Buku

B. Pembacaan “Baru” Atas Al-Qur`An: Go Beyond Text

(Lanjutan dari Bantahan Makalah Ulil)

] وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ [

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (al-Baqarah: 170)
] إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ[

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mu’min: 56)
Pada bagian pertama, Ulil bermaksud meruntuhkan kesucian al-Qur’an dan keagungan Sunnah. Ulil menegaskan kepada seluruh umat Islam, bahwa keyakinan mereka selama ini, semenjak Rasul Allah e hingga abad 15 H ini salah; keyakinan kepada al-Qur’an, keyakinan kepada wahyu, keyakinan kepada Nabi, keyakinan kepada sunnah, keyakinan kepada sahabat, keyakinan kepada ulama’, keyakinan kepada hukum-hukum Allah, keyakinan kepada ushul fiqh dan keyakinan kepada dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Semua kesalahan itu menurutnya disebabkan karena umat Islam selama ini, 15 abad ini tidak mengetahui bagaimana cara “membaca’ al-Qur’an dengan benar.

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (13)

konstektual
22. Ulil juga mengatakan : “Teks Qur’an tidaklah sesusatu yang “self sufficient”, mencukupi dirinya sendiri … karena teks Qur’an sebetulnya adalah teks yang tali temali, kait berkelindan dengan teks-teks lain….. antara lain adalah: sejarah sosial masyarakat Arab, tradisi literal yang sangat kaya dan maju pada zaman itu, konteks politik dan hubungan-hubungan kekuasaan pada masa turunya wahyu, tradisi-tradisi kepercayaan dan keagamaan yang hidup pada saat tersebut, dan sebagainya (Alinia 14)

Ada dua hal yang perlu kita komentari:

Pertama: “ Qur’an tidak bisa mencukupi dirinya sendiri”. Ini adalah ucapan yang lancang, tidak mengagungkan sama sekali kepada Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an dan yang telah menyatakan dengan benar[1]:

] وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ[

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu “ (an-Nahl; 89) (more…)

Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka

Klik Gambar untuk MemperbesarPerbesanan Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka

Perbesanan Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka

Keturunan Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam tidaklah terkucil atau mengucilkan diri dari masyarakat, tetapi tersebar dan terikat dengan hubungan yang luas dengan mereka. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya hubungan perbesanan antara mereka dan antara anak keturunan paman-paman mereka, di setiap generasinya. Bahkan 3 dari putri Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam berada dalam rumah tangga orang-orang Quraisy.

Ada 8 (delapan) perbesanan antara ahlul bait dengan keluarga besar Utsman rodhiallohu ‘anhu. 6 (enam) perbesanan bersama keluarga besar Marwan ibnil Hakam, dan 4 (empat) perbesanan dengan keluarga besar Abu Sufyan rodhiallohu ‘anhu . yang paling mulia secara mutlak adalah perkawinan Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah  (Ramlah) binti Abu Sufyan –radhiyallahuma- dan yang termasuk istri Nabi yang paling dekat nasabnya dengan beliau.

Dari sekian perbesanan ini ada 13 perbesanan dengan keluarga besar Ali ibn Abi Thalib rodhiallohu ‘anhu, yang sebagian besarnya terjadi setelah peristiwa: Shiffin, Jamal dan Karbala.

Tidak cukup mereka berdekatan dan berhubungan secara nasab (garis keturunan, atau hubungan darah)  namun mereka menambah kedekatan dan keakraban dengan mushaharah (perbesanan), yang demikian itu karena mereka ingin bersambung dengan nasab Nabi yang mulia yang tidak akan putus di hari dimana semua nasab dan sebab terputus. (Abu Hamzah)

Keterangan gambar pohon Nasab:

  1. Kesamaan nomor adalah menunjukkan adanya hubungan mushaharah (perbesanan, pernikahan) antara dua orang yang mulia ini dari Bani Hasyim dan anak keturunan paman mereka.
  2. Untuk hubungan perbesanan antara ahlul bait dengan Usman ibn Affan rodhiallohu ‘anhu akan kita sendirikan karena pertingnya.
  3. Dengan pohon  nasab ini menjadi nyatalah hubungan kasih sayang dan kekeluargaan yang mesra antara ahlul bait dengan para sahabat Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, dan bahwasanya mushaharah di antara mereka terjadi sebelum peristiwa-peristiwa fitnah hingga sesudahnya. Suatu hal yang menunjukkan bahwa  hubungan yang harmonis diantara mereka tetap terjaga sepanjang generasi dan sejarah.

