Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (7)

8. Ulil menggunakan istilah ahli kitab untuk makna masyarakat kitab suci (tekstualis) sebagai imbangan dari ahli ta’wil yang berarti masyarakat tafsir (kontekstualis), (alinea 8 dan 11). Ia mengatakan: “Rejim teks” akan selalu menjadi bayang-bayang yang terus menghantui masyarakat kitab suci, atau-dalam bahasa al-Qur’an- “ahlil kitab”.
Penisbatan makna tersebut kepada bahasa al-Qur’an adalah dusta yang nyata. Sudah menjadi aksiomatik, bahwa ahli kitab dalam istilah syar’i (al-Qur’an, Sunnah dan Aqwal ulama) adalah umat Yahudi dan Nashrani yang berintima’ kepada agama yang asalnya adalah diturunkan oleh Allah, kemudian mengalami tahrif dan syirik dalam agamanya yang kemudian di nasakh (dihapus masa berlakunya) oleh Allah dengan diutusnya Nabi Muhammad e . Yang jelas, Ulil bertaqlid kepada kesalahan Muhammad Arkoun yang menafsiri “ahli kitab” dengan “Masyarakat kitab suci” yaitu tiga agama wahyu menurutnya.
9. Ulil mengatakan: “Dasar pokok dalam fundamentalis agama (termasuk di dalamnya fundamentalisme Islam) adalah kehendak untuk mengukuhkan teks….itulah sebabnya panggilan untuk berubah kepada teks (dalam jargon yang selama ini kita kenal “ruju’ ilal kitab was sunnah, kembali kepada kitab yang tertulis (yaitu al-Qur’an) dan tradisi Nabi (sunnah) selalu menyimpoan daya tarik yang hebat bagi umat Islam.” (alinea 8).
Sekali lagi Ulil membuktikan bahwa dirinya adalah subordinan Barat, satu eksemplar dari korban imperialisme epistemologis (kolonialisme teori ilmu pengetahuan). Dan untuk kesekian kalinya ia menunjukkan inkonsistensinya terhadap kebid’ahannya, sebab menyebut orang muslim yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya fundamentalis adalah tidak kontekstual tetapi tekstual, taqlid kepada teks orang kafir.
Prof. Dr. Abd al-Rahman al-Zunaidi, menjelaskan bahwa fundamentalisme adalah terminology yang tumbuh di Barat. Pada abad dua puluh muncul kelompok protestan (di Amerika) yang menyuarakan bahwa Bibel adalah kitab suci yang terpelihara dari kesalahan, dalam aqidah, akhlak, informsi sejarah, hal ghaib seperti kisah penciptaan, kedatangan Yesus, dan kebangkitan dari kubur secara fisik. Ciri yang menonjol pada kelompok ini adalah:
a. Injil (yang ada sekarang) ini adalah suci tidak mengalami kesalahan.
b. Memahami teks Injil secara literal tanpa tafsir (interpretasi) atau analisis.
c. Menolak rekayasa modern dalam konsep dan pemikiran, terutama sekularisme.
d. Keras dan kaku memegang agama dan berpandangan bahwa kaum Nashara di luar manhaj mereka adalah murtad, serta mewajibkan agama Nashrani kepada masyarakat secara paksa. Karena itu terminology fundamentalisme adalah menakutkan bagi orang-orang Barat.
Sementara itu Dr. Muhammad Imarah menekankan bahwa fundamentalisme dalam lingkungan Barat adalah: pada dasarnya sebuah gerakan protestan yang tumbuh di Amerika dan muncul pada abad 19 Masehi, dari kalangan gerakan yang lebih luas yaitu Messianik yang meyakini kembalinya kristus secara fisik ke dunia sekali lagi, untuk memerintah dunia selama seribu tahun yang mendahului hari pembalasan dan perhitungan.
Jadi penamaan shahwah Islamiyah (kebangkitan Islam) dengan terminology fundamentalisme, adalah salah besar menurut syara’ maupun akal, bahkan ditentang oleh orientalis Perancis Jack Perek, orientalis Amerika Roger Owen, orientalis Spanyol Cerman Ronth, orientalis Rusia Viatalli Naumkin, orientalis Inggris Homy Pope dan Robin Ostek, serta orientalis-orientalis lainnya yang memiliki pandangan sama.
10. Ulil mengutip dari Prof. Nashr dan mengukuhkannya bahwa supremasi teks adalah warisan dari kebijakan dinasti Abbasiah di Baghdad sekitar abad 3-4 H. sebagai usaha untuk mengkompensasi (amaliyah ta’widhiyah) kekacauan atau disintregasi yang mengancam kesatuan daulah (alinea 9).
