Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (3)
MAKALAH ULIL ABSHAR BERJUDUL “MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”
11. Ia mengatakan: “Qur`an sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Qur`an menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non Islam hatus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.”
Ini dusta atas nama al-Qur`an. Lihat surat al-Mumtahanah dan al-Baqarah diatas, surat al-Taubah ayat 28 dan lain-lain. Ini adalah bukan ucapan Nabi dan bukan ucapan pengikut Nabi melainkan ucapan musuh-musuh Nabi. Ucapan orang yang beriman adalah:
?لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ? ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ ? إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالحَِاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ?
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (al-Tiin: 4-6)
12. Ia mengatakan: “Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama.”
Ini adalah slogan nenek moyang kaum sekularis kapitalis yang protes atas kesesatan kaum gereja. Kemudian konsep yang diajarkan oleh Ulil ini tidak menyebut sifat-sifat dan kriteria orang yang berhak menafsirkan agama ini, ini menunjukkan bahwa menurutnya Bayan (penjelasan) Rasul itu tidak penting dan ulama juga tidak penting, yang penting adalah ada orang yang menafsiri, siapapun orangnya. Intinya semua orang adalah kiyai dan ulama, persis seperti gerakan reformasi pada abad le-16 di Eropa yang menuntut kebebasan untuk membaca bibel tanpa perantara para pendeta . Kalau ahlussunnah konsepnya jelas. Imam Ahmad berkata:
اَلأَُصُوْلُ أَرْبَعَةٌ دَالٌّ وَدَلِيْلٌ وَمُبَيِّنٌ وَمُسْتَدِلٌّ, فَالدَّالُّ هُوَ اللهُ وَالدَّلِيْلُ هُوَ الْقُرْآنُ وَالْمُبَيِّنُ الرَّسُوْلُ وَالْمُسْتَدِلُّ أُوْلُو الْعِلْمِ الَّذِيْنَ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلىَ هِدَايَتِهِمْ وَوِلاَيَتِهِمْ
“Rukun (memahami) agama itu ada empat; yang menunjukkan, petunjuk, yang menjelaskan dan yang beristinbath; yang menunjukkan adalah Allah, petunjuknya adalah al-qur`an, yang menjelaskan adalah Rasul dan yang beristinbath adalah para ulama yang telah disepakati oleh umat Islam kelurusan dan wala’ (loyal)nya kepada Islam.”
13. Ia mengatakan: “Menurut saya tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual-beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsisp-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari’ah, atau tujuan umum syari’at Islam.”
Jikalau yang buta hanya mata maka ringan masalahnya tetapi jika hati yang buta maka tidak akan ada yang menuntunnya. Meskipun Allah telah menyatakan bahwa apa yang ada di dalam al-Qur`an itu semua adalah hukum Allah, ia pasti masih menyangkalnya. Allah ? berfirman:
?ذَلِكُمْ حُكْمُ اللهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ? الممتحنة : 10
“Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(al-Mumtahanah: 10)
?إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيْلاً ? فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلاَ تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُوْرًا?
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (malaksanakan) hukum (ketetapan) Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir diantara mereka.” (al-Insan: 23-24)
14. Ia berkata: “Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nalai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial tertentu, itu adalah urusan manusia Muslim sendiri.”
Ini adalah ucapan yang curang dan dusta. Yang ada adalah menjaga agama (Islam) bukan kebebasan agama. Karena itu rasul menetapkan hukum bunuh bagi orang murtad; orang yang keluar dari agama Islam:
(( مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ ))
“Barangsiapa yang mengganti agama (Islam)nya maka bunuhlah dia” (HR. Bukhari).
Tetapi ketentuan Rasul Allah ? ini telah ditolak oleh kaum pluralis dan liberalis, sebagaimana yang juga pernah dikatakan oleh Fahmi Huwaidy, Hasan al-Turabi, Abdu al-Aziz Kamil, Said al-Asymawi, Muhammad Abu Ruyyah, dll, yang menetapkan bahwa beragama dengan selain Islam juga masuk surga
15. Ia mengatakan: “Bagaimana meletakkan kedudukan Rasul Muhammad ? dalam konteks pemikiran semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad ? adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).
