konstektual

12. Kemudian Ulil mengawali alinea ke-10 dengan ucapannya: “Tetapi, pertanyaan saya adalah: kenapa teks begitu menarik perhatian umat Islam? dan kenapa dalam situasi krisis (identitas), Teks-lah yang selalu dipanggil ke depan untuk menjadi pelindung dari ancaman kekacauan? Yang ini semua tidak mungkin terjadi seandainya Teks sendiri tidak menempati kedudukan yang sentral dalam wawasan keagamaan umat.”

Kalau memang belum tahu, maka jawabannya adalah:

a. Karena umat Islam memiliki akal waras yang menjadi syarat mukallaf dan masih memiliki fitrah yang asli.

b. Karena mereka beriman kepada al-Qur’an, persis seperti anda beriman kepada teks-teks ucapan orang-orang kafir dan kaum rasionalis.

c. Karena al-Qur’an mengandung keberkahan yang luar biasa. Allah berfirman:

] كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ[

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)

Intelektual sejati yang berhati nurani adalah orang-orang yang beriman dengan al-Qur’an dan mau mengagungkan kalam-kalam Allah I yang penuh berkah itu.

Ada satu kisah dan pelajaran yang sangat menarik bagi kita semua, mudah-mudahan bisa memuaskan orang-orang yang bertanya seperti pertanyaan Ulil. Al-kisah Ibnu Sina (370-438 H/980-1032 M), memiliki seorang murid yang sangat setia, taat dan berbakti. Tugas utamanya adalah menuliskan apa yang didektekan oleh ibnu Sina. Ketika itu musim dingin di negeri Uzbekistan, ibnu Sina dan muridnya sibuk menulis ditengah malam. Di akhir malam ibn Sina memerlukan air minum, maka iapun berkata kepada muridnya yang setia: “Hai fulan, tolong ambilkan saya air minum, saya sangat haus”. Tempayan tempat air tidaklah di dalam kamar, melainkan berada di luar kamar. Ibn Sina berulang-ulang memintanya untuk mengambilkan air, tetapi ia tetap tidak beranjak dari tempatnya ia menulis, bahkan ia berkata: “Ya Sayyidi (wahai tuan guru), ucapan anda sangat menakjubkan, andai saja anda membuat sebuah kitab seperti al-Qur’an sungguh anda telah mendatangkan sebuah keajaiban, bisa jadi orang-orang akan mengambilnya dan meninggalkan apa yang telah dibawa oleh Muhammad”.

Ibn Sina diam tidak menjawab. Tidak lama kemudian terdengar suara adzan subuh (الله اكبر الله اكبر) dari atas menara yang tinggi. Ketika itu Ibn Sina bertanya kepada muridnya: Hai fulan! “Ya tuan” jawabnya, Engkau mendengar suara adzan itu?, tanya ibnu Sina, ia menjawab “Benar”, ibnu Sina bertanya lagi: apakah gerangan yang telah menggerakkan muadzin itu keluar dari kamarnya, meninggalkan tempat tidurnya yang hangat, bahkan barangkali ia memiliki istri yang sangat ia cintai, lalu meninggalkannya pada saat dingin seperti ini, lalu naik ke atas menara yang tinggi setelah berwudhu’ dengan air yang sangat dingin, kemudian berseru dengan suara lantang: الله اكبر الله اكبر ? Sang murid terdiam, maka ibnu Sina berkomentar: “jika orang itu taat kepada Muhammad, padahal Muhammad telah meninggal beberapa ratus tahun yang lalu dan dikuburkan jauh di Madinah, di jazirah Arab, tetapi meskipun begitu orang-orang Islam masih tetap mentaatinya dan kenyaatan itu mendorong muadzin untuk menerjang udara dingin yang menusuk diakhir malam, setelah berwudhu dengan air yang dingin, lalu naik ke atas menara yang tinggi guna menyuarakan adzan. Sementara engkau wahai muridku yang sangat mencintaiku dan sangat terkesan denganku, engkau tidak sanggup mengambilkan air minum untukku hanya karena takut kedinginan, lalu bagaimana kamu beranggapan bahwa manusia akan mengikuti ucapanku dan meninggalkan ucapan Muhammad?!

Demikianlah ibnu Sina, filosof besar yang kondang itu, menyadari kekerdilannya jika dibanding dengan Nabi Muhammad e.

13. Ulil kemudian menunjukkan tekadnya untuk memusuhi ahlu Sunnah dan merusak sunnah Nabi e, ia mengatakan: “Jika tidak ada suatu upaya untuk membongkar wawasan teologis yang menempatkan teks (baca: al-Qur’an) dalam posisi yang begitu sentral semacam itu, maka lingkaran setan pemahaman keagamaan yang al-kitabiyah atau skriptualistik tidak akan bisa diatasi”. (alinea 10)

Kalimat “lingkaran setan” di atas adalah sanad yang bersambung terus tidak pernah putus semenjak Rasulullah e hingga akhir generasi umat Islam. Sedangkan kalimat “pemahaman keagamaan yang al-Kitabiyah” berarti pemahaman ahlu Sunnah yang diwariskan oleh Rasul Muhammad e yang diutus untuk seluruh umat manusia. Ucapan Ulil ini berisi cemoohan dan cacian terhadap Allah I yang berfirman untuk seluruh umat manusia. (al-Baqarah: 137)

Dan juga mencaci Rasul Allah e; yang bersabda:

((فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ بَعْدِىْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِىْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ))

Sesungguhnya siapa yang hidup sesudahku, ia akan melihat perbedaan yang banyak sekali, maka berpeganglah kalian dengan sunnahku dan dengan sunnah para Khalifah yang lurus yang mendapatkan hidayah, peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gerahammu, dan jauhilah perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan lain-lain, Shahih).

Saya menyadari bahwa penyebutan ayat dan hadits yang shahih adalah sangat efektif bagi orang-orang mukmin, tetapi bagi orang-orang kafir atau munafik atau orang zindik (sesat) maka ayat dan hadits adalah bahan yang empuk untuk ejekan dan cemohan.

Allah berfirman dalam surat al-Jatsiyah ayat 7-9 yang artinya:

] وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ! يَسْمَعُ ءَايَاتِ اللَّهِ تُتْلَى عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ! وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ[

“Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.”

Muhammad ibn Nashir al-Abudi, al-Du’at Ila Allah (Makah, Rabithah al-Alama al-Islamai, 1421), hal. 23-25

Lihat Ibn Baththah al-Ukbari, al-Ibanah ‘an Syari’ah al-Firaq al-Najiyah (Riyadh, Dar Riyah, 1409) hal. 305.