Dialog Terbuka Antara Jaringan Islam Liberal Dan Forum Kiai Muda Jawa Timur
KESIMPULAN FORUM TABAYYUN DAN DIALOG TERBUKA
ANTARA JARINGAN ISLAM LIBERAL DAN FORUM KIAI MUDA JAWA TIMUR
DI PP BUMI SHOLAWAT, TULANGAN, SIDOARJO, JAWA TIMUR
AHAD, 11 OKTOBER 2009
Dewasa ini sedang berlangsung perang terbuka dalam pemikiran (ghazwul fikri) pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi pemikiran seperti perang melawan terorisme dan promosi ide-ide liberalisme politik dan ekonomi neo-liberal, Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia berupaya menjinakkan ancaman kelompok-kelompok radikal, memanas-manasi pertikaian di antara kelompok radikal dan moderat dalam tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan bangsa ini ikut menjadi proyek liberal mereka.
Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh kepentingan membela Tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh Warga NU sebagai bagian dari identitas dan jatidiri bangsa ini, Forum Kiai Muda Jawa Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai berikut:
1. Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu (zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir masyarakat bangsa ini.
2. Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin. Cara-cara membongkar kemapanan itu dilakukan dengan tiga cara: (1) Liberalisasi dalam bidang aqidah; (2) Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran; dan, (3) Liberalisasi dalam bidang Syariat dan Akhlaq.
3. Liberalisasi dalam bidang aqidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan aqidah Islam Ahlussunnah Waljamaah. Warga NU meyakini agama Islam sebagai agama yang paling benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan penganut agama lainnya yang memandang agama mereka juga benar menurut mereka. Sementara ajaran pluralisme yang dimaksud JIL berlainan dengan pandangan ukhuwah wathaniyah yang dipegang NU yang mengokohkan solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU juga tidak menaruh toleransi terhadap pandangan-pandangan imperialis neo-liberalisme Amerika yang berkedok “pluralisme dan toleransi agama”.
4. Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran yang diajarkan JIL, misalnya al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya diragukan, tentu berseberangan dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini al-Quran itu firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan terjaga keasliannya.
5. Liberalisasi dalam bidang syari’ah dan akhlaq dimana JIL mengatakan bahwa Hukum Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah yang mengandung ketentuan hukum bagi umat Islam. JIL juga mengabaikan sikap-sikap tawadhu’ dan akhlaqul karimah kepada para ulama, kiai. JIL juga tidak menghargai tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini dalam mensejahterakan bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.
6. Ide-ide liberalisasi, kebebasan dan hak asasi manusia (HAM) yang diangkat oleh kelompok JIL dalam konteks NU dan pesantren tidak bisa dilepaskan dari Neo-Liberalisme yang berasal dari dunia kapitalisme, yang mengehendaki agar para kiai dan komunitas pesantren tidak ikut campur dalam menggerakkan tradisinya sebagai kritik dan pembebasan dari penjajahan dan kerakusan kaum kapitalis yang menjarah sumber-sumber daya alam bangsa kita..
7. JIL cenderung membatalkan otoritas para Ulama Salaf dan menanamkan ketidakpercayaan kepada mereka, sementara di sisi lain mereka mengagumi pemikiran orientalis Barat dan murid-muridnya seperti Huston Smith, John Shelby Spong, Nasr Hamid Abu Zaid dan sebagainya.
8. Menghadapi Pemikiran-pemikiran JIL tidak dilawan dengan amuk-amuk dan cara-cara kekerasan, tapi harus melalui pendekatan yang strategis dan taktis, dengan dialog-dialog dan pencerahan.
Forum Kiai Muda Jawa Timur,
Tulangan, Sidoarjo, 11 Oktober 2009
(demikian kiriman dari Sdr. Nurkhalis Surabaya)
Bisakah NU cari kadernya yang tidak Liberal ….?!!
Bagi saya kata /paham Liberal itu bukan slogan, pemikiran, pemahaman/pandangan, wacana, mental, pola opandang hidup, sosio dsb..
Letapi pengertian Liberalisme, pluralisme, m kulturalisme, ralativisme dan masih banyak isme2 lainnya..
“Bahwa Liberalisme adalah Subtansi dari kebebasan cara menafsirkan agama ini baik, mengedepankan perasaan, akal, pengalaman2, kisah diluar Syara’, mimpi2, dsb.. maka inilah hakikat Liberalisme seseorang, Kelompok/torikoh2, Organisasi, Partai, lembaga2, Jaringan2 (si Ulil au si JIL.