Orang mu’min tidak akan mengatakan seperti itu karena Allah ? telah memuji Nabi Muhammad ? dengan ucapan yang agung.
?وَإِنَّكَ لَعَلىَ خُلُقٍ عَظِيْمٍ?
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah berada diatas akhlak yang agung.”
Karena itu yang dikritisi bagi ahli sunnah adalah riwayat-riwayat yang menceritakan tentang beliau bukan kepribadian beliau atau ajaran yang beliau praktekkan.
16. Ia mengatakan: “Bagaimana mengikuti Rasul? Disini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan disana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual………”
Betul-betul Islam Liberal adalah bukan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah ? tapi paham Islam yang ditolak oleh Allah. Rasulullah ? bersabda:
((مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ))
“Barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka bukan golonganku.” (HR. Bukhori-Muslim)
((مَنْ أَحْدَثَ فِىْ أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ)) متفق عليه
“Barangsiapa membuat hal baru dalam agamaku, sesuatu yang tidak ada dasarnya daripadanya maka ia tertolak.” (HR. Bukhori-Muslim)
((مَا كَانَ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ كَانَ لَهُ حَوَارِيُّوْنَ يَهْتَدُّوْنَ بِهَدْيِهِ وَيَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِهِ ثُمَّ أَنَّهَا تَخَلَّفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَالاَ يَفْعَلُوْنَ وَيَفْعَلُوْنَ مَا لاَ يُؤْمَرُوْنَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاَءَ ذَلِكَ مِنَ اْلإِيْمَاِن حَبَّةَ خَرْدَلٍ)) رواه مسلم رقم 80
“Setiap Nabi itu memiliki murid-murid yang setia, yang mengambil petunjuknya dan mengikuti sunnah-sunnahnya, kemudian setelah itu datanglah generasi jelek yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa tidak diperintahkan, maka barangsiapa berjuang mengatasi mereka dengan tangan berarti ia mu’min, yang berjihad melawan mereka dengan lisannya berarti ia mu’min, dan barang siapa yang berjihad dengan hatinya maka dia mu’min, dan dibalik itu tidak ada sedikitpun keimanan.” (HR. Muslim)
Mengikuti Rasul menurut ahlu sunnah adalah “melaksanakan perintahnya menjauhi larangannya dan mengimani yang dikabarkannya.” Allah berfirman:
? فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ?
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raf: 157)
17. Ia menyatakan: “Wahyu verbal memang telah selesai dalam Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal manusia terus berlangsung. ………”
Jika ukuran kebenaran adalah akal secara mutlak, dan akalnya siapa, ia tidak menjelaskan, maka ucapan model ini adalah model iblis لعنة الله عليه yang telah menggunakan logikanya untuk menolak perintah Allah yang sudah jelas.
Kemudian perlu diketahui bahwa wahyu non verbal itu ada dua:
((وَحْيٌ رَحْمَانِىُّ وَهُوَ إِلْهَامُ الْخَيْرِ وَالْوَارِدَاتِ الْمُوَافِقَةِ لِلْحَقِّ وَوَحْيٌ شَيْطَانِيٌّ وَهِيَ الْوَارِدَاتُ وَاْلأَذْوَاقُ الْمُنَافِيَة لِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْلُ))
“Wahyu dari Allah yaitu ilham kebaikan dan bisikan-bisikan yang sesuai dengan kebenaran, dan wahyu syetan yaitu pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang bertentangan dengan agama yang dibawa oleh Rasul.”
Allah ? berfirman:
? وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلىَ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا وَلَوْ شَاءَ رَبَُكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتُرُوْنَ?
