Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (1)
MAKALAH ULIL ABSHAR BERJUDUL “MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”
Tatkala Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi dan Rasul setelahnya maka Allah senantiasa menegakkan sebab-sebab yang bisa menyegarkan dan memperbaharui agama ini sebagaimana janji-Nya dalam al-Qur`an. Dengan begitu kebaikan-kebaikan iman dan pujian-pujian kepadanya akan nampak, dan keburukan-keburukan kekufuran serta kerusakannya akan tersingkap. Diantara sebab tersiarnya iman dan Islam yang terbesar dan sebab bersinarnya hakikat berita para Nabi dan Rasul adalah munculnya para penentang dari orang-orang yang memiliki kedustaan yang nyata. Sebagaimana firman Allah I:
]وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوََّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ[
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jin.” (al-An’am: 112)
Sesungguhnya kebenaran itu jika ditentang dan dilawan dengan syubhat-syubhat (argumen yang rapuh) pasti Allah menyiapkan untuknya orang-orang yang bisa menjelaskan yang haq dan menumbangkan yang bathil, dengan bukti-bukti yang jelas dan dalil-dalil yang kuat yang mampu membeberkan rusaknya syubhat-syubhat mereka, mirip dengan ujian dan cobaan yang mampu memilah antara yang baik dan yang buruk. Kebenaran itu seperti emas murni, semakin diuji keindahannya semakin nampak. Sedangkan kebathilan itu seperti emas palsu, apabila ia diuji maka akan nampak kerusakannya. [1]
Diantara batu ujian bagi Islam di Indonesia adalah syubhat-syubhat yang dilontarkan dengan gencar oleh kelompok orang yang berfaham liberal yang menamakan dirinya dengan JIL. Pada tanggal 18/11/2002 koordinator mereka yang bernama Ulil menurunkan tulisan di harian Kompas dengan judul “Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam”. Tulisan tersebut telah banyak menimbulkan reaksi karena bernada makar dan terror. Berikut ini adalah kontribusi kami dalam mengkritisi makalah tersebut, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita.
1. Ulil (pemakalah) mengatakan: “Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dapat dipahat pada abad ke tujuh Masehi, lalu dianggap sebagai “Patung” indah yang tidak boleh disentuh tangan sejarah. Saya melihat, kecenderungan untuk “me-monumenkan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini.”
Agaknya penulis menggunakan pendekatan sosiologi yang menganggap Islam sebagai fenomena sosial, mengikuti August Comte (Bapak Sosiologi sekuler dari Perancis) dan para Sosiolog lainnya yang menganggap agama sebagai fenomena sosial semata. Dengan demikian ajaran para Nabi ditafsirkan sebagai bukan ajaran Tuhan melainkan bikinan Nabi-Nabi itu sendiri yang merupakan manusia biasa. Dan yang menganggap bahwa agama itu berevolusi terus menerus, hingga akhirnya digantikan oleh akal. Ini pula teori yang diikuti oleh gerakan Tajdid. Muhammad Khalaf Allah (Mesir 1916-1997) mengatakan: “Kehidupan manusia masih membutuhkan orang yang bisa memimpinnya di dunia, atas nama dari langit. Kini usia dewasa telah tiba, dan kehidupan mereka perlu diatur sendiri”[2]. Ia lupa bahwa Islam ajaran dan praktek Rasul e adalah wahyu yang bersifat universal, yang menjadi model dan timbangan bagi praktek Islam sepanjang jaman.
2. Ia mengatakan: “Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran dibawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi “paket” yang sulit didebat dan dipersoalkan.”
Dari dulu orang-orang munafik selalu merusak, tetapi setiap kali akan merusak ia berkata bahwa ia berniat baik dan untuk kebaikan. Allah I berfirman:
]وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فيِ اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ! أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُوْنَ[
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (al-Baqarah: 11-12)
3. Selanjutnya ia mengatakan: “…paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.”
Sepertinya Ulil lupa kalau Allah sendiri berfirman:
]وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ[
“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (al-Kahf: 29)
Kemudian Allah I mengancam orang-orang yang memilih jalan kekufuran:
]إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا[
“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.”
