaikan keutamaan al-Khaliq di atas makhluq-Nya. Menyamakan kedudukan kalam Allah dengan pengalaman manusia adalah kufur.
24. Menutup tulisannya pada bagian pertama, Ulil menulis: “Jika kenyataan hidup berlawanan atau menyimpang dari wahyu, maka jawabannya adalah sudah pasti di sesuaikan kenyataan itu dengan wahyu. Sebab mengutip kata-kata da’i sejuta umat kita Zainuddin MZ. Qur’an adalam imam, sementara kita adalah makmum. Sebaliknya yang saya kehendaki adalah wahyu yang bersama dengan pengalaman dan realitas kehidupan manusia bekerja secara dialektik dalam merumuskan kebenaran ajaran agama.”
Inilah tujuan Ulil dari pembicaraannya yang kesana kemari itu, ia ingin mengatakan bahwa tidak ada kemungkaran dalam pengalaman manusia, tidak perlu ada amar ma’ruf nahi munkar. Sungguh berdusta ia dan Maha Benar Allah dalam firman-Nya:
] كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ[
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” (Ali Imran: 110)
Kemudian, kelihatan sekali kalau Ulil jauh dari al-Qur’an, sebab untuk mengatakan al-Qur’an adalah imam kita tidak perlu Zainuddin, langsung saja al-Qur’an, (misalnya surat Thaha: 123-126) dan Hadits Nabi dari Sayyidina Ali terdahulu[7].
Para ulama telah mengingatkan, berdasarkan dalil-dalil yang ada bahwa yang membuat seseorang keras hati, keras kepala, sombong, congkak, bangga dengan pendapatnya, berani mendustakan al-Qur’an adalah banyaknya maksiat dan dosa yang ia lakukan, sehingga tidak peka, tidak bisa lagi membedakan antara dusta yang nyata dengan jujur yang luhur, antara sinar yang terang dengan malam yang kelam, kalau dibacakan al-Qur’an kepadanya, dia akan komentar: “aah… itu kan kata Allah, aah…itu kan pengalaman orang Madinah, aah…itu kan mitos klasik, aah…itu kan tekstual.” Dan masih banyak aah….aah yang lain, persis yang diceritakan oleh Allah I:[8]
] إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ ءَايَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ ! كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[
“Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”.Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (al-Muthaffifin: 13-14).
Akhirnya kepada Allah jualah nasib seseorang.
] فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ[
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (al-An’am: 125).
] رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابْ[
[1] Lihat, Abu al-Hasan al-Nadwi, al-Madkhal Ila al-Dirasat al-Qur’aniyah (Dar al-Shahwah 1406) hal. 18-20
[2] Al-Sa’di, Op. cit (1413) hal. 207
[3] Ibn Baththah, Op. cit. I/253
[4] Abd al-Rahman al-Sa’di, Thariq al-Wushul, hal. 68
[5] Ibn Baththah, Op. cit. I/255
[6] Al-Sa’di, Op. cit. hal. 183
[7] Lihat juga, Muhammad Uthaimin, Syarh Muqaddimah al-Tafsir (Riyadh, Dar al-Wathan, 1415) hal. 10-13, 39
[8] Lihat Abd al-Aziz Alu Salman, Op. cit. 2/440
Related Posts
Comments are closed.
Komentar