Maka dengan pengertian di atas dapat kita tarik kesimpulan “Bahwa kebebasan untuk beragama sesuai dengan kaidah2 yang dibangaun oleh JIL)
Saya membaca di situs lain Kiyai sepuh Jatim Menolak Paham Liberal dan menolak Kandidat ketua PBNU Liberal.
Saya setelah membaca situs ini hati saya tergelitik dan terperangah-ngah-ngah, kemudian timbul pertanyaan besar.?????
*Apa ada dari kader/kalangan NU yang tidak Liberal dan apakah subtansi Liberal itu menurut para yai/sesepuh-sesepuh NU??? Saya yakin para sesepuh NU akan dibuat tidak berdaya sama si Ulil Raja JIL lihat aja dengan bahasa si Ulil pastilah sesepuh-sesepuh NU dan kader-kader NU dibikin tidak berdaya oleh si Ulil, sebab kurangnya daya kekuatan intelektual yang memadahi, dan bagi si Ulil untuk mempengaruhi Ala model NU terlalu mudah..???
Komentar ini sebelum saya akhiri pertanyaan dan menggugah peraan mereka:
– Adakah kader NU yang tidak Liberal?
Tolong tunjukan, yang paling Lurus akidah tauhidnya, yang paling baik akhlaqnya, yang paling, besar pengaruhnya, yang paling, kuat/kolot tradisi ke enNuannya, yang paling dalam ilmu (dhinn) nya, yang paling tinggi kasatiannya, yang paling berbobot (karismatik) perkataannya, yang paling myashur ketokohan dan masih buaanyak lagi ..!?
Kemudian setelah kita ketemukan: Kita kaji dan uji secara seksama; bisa melalui karya-karya tulisnya, pernyataan-pernyataannya/komentar2nya, pandangan2nya, pemahaman2nya..setelah itu kita evaluasi besama dengan orang2 yang kopenten sesuai bidangnya , akan kita ketauhi
seandainya persepsi saya ini salah saya kira tidak mengapa. dan saya bersyukur ternyata dari kalangan/kader NU ada yang tidak Liberalisme, pluralisme, relativisme, kulturalisme, sufisme, Nuisme dan isme…2 lainnya masih buaaanyak lagi .
Bagaimanapun kemasannya kalo akidahnya JIL tetaplah terbelejeti hakikatnya. kita tidak melihat manhajnya tetapi kita telah mengetahui subtansinya…..? lihat aja JIL cepat maupun lambat akan kisinan/kemenusan…
Assalamu’alaikum
saya mau bertanya mengenai “Debat” bagaimana hukumnya dan apa saja dalil-dalil pendukungnya?
ini karena hati saya yang sangat miris sekali mlihat kenyataan yang ada di kehidupan sehari-hari, yang pada kenyataannya banyak sekali blog-blog atau forum yang isinya tentang dialog antara agama,, terutama agama islam dan kristen,, apakah itu diperbolehkan atau bgmn?
karena yang terjadi selama ini hanya mnimbulkan pertentangan dan perang dingin antara kedua agama tersebut!!..
jadi mohon kesimpulannya,..
terima kasih..
wassalam..
Wahai saudaraku kaum muslimin khususnya di Indonesia/jawa dan lebih khusus lagi adalah Pemuda/kader NU, yang sangat keras permusuhannya terhadap Salafy (Wahabi) sabaiknya kedua2nya saudara se islam meskipun belum seakidah dan mari kita berlapang dada, kita boleh benci terhadap mereka tetapi kita tidak boleh benci kepada kebenaran dan kita boleh cinta/takid kepada kelompok/golongan antum tetapi kita lebih cinta kepada keberan & kebenaran itu lebih kita cintai daripada selainnya.
Saya sarankan kepada NU khususnya dan seliannya .pada umumnya:
Apapun antum dakwakan/amalkan kalau tidk sesuai/menyelisishi sunnah shohehah dan akidah yang benar tunggu aja, kehancurannya bahkan fitnahlah yang kita dapatkan lihat tuh, banyak contoh baik Ahmadiyah LDII dan masih banyak lagi. terbuka dan lapang dadalah terhadap kebenaran baik dari kelompok manapun, wahai saudaraku sekarang tidk zamannya lagi cara berdakwah dengan kesaktian sebagaimana Nabi Musa, apalagi hanya dengan kebal bacok itu cara dakwah primitif.