4. Ia Mengatakan: “Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju kearah itu, kita memerlukan beberapa hal.”
Betul, inilah yang disebut manhaj al- istidlal, makanya Nabi e bersabda bahwa ummat Islam ini akan pecah menjadi 73 golongan, semua di neraka kecuali satu golongan saja yaitu yang manhajnya adalah:
((مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ))
“(Mengikuti ) agama yang ada padaku dan ada pada para sahabatku” (HR. Tirmidzi no. 2641, hadits Hasan, lihat kitab Dar al-Irtiyab ‘An Hadits Ma Ana Alaihi al-yaum Wa al-Ashhab dan kitab Nushhu al-Ammah Fi Fahm Ahadits Iftiraq al-Ummah, karya Syekh Salim al-hilali)
Ibn Taimiyyah berkata: “Barangsiapa keluar dari Qonun Syar’i; Qanun Nabawi yang telah ditunjukkan oleh al-Qur`an dan sunnah pasti ia perlu untuk membuat Qanun lain yang berseberangan, yang ditolak oleh akal dan agama. Jadi ciri ahli bid’ah itu tidak mau bersandar kepada al-Qur`an, sunnah dan atsar para sahabat dan tabi’in, melainkan mereka mengandalkan akalnya sendiri dan permainan bahasa. Mereka tidak akan bersandar kepada kitab-kitab tafsir yang ma’tsurah, hadits serta atsar salaf, akan tetapi merujuk kepada kitab-kitab sastra dan kitab-kitab ahli kalam (pemikiran dan filsafat) dan ini pula metodologi yang digunakan oleh kaum malahidah (ahli ingkar). Mereka hanya mau mengambil dari kitab filsafat, sastra dan bahasa, dan tidak menoleh sedikitpun kepada kitab al-Qur`an, hadits-hadits dan atsar. Mereka berpaling dari nushush al-Anbiya’ karena menurut mereka tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Mereka manta’wil (tahrif) al-Qur`an dengan ra’yu dan pemahaman mereka semata tanpa ada petunjuk dari atsar Nabi dan para sahabatnya. Imam Ahmad berkata: “Kesalahan manusia yang sering adalah dari pintu ta’wil dan qiyas.” [3]
Maha benar Allah yang berfirman:
]وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فيِ اللهِ بَغَيْرِ عِلْمٍ وَلاَ هُدىً وَلاَ كِتَابٍ مُنِيْرٍ[
“Dan diantara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” (Luqman: 20)
[1] Al-Sa’di, Thariq al-Wushul Ila al-Ilmi al-Ma’mul (Kairo, Maktabah ibn Taimiyah, 1413) no. 778
[2] Al-Hasan al-Halabi, Muslim Rasionalis (Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 1995), hal. 64
[3] Ibid, No. 641 & 37
jika ketemu si ulil dgn saya tahulah apa yg perlu saya buat untuk manusia munafik ini,
marilah kita beristighfar…..dan memohon hidayah Allah serta memohon perlindungan dari kicauan orang yang mata hatinya terkunci dari hidayah Allah, sehingga mereka bingung dengan dirinya sendiri, trus berkicau tak karuan tanpa ada sasaran hidup yang jelas……., sesungguhnya jika mereka terbuhul dgn tali Allah, mereka senantiasa membela ajaran-Nya, segala bentuk kepentingan mereka melebur didalamnya, SUKA ATAU TIDAK SUKA, SADAR ATAU TIDAK SADAR, KITA ADALAH ‘ABDI ALLAH.
Assalamualaikum.
Mengherankan bagi saya adalah begitu mudah Ulil cs masuk dalam jajaran petinggi NU plus parpol demokrat,,
salam ukhuwah
Ustad yang kami cintai karena Alloh.Berjuang terus,tegakkan dakwah tauhid.Pantang mundur dengan hujatan oknum-oknum pengemban dakwah yang hasad.