Buku
Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (3)
MAKALAH ULIL ABSHAR BERJUDUL “MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”
11. Ia mengatakan: “Qur`an sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Qur`an menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non Islam hatus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.”
Ini dusta atas nama al-Qur`an. Lihat surat al-Mumtahanah dan al-Baqarah diatas, surat al-Taubah ayat 28 dan lain-lain. Ini adalah bukan ucapan Nabi dan bukan ucapan pengikut Nabi melainkan ucapan musuh-musuh Nabi. Ucapan orang yang beriman adalah:
?لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ? ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ ? إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالحَِاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ?
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (al-Tiin: 4-6)
12. Ia mengatakan: “Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama.”
Ini adalah slogan nenek moyang kaum sekularis kapitalis yang protes atas kesesatan kaum gereja. Kemudian konsep yang diajarkan oleh Ulil ini tidak menyebut sifat-sifat dan kriteria orang yang berhak menafsirkan agama ini, ini menunjukkan bahwa menurutnya Bayan (penjelasan) Rasul itu tidak penting dan ulama juga tidak penting, yang penting adalah ada orang yang menafsiri, siapapun orangnya. Intinya semua orang adalah kiyai dan ulama, persis seperti gerakan reformasi pada abad le-16 di Eropa yang menuntut kebebasan untuk membaca bibel tanpa perantara para pendeta . Kalau ahlussunnah konsepnya jelas. Imam Ahmad berkata:
اَلأَُصُوْلُ أَرْبَعَةٌ دَالٌّ وَدَلِيْلٌ وَمُبَيِّنٌ وَمُسْتَدِلٌّ, فَالدَّالُّ هُوَ اللهُ وَالدَّلِيْلُ هُوَ الْقُرْآنُ وَالْمُبَيِّنُ الرَّسُوْلُ وَالْمُسْتَدِلُّ أُوْلُو الْعِلْمِ الَّذِيْنَ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلىَ هِدَايَتِهِمْ وَوِلاَيَتِهِمْ
“Rukun (memahami) agama itu ada empat; yang menunjukkan, petunjuk, yang menjelaskan dan yang beristinbath; yang menunjukkan adalah Allah, petunjuknya adalah al-qur`an, yang menjelaskan adalah Rasul dan yang beristinbath adalah para ulama yang telah disepakati oleh umat Islam kelurusan dan wala’ (loyal)nya kepada Islam.” (more…)
Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (2)
MAKALAH ULIL ABSHAR BERJUDUL “MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”
5. Ia mengatakan: “Pertama, penafsiran Islam yang non literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.”
Ini adalah metode Gerakan Tajdid yang suka membuat-buat istilah dalam rangka keluar dari Islam warisan rasul Allah ?. Firman Allah:
?إِنْ هِيَ إِلاَّ أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوْهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى اْلأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى?
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (al-Najm: 23)
Inilah biang kesesatan itu. Ibn Taimiyyah mengatakan:
أَصْلُ ضَلاَلِ مَنْ ضَلَّ هُوَ تَقْدِيْمُ قِيَاسِهِ عَلىَ النَّصِّ الْمُنَزَّلِ مِنْ عِنْدِ اللهِ وَاخْتِيَارُهُ الْهَوَى عَلىَ اتِّبَاعِهِ أَمْرَ اللهِ
“Akar kesesatan orang yang sesat adalah mendahulukan logikanya diatas nash yang diturunkan dari sisi Allah, dan kecenderungannya kepada keinginan nafsu diatas prinsip mengikuti perintah Allah.”
6. Ia mengatakan: “Kedua, Penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur didalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak. Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuik Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya.
Ini adalah akibat dia mengikuti kesalahan dan kesesatan para sosiolog dan pemikir dari gerakan Tajdid, sehingga hati menjadi mati, mata menjadi buta dan telinga jadi tuli, tidak ingat firman Allah:
?إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فيِ شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلىَ اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانَوا يَفْعَلُوْنَ?