Sekali lagi Ulil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang Sufistoi (sofistik) yang ahli mengingkari hal-hal yang sudah Badihi (aksiomatik) dan Dharuri (apriori) bagi umat Islam. Ajaran untuk taat kepada Allah dan Rasul dan kembali kepada al-Qur’an dan sunnah bertebaran dalam mushaf al-Qur’an dan kitab-kitab hadits. Pertanyaan yang sederhana, apakah mushaf dan kitab-kitab hadits ini bikinan dan warisan penguasa dinasti Abbasiah? Sungguh ajaib dan irrasional data dan fakta tentang Islam dan umat Islam yang begitu lengkap dicampakkan begitu saja oleh sebuah analisa yang hampa dari data dan fakta. Lalu inikah yang disebut dengan “ilmu pengetahuan” dan “hasil intelektual”? sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu agenda orientalis adalah merusak citra Islam, al-Qur’an, Sunnah, sejarah, dan peradaban umat Islam.
Kemudian Ulil membuat lelucon lagi dengan mengutip pendapat Roxanne L. Euben bahwa supremasi teks muncul lagi di abad modern ini, karena perasaan kecemasan yang mendalam dalam umat Islam berhadapan dengan hegemoni negara-negara Barat yang dipandang melukai “harga diri” mereka (alinea 9).
Pandangan tersebut adalah didasarkan hanya pada fenomena sosial, yang tidak mempercayai perintah-perintah syari’at seperti dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad, serta tidak percaya terhadap janji-janji Allah seperti pahala, ampunan dosa dan surga, atau ancaman-ancaman Allah seperti dosa dan siksa neraka. Inilah bukti biasnya orang kafir dalam menginterpretasi fenomena atau sejarah sosial umat Islam, bias ideologi dan metodologi.
Oleh karena itu naïf sekali bila ada orang yang mengaku muslim kemudian mengekor kepada orang-orang yang kafir, dan yang lebih naïf lagi adalah orang seperti Ulil yang bermuka ganda, kontekstualis terhadap al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Aqwal ulama, tetapi tekstualis terhadap Ara’ atau Aqwal orang-orang kafir dan orientalis Barat. Kalau menurut kacamata umat Islam, orang seperti ini biasanya tidak keluar dari dua kemungkinan: Jahil Murakkab (bodoh kuadrat) atau Munafiq Murtab (munafik skeptis).
11 Ulil mencemooh ucapan intelektual muslim di masa khilafah Usmaniyah, Muhammad Syakib Arsalan yang mengatakan: “kemajuan barat terjadi karena mereka meninggalkan kitab suci mereka (yang tidak suci lagi); tetapi kemajuan umat Islam hanya akan terjadi kalau mereka kembali berpegang teguh kepada al-Qur’an.” (alinea 9).
Tepat sekali kesimpulan Syeh Syakib Arsalan, pembenarannya ada dalam al-Qur’an, Sunnah, dan dibenarkan oleh orientalis Barat dan para missionaris.
Sebagai orang mukmin, hatinya akan tenang bila dibacakan kalam Allah:
] وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ[
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 55)
Setelah itu kita perlu bertanya, sebagaimana pertanyaan Allah:
] فَبِأَيِّ حَدِيْثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُوْنَ[
“Maka kepada perkataan apakah selain al-Qur’an ini mereka akan beriman? (al-Mursalat: 50).
Dr. Nashir al-Qifari dan Dr. Nashir al-Aql, Al-Mujaz Fi al-Adyan Wa al-Madzahib al-Mu’ashirah (Riyadh, Dar al-Shuma’i, 1413) hal. 12; Hasan Khalid, Op. cit. hal. 110
Lihat Charles Kurzman, Op. cit, hal. 354
Lihat Ziaudin Sardar, Jihad Intelektual (Surabaya, Risalh Gusti, 1998) hal. 35-36
Muhammad Imarah, Perang Terminologi Islam versus Barat (Rabbani Pres, 1998) hal. 76
Silahkan baca Zaid ibn Muhammad al-Rummani, Majalis Wa Waqafat Ma’a Kitabillah (Riyadh, Dar al- ghaits, 1414) hal. 9-13; Al-Mansu’ah al- Muyassarah fi al-Adyan Wa al-Madzahib Wa al-Ahzab al-Muashirah, hal. 679; Dll
Related Posts
Comments are closed.
Komentar