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari Jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)
18. Ia mengatakan: “Saya berpandangan lebih jauh lagi; setiap nilai kebaikan, dimanapun tempatnya, sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam –seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain- adalah Nilai Generis yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, Agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat marxisme…”
Ini adalah ucapan yang menyalahi syahadat لا إله إلا الله محمد رسول الله , ucapan yang merusak Tauhid, seperti yang pernah diucapkan oleh Roger Garaudy, sastrawan Nashrani dari Perancis yang menggabungkan antara Islam, Nashrani, dan marxisme untuk mencari makna kemanusiaan . Juga mirip dengan slogan gerakan Masuniyah yang berbunyi kebebasan (حرية), persaudaraan (إخاء), persamaan (مساواة), dan kemanusiaan (إنسانية). Atau juga seperti jargon organisasi Free mansonry dan gerakan Theosofi yang ingin membentuk persaudaraan universal kemanusiaan.
19. Ia mengatakan: “Saya tidak lagi memandang bentuk, tetapi isi. Keyakinan dan praktik keIslam-an yang dianut oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai umat Islam hanyalah “Baju” dan Forma; bukan itu yang penting. ……”
Siapa yang membutuhkan penilaian si Ulil? Kita hanya membutuhkan penilaian Allah, rasul dan kaum mukminin.
?وَقُلْ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ? التوبة : 105
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu.” (al-Taubah: 105)
((إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلىَ صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلىَ أَجْسَامِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلىَ قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ)) رواه مسلم
“Sesungghnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tidak pula kepada tubuh kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim)
20. Ia mengatakan: “Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan “baju” yang dipakai, sementara mereka lupa, inti “memakai baju” adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, washilah, alat untuk menuju tujuan pokok; penyerahan diri kepada Yang Maha Benar………”
Ternyata apa yang disebut konyol oleh si Ulil adalah menjadi tugas Rasulullah ?. Allah ? berfirman:
? هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلىَ الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ?
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya diatas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (al-Taubah: 33)
?وَقَاتِلُوْهُمْ حَتىَّ لاَ تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَيَكُوْنُ الدِّيْنُ ِللهِ فَإِنْ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلىَ الظَّالِمِيْنَ?
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (al-Baqarah: 193)
21. Ia menyebutkan: “Musuh semua agama adalah “ketidak adilan”.
Ini adalah ucapan yang haq, tetapi sebagaimana dikatakan oleh Ali ?
((كَلِمَةُ الْحَقِّ أُرِيْدَ بِهَا الْبَاطِلُ))
“Ucapan haq tetapi dimaksudkan bathil”
Ketidak adilan adalah sama dengan kezhaliman dan kezhaliman terbesar adalah syirik ?إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ?, seandainya si Ulil paham apa yang dia ucapkan, dan paham al-Qur`an tentu ia akan berjuang memberantas syirik demi menegakkan tauhid, dan mengajarkan al-Qur`an karena Allah ? berfirman:
? وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً ? الأنعام : 115
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (al-An’am: 115)
? لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ?
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (al-Hadid: 25)
Tetapi siapa sangka bahwa orang yang bersuara lantang untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini justru pelopor kezhaliman, perhatikanlah firman Allah berikut ini:
? وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ افْتَرَى عَلىَ اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فيِ جَهَنَّمَ مَثْوىً لِلْكَافِرِيْنَ ?
“Dan siapakah yang lebih Zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya?Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir.” (al-Ankabut: 68)
? فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلىَ اللهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ أَلَيْسَ فيِ جَهَنَّمَ مَثْوىً لِلْكَافِرِيْنَ ?
“Maka siapakah yang lebih Zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah neraka Jahnnam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir.”(al-Zumar: 32)
22. Ia menyatakan: “Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa’alaihi bil ‘ilmi, wa man aradal akhira fa’alaihi bil ilmi; barangsiapa hendak mengatasi masalah keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai kebahagiaan di dunia “nanti”, juga harus pakai ilmu. Setiap bidang ada aturan dan tidak bisa semena-mena merujuk kepada hukum Tuhan sebelum mengkajinya lebih dulu. ……”
Pertama, ini adalah su’ul adab kepada Nabi ? yang dicintai oleh umat Islam. Kedua, menyelewengkan makna. الآخرة diartikan dunia “nanti”, ini ciri khas kaum materialis sekularis yang ingin menghindar dari perkara ghaib. Inilah manhaj tahrif atau ilhad yang dia sebut sebagai tafsir kontekstual. Syaikh Ibn Taimiyyah menyebut dengan:
الْقُرْمَطَةُ فىِ السَّمْعِيَّاتِ وَالسَّفْسَطَةُ فِى الْعَقْلِيَاتِ, هُمَا مَجْمَعُ الْكَذْبِ وَالْبُهْتَانِ
“Dua kutub kebohongan dan kedustaan adalah paham Qurmuthi (kebatinan) dalam hal wahyu, dan paham Sufistha’i (sofistik) dalam hal ra’yu”.