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)
Di samping itu teori yang sesat tersebut adalah telah usang, pernah dikemukakan oleh Abu Rayyah dengan istilah “dien ‘am wa dien khash” (agama universal dan agama particular) dan telah dibantah oleh Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi dalam kitab al-Anwar al-Kasyifah lima fi Kitab Adwa ‘Ala al-sunnah min al-Zalal wa al-Tadhlil wa al-Mujazafah. (more…)
Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (1)
MAKALAH ULIL ABSHAR BERJUDUL “MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”
Tatkala Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi dan Rasul setelahnya maka Allah senantiasa menegakkan sebab-sebab yang bisa menyegarkan dan memperbaharui agama ini sebagaimana janji-Nya dalam al-Qur`an. Dengan begitu kebaikan-kebaikan iman dan pujian-pujian kepadanya akan nampak, dan keburukan-keburukan kekufuran serta kerusakannya akan tersingkap. Diantara sebab tersiarnya iman dan Islam yang terbesar dan sebab bersinarnya hakikat berita para Nabi dan Rasul adalah munculnya para penentang dari orang-orang yang memiliki kedustaan yang nyata. Sebagaimana firman Allah I:
]وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوََّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ[
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jin.” (al-An’am: 112)
Sesungguhnya kebenaran itu jika ditentang dan dilawan dengan syubhat-syubhat (argumen yang rapuh) pasti Allah menyiapkan untuknya orang-orang yang bisa menjelaskan yang haq dan menumbangkan yang bathil, dengan bukti-bukti yang jelas dan dalil-dalil yang kuat yang mampu membeberkan rusaknya syubhat-syubhat mereka, mirip dengan ujian dan cobaan yang mampu memilah antara yang baik dan yang buruk. Kebenaran itu seperti emas murni, semakin diuji keindahannya semakin nampak. Sedangkan kebathilan itu seperti emas palsu, apabila ia diuji maka akan nampak kerusakannya. [1]
mewaspadai gerakan kontekstualisasi al-Qur`an
PENGANTAR PENULIS
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, dan yang telah membekalinya dengan nikmat fitrah, akal sehat dan hati nurani, dan yang telah menyucikan manusia degan diutusnya para Rasul dan diturunkannya Kitab-Kitab suci.
Sungguh suatu keberuntungan yang tiada tara bila kita bisa menghambakan diri hanya kepada Allah sang pencipta dengan mengikuti dan membela syari’at yang telah dibawa oleh utusan-Nya. Allah berfirman:
]فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad saw), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raaf: 157)
Termotivasi oleh ayat al-Qur`an tersebut, saya ingin ikut andil dalam membela Rasul Allah saw, dan membela Sunnah-Sunnahnya yang agung dari tangan-tangan jahil yang ingin merusaknya, maka saya menulis sebuah makalah dengan judul, “Bahaya Firqah liberal” yang telah dipresentasikan dalam kajian akbar di Gedung FK, UNIBRAW Malang, pada hari Ahad, 17 Muharram 1423 H, dan dimuat dalam majalah al-Sunnah, Solo pada edisi 04/VI/1423. Dan ketika Ulil Abshar menulis makalah, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, saya menulis bantahan terhadapnya, yang telah dipresentasikan di Masjid Raden Patah pada hari Rabu, 7 Syawal 1423 dan dipresentasikan pada acara Pelatihan Muballigh Tingkat Nasional II FBUI di Wisma Depag Surabaya pada hari Ahad, 3 Dzulqa’da 1423 H, yang kemudian dimuat di majalah al-Sunnah pada edisi 01/VII/1423. beberapa hari kemudian, saya mengetahui bahwa makalah saya tersebut dimuat dalam Buku “Islam Liberal dan Fundamental” yang diterbitkan oleh eLSAQ, Jogja, Cet. 1, Pebruari 2003, hal. 129-150.
Setelah itu, saya menulis bantahan terhadap makalah Ulil yang dipublikasikan oleh Yayasan Waqaf Paramadina, 2003 yang berjudul, “Tentang Pentingnya Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Mengingat syubhat Ulil disebar begitu rupa dan bantahan terhadapnya masih terasa minim, maka saya bermaksud menerbitkan bantahan-bantahan tadi (setelah adanya perbaikan-perbaikan), dalam sebuah buku kecil yang bisa dimanfaatkan lebih dari sekedar makalah, oleh banyak orang.
Buku kecil ini tidak membantah semua syubhat yang dilontarkan oleh Ulil Abshar, akan tetapi memuat sebagian besar isu sentral yang menghiasi dua makalahnya. Dalam membantahnya saya mengikuti manhaj para ulama salaf; ulama ahlu sunnah yang mensyukuri semua nikmat-nikmat, memanfaatkan potensi fitrah akal dan wahyu (al-Qur`an dan Sunnah) dan Ijma’ ulama sebagai sumber dan parameter kebenaran. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan pembahasan yang tidak terlalu panjang.
