konstektual

6. Pada alinea 4-7, Ulil berbicara tentang konsep takrim (pemuliaan manusia). Konsep takrim buatan Ulil tidak menghendaki kalau manusia berada di bawah naungan dan bimbingan al-Qur’an. Menurutnya wawasan teologi yang ultra teosentris harus diganti dengan wawasan teologi yang berpusat pada manusia (etnosentris): yaitu manusia tidak berada di bawah kontrol teks (baca: wahyu), sebab hal ini sama saja dengan “Penyembahan kepada teks”. Ia menulis: “Dalam retorika popular umat Islam, dimensi ketundukan dan dimensi kehambaan (‘Ubudiyah) lebih banyak ditekankan ketimbang dimensi pemuliaan manusia dan pengalamannya?” Sebelumnya ia menulis Makna dasar Islam adalah ketundukan. Apakah ketundukan kepada Allah harus berarti menundukkan pengalaman sejarah manusia yang kongkrit kepada kehendak Allah begitu saja? Ini pertanyaan penting yang harus diungkap terus menerus, agar kita tidak terjebak di dalam pemaknaan sempit atas sejumlah ayat dalam al-Qur’an, seperti ayat 36 dalam surat al-Ahzab”.

Meliht gaya Ulil Abshar ini, saya teringat ucapan imam Mujahid yang menceritakan perkembangan ahli bid’ah, dia mengatakan: “Mereka memulai sebagai murji’ah kemudian menjadi Qadariyah dan berakhir menjadi Majusi.”[1]

Saya jadi ingat dengan kelompok Ulil, yang menamakan dirinya dengan Islam Liberal, itu artinya bermula dari Islam untuk menuju kebebasan, ia merasa dalam Islam tidak pernah mendapatkasn kemuliaan, karena itu mereka beralih ke Liberalisme untuk mendapatkan kemuliaan. Orang-orang seperti ini masuk dalam firman Allah:

] أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ[

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Ali Imran: 83)

Ada banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Ulil: Adakah pembagian orang muslim dan orang kafir; Orang mukmin dan orang musyrik? Adakah perbedaan antara pengalaman Nabi dan para sahabatnya dengan pengalaman Abu Lahab dengan kaumnya? Adakah perbedaan antara pengalaman manusia sebagai hasil ketundukan kepada Allah dan pengalaman sebagai hasil pembangkangan terhadap-Nya? Adakah perbedaan antara pengalaman penyembah Allah semata dan pengalaman penyembah salib atau berhala lainya?

Kemudian apakah ubudiyah dalam Islam bertentangan dengan konsep takrim? Apakah hamba Allah yang taat seperti Nabi dan seluruh pengikutnya yang melestarikan al-Qur’an dan hadits hingga hari ini tidak mulia? Apakah kemuliaan bisa dicapai dengan menolak pemahaman Nabi dan seluruh pewarisnya? Adakah Rasul Allah mengerti konsep takrim yang dipahami oleh Ulil ini? Adakah Rasul Allah menyampaikannya? Apa mungkin Rasul Allah dan pengikutnya yang telah mengamalkan al-Qur’an hingga hari ini tidak mengetahui konsep takrim di luar ubudiyah? Adakah akal waras yang mempercayai bahwa konsep takrim dalam al-Qur’an tidak diketahui kecuali di abad 15 H oleh seorang Ulil yang tidak lulus dari LIPIA dan yang rasib (nilai merah) dalam materi Tauhid? (saat itu Dosennya adalah Syekh Dr. Abd. Al-Rahim al-Thahhan al-Halabi).

