mewaspadai gerakan kontekstualisasi al-Qur`an
PENGANTAR PENULIS
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, dan yang telah membekalinya dengan nikmat fitrah, akal sehat dan hati nurani, dan yang telah menyucikan manusia degan diutusnya para Rasul dan diturunkannya Kitab-Kitab suci.
Sungguh suatu keberuntungan yang tiada tara bila kita bisa menghambakan diri hanya kepada Allah sang pencipta dengan mengikuti dan membela syari’at yang telah dibawa oleh utusan-Nya. Allah berfirman:
]فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad saw), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raaf: 157)
Termotivasi oleh ayat al-Qur`an tersebut, saya ingin ikut andil dalam membela Rasul Allah saw, dan membela Sunnah-Sunnahnya yang agung dari tangan-tangan jahil yang ingin merusaknya, maka saya menulis sebuah makalah dengan judul, “Bahaya Firqah liberal” yang telah dipresentasikan dalam kajian akbar di Gedung FK, UNIBRAW Malang, pada hari Ahad, 17 Muharram 1423 H, dan dimuat dalam majalah al-Sunnah, Solo pada edisi 04/VI/1423. Dan ketika Ulil Abshar menulis makalah, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, saya menulis bantahan terhadapnya, yang telah dipresentasikan di Masjid Raden Patah pada hari Rabu, 7 Syawal 1423 dan dipresentasikan pada acara Pelatihan Muballigh Tingkat Nasional II FBUI di Wisma Depag Surabaya pada hari Ahad, 3 Dzulqa’da 1423 H, yang kemudian dimuat di majalah al-Sunnah pada edisi 01/VII/1423. beberapa hari kemudian, saya mengetahui bahwa makalah saya tersebut dimuat dalam Buku “Islam Liberal dan Fundamental” yang diterbitkan oleh eLSAQ, Jogja, Cet. 1, Pebruari 2003, hal. 129-150.
Setelah itu, saya menulis bantahan terhadap makalah Ulil yang dipublikasikan oleh Yayasan Waqaf Paramadina, 2003 yang berjudul, “Tentang Pentingnya Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Mengingat syubhat Ulil disebar begitu rupa dan bantahan terhadapnya masih terasa minim, maka saya bermaksud menerbitkan bantahan-bantahan tadi (setelah adanya perbaikan-perbaikan), dalam sebuah buku kecil yang bisa dimanfaatkan lebih dari sekedar makalah, oleh banyak orang.
Buku kecil ini tidak membantah semua syubhat yang dilontarkan oleh Ulil Abshar, akan tetapi memuat sebagian besar isu sentral yang menghiasi dua makalahnya. Dalam membantahnya saya mengikuti manhaj para ulama salaf; ulama ahlu sunnah yang mensyukuri semua nikmat-nikmat, memanfaatkan potensi fitrah akal dan wahyu (al-Qur`an dan Sunnah) dan Ijma’ ulama sebagai sumber dan parameter kebenaran. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan pembahasan yang tidak terlalu panjang.
Semoga usaha yang “Mutawadhi’” (sederhana) ini mendapatkan ridha Allah dan tanggapan yang positif, serta mendatangkan manfaat bagi umat. Untuk itu nasehat, saran dan masukan sangat kami harapkan dari saudara-saudara seiman untuk melengkapi buku ini.
Dan tidak lupa saya sampaikan ucapan terima kasih kepada saudara saya, Bapak Hartono Ahmad jaiz, yang telah bersedia memberikan kata pengantar yang sangat tepat, kepada bapak Adian Husaini yang telah memberikan masukan-masukan yang sangat berharga dan kepada adinda M. Ali Khudlori dan M. Syahri yang telah mengetikkan naskah buku ini dengan penuh semangat. Saya ucapkan untuk semuanya:جَزَاكُمُ اللهُ عَلَى حُسْنِ تَعَاوُنِكُمْ وَكَنَبَ اللهُ لَكُمُ اْلأَجْرَ .
Wassalam
Abu Hamzah al-Sanuwi
Related Posts
Comments are closed.

Komentar