Semoga usaha yang “Mutawadhi’” (sederhana) ini mendapatkan ridha Allah dan tanggapan yang positif, serta mendatangkan manfaat bagi umat. Untuk itu nasehat, saran dan masukan sangat kami harapkan dari saudara-saudara seiman untuk melengkapi buku ini.
Dan tidak lupa saya sampaikan ucapan terima kasih kepada saudara saya, Bapak Hartono Ahmad jaiz, yang telah bersedia memberikan kata pengantar yang sangat tepat, kepada bapak Adian Husaini yang telah memberikan masukan-masukan yang sangat berharga dan kepada adinda M. Ali Khudlori dan M. Syahri yang telah mengetikkan naskah buku ini dengan penuh semangat. Saya ucapkan untuk semuanya:جَزَاكُمُ اللهُ عَلَى حُسْنِ تَعَاوُنِكُمْ وَكَنَبَ اللهُ لَكُمُ اْلأَجْرَ .
Wassalam
Abu Hamzah al-Sanuwi
Syi’ah dan Saba’iyah
Oleh :
Mamduh Farhan al-Buhairi
(Dari buku Gen Syiah)
Ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah, Ali memiliki pendukung (syi’ah) yang membelanya, demikian pula Muawiyah, ia memiliki pendukung (syi’ah) yang berperang di pihaknya. Tentang kasus ini para sahabat dan tabi’in berselisih pendapat. Akan tetapi setelah matinya Ali ra, Abdullah ibn Saba’ mengklaim bahwa Ali ibn Abi Thalib lah yang mengajarkan kepadanya ajaran-ajaran tasyayyu’, dalam bingkai sebuah mazhab yang berbeda dengan apa yang diketahui oleh khalayak. Maka terkecohlah sebagian syi’ah Ali dan cenderung mengikuti ajaran Ibn Saba’. Dengan demikian berubahlah paradigma tasyayyu’, setelah menjadi tasyayyu’ (dukungan) politik kini menjadi tasyayyu’ teologi dan religi, pada sebagian pengikutnya, kecuali para sahabat dan tabi’in yang tadinya memang mendukung secara politik, bukan karena mazhab. Ibnu Saba’ menebarkan di tengah-tengah pengikutnya berbagai ajaran yang diambil dari khurafat, mitos dan legenda yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Ibnu Saba’ dan kelompoknya telah terbiasa menjadikan “dusta” sebagai kendaraan bagi cita-citanya, “dusta” atas nama “ahlul bait”.
Hal ini telah di akui olehAl-Kasy-syi dalam kitab “Rijal”nya menceritakan dari Ibn Sinan, Abu Abdillah berkata:
“Kami ahlul bait adalah orang-orang jujur (benar), tetapi selalu ada pendusta yang berdusta atas nama kami. Maka runtuhlah kejujuran kami di mata manusia. Adalah Rasulullah Saw manusia yang paling jujur ucapannya, dan adalah Musailamah al-Kazzab telah berani berbuat dusta atasnya. Adalah Amirul Mukminin (Ali) orang yang paling jujur -yang dibersihkan namanya oleh Allah- sepeninggal Rasulullah Saw, dan adalah Abdullah ibn Saba’ -semoga dilaknat oleh Allah- telah berani berdusta atasnya. Dan adalah Abu Abdillah al-Husain ibn Ali telah diuji dengan al-Mukhtar (ats-Tsaqafi),” kemudian Abu Abdilah menyebut nama al-Harits asy-Syami dan Banan: “Keduanya telah berdusta atas Ali ibn al-Husain,” kemudian menyebut al-Mughirah ibn Sa’id, Buzaigh, as-Surri, Abu al-Khath-thab, Mu’ammar, Basy-syar al-‘Asy’ari, Hamzah al-Yazidi dan Shaid al-Nahdi, beliau berkata: “Semoga Allah melaknat mereka, sesungguhnya para pendusta selalu berdusta atas kami. Cukuplah Allah yang menghukum setiap pendusta dan Allah pasti merasakan kepada mereka panasnya besi (neraka)”[1].
Kita ketika membantah dakwaan-dakwaan kaum yang fasiq dan yang keluar dari agama Allah ini tidak berdalil (berhujjah) melainkan dari kitab-kitab mereka sendiri. Maka dari mereka untuk mereka, hingga yang haq menjadi jelas. (more…)
Komentar