Nama-nama yang dicintai oleh Imam Ali dan Putra-putranya

pohon

Khalifah Ali rodiallohu ‘anhu telah memberi nama putra-putranya dengan nama-nama yang tidak masyhur dan tidak banyak pada zamannya, akan tetapi pemilik nama-nama itu sebelumnya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan kusus dalam hatinya. Maka apakah yang mendorong imam Ali amirul mukminin rodiallohu ‘anhu  memberikan nama-nama ini untuk putra-putranya? Jawabannya sangat mudah, yaitu “cinta yang dalam dan kasing sayang yang murni, persaudaraan yang agung”

Abu Bakar dan Umar serta Usman rahimahumullah semuanya ikut dalam peristiwa Karbala dan semuanya mati syahid di sana. Yang saya maksud bukanlah khulafa’ Rasyidin yang tiga, melainkan putra-putra Imam Ali sang khalifah rasyid  keempat, yang datang setelah mereka.
Abu Bakar adalah saudara sibthaini (kedua cucu Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam, imam Hasan dan imam Husain), putra dari sepasang suami istri yang diberkahi.
Sementara Abu Bakar yang lain adalah putra imam Hasan ibn Ali rodiallohu ‘anhu dan dua Umar yang lain, yaitu Umar ibn Hasan dan Umar ibn Husain mereka bertiga juga ikut perang Karbala dan mati syahid di sana. Kedua ayah mereka ingin memberi nama sebanyak-banyaknya dari putra-putranya dengan nama para pendahulu mereka yang terbaik.

Sementara dari generasi ketiga dari pohon nasab yang mulia ini ada nama Umar dan Usman. Keduanya adalah putra Ali ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. (more…)

Sikap Ahlul Bait Terhadap Khulafa’ Rasyidun

SIKAP AHLUL BAIT TERHADAP KHULAFA’ RASYIDUN

Sungguh telah bercampur menjadi satu rasa itsar (mengutamakan orang), muwasah (saling menyantuni), muanasah (saling menyayangi) antara ahlul bait dan Khulafa Rasyidin, dalam bentuk yang paling baik, setelah Islam mengikis habis ashabiyyah Jahiliyyah dari hati mereka, dan menggugurkan dari akal mereka pembela nasab, warna dan tanah air.

Sudah sangat wajar jika musuh Islam dari Syi’ah dan yang lainnya mereka tidak sengan dengan ukhuwah ini. Ada satu kaum yang tiang pancangnya adalah Ibn Saba’ yang Yahudi itu. Apakah yang ditunggu-tunggu dari mereka, selain tuduhan-tuduhan dan dakwaan palsu ?!

Sudah menjadi kewajiban bila kita memulai dengan Abu Bakar as-Shiddiq, Abu Bakar rodiallohu ‘anhu dan hubungannya dengan ahlul bait.

ALI MEMBAI’AT ABU BAKAR

Ali rodiallohu ‘anhu menceritakan, bagaimana proses pembai’atannya kepada Abu Bakar rodiallohu ‘anhu , “Maka saya ketika itu berjalan mendatangi Abu Bakar rodiallohu ‘anhu saya membai’atnya dan saya bangkit dalam peristiwa-peristiwa itu hingga kebatilan tersingkir dan lenyap serta “Kalimat Allah” menjadi yang tertinggi sekalipun orang-orang kafir tidak suka. Abu bakar rodiallohu ‘anhu memimpin dalam peristiwa-peristiwa tadi, dia memudahkan, meluruskan, mendekatkan dan tidak mengada-ada, maka saya menyertainya sebagai penasehat. Dan saya mentaatinya semaksimal mungkin dalam hal-hal yang dia mentaati Allah SWT”.[1]

Dalam suratnya yang dilayangkan kepada penduduk Mesir bersama petugasnya Qais ibn Sa’ad ibn Ubadah al-Anshari, Ali rodiallohu ‘anhu menulis:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah Ali Amirul Mukminin. Kepada semua orang Muslim yang suratku ini sampai kepadanya.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.

Amma ba’du.

Sesungguhnya Allah SWT dengan kebaikan penciptaan-Nya, keputusan-Nya dan pengaturan-Nya telah memilih Islam sebagai agama-Nya, agama para malaikat-Nya dan para Rasul-Nya. Karenanya Dia mengutus para Rasul-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan Dia telah mengkhususkan orang-orang yang Dia pilih dari makhluk-makhluk-Nya. Maka di antara kemuliaan Allah SWT dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat ini adalah diutusnya Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa salam kepada mereka. Lalu Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa salam mengajari mereka al-Qur’an, al-Hikmah, as-Sunnah dan al-Faraidh. Dia telah mendidik mereka agar mendapat hidayah. Dia telah menyatukan mereka agar tidak berpecah belah. Dia telah menyucikan mereka agar menjadi bersih. Setelah tugas-tugas itu dia rampungkan Allah SWT mencabutnya (diangkat) ke sisi-Nya. Semoga shalawat, salam, rahmat dan ridha Allah senantiasa dicurahkan kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji dan Diagungkan. (more…)

Go to Top