Wahai Empu2ku yang telah mendidiku dahulu, itu semua adalah menyelisihi Qur’an dan sunnah Nabi SAW. sebagaimana Sabdanya: Man amila amalan laisa alaihi amrina fahuwa raddun” Sabda Nabi ini jangan sembunyikan. saya kira cukup bagi antum yang mau sadarkan diri membuang jauh2 kesombongan Sebagaimana Kaidah ushul fiqh: “Bahwa semua ibadah itu hukum dasarnya adalah haram kecuali adanya perintah, & hukum dasarnya mu’amalah itu kesemuanya boleh2 aja kecuali yang dilarang” maka kaidah di atas camkan baik2 tentunya ahlul hawa (bid’ah) mau dan iklhas meninggalkan kebid’ahannya tentunya lebih baik dan selamat.
!!!!! dan kenapa NU lebih disibukan/dipusingkan oleh paham Wahabi daripada JIL ?, dan kalau kita perhatikan ini adalah Dosa warisan antara Tokoh2 mereka yakni torikoh sufiyah dan tokoh/ ulama’ ahlussunnah pada masa lalu.
Apapun masalah2 yang krusial ini antara paham wahabi dan sufy ala NU …saya berkeyakinan dan seyakin-yakinnya bahwa kebenaran akan Allah menangkan di atas pentunjuk yang Haq (Al Qur’an dan Sunnah ala fahmi salaful ummah, nantinya mereka akan terbuka pelan2 tapi pasti dengan melalui informasi global serta zaman serba janggih tidak ada yang bisa ditutup-tutupi sekarang para tokoh2 agama/yai tidak bisa apus2 kepada santrinya dengan amalan ini, itu, tanda dasar ilmu yang benar/shoheh. maka lihatlah pada saatnya akan ketuahuan … mari kita bhuktikan ….!
Bismillah alhamdulillah washolatu wasalam ala rosulillah amma ba’du ::
saudaraku semua – semoga Alloh Ta’ala Merahmati kita semua – telah nyata kejelekan yang ditimbulkan dari pemahaman yang sesat ala JIL, dan kitapun sibuk mencara solusi atas perkara ini dan sungguh hal ini telah Alloh peringatkan dalam al quran ( “Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)
maka sudah jadi konsekuansi atas kejujuran akan keislaman kita yaitu senantiasa mengembalikan setiap urusan DALAM PERKARA APAPUN kepada alquran n sunnah ( bukan pada “menurut anu / fulan / fulanah / dst”)..maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk menjaga aqidah saudara – saudara kita dari setiap faham sesat ( sidak hanya JIL / Syiah / sufi /mu’tajilah / maturidiyah karena begitu bnyk aliran2 sesat saat ini ).
Dan merupakan da’wah para nabi n rosul seluruhnya yaitu menda’wahkan kaumnya pd kemunian Islam ( Tauhid ),,maka menjadi kewajiban kita untuk ‘itiba tehadap jalan para nabi dan rosul seluruhnya yang semuanya 1 yaitu dakwah tauhid….maka inilah jawaban atas setiap kerusakan – kerusakan dimuka bumi …wallohu Ta’ala ‘alam…
@ Wijhatul Haq :: perkara wahabbi ( http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=857 ), http://www.almanhaj.or.id/content/1780/slash/0.
:::Janganlah kalina mengucapkan sesuattu yang kalian tdk mengetahui ilmunya:::
CARA BERAGAMANYA KAUM ABANGAN
Mereka memandang sesuati kayakinan itu dilihat dari kesakaralan yang bersifst mistik dan kesaktian bagi oarng yang diannggap suci missal kiyai, dukun dan morsyid atau mereka yang mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu yang berdifat keghoiban. Mereka yang menyandang hal-hal tersebut di atas mempunyai pengaruh besar di masyarakat khususnya masyarakat awam/abangan baik social, politik, cultural dimana mereka tinggal. Bagi yang tidak sejalan/sepaham dengannya maka akan dicap kelompok aliran baru (garis keras/wahabi), meskipun sesuai dengan dalil sebab dari awal mula cara memahami dan mengamalkan islam ini dengan cara yang berbeda maka hasil yang didapat juga bertolak belakang.
Dengan model cara beragamannya masyarakat abangan maka lebih tepatnya “Islam cultural dan Islam Libera sama secara subatasi. Maka lawannya adalah Islam Fundamental/konservatif (asli murni/islam salaf) mengikuti para sahabat beliau serta jumhur ulama’.