Setiap muslim pasti mengenal dan mengetahui, bahwa Rasul Allah e mencapi gelar manusia yang paling mulia karena mengikuti konsep Ubudiyah yang diajarkan oleh al-Qur’an, dan Iblis menjadi makhluk yang paling terlaknat karena mengikuti konsep takrim bikinannya sendiri, yaitu takrim liberalis yang menonjolkan sisi ke-akuan, “aku lebih baik dari Adam”, kata Iblis untuk menolak perintah Ubudiyah, sujud kepada Adam. Iblis dan orang yang sepaham dengannya lupa bahwa kemuliaan hanya akan dicapai dengan penghambaan [ إن أكرمكم عند الله أتقاكم ]Sesungguhnya yang palng mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” ((al-Hujurat: 13)

Jadi karomah hanya akan diperoleh dengan taqwa, sedangkan puncak dari taqwa (ubudiyah) adalah dengan merealisasikan empat komponen dengan benar dan sempurna; j iman, k amal shaleh, l dakwah, m sabar[2]

Kalu teks al-Qur’an (kalam Allah) yang suci, tidak begitu berharga bagi Ulil, tentu dengan logika yang sama, seluruh teks-teks ucapan Ulil juga tidak ada harganya sama sekali, karena sudah kehilangan konteksnya. Apalagi kalau teks ucapan Ulil bertentangan dengan teks firman Allah yang Maha Suci, maka sekali lagi teks Ulil tidak ada nilainya sama sekali, meskipun itu hanya seberat sayap lalat .

7. Ulil menuduh seluruh umat Islam (semenjak sahabat hingga hari ini) yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah sebagai penyembah teks (alinea 7) ini semua ia lakukan karena taqlid kepada Huxley. Jauh sebelum Ulil, salah satu tokoh “Tajdid” Mesir, Fahmi Huwaidy telah menulis sebuah artikel dengan judul “Watsaniyun Hum Abadah al-Nushush (orang-orang paganis adalah para penyembah teks), ia menulis: yang disebut paganis bukan hanya para penyembah berhala, ini hanya istilah yang berkembang pada zaman dahulu, paganisme pada zaman sekarang berubah menjadi penyembahan terhadap symbol dan yang tertuang dalam tulisan dan upacara keagamaan[3].

Sungguh tepat ucapan imam Abu Usman al-Shabuni al-Syafi’i (373-449) yang mengatakan: “Tanda-tanda ahli bid’ah sangat terang dan jelas ada pada mereka. Tanda yang terbesar adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap para pengemban (pengamal dan penyebar) hadits-hadits Nabi e, cemoohan mereka terhadap mereka dan pemberian stigma-stigma (atribut-atribut buruk) untuk mereka. Ahli bid’ah menamai mereka Hasyawiyah (eksoteris, hanya tahu kulitnya saja), Jahalah, Zhahiriyah (tekstualis) dan Musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluq), karena mereka menganggap bahwa hadits-hadits Nabi itu jauh dari nilai ilmu, sedangkan ilmu yang benar adalah apa yang diajarkan oleh setan kepada mereka, sebagai hasil dari produk akal mereka yang rusak, suara-suara dada mereka yang gelap dan bisikan-bisikan hati mereka yang kosong dari kebaikan. Sedangkan hujjah-hujjah mereka; syubhat-syubhat mereka adalah rapuh dan rusak. “Mereka itulah oang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka” ( Qs: Muhammad:23). Dan barang siapa yang dihinakan oleh Allah, maka tidak seorang-pun yang mampu memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (QS: al-Hajj: 18)[4].

Kalau Abu Usman menulis sekarang, tentu dia menambahkan: “mereka menyebut ahlu Sunnah dengan sebutan: Literalis, Skripturalis, tekstulis, revivalis, fundamentalis dan Bibliolatris atau penyembah-penyembah teks”. Padahal kalau mau jujur, Ulil yang menuduh umat Islam menyembah teks, justru dia sendiri yang terjatuh dalam penyembahan terhadap konteks. Maka kata yang pas untuk Ulil adalah “Abdu konteks” (budak konteks) dan “Abid konteks” (penyembah teks).


[1] Ahmad asl-Shuyan, Manhaj al-Talaqqi Wa al-Istidlal (Dar al-Salim, 1419) hal. 63, dikutip dari Syarh Ushul ‘Iqtiqad Ahli Sunnah 3/645

[2] Lihat, al-Sa’di, Op. cit (1413) hal. 246

[3] Ali Hasan al-Halabi, Muslim Rasionalis (Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 1995), hal. 62-63

[4] Abu Usman al-Shabuni, Aqidah al-Salaf wa Ashab al-Hadits (Riyadh, Dar al-Ashimah, 1419) hal. 299