Sedangkan ciri seorang sofistik adalah: ? menolak dan mendustakan yang maklum, ? meragukan hal-hal yang tidak diragukan, ? dan menjadikan hakikat kebesaran itu sebagai pengikut bagi keyakinan-keyakinannya (membenarkan apa yang ia yakini, tidak menyakini yang benar)
Kasus yang sama adalah ketika menafsiri ayat ?إن الدين عند الله الإسلام?
23. Ia mengatakan: “Sudah tentu hukum-ukum yang mengatur masing-masing bidang kehidupan itu harus tunduk kepada nilai primer, yaitu keadilan. Karena itu, Syari’at Islam, hanya merupakan himpunan nilai-nilai pokok yang sifatnya abstrak dan universal; bagaimana nilai-nilai itu menjadi nyata dan dapat memenuhi kebutuhan untuk menangani suatu masalah dalam periode tertentu, sepenuhnya diserahkan kepada ijtihad manusia itu sendiri.”
Dari ucapan-ucapannya bisa dipahami bahwa ia menolak al-Qur`an dan sunnah sebagai standar keadilan bagi Islam, hal ini tidak asing dalam sejarah orang-orang yang memusuhi Islam. Nenek moyang yang tertua adalah Abdullah Ibn Dzi al-Khuwaishirah tokoh Khawarij yang mengatakan kepada nabi saat beliau membagi ghanimah dari perang Hunain اِعْدِلْ يَا مُحَمَّد ! (berbuat adillah hai Muhammad)
Maka Nabi menjawab:
((وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ)) رواه البخاري 6933
“Celaka kamu, siapa yang bisa adil jika aku tidak adil, sungguh celaka dan rugi kamu jika aku tidak adil.” (HR. Bukhari)
24. Ia menyatakan: “Pandangan bahwa syariat adalah suatu “paket lengkap’ yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidak tahuan dan ketidak mampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan.”
Ini adalah bentuk pengingkaran terhadap ayat Allah:
? اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا ?
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (al-Maidah: 3)
Dan terhadap penjelasan-penjelasan Nabi ? dalam banyak haditsnya.
25. Ia menyatakan: “Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam dimana-mana. Saya tidak bisa menerima “kemalasan” semacam ini, apalagi kalau ditutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan hukum Tuhan. Jangan dilupakan: tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah sunnah Tuhan serta nilai-ilai universal yang dimiliki semua umat manusia.”
Kita semakin yakin bahwa yang buta bukanlah mata tetapi hati yang ada di dada, sumber kemunduran yang hakiki adalah bid’ah JIL dan sejenisnya yang membuat orang jauh dari Islam yang akibatnya adalah al-Wahn, pengecut tidak berani jihad karena keenakan menjadi penadah pemberian Barat. Rasulullah. ? bersabda:
((إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ))
“Apabila kamu bertransaksi dengan sistem riba, mengikuti buntut-buntut sapi, puas dengan pertanian dan meninggalkan Jihad maka Allah pasti menutupkan kehinaan atas kamu dan Dia tidak akan mengangkat kehinaan itu hingga kamu kembali kepada agama kamu.” (HR. Ahmad, Abu Daud dll, Silsilah Hadits Shahih no. 11
26. Ia mengatakan: “Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami” dengan “mereka”, antara hizbullah (golongan Allah) dan hizbuz Syaithan (golongan syetan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara “Barat” dan “Islam”; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu.”
Ini ucapan bodoh, bertentangan dengan syahadat dan al-Qur`an, sungguh tepat firman Allah ini untuk mereka:
? تَرَى كَثِيْرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَفيِ الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُوْنَ ? وَلَوْ كَانُوْا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوْهُمْ أَوْلَيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيْرًا مِنْهُمْ فَاسِقُوْنَ ?