Dalam wacana kali ini penulis akan membahas secara khusus Islam Kultural dan tidak jauh berdeda dengan Islam Liberal dan pada hakikatnya sama yang membedakan adalah kemasannya/bajunya sebab apa? karena kedua-duanya adalah mengarah kepada pribadi dan kebebasan, memahami dan mengamalkan prinsip-prinsip dasar keyakinan dan tidak mempedulikan Nas-nas Al Qur’an maupun Hadist-hadist yang soheh dari Nabi saw muskipun mengikuti dalil hanya sekedarnya.
Masyarakat cultur telah kita ketahui bahwa cara beragama mereka dengan melalui Parasaan-persaan, pengalaman-penagalaman mistis, bisikan-bisikan, kejadian-kejadian itu seperti dia atas sebagai pembenaran/dalil dan yang bersifat aneh, angan-angan, syak/was-was, mimpi-mimpi, perkataan-perkatan yang diyakini mempunyai keanehan/kesaktian (mengetahui hal-hal yang besifat ghoib) serta melalui imajinasi/meditasi, menyepi tempat-tempat tertentu yang dianggap sacral, sangar/angker, suci petilasan leluhur, peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat sebagai dalil untuk pembenaran agama.
Kalau kita pahami dan telaah cara-cara beragama mereka di atas adalah kebebasan dan kebodohan serta mengikuti hawa nafsu masing-masing sebeb apa? Karena setiap manusia dari segala kelemahan dan keterbatasannya, kalau tidak mengikuti petunjuk pastilah tidak akan pernah sampai kepada tujuan itulah Allah swt memberikan bimbing kepada kita melalui wahyunya Al Qur’an dan As Sunnah Nabi saw.
Akan tetapi ahlul hawa (bid’ah) menolak itu karena kebodohan dan kesesatan mereka sehingga tidak mau mengikuti petunjukNya. Contoh Dengan kisah ini sebagai kebenaran akan keyaklinannya bukan dalil apakah mereka belum tahu kalau agama ini adalah bukan akal dan perasaan pengalaman lapangan contoh lain dalam islam mendatangi dukun/paranormal kan dilarang meskipun ada maslahatnya (bisa menyembuhkan) apakah ini dibenarkan? Tentanya dilarang! Sama dengan kisah karena kisah tersebut bertentangan dengan dalil.
Bahkan ada yang lebih ekstrin lagi mereka merubah dan menambah syari’at Allah secara tidak langsung mereka berpendapat bahwa syariat islam ini kurang lengkap maka maka mereka tambah dengan baru sesuai dengan hawa nafsaunya sedangkan Jil cara beragamanya mengikuti kondisi akalnya atau dimana masyarakat bisa menerima sebagai hal yang dipandang pantas dan benar menurut stuasi dan kondisi masyarakat saat itu/ini dengan bahasa Si Ulil “kepantasan public” Kesimpulan penulis adalah Bahwa Islam Cultural & Islam Liberal secara subtansi ialah Sama. Sama-sama banyak peminatnya tetapi akhir-akhir ini JIL Lah yang lebih diminati oleh kalangan muda NU karena secara mayoritas akidah mereka sama. Lain dengan islam Moderat (wahabi) meskipun menoritas tetapi militan.
Kulturalisme, Liberalisme, Nasionalisme..isme-isme lainnya:
Memang secara keumuman masyarakat dunia global lebih minat dan menerimanya terhadap pemahaman di atas karena ada beberapa sebab:
Pertama: Penjinakan kaum fondamentalis, konservatif
Kedua: Agar membudayakan sifat toleransi
Ketiga: Menghilangkan atau mengkaburkan hal-hal yang bersifat asasi/prinsip kepercayan.
Keempat: Menyuburkan paham pluralisme/relativisme/liberalisme/Nasionalisme, kulturalisme dan Kebaikan serta kebenaran yang bersifat mutlak kemudian dibalik menjadi kebenaran yang bersifat relative /nisbi dan dapat diterima masyarakat (kepantasan public) atau bersifat subjektif.
Kelima: Menghilangkan kebenaran absolud (mutlak) maka target utama adalah tidak adanya hukum Tuhan yang ada adalah sebaliknya yakni hokum buatan manusia atau disebut “manusia sebagai pusat” inilah program yang di usung oleh JiL sebagai agen Yahoo.