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80-81)
27. Ketika ia menafsiri ayat إن الدين عند الله الإسلام dengan : “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses yang tak pernah selesai menuju ketundukan (Kepada Yang Maha Benar.” Ia berkata: “dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk saya mengatakan semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Maha Benar. Semua agama, dengan demikian adalah benar dengan variasi, tingakat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu.”
Sama persis dengan sikap Iblis, dengan ranpa rasa sungkan dan kikuk ia menolak perintah Allah dengan dalih:
? أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ ?
“Saya lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Kau ciptakan dari tanah.” (Shad: 76)
28. Ia mengatakan: “Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apapun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah mashlahat manusia itu sendiri
Mashlahat yang ia maksud adalah hawa nafsu. Orang kalau sudah dipimpin hawa nafsu pasti sombong kepada Allah dan tidak ingat akan keterbatasannya. Allah berfirman:
?وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ?
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)
29. Ia mengatakan: “Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi mashlahat manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas mashlahat manusia itu sendiri.”
Islam yang beku menurutnya adalah Islamnya rasul, Islam historis dan Islam Fosil yaitu Islam al-Qur`an dan sunnah. Sedangkan Islam yang lebih segar adalah Islam yang liberal yang sedang dia ciptakan. Sungguh tepat untuk mereka firman Allah:
?وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيْمَ إِلاَّ مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ?
“Dan tidak ada yang benci terhadap agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri.” (al-Baqarah: 130)
?أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لاَ يَعْلَمُوْنَ?
“Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (al-Baqarah: 13)
?اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فىِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا ? أُولَئِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالَهُمْ فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا?
“Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan duniaini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak akan mengadakan suatu penilainan bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (al-Kahfi: 104-105)
30. Melihat metode yang dikembangkan oleh JIL maka keagamaan mereka lebih condong kepada pendekatan Yahudi, yang mengutamakan kalam Fadhi (omong kosong) dan Ra’yu untuk mentahrif wahyu agar sesuai dengan hawa nafsu.
Dan dosa yang dilakukannya paling tidak ada dua; mendustakan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah dan berkata dusta atas nama Allah:
? فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلىَ اللهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ أَلَيْسَ فيِ جَهَنَّمَ مَثْوىً لِلْكَافِرِيْنَ ? الزمر:32
“Maka siapakah yang lebih Zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah neraka Jahnnam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir.”(al-Zumar: 32)
Metode ini jelas berlawanan dengan metode Rasulullah ? dan para pengikutnya. Allah ? berfirman:
?وَالَّذِيْ جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ? الزمر : 33
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (al-Zumar: 33)
Ibn al-Qayyim menyatakan: “Yang datang dengan membawa kebenaran adalah orang yang selalu benar dalam ucapan, tindakan dan hal ihwalnya. Dan tingkatan al-Shidq yang tertinggi adalah martabat shiddiqiyyah yaitu kesempurnaan sikap tunduk kepada utusan Allah yang disertai dengan kesempurnaan ikhlas kepada Allah yang mengutusnya. Karena itu Nabi ? bersabda: “Yang merasakan nikmatnya Iman adalah orang yang rela Allah sebagai Rabb-nya Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” Juga bersabda: “Barangsiapa mengucapkan saat mendengar adzan: “Saya rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul, maka diampuni semua dosa-dosanya.” Dua hadits ini adalah pusaran maqamat agama Islam dan muara agama Islam. Hadits tadi telah mencakup sikap ridha kepada rububiyyah dan uluhiyyah Allah, ridha kepada kerasulan Muhammad dan ridha serta tunduk kepada Islam, maka barangsiapa memiliki ketiganya ini ia adalah al-Shiddiq yang sejati.”
Semoga tanggapan ini bermanfaat bagi umat Islam dan kita dijadikan sebagai orang-orang yang shiddiq ( (كامل في الصدق وكامل في التصديقAmin.
Related Posts
Comments are closed.
Komentar