Keenam: Mereka memmanfaatkan penguasa (menumpang) sebeb sangat sesuai menurut ke umuman masyarakat demokrasi kususnya di indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya.dengan alasan HAM, emansipasi dan toleransi, Sesuai ideal Moral” inilah yang sedang menggelinding sebagai wacana publik di dalam dunia fikir dan zikir secara global maka hati-hatilah sebab mereka tidak mengakui keotentikan kitab Al Qur’an sebagai kebenaran mutlak.
“AL QUR’AN” KEBENARAN MUTLAK DUNIA AKHIRAT
SELAINNYA ADALAH KESESATAN & PENYESALAN TIADA TARA
Pembuka wacana public gagasan Faktual dan Tekstual sosiologis serta teologis tak terbanbtahkan oleh stuasi dan kondisi kekinian dan kodisinian.
Ada dua kelompok besar di dunia ini dari segi kepercayaan atau keyakinan baik sudut pandang sosio historis maupun teologis ini sudah terlanjur menggelinding menjadi tren yang selalu tambil di pemukaan public dalam dunia fakir dan zikir umat manusia sepanjang masa. Dua kelompok secara garis besar sebagai berikut:
Kelompok Pertama
Kelompok yang berkeyakinan bahwa di dunia maupun di akhirat ada sebuah kebenaran MUTLAK (ABSOLUD) “kebenaran Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT)” kelompok ini berkeyakinan terhadap kebenaran Tuhan yang bersifat permanen atau beku sebuah kemutlakan baik masa duhulu, sekarang yang akan datang tidak ada tawar menawar, kelompok ini bisa disebut kelompok fondamentalis, orisinil, konservatif, murni dalam teks maupun konteks keaslian dan kemantapan satu-satunya yang membawa kedamian, kemaslahatan, kemakmuran dan dari semua sisi hakikat kebaikan secara universal baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dalam istilah lain “Wala’ wal Bara’”.
Kelompok inilah yang paling kuwalitas bukan kuantitas. Tidak ada duanya, karena dari awal mula keberangkatannya adalah membakukan sebuah konsep dari langit yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Nabi Akhir zaman dengan melalui malaikat-Nya yakni Al Qur’an Konsep terakhir sebagai penyempurna konsep-konsep sebelumnya termasuk Injil, Zabur suhuf-suhuf. Maka konsep Al Qur’an yang diyakini sepenuhnya akan mutlak kebenaran yang ada padanya. Mereka meyakini kalau tidak beriman berarti kafir sebagai kosekuwensi logis “wamaiyakfur bitthooghuuti wayukmimbillah”. Oleh karena itu Para pemimpin (Imam) kaum muslimin secara subtansi sama dari segi penafsiran tentang pokok agama (ushul) tidak ada perbedaan. Adapun diketemukan perbedaan bukanlah masalah prinsip (pokok) agama yaitu masalah furu’iyah bukan subtansinya maka boleh-boleh saja, karena ini hanya tangkainya, suatu missal perbedaan empat imam/mazhab.
Kelompok ini menerima doktrin-doktrin dimulai dari yang paling pokok atau prisip (ushul) kemudian baru yang cabangnya (furu’) sebagaimana perkataan oran-orang fakih di antara yang penting-penting dahulukanlah yang terpenting tenyunya adalah masalah ushul diutamakan lebih dahulu kemudian baru furu’ dan kebalikan dari kelompok kedua. Sedangkan kelompok kedua bebas, dan tidak mempunyai .kaidah ilmiah yang baku atau adanya ialah kebebasan aliyas acak-acakan maka hasilnya juga tak beraturan semrawut serta ruwet lihat itu? JiL di bawah ini sebagai alasan orang-orang yang berkeyakinan adanya kebenaran mutlak di dunia dan akhirat.!
“Jika kalian beselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kjepada Allah dan rosul-Nya. Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat. (An Nisa’ 59) “Aku tinggalkan di antara kalian dua perkarta yang kalianb tidak akan tersesat selamanya kalian berpegang dengan keduanya, yaitu Al Qur’an dan sunnahku”. (HR Imam Malik)
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat) kemudian sesudahnya (tabi’in) kemudian sesudahnya (tabiut tabi’an)” (HR Bukhori dan Muslim) “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan Kamilah yang menjaganya”. (Al Hijr. 9) “Barangsiapa berbicara tentang Al Qur’an tanpa ilmu maka hendaklah ia duduk di atas pai neraka” (HR Tirmidzi) dengan lafat lain “ Baransiapa berbicara tentang makna Al Qur’an dengan akalnya, jikalau itu benar, ia tetap berbuat kesalahan”. (HR salasah) .. Meskipun itu benar mereka tetap bebrbuat salah. Karena ibaratnya mereka mendatangi permaslahan tidak melalui pintu masuknya. Demikian pula mereka yang menghukumi sesuatu atas dasar kebodohannya, maka akan masuk api nereka.
Kelompok Kedua
Kelompok ini diberangkatkan dari awal mulanya adalah sebuah doktrin-doktrin yang bebas serta mengadopsi model-model barat melalui penelitian-penelitian, diskusi-diskusi yang mengarah kepada keumuman dan kosesnsus serta pendapat public. Bahwa keyakinan mereka tidak ada di dunia ini kebenaran mutlak, maka yang ada di dunia ini ialah kebenaran yang bersifat NISBI (RELATIF) atau kira-kira zhon (persangkaan) mereka mengatakan; benar dan salah, selamat dan sesat itu urusan Tuhan, dan akan kita ketahui benar dan salah itu urusan besuk di akhirat dengan pernyataan ini mereka mengingkari hakikat fitrah itu sendiri sebeb disisi lain mereka mengakui adanya kebenaran mutlak.
Bahwa kebenaran mutlak ialah kebenaran Tuhan Esa, selanjutnya mereka juga mengatakan kalau kita memutlakan sebuah kebenaran berarti kita menyalahkan dan menyesatlan selainya serta merampas hak priogratif Tuhan bahwa kebenaran yang anda yakini adalah sebuah penefsiran anda, maka menafsiran anda tidak lepas dari subyektifitas/pribadi anda yang di latar belakangai sosio histories jadi bersifat relative bukan kemutlakan karena sebuah penafsiran sangat dipengaruhi oleh giografis penafsir dari segi sosio historis dan teologis sebuah teks dan konteks penafsir.
Maka kelompok ini awal menerima sebuah doktrin yang bersifat yunivesal bukan subtansial jadi lebih mengedepankan sosio historis bukan subtansi teologis dalam istilah lain bahwa mereka berpendapat agama islam ini seperti kepercayaan-kepercahan lain. Mereka menginterpretasikan agama dan keyakinan ini, hanya sebuah pendapat dan ekspresi jiwa, persaan, pengalaman, imajinasi dan peristiwa-peristiwa menurut pribadi masing-masing.
Jadi tafsir agama itu ya tergantung pribadi masing-masing maka pada hakikatnya agama itu kebebasan ekspresi jiwa dan emasi, maka dari sinilah letak dasar awal mula menerima islam ini secara global dan lebih mengedepankan ideal moral sosio historis serta tidak mempedulikan secara subtansi teologis sisi tafsir teks maupun konteks kitab yang mana Tuhan maksudkan yang sangat esensi dan asasi. Mereka memandang sebuah keyakinan bukan bersifat trensendental dan prisip Maka wajarlah kelompok ini ketika melihat dalil yang jelas merekapun tidak menghiraukan perintah Tuhan. Sabab apa? Karena agama ini bukan untuk apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk manusia terserah manusianya mau diapakan dan Tuhan tidak mau ikut campur dan pada akhirnya mereka membangkang kemudian memilih kebebasan yakni Liberalisasi minjadi pilihan dan slogan-slogan selalu dipublikasikan dikemas sedemikian rupa dengan bahasa yang begitu memukau bagi kalangan akademika awam.
Sebagaimana Iblis inginnya adalah bebas tidak mau taat, maka dari kesimpulan kelompok ini adalah “keragu-raguan” sedangkan kebenaran Tuhan baik secara teks maupun konteks itu bukan teks dan konteks Tuhan sebab telah diambil alih penafsir yang bersifat yuniversalisme poenafsir itu sendiri yang bersifat nisbi” sementara apa-apa yang mereka tawarkan atau promosikan adalah sebuah kepalsuan yang mereka sendiri tidak meyakini adanya kebenaran firman Tuhan (mutlak) bahwa kelompok ini sangat besar jumlahnya bisa satu banding sepuluh kali lipat kalau masih ragu dalam perbandingan, ini bisa diadakan penelitian dan observasi secara khusus dan mendalam.
ya mari kita mari mem bela yang hak dan benar